Can I Love You?

Can I Love You?
Chapter 3



Chapter 3


*Kelas*


Dibagian lain ada seorang yang berusaha mendekat ke eldira,


mengajaknya mengerjakan tugas yang telah diberikan asdos kemaren. Tapi ia


lagi-lagi mengurungkannya karena beberapa omongan-omongan yang mengganggu nya.


Ia takut tiba-tiba dijauhi saat ia bicara, ia sangat membenci itu. Pernah suatu


hari waktu ia masih duduk di semester 3 saat ia bicara dengan seorang teman,


teman tersebut mundur seolah jijik mendengar suara dan didekati fylian. Ia


dicap sebagai seorang gay dan gay  menjadi hal yang tabu di kota A.


Beberapa saat ketika fylian hampir memegang pundak eldira,


tiba-tiba eldira menoleh. Mereka canggung beberapa saat dan eldira beberapa


kali berfikir kenapa fylian berdiri dibelakangnya, sampai eldira menyapa dan


tersenyum ke fylian.


“Hai” sapa eldira


“ha.. hai”


“em.. kita satu kelompok kelas bisnis, kapan kita mulai


mengerjakan tugasnya” jelas fylian


“ah.. iya, aku bisa kapan saja”


“bagaimana kalau nanti? Kau tidak bekerja?” tanyanya pelan


“nggak apa-apa sih, biar temanku yang jaga”


“oke, ketemu di cafe Rxz ya jam 6 sore”


Mereka mencapai kesepakatan. Sampai beberapa saat berlalu


dan mereka bertemu di cafe Rxz


“maaf aku terlambat” eldira terburu-buru


“hai fylian kamu tau kami kan” sapa dua sahabat eldira yang


memaksa ikut kerja kelompok itu.


“maaf mereka juga memaksa ikut” fylian hanya mengangguk


menanggapi beberapa pernyataan eldira


Eldira dan fylian memulai mengerjakan tugas mereka. Beberapa


detik fylian memperhatikan wanita yang ada di hadapannya. Baju nya yang tampak


santai tapi terlihat menarik, rambutnya di biarkan terurai  panjang


“cantik” bisiknya


“apa? “ sahut eldira yang nggak mendengar fylian. Fylian


gelagapan, tak mengira eldira bakal mendengarnya berucap. Kemudian fylian


menyerahkan gelang karet biru yang ada di tanganya.


“pakai ini agar rambutmu tidak menganggu” eldira menerimanya


dan memakainya dan tersenyum ke fylian. Ada sedikit rasa ingin dekat dengan


eldira tapi...


“fylian kamu seorang gay ya?” tanya vio mendadak,


membuyarkan lamunan fylian. Teman-temannya terbelalak menghentikan vio yang dirasa


kurang sopan menanyakan hal itu tapi mata gia dan eldira menanti jawaban fylian


“memang kamu pernah mendapatiku seperti itu?” balas fylian


santai


“kalau pernah lihat sih belum, cuman dari omongan tapi kalau


udah pernah lihat sih namanya udah bisa menilai bener atau enggak, nah


berhubung dari omongan makanya aku sekarang tanya buat mastiin” jelas vio, fylian


hanya tersenyum ngeri. Melihat itu eldira tampak melototi vio agar berhenti


“nggak usah dijawab fyl, kita lanjut aja” beberapa kali


eldira melototi vio dan vio hanya bisa cemberut dan menunduk


“eh bosen nggak sih, ke club yuk” sambung gia


“ayoo” jawab vio antusias, dua orang disebelahnya masih


mengetik dilaptop masing-masing tanpa menjawab ajakan gia


“el.. ayo ke clublah, lagian kalian udah lama ngerjainnya,


kan besok-besok bisa” rayu vio


“kalian aja sana pergi, kita masih sibuk” jelas eldira


“ayok ah” gia menarik tangan kiri eldira yang membuat eldira


berdiri dan tampak kesal, dia tau nggak ada yang bisa ia lakukan kalau vio dan


gia udah kompak menginginkan sesuatu


“Fyl, maaf ya kayaknya aku harus urus mereka deh, kamu


pulang aja tugasnya gausah dilanjutin. Kita lanjutin kapan-kapan” fylian


mengangguk dan mengemasi barang-barangnya begitupun eldira dan kawan-kawannya.


