
Anila mendengar panggilan dari adiknya. Laskar dengan tubuh kurus menatapnya dengan mata penuh air mata. Laskar berlari, memeluk Anila seerat mungkin. “Kak, bangun!”
Anila balas memeluk sang adik, matanya berair. Dia tidak ingin ini menjadi ilusi. Dia sangat merindukan Laskar dan ayahnya. Meskipun kini di dunia barunya ada Laskar dan ayahnya, tetap saja Anila tidak mungkin melupakan mereka yang asli.
Kenapa sistem melakukan ini padanya? Kenapa mereka membuat Anila menderita di tengah kebingungan ini.
“Kenapa Kakak lama sekali tidurnya?” tanya Laskar terisak. Dia menyeka air matanya. “Apa ini mimpiku? Atau ini memang benar-benar Kakak?”
Anila mematung. Dia menahan tangan Laskar yang terus terusan mengusap pipinya yang basah. “Laskar, apakah kau ilusiku?”
Laskar menahan isak tangisnya, keningnya berkerut. Dia cegukan sekali. “I-ilusi?”
Laskar mengepalkan tangannya. “Bagaimana Kakak mengatakan hal tersebut? Kakak tidak nyata, ini hanya mimpiku!”
Anila berlutut, kini dapat sejajar dengan mata adiknya yang memerah. “Laskar, apa yang terjadi padaku di sana?”
Laskar terdiam, dia bersuara lirih. “Kakak nyata?”
Anila menggigit bibir bawahnya. Apa yang sistem inginkan dari ini? Kenapa Laskar terlihat nyata dan bukan ilusi?
“Laskar ...,” kata Anila pelan, “apakah kau nyata?”
Laskar menggenggam tangan kakaknya. “Aku di sini, Kak. Menunggumu bangun.”
Anila menghela napasnya yang sempat tercekat. Dia memeluk erat adiknya dalam dekapan hangat. Meskipun ini mimpi, Laskar yang sekarang adalah Laskar yang dia kenali.
“Maka aku nyata, Laskar.” Anila berbisik pelan di telinga sang adik. “Semua akan baik-baik saja.”
“Kakak mengucapkan kalimat yang seperti Ibu ucapkan dulu.” Laskar menangis. “Jangan mengatakan itu.”
Anila tersenyum pahit, ada luka besar yang membekas di hati Laskar yang polos. Luka yang tidak memiliki obat, Anila bahkan tidak bisa meredakan luka yang sama dalam dirinya.
“Laskar, jawab aku.” Anila menggenggam tangan hangat adiknya. “Apa yang terjadi padaku?”
“Kakak tidak bangun.” Laskar menahan suaranya yang serak. “Ayah mengalami depresi.”
“Depresi?” ulang Anila khawatir. “Tolong ucapkan lebih jelas.”
“Kakak tidak bangun setelah kembali larut malam.” Laskar mulai berbicara, berusaha mengingat reka kejadian. “Supir aksi yang membawa Kakak hanya bilang jika Kakak tertidur dan pergi.”
Anila semakin cemas. “Lalu bagaimana?”
“Ayah membawa Kakak ke rumah sakit. Lalu dokter bilang Kakak mungkin tidak bangun dalam waktu dekat.”
“Berapa hari?”
“Hari ini sudah terhitung lima bulan.” Laskar tersenyum hampa. “Uang peninggalan ibu yang tersisa, Ayah pakai untuk Kakak.”
Tubuh Anila luruh. Dia merasakan jantungnya sakit. Rasanya tersiksa mendengar hal tersebut. Keluarganya mati-matian untuk membuatnya hidup, namun Anila justru menikah di dunia antah berantah.
Apa yang harus Anila lakukan?
“Kak, Kakak akan bangun ‘kan?” Laskar menatap sang kakak. Anila tersenyum getir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anila membasuh wajahnya dengan air dingin, dia kesulitan untuk kembali tidur. Matahari kebetulan sudah tiba di ufuk timur dengan cahaya pendarnya.
Ketika siap dengan pakaian sederhananya, Anila pamit pada Pownie dan mulai menunggu kusir kuda menghampirinya. Benar saja, kusir yang sama sudah bergegas tiba melipir di hadapannya.
“Kau lagi?” Anila berbasa-basi.
