
“Anila?”
Anila membuka matanya. Hal seperti sudah membuatnya terbiasa, apakah ini sistem atau sihir ayahnya?
Anila melihat kedua tangannya terlebih dahulu, tembus pandang seperti hantu. Dia juga memanggil sistem dalam hatinya, namun layar mengambang itu tidak muncul untuk menerima panggilannya.
Anila berputar, dia berjalan ringan menuju ke arah ruangan asing yang menjadi sumber suara barusan. Wanita itu berdiri di ambang pintu, melihat ke dalam untuk memperhatikan situasi.
“Di mana aku?” tanya Anila pada dirinya sendiri. Kakinya memilih berhenti mendadak saat seseorang menembus tubuhnya.
Anila melihat gadis muda dengan rambut biru malam yang indah, tergerai bergelombang menghampiri wanita paruh baya.
“Anila, dari mana saja kau ini?” kata wanita paruh baya itu.
Napas Anila tercekat, suara itu adalah suara familiar. Suara yang Anila yakini tak akan pernah dia dengar lagi, suara ibunya.
‘Anila’—si gadis muda yang melewati Anila—tertawa kecil. “Aku mempelajari beberapa ilmu berpedang, Ibu. Sangat indah, saudara yang lain menguasainya dengan cepat. Aku harus bisa juga!”
Ibu gadis itu memiringkan kepalanya. “Kau perempuan, tidak perlu.”
“Memangnya kenapa jika aku perempuan?!” dengus Anila kecil. “Karena aku anak bungsu? Aku ingin seperti kakak!”
Wanita paruh baya di depannya menghela napas lembut, dia menatap putrinya dengan hati-hati. “Ibu tidak melarangmu, hanya saja kau tidak perlu keras pada dirimu sendiri. Perhatikan kesehatanmu, pola makan, dan tidurmu.”
Anila menatap nanar pada pemandangan di hadapannya. Matanya berair. Apa yang baru saja ia lihat? Apa yang sedang terjadi? Anila tidak bisa mengerti.
Anila kecil melipat tangan pendeknya. Dia keras kepala. “Terserah, kerja keras itu yang utama! Itu kata kakak!”
Anila melihat gadis kecil itu pergi dari ruangan sang ibu meskipun wanita paruh baya itu memanggilnya berulang kali, sifat kekanakan yang memang terjadi pada tiap anak-anak. Anila kemudian berlari menyusul jejak gadis muda itu.
Gadis yang mungkin berusia sepuluh tahun itu berlarian menghampiri seorang remaja laki-laki yang sedang memoles pedangnya. Rambut laki-laki itu selaras dengan Anila, matanya berwarna abu-abu memikat. Berkilau dibawah cahaya matahari.
Jika para wanita muda melihat, dia salah satu anak yang cukup tampan.
“Kakak!”
“Anila?!” Laki-laki itu meletakkan pedangnya dengan cepat, menyambut Anila di tangannya. Gadis itu menerjangnya dengan pelukan singkat sambil tertawa. “Kau tadi dipanggil ibu, bukan? Kenapa ke sini?”
“Sudah selesai.” Anila kecil menjawab pendek. Dia melepas pelukannya.
“Sudah selesai atau kau yang melarikan diri?” selidik sang kakak. Anila kecil tersenyum lebar, dia membuang wajah.
Anila yang melihat itu di pinggir lapangan menatap lurus pada mereka. Perlahan, dia mulai menyimpulkan, “ ... Laskar?” gumamnya.
“Pangeran Laskar!”
Benar saja, di saat itu muncul pria yang mungkin seorang guru berpedang menghampiri Anila kecil dan kakaknya, Laskar.
“Saudara kerabat sudah tiba, Anda harus bersiap untuk rapat bersama Yang Mulia Raja.” Laporan itu lantas ditindaki oleh Laskar. Pemuda itu tersenyum pada adiknya.
“Kakak harus pergi dahulu.” Pangeran Laskar mengacak rambut bergelombang milik adiknya.
Anila kecil memperhatikan punggung sang kakak yang perlahan menjauh dari pandangan mata. Gadis kecil itu langsung berjalan menghampiri jejeran pisau dengan ukiran terbaik. Itu pisau yang ringan, pas di tangan mungilnya.
Anila kecil bahkan mulai berlatih dengan serius, sebisa mungkin. Keringatnya sudah bercucuran di mana-mana, tidak ada niat berhenti hingga langit hampir gelap. Anila kecil kelelahan. Dia kemudian masuk ke istana.