“Fylian ikut gabung nggak?” vio yang tampak mengutarakan


pertanyaan nya yang dihadiahi cubitan diperut oleh eldira


“awwww” vio meringis kesakitan, fylian tiba-tiba berdiri


“aku ikut tapi aku yang milih clubnya ” membuat mereka


terbelalak dan terdiam beberapa saat, setelah itu mengejar dan mengekor fylian.


Kota A memiliki suatu kawasan untuk warganya menghabiskan


waktu, di kawasan yang didatangi fylian, eldira dan kawan-kawannya ini adalah


salah satunya. Cafe-cafe berjejeran termasuk cafe belajar yang di gunakan fylian


dan eldira kerja kelompok tadi, restoran- restoran masakan berbagai negara juga


ada disini, tempat- tempat karaoke, arena permainan yah.. kalian tau sendirikan


seperti mengambil boneka didalam kotak setelah kita memasukkan koin kita bisa


mengontrol capit besar untuk mengambil salah satu boneka yang ada dikotak yang


berisi boneka, entah apa namanya. Romansa- romansa remaja juga menghiasi


kawasan ini. Banyak pasangan remaja yang kencan dikawasan ini. Selain murah di


kawasan ini juga penuh dengan jajan-jajan pinggiran yang tak kalah enak.


Fylian terus berjalan dan berhenti didepan sebuah gedung


tinggi  yang jaraknya cukup jauh dari


cafe yang mereka gunakan kerja kelompok tadi. Eldira dan teman-temannya juga


berhenti dan menatap papan nama gedung tersebut. Eldira dan dua kawannya  bingung dan hanya saling menatap, kemudian


kembali mengekori fylian masuk ke gedung itu.


“fylian” panggil gia


“kayaknya mahal deh, kantongku bisa jantungan” tambah gia


lagi, fylian hanya tersenyum dan melanjutkan jalannya lagi.  Tak lama setelah melihat lampu club yang


mengerjap cantik, vio dan gia mendekati kerumunan orang dan bersenang-senang


kerumunan itu dan memilih mendekat ke meja panjang dan sederet kursi didepan


seorang penjaga minuman. Fylian duduk asal dan diikuti eldira, penjaga minuman


itu tampak tersenyum melihat fylian. Dan tempat ini jauh dari keramaian, jadi


orang-orang tidakperlu berteriak ketika akan bicara.


“Sudah lama tidak bertemu boss” ucap penjaga minuman itu, fylian


hanya tersenyum


“Biasa satu”


“kamu mau minum apa?” tanya fylian


“aku apa aja asal nggak memabukkan” jawab eldira. Entah


kenapa tidak ada mood untuk meminum alkohol. Dia akhir-akhir ini jauh dari


alkohol, dia bahkan memberikan tumpukan alkoholnya pada teman-temannya.


Minumannya sudah tersaji didepan masing-masing, eldira memainkan gelasnya


karena terlalu bosan dengan suasana ini. Dia ingin pulang, mandi dan memainkan


smartphone nya, bukan lelah hanya saja ia pikir ia lebih baik menghabiskan


waktu dirumah.


“kamu bosan?” tanya fylian yang dari tadi memperhatikan


gerak-gerik eldira


Tapi eldira hanya melongo menatap fylian yang kini rambutnya


tersibak dan tak memakai kaca mata. Gerak bibir eldira seperti mengatakan wow


tanpa suara, dia terpesona beberapa kali oleh fylian. Eldira tak mengira ia


begituuu em.. sangat menawan tanpa kaca matanya. “Bagaimana bisa ia terlihat berbeda saat tidak menggunakan kaca matanya,” Batin eldira


“el..” panggil fylian dengan menggoyangkan sedikit tubuh


eldira agar eldira sadar kembali


“ah iya, maaf” eldira menunduk malu, wajahnya merona dan


beberapa kali mengipasi wajahnya karena terasa panas


“mau keluar sebentar?” ajak fylian, kemudian mereka berdiri


dan meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan entah kemana kaki membawanya,


sedikit canggung dannn dingin.


