Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.02




...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Demi menepati janji dan menghibur hari Lunar yang mungkin sedang berkabut kesedihan, Leona mengajak Lunar pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang bisa dikatakan cukup jauh dari rumah mereka. Leona membawa motor kesayangan yang ia punya untuk membawa sang putri kesana.


Seragam sekolah yang dikenakan Lunar, membuat gadis itu terlihat cantik dan menggemaskan secara bersamaan.


“Bunda beli beras sekalian deh buat persediaan bulan depan.” kata Leona memberitahu si kecil agar Lunar ikut dia berbelanja kebutuhan pokok terlebih dahulu.


“Lunar boleh kesana sebentar, Bun?” tanyanya sambil menunjuk ke arah salah satu rak mainan. Meskipun tidak ingin membeli, Lunar hanya ingin melihat-lihat. Begitu saja sudah membuat hatinya senang bukan kepalang. Dia tidak ingin membuat ibunya mengeluarkan uang lebih dan kesulitan. Jadi, dia hanya ingin melihat saja.


Leona melepas Lunar dengan satu anggukan. Gadis kecil itu berlari kegirangan menuju rak mainan dimana boneka Barbie dan mobil-mobilan berjejer.


Lunar menyentuh beberapa boneka yang masih terbungkus kardus, lalu tersenyum.


“Kamu suka dengan boneka itu, sayang?”


Tanya seseorang mengejutkan Lunar. Ia mendongak untuk menangkap wajah si pemilik suara, lantas tersenyum dan mengangguk. “Tapi Lunar tidak ingin membeli dan membuat bunda susah.”


“Lho, memangnya kenapa?”


“Eummm ... bunda tidak punya uang.” jawab Lunar dengan kepala tertunduk menatap sepatutnya sendiri. Ia masih tersenyum diantara kesedihan hatinya.


“Mau paman belikan?”


Lagi-lagi kepala Lunar mendongak. Kali ini ada sepercik tatapan antusias penuh kegembiraan yang terpancar di mata beningnya. Tapi, ia harus kembali pupus karena ingat pesan bundanya untuk tidak menerima barang sembarangan dari orang yang tidak dikenal. “Terima kasih paman, tapi bunda tidak suka kalau Lunar nerima pemberian dari orang yang tidak dikenal.” lugunya dengan bibir cemberut seperti bebek, yang justru membuat orang yang menawarinya itu tersenyum.


“Lihat, paman bukan orang jahat. Paman juga punya teman kecil untuk Lunar. Namanya Kalvin.” katanya membujuk, lantas meminta pria kecil dalam rangkulannya itu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Lunar sendiri kembali tersenyum.


“Dia anak paman? Wah, Kalvin beruntung ya karena punya ayah. Lunar tidak punya.” jawabnya penuh senyuman, dan membuat hati pria dewasa itu tersayat.


“Kemana ayah Lunar pergi?” tanya Kalvin yang sejak tadi diam dan hanya berni menatap Lunar diam-diam.


“Kata bunda, ayah kerja. Tapi pulangnya lamaaaa ... sekali.”


Kata-kata Lunar membuat hati pria didepannya itu terenyuh. Gadis kecil yang seharusnya bahagia itu, adalah miliknya.


“Kalau begitu, Lunar tidak perlu khawatir. Nama paman Antariksa, Lunar bisa panggil paman dengan sebutan ... ayah.”


Lunar berbinar, “Benarkah, paman?” sedangkan Anta menarik turun pandangannya menatap atribut sekolah sang putri, SD Cempaka. Antariksa tau lokasinya. Dia akan