Can I Love You?

Can I Love You?
Chapter 47: Kunci Kuno



Asap mengepul di aula yang bersimbah darah. Pemberontakan berhenti di tempat, semua orang mematung, suasana sunyi. Waktu membeku dalam keheningan.


Anila bergerak cepat menyadari keadaan aneh terjadi, dia segera berlari ke sisi Raven. Pria itu mencuramkan alisnya, mulai waspada pada sekitar mereka. Sebelum mengambil langkah maju, pintu aula yang besar dimasuki oleh seseorang. Rambut merah yang Anila kenal.


Mata tajam dan menusuk, kecantikan yang memikat.


Natara.


[Revisi tokoh utama mencapai 100%]


Kalimat itu kembali berbunyi di telinganya. Anila tidak menghiraukan hal tersebut, kali ini, dia sangat fokus akan kedatangan Natara. Dia dan kekuatan magisnya yang mengerikan selalu membuat Anila penasaran.


Natara terlihat sangat membencinya.


Lantas, sebelum sempat berkedip, wanita berambut merah itu meleset cepat dan menghilang seperti angin yang telah lalu. Ketika Anila selesai terkejut, dia menyadari keberadaan Raven menghilang total dari sisinya.


Pedang Raven yang kokoh digenggam pria itu, jatuh tak berdaya kehilangan tuan.


Anila mengepalkan tinjunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raven terbatuk, dia di lemparkan pada lantai putih, tepat di hadapan banyaknya orang berjubah misterius membawa obor. Raven mendengus, dia berusaha duduk dengan benar. Menatap hina pada Natara yang menyeretnya secara lancang.


“Lengkap. Inilah ‘bumbu’ terakhir pembalasan dendam kita!” teriak Natara mengangkat obornya. Semua orang meresponnya dengan hal yang sama. Raven menahan nyeri punggungnya, dia tidak pernah merasakan kekuatan sihir semengerikan Natara. Dia terkejut.


Natara melangkah mendekati Raven, dia berjongkok menatap Raven dengan penuh dendam.


“Dosaku adalah milikku.” Dia berbisik dengan tujuan yang Raven mengerti. Orang seperti Natara adalah orang yang rakus.


Orang yang rakus tidak pernah ingin berbagi dengan yang lainnya.


“Apa yang ingin kau lakukan pada orang-orang yang tidak bersalah ini?” desis Raven.


Natara tersenyum, dia berbicara, “mereka orang-orang yang bodoh.”


“Tunggu apalagi? Bunuh dia.” Kata para pengikut Natara.


Natara mengulurkan tangannya. “Kembalikan dahulu kunci yang kau curi juga.”


Raven mengeluarkan ekspresi bingung. “Apa maksudmu?”


“Kunciku yang hebat, ukiran kuno yang berbeda!” Natara menyipit, dia mencengkeram kerah Raven dengan sekuat tenaga. “Jawab.”


“Aku sudah membuangnya.” Raven tersenyum.


Ruangan itu ricuh. Raven membuat pemimpin mereka marah besar, betapa beraninya seorang manusia rendahan yang tidak memiliki sihir!


Raven bahkan tidak gentar saat sihir hitam mengelilingi tongkat Natara beserta tubuhnya. Raven kembali terlempar jauh, dia mengerang ngilu.


"Serahkan barangku." Natara mengulurkan tangannya. "Bukan hanya aku, kau akan mendapat keuntungan juga jika bekerja sama denganku."


"Keuntungan? Hah, menjijikkan." Raven meludah. "Dari awal kau pengecut."


Raven kembali terlempar beberapa meter, sedangkan Natara teleportasi dengan cepat berdiri di dekatnya. Kali ini dada Raven diinjak. Pria itu menggeram.


Raven terkekeh. "Barang itu sudah menjadi milikku. Kunci kuno yang kudapat dari penyihir tak berguna di desa itu 'kan? kau mempunyai bawahan yang lemah."


Seketika ruangan itu penuh teriakan tak terima. Mereka berbondong-bondong ingin membantu Natara menghajar Raven. Namun, Natara berteriak.


"Kau sangat penting untuk menghancurkan mental Anila." Natara tertawa besar.


Raven mengatupkan rahang. Tidak percaya dengan nama yang dikeluarkan Natara. "Jangan menyebutkan nama istriku."


"Oh, mengesalkan. Apa aku terlambat?" Natara mendengus. "Tidak masalah, cara memaksamu ke sini juga tidak buruk."


Orang-orang membentuk dia lingkaran sihir. Natara duduk di salah satu bubuk motif sihir dengan warna biru, sedangkan Raven diikat di satu lingkaran sihir lainnya berwarna merah.


"Jangan ada yang merusak ritual." Natara berkata dingin pad semuanya.


Raven berusaha untuk tetap tenang. Sepertinya, Natara juga tidak berniat membunuhnya untuk saat ini.


Wanita berambut merah itu mulai merapalkan mantra, ruangan senyap perlahan kehilangan waktu. Raven pusing, kepalanya tidak bisa berpikir. Dia khawatir dia dirasuki, seperti ada benang merah dengan pemimpin sirkus yang meminta jasad tak sengaja terbunuh.


"Kau pemimpin penyusup." Itulah kesimpulan Raven. Ratu bijaksana seperti Ratu Surya tidak mungkin bersekongkol dengan orang seperti Natara.


Natara memanipulasi keadaan.


"Pemimpin sebenarnya sudah kubunuh." Natara terkekeh tanpa dosa. "Kau sangat teliti."


Raven mulai merasakan matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Tubuhnya perlahan limbung, lalu jatuh pingsan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raven terbangun di suatu tempat abu-abu.


Pria itu langsung bangkit, sepi. Dia keluar dari kamar kayu?


Tidak, ini rumah yang kayunya berkualitas mahal. Tempatnya megah dan sepanjang jalan dilapisi obor kecil seperti kunang-kunang.


Ini istana, Raven menyadari denah yang sama.


Apa yang terjadi pada Raven?


"Hidup Yang Mulai Raja Indurasmi! Hidup Calon Ratu Indurasmi!"


Teriakan itu menggema dari depan pintu. Raven memastikan pakaiannya rapi di kaca, tak sengaja dia lewati.


Disisi lain, Ayah Anila bersama Rose dan Laskar tidak membeku. Anila langsung menghampiri mereka.


"Kalian masih bergerak?"


Anila menceritakan semua apa yang baru saja terjadi.


"Ayah akan membuka kartu lama. Namun, Ayah berharap kau tidak menyesali apa yang telah terjadi dulu. Karena orang yang menyesali masa lalu, akan terus menyesal. Dia tidak akan berkembang."


"Apakah kau siap?"


"Siap, Ayah."


Sihir menyelimuti mereka berdua yang duduk bersimpuh di halaman belakang. Terang dan rasanya sejuk.


"Anila?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...