“kamu sering kesini?” tanya eldira membuka percakapan agar


membunuh canggung diantara mereka


“tidak juga”


“kamu tampaknya jarang ke tempat seperti ini” tanya balik fylian


“nggak juga, hanya saja aku nggak mood dan udah lama nggak


main di tempat seperti itu” jawab eldira


“ah.. menarik”


“apa?”


“tidak, bukan apa-apa” semakin kesini semakin ada keinginan


dalam benak fylian untuk lebih dekat dengan eldira. Entah itu keinginan menjadi


teman dekat karena fylian sudah lama tidak mempunyai teman dekat atau


ketertarikan yang tidak disadari fylian, entahlah.


Drrt drrttt, handphone eldira bergetar tampak nama vio di


layar handphone-nya dia baru sadar meninggalkan 2 temannya itu di club tanpa


memberitahu mereka.


“halo”


“kamu sudah pulang duluan ya? Kok nggak bilang sih” suara


vio disebrang sana


“belum, aku Cuma keluar sebentar menghilangkan jenuh sama fylian”


“eh.. kamu belum pulang? Yah.. kita udah pulang duluan ini,


kita kira kamu udah pulang makanya kita langsung pulang dan telpon ku juga dari


tadi nggak kamu angkat”


“maaf hp ku ditas, aku mode diam jadi dia hanya getar”


“eh, sampein terimakasih kita buat fylian” eldira


menghentikan langkahnya dan menengok lelaki yang ada disebelahnya karena


tiba-tiba menghentikan langkahnya.


*****


Fylian mengikuti arah kakinya, sejenak ia ingin meraih


tangan yang terayun dari wanita yang ada didepannya, tapi ada rasa ragu yang


sedikit menyadarkannya. “apa kamu ingin


dia menjauhimu?“ Pikirannya sedang mengutarakan ketakutannya, kemudian ia


memasukkan tangannya kesaku. Tak ada yang memulai percakapan, “apa yang harus kubicarakan? Dimana kamu


tinggal? Kamu punya berapa saudara?” Kata-kata itu terus mengiang di


pikiran Fylian. Dia tak tau apa yang harus dikatakan untuk membuka pembicaraan,


“Sangat basi,”  Batinnya.


Hingga eldira memulai membuka percakapan, ada rona merah


dipipi fylian. Ia membayangkan sesuatu yang tak seharusnya, ia terlihat


memperhatikan gerak bibir eldira. “Astaga


fylian, come on. Kamu masih bukan apa-apa eldira kenapa berpikiran yang


macam-macam,”  Batinnya. Kalian tahu


lah apa yang dipikirkan fylian saat ini. Getar handphone eldira menyadarkan


pikirannya, wanita itu asik berbicara dengan lawan bicaranya, sejenak ia


sedikit mendahului eldira kemudian berhenti . “Kenapa tidak terpikir dari tadi”


ungkapnya pelan. Terlihat eldira berhenti disampingnya dan heran melihat fylian


tiba-tiba berhenti, tanganya meraih tangan eldira yang membuat eldira lebih


mendekat kearah fylian. Eldira membeku menatap wajah fylian sangat dekat, tanpa


sadar fylian menoleh. “Apa ini bangsul,


kenapa sangat dekat” batin fylian.


“Jika kau terus melihatku, kau akan terpesona dalam beberapa


detik” canda fylian, yang dibarengi tawa dari eldira


“lihatlah” fylian menunjuk objek yang harus eldira lihat,


eldira mengikuti arahan fylian


“wooooowww” Mereka membeku membiarkan malam diam beberapa


saat. Agar angin mengirim beberapa melodinya, mendekatkan dua insan yang


berdiri diantara mereka. Biar cahaya bintang membuat mereka menari diatas


perasaan mereka, mengembangkan beberapa rasa ingin bersama.