
Anila mengikuti ritual malam di hutan bersama para penduduknya. Awalnya, mereka terlihat sangat waspada dengan Anila, akan tetapi kemahiran Anila dalam membantu beberapa orang membuat mereka luluh. Menganggap Anila orang baik.
Sambil mengangkat padi, Anila melihat langit sore. Dia menyeka keringat, bertanya-tanya bagaimana pekerjaan Raven hari ini. Ketika malam tiba, wanita itu menulis surat. Tentu saja untuk Raven. Dia sudah berjanji, maka Anila harus menepati.
Kemungkinan Raven sedang gelisah karena mendapat kabar dari kusir itu.
Untuk Raven, aku baik-baik saja. Jangan khawatir.
Mungkin kau sudah tahu, aku sekarang berada di wilayah hutan tempat seludupan barang dari kerajaan Surya. Orang-orang di sini sangat mudah percaya, kupikir itulah alasan orang-orang Surya memanfaatkan tempat ini.
Tidak banyak yang ingin kukatakan, tapi aku akan berusaha menggali informasi.
Omong-omong, aku tahu kusir kuda itu orang suruhanmu. Jadi mungkin surat ini akan kuberikan padanya.
Anila Rembulan.
Pagi itu tiba dengan sangat cepat. Orang-orang kembali beraktifitas. Pendatang baru akhirnya muncul. Kali ini memiliki rombongan, sihir kuat tercium dari aroma tubuh mereka.
Anila meneguk saliva, berdoa agar mereka tak menyadari Anila yang bisa merasakan energi sihir mereka.
Orang-orang di wilayah itu berkerumunan menyambut kelompok yang baru datang. Sepertinya mereka sudah sangat kenal. Berbondong-bondong bilang ingin ikut misi.
“Misi apa itu?” tanya Anila pada orang di sebelahnya. Gadis kuncir dua itu menoleh.
“Kau tahu ‘kan, kami tidak suka Nabastala. Mereka mengajukan diri untuk bergabung dengan pasukan pemberontak.”
Jantung Anila berdegup kencang. “Pasukan Pemberontak?”
Gadis itu bersemangat membalas, “Ya! Kau harus ikut, Kak. Kau salah satu orang kuat.”
Anila lantas bergerak mendekati kerumunan, bersuara nyaring bahwa dia mencalonkan diri. Orang-orang menatapnya. Setuju bahwa Anila cocok untuk ikut.
Malam itu, Anila kembali menulis surat untuk Raven.
Aku akan masuk ke pasukan pemberontak untuk menjadi mata-mata.
Tolong jangan marah, kau tidak boleh marah.
Lantas malam itu juga Anila melipir ke pinggir hutan dan memberikan surat itu pada kusir yang menerimanya. Kusir menghela napas.
Anila menerima jubah saat diakui berpotensi, semua peserta bertepuk tangan. Wanita itu mengepalkan tangannya, selangkah lagi. Esok hari adalah penentuan.
Maka di malam berikutnya, dengan keringat yang mengucur, Anila menulis informasi penting. Dia juga menyuruh kusir untuk mengirim ini ke tangan Raven sebelum tengah malam tiba.
Raven merapikan duduknya di meja kerja, kusir membawakan surat Anila yang selama ini tidak dia balas. Anila yang paling tahu tentangnya, dia juga percaya Raven akan tetap membaca suratnya. Itulah sebabnya Anila tidak pernah protes hal tersebut.
Raven membuka surat itu. Dia bersiap dengan secangkir kopi di sampingnya. Ketika membaca paragraf pertama, kening Raven berkerut.
Ini bukan berisi keseharian Anila lagi.
Anila menulisnya dengan serius. Raven meneruskan matanya untuk membaca tiap kata, mencernanya dengan baik dan benar. Mau bagaimana pun, informasi Anila kali ini membuat Raven marah.
Dia meremas surat itu, seakan tidak percaya apa yang dia baca.
Rapat kerajaan dadakan diberlangsungkan. Raven melihat melirik raja yang duduk dengan banyak pertanyaan di wajahnya. Raven berdiri di bawah, dia melihat ke sekeliling. Matanya menajam.
“Pemberontak sudah menyusup ke kerajaan.” Kabar dari Raven langsung menggemparkan seluruh aula istana.
“Mereka bukan hanya orang miskin atau gelandangan, mereka orang yang berada. Pemberontak sesungguhnya.” Raven meneruskan kalimatnya. “Katakan! Sebelum aku menyeret kalian satu persatu! Kalian memang memiliki kuasa, tapi bukan berarti bisa terus menutupi dosa.”
Satu persatu menteri berlutut di lantai, merunduk. Raven menyipitkan matanya, apakah semudah ini? Suara kekacauan terjadi di luar istana. Gemerlap obor, sesak, panas, masyarakat memberontak. Rakyat Berteriak dengan nyaring.
Para prajurit menahan gerombolan orang-orang agar tidak mendobrak pintu istana. Di kekacauan itu, raja yang tenggelam dengan rasa dikhianati oleh para menterinya, hanya dapat menatap kosong pada lantai istana.
Pecah teriak para rakyat yang memiliki prinsip bertentangan dengan Nabastala. Mereka berteriak untuk kebangkitan penerus Indurasmi.