Kusir itu terbatuk singkat, “Kebetulan lewat, Nona.”
Kusir kuda mengangguk setelah Anila mengucapkan alamat. Mereka tiba di tempat yang berdiri kokoh berbahan kayu, ramai pengunjung. Ini tempat tujuan Anila. Jika dia tidak salah ingat, tempat ini masih menampung orang yang Anila cari.
Pertanyaan itu membuat Anila tertawa. “Suamiku sedang sibuk. Lagi pula aku mengunjungi seseorang di sini.”
Penjaga mengangguk. “Kau mencari siapa?”
“Bunglon.” Anila mengucapkan itu. “Bunglon yang berbahaya.”
Penjaga itu melunturkan senyumnya. Dia berbicara lebih pelan. “Apa hubunganmu dengannya?”
“Aku salah satu istri pelanggan setianya. Jadi tidak masalah bukan?”
Yap. Anila mendatangi tempat yang sama di mana Rose ditemukan. Hanya saja ini tempat yang berbeda, tempat ini menjadi bar kecil untuk kamuflase.
Penjaga itu membawa Anila ke sebuah ruangan di belakang bar. Dia masuk lebih dulu, sepertinya untuk melapor. Penjaga itu kembali pada Anila setelah mendapat izin masuk ke dalam ruangannya.
“Anila Nabastala?” tanya Bunglon memastikan.
Anila mengangguk. Sepertinya surat Raven sampai lebih cepat daripada perkiraannya. Bunglon sudah menyadari itu.
“Aku tidak percaya ini, pria itu memang gila.” Bunglon terkekeh.
“Jadi, apa yang kau inginkan?” tanya Bunglon sambil membuka lembar kosong dan alat tulisnya. “Tidak mungkin ini pekerjaan yang mudah bukan?”
“Di mana tempat penyeludupan barang kerajaan Surya?”
Bunglon menatapnya sesaat, dia meletakkan tinta. “Jadi kau hanya ingin mendengar informasi? Bukan memberikan timku tugas?”
Anila menggeleng.
“Pria itu bilang kau ke sini untuk memberikan kami pekerjaan.” Bunglon melipat tangannya, matanya menyipit penuh tuntutan atas jawaban yang Anila akan berikan padanya.
“Tolong rahasiakan ini darinya.” Anila membalas. “Aku perlu melihat tempat itu dengan mata kepalaku sendiri.”
“Kau berbeda.” Bunglon berbicara, “Pria itu tidak mau melakukan pencarian sendiri. Lebih efisien jika kami yang membantunya.”
Anila mendesak. “Beritahu saja.”
Bunglon memanggil penjaga yang sama. Penjaga itu menunggu perintah. “Antarkan dia ke penyeludupan kerajaan Surya.”
Penjaga itu mendengus kecil, Anila melihat itu.
“Dia akan mengantarmu. Ingat. Dia hanya mengantar.” Bunglon membuka berkas lain kali ini. sudah tidak peduli lagi dengan Anila.
Anila tersenyum, dia kembali menaiki kereta kuda yang sama. Kali ini, penjaga itu bersamanya. Sebenarnya Anila agak khawatir, namun ini adalah satu-satunya cara.
Mereka tiba di pinggiran hutan. Pohonnya lebat membuat Anila merinding. Sang kusir yang tidak diperlukan, bingung ingin menetap atau tidak.
“Kau tunggu di sini.”
Akhirnya kusir bisa menghela napas lega. Dia memang tidak ingin jauh dari Anila.
Mereka berdua memasuki hutan. Terlihat asap samar yang membumbung. Bau bahan yang terbakar sangat menyengat indra penciuman.
Ketika sampai di sana, Anila hanya kebingungan. Dari pada tempat penyeludupan, tempat ini seperti desa yang terpencil. Ibu-ibu menggendong anak, para pria mencabuti ranting pohon. Ada kehidupan di tengah hutan ini.
“Ini tempatnya.” Penjaga itu tersenyum kecil. “Kau serius memiliki suami?”
“Tentu saja. berhati-hatilah dengan ucapanmu. Suamiku memiliki masalah dengan amarahnya.” Anila tertawa.
“Terima kasih sudah mengantar, kau bisa naik kereta kuda di depan.”
Penjaga itu mengerjap heran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...