Anila merasakan kepalanya pusing. Ketika dia berkedip, tempat ia berdiri sudah berbeda, kali ini Anila melihat ‘Anila’ berdandan di depan kaca. Gaunnya indah, dihiasi beberapa pelayan. Takjubnya, ‘Anila’ bukan lagi sosok anak kecil. Dia sudah remaja.
“Yang Mulia Putri, ini pelayan Anda mulai sekarang.” Seorang prajurit mengantarkan wanita dengan pakaian pelayan. Wanita itu menunduk hormat pada putri Anila.
“Siapa namamu?” tanya putri Anila pada wanita yang menjadi pelayannya mula hari ini.
“Lona.” Pelayan itu menjawab. Dia perlahan mengangkat kepalanya, matanya bersinar kemerahan.
Pelayan itu ataupun Anila, sama-sama terkejut. ‘Lona’ adalah Natara, dan Natara sedang terkejut saat melihat sosok putri Anila.
Natara segera menunduk kembali, wajahnya terlihat sangat bingung. Dia seperti ... melihat hal tak terduga.
Anila memiliki spekulasi. Namun, dia memilih untuk terus memerhatikan hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Sepertinya, dia mulai mengerti apa yang telah ayahnya lakukan pada dirinya. Atau mungkin ayahnya justru tidak tahu?
“Natara, kau pindah dari dunia yang sama denganku?” Anila bermonolog dalam keramaian yang terasa bisu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seharian di tempat antah berantah, Anila hanya mempelajari kehidupan Putri Anila dan Natara, pelayannya. Kepala Anila penuh dengan banyak opini dirinya, dia tidak bisa membagi pikiran bersama Raven, dia harus memendam ini sendirian.
“Semoga kau baik-baik saja.” Anila bergumam cemas, Raven pasti baik-baik saja ‘kan?
Pandangan Anila kembali memburam. Ketika dia berkedip, dia sudah berdiri di sebuah kamar yang suram.
Anila melihat Natara duduk di pinggir kasur, dia mengangkat tangannya, membentuk sebuah lingkaran sihir. Natara membawa banyak buku, menumpuk di meja kayu yang usang. Ini kamar yang tidak layak huni, kenapa Natara berada di sini?
Dengan piyama tidur putih, Natara merapalkan mantra. Hidungnya mengeluarkan cairan merah, darah mengalir. Natara menyekanya dengan cepat, tidak terlihat terganggu dengan darah tersebut.
Natara lebih bahagia saat melihat portal kecil muncul di hadapannya. Itu bukan portal yang cukup untuk ukuran tubuhnya, Natara hanya bisa memasukkan jari telunjuk ke dalam portal super kecil itu.
Tak lama, wanita itu menghela napas lelah. Dia merusak lingkaran sihir, membuat portal itu menghilang.
“Aku ingin pulang ....” Natara berbaring. Dia menatap rembulan di jendela kamarnya yang rusak.
Suara Natara nyaris tak terdengar, rasanya seperti menjelaskan rasa sakit di dunia ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Apa kau masih sanggup Anila?”
Pertanyaan itu terlontar dari mulut ayah Anila yang menutup paksa sihirnya. Pria itu terbatuk, berat dadanya menampung semua energi itu.
Anila masih dalam posisi duduknya, matanya masih tertutup, tidak ada tanda-tanda akan bangun.
“Anila ...?”
Sekali lagi, ayahnya memanggil. Tak ada jawaban.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anila melihat kematian Pangeran Laskar Indurasmi dalam peperangan.
Tragedi mengerikan telah terjadi, kerajaan kehilangan putra mahkota, pewaris utama. Laskar adalah satu-satunya anak laki-laki dari Indurasmi. Duka menyelimuti wilayah kerajaan, menyayangkan kematian sang pangeran.
Bagaimana Anila bisa tahu? Buku yang dibaca Natara memiliki stempel istana Indurasmi. Itu bisa dibaca dengan sangat jelas. Anila terlempar di dunia ratusan tahun lalu.
Sebelum keruntuhan Indurasmi terjadi.
Kisah yang ingin Raven ketahui sejak dulu.
Anila bahkan tidak tahu, bahwa Raven sekarang memiliki nasib yang sama dengannya. Raven berdiri di depan pintu istana Indurasmi, tentu saja tidak akan ada yang tahu bahwa dia adalah orang asing. Dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
“Ayah, ajari aku sihir,” ucapnya pada sang ayah yang berdiri di samping raja Indurasmi.
Itu bukan kehendak Raven, bukan Raven yang ingin berbicara.
Raven menempati tubuh seseorang, dia menerima semua memori dan merasakan semua emosi sebagai orang itu.
“Bagus, Lona. Kau bisa semakin melindungi Anila.” Raja Indurasmi berkomentar dengan bahagia.
Ya, Raven berada dalam tubuh Natara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...