Di sisi lain, Anila menerobos orang-orang itu. Dia memegang obor yang tinggi. Satu dua orang akan menyingkir agar tidak terkena api yang Anila pegang. Dengan jubah hitamnya, Anila menerobos masuk istana.
Ini tidak mungkin. Suasana ini, suasana yang tidak ingin Anila rasakan.
[Cintai putra mahkota!]
Para menteri yang berkhianat jatuh tak bernyawa di karpet merah aula rapat. Anila menahan napasnya, dia terkesiap. Di tengah aula, Raven memegang pedang turun temurun milik kerajaan, itu pedang yang Tasla miliki. Ujung pedang diselimuti darah, setetes dua tetes jatuh menyentuh lantai.
[Apakah Anda akan tetap mencintainya?]
Suara itu kembali berdengung, sedangkan mata Anila bergetar hebat melihat Raven berlumuran dendam dan amarah.
Anila mencengkeram erat pisau di tangannya, dia menunduk. Kemudian berbalik pergi meninggalkan Raven. Pria itu menoleh ke belakang, dia melihat punggung Anila yang menjauh pergi. Ujung bibirnya seperti ditarik, Raven senang.
Anila memikirkan ini dengan cepat, tentang kehidupannya bersama sang adik, tentang ayahnya, juga tentang Raven. Keputusan itu bulat kali ini. Tidak ada rasa ragu yang Anila miliki dalam benaknya.
Anila berjalan menuju halaman belakang, jika dia benar, jika dia tidak salah. Benar, ayahnya—lebih tepatnya ayah ‘Anila’ di dunia ini sedang menyeka darah dari wajahnya. Rose ngos-ngosan, dia melindungi Laskar.
“Kakak!” Laskar berlari menghampiri Anila. “Kakak baik-baik saja!” Laskar manapun itu, dia tetaplah adik yang peduli dengan Anila.
Rose bertambah tinggi, sifat manisnya juga luntur. Anila bisa melihat perbedaan itu dari mata merah gadis itu yang menatap Anila. Rose pasti sudah menjadi murid ayahnya saat ini. mereka berdua adalah penyihir berbakat. Lalu, apakah Anila memiliki sihir dalam tubuhnya?
“Pemberontak sudah mencapai puncaknya.” Ayah Anila berbicara. Mata lelah itu menatap Anila lembut. “Kau sudah melewati banyak hal, Nak.”
Itu kalimat yang tidak jelas. Anila menyimpan itu dalam hatinya. Dia memang sudah melewati banyak hal, Anila tidak tahu apakah dia harus bersyukur untuk itu?
“Aku sudah memutuskan.” Anila berbicara dengan dengan suara yang dalam. Pupilnya menatap lurus pada ketiga orang di hadapannya. “Kalian nyata.”
Anila terkekeh. Dia mengucapkannya sekali lagi. “Raven dan aku sudah menikah. Ayah harus merestui kami. Karena Ayah adalah ‘Ayah’ku juga.”
[Proses alur cerita ....]
“Aku akan menjadi ratu dan memimpin negeri ini.”
[Revisi alur tokoh utama mencapai 80%]
Anila melepaskan semua bebannya. Dia akhirnya menyadari, bahwa menerima dunia ini adalah kunci utamanya.
“Aku dan Raven akan menjadi pemimpin yang memakmurkan kerajaan.”
[Cintai Putra Mahkota; selesai]
Apakah dia harus menceritakan masa lalunya pada Raven untuk membuat sistem berjalan? Tidak. Karena nyatanya, sistem itu menilainya, dan hanya membantunya ketika buntu. Kehidupan Anila, Anila lah yang harus memilihnya.
Begitulah cara Anila akan mencintai Raven. Dia harus menganggap Raven nyata.
“Kau mengucapkan hal itu tiba-tiba ....” Ayahnya berdiri dengan tegap, sinar rembulan malam menyirami rambut gelombang Anila. “Aku tahu itu, Nak. Aku yang paling mengenalmu.”
Ada suara benda tajam yang diseret, Anila menoleh ke belakang, Raven berdiri di sana dengan tubuh tegapnya, berlumuran darah. Dia memegang pedang yang sama, wajahnya dingin tak terbaca. “Nil, mari menulis kisah baru.”
[Obsesi Putra Mahkota; selesai]
Anila menarik napas panjang. “Ini akan menjadi sejarah Nabastala?”
Ayah Anila tersenyum lelah. “Ini mengingatkanku dengan sejarah Indurasmi.”
“Begitu ternyata, kau sudah ada di dalam takdirmu,” gumam pria paruh baya itu. Punggung Raven dan Anila menghilang di koridor.
Para pemberontak menghancurkan pintu kokoh istana, peperangan terjadi di aula yang besar. Tumpah darah membabi buta. Hanya satu dalam benak Anila. Layar mengambang itu mulai membuatnya gelisah.
[Revisi tokoh utama mencapai 100%]
Lalu, bagaiman dengan Kanath dan Amara? Apa kabar mereka sekarang.
Tangan Anila terus menangkis pedang lawan. Musuh tumbang satu persatu, darah terciprat di wajahnya. Dengan segala kekacauan dan keringat itu. Sesuatu terjadi.
Waktu terhenti, dunia berhenti paksa.
Anila mematung dan segera melihat posisi Raven. Raven kini juga melihat Anila, bingung. Hanya mereka yang bergerak?
Anila menatap sekeliling, apakah ini konsekuensi revisi perpindahan tokoh utama?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...