
Selamat membaca.
Chapter 2
Kelas bisnis
“murung aja nih darah muda”
celetuk gia
“selamat pagi” sapa eldira
Gia dan eldira masuk bersamaan,
terlihat kelas masih sepi. Mereka bertiga sibuk dengan social media
masing-masing. Melihat beberapa referensi baju untuk persediaan toko eldira.
“vio kamu udah dapet bahannya?”
tanya eldira
“belom, tau nggak sih kalian.
Masa’ si penjual naikin harga kainnya tiba-tiba. Ya aku cancel lah.”
“coba di nego dulu vi” gia angkat
bicara
“udah, tapi ya gitu, malah
istrinya ngomel-ngomel, bawa-bawa tuhan dan lain sebagainya. Males aku tuh”
“wah, ini jadwal merk baru juga
udah mepet vi, gimana dong?” tanya eldira
“coba nego lagi aja deh sama coba
cari-cari toko yang lain, aku usahain besok udah deal dan penjemputan deh”
“jadi kamu murung gara-gara itu
vi?” tanya gia
“Dryan” jawabnya singkat
“kenapa lagi tu anak”
“nggak tau ah males”
Kemudian obrolan terhenti saat
dosen sudah memasuki kelas, eldira dan kawan-kawannya berkonsentrasi dengan
penjelasan dosen yang ada didepannya. Dia harus benar-benar mendengarkan dan
menerapkan pada bisnisnya itu, toko baju “Xtyile” toko baju milik eldira
sendiri walaupun masih ada uang orang tua eldira yang ikut campur pada bisnis
itu. Tapi ia benar-benar ingin menjadikan toko tersebut menjadi toko miliknya.
Toko itu dikelola oleh dia dan 2 sahabatnya Gia dan Vio. Mereka punya tugas
masing-masing. Gia fotographer, vio bahan dan penjahit, selebihnya adalah tugas
eldira. Penghasilan toko itu cukup membiayai kerja dua sahabatnya dan
kehidupannya. Jadi itung-itung sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri
tanpa meminta orang tua.
“pembagian kelompok nya akan
dicatat oleh asdos saya. Saya selama sebulan akan ke jerman. Jadi kelas saya
akan kosong, sebagai gantinya saya akan beri tugas, segera selesaikan dan kirim
ke email saya ya. Untuk tugas dan kelompoknya silahkan simak asdos saya. Sampai
bertemu kembali”
“bla bla bla. eldira fylan kelompok 4, silahkan angkat tangan”
“baik kelas saya akhiri,
Kelas bubar dengan sendirinya,
aku masih memikirkan bahan yang harus dipersiapkan untuk merk baju selanjutnya.
Kali ini desainnya harus simple tapi menarik, agar diminati oleh kalangan
remaja.
“eh raaaa, ngelamun aja. Ayo ke
kantin” eldira tersadar dan beranjak dari tempat duduknya
Setelah mereka berjalan beberapa
menit mereka duduk di sebuah bangku kantin. Vio beranjak pesan dan 2 sahabatnya
menitip pesanan ke vio.
“eh el, tadi kamu satu kelompok
sama siapa ? fly? Fly..in?”
“Fylian”
“ah iyaa.. denger denger nih ya,
dia gay lo. Tiati”
“ah paan sih” setelah menjawab
sahabatnya itu ia teringat kejadian semalam. Perlakuan yang sangat mesra
seperti sebuah pasangan.
“ah, emang kenapa kalau dia gay,
toh kita juga cuman rekan satu kelompok” sangkalnya
“siapa yang gay?” sambar vio
“itu tuh flyin”
“Fylian giaa” eldira membenarkan
“yaudah sih guys, kenapa sih
ngomongin privasi orang”
“ya siapa tau seorang yang agamis
kaya kamu menghindari seperti itu” jelas gia
“ah iya aku denger dari Dryan
juga sih, katanya juga gitu”
Pesanan mereka datang lebih cepat
dari dugaan mereka. Mereka menatap pesanan mereka sejenak dan mengucapkan
terimakasih kepada orang yang mengantarnya.
“bagaimanapun mereka, terserah.
Apa yang ia tanam akan ia tuai, lagian kita nggak dalam hubungan yang bisa
saling bertukar pikiran. Kita aja...” Eldira menghentikan kalimatnya, sadar
akan yang dilihatnya semalam. Teman-temannya menunggu sambungan kalimat yang
diucapkan eldira
“ah yaudah lah, ayo makan laper”
mereka memakan makanan yang telah mereka pesan, pernyataan gia tadi masih
melayang di otaknya, entah kenapa ia sangat terganggu, padahal ia tak pernah sama sekali mengenalnya. Mereka pun menyelesaikan makanannya
dan kembali ke kelas.
Jangan lupa like dan commentnya
<3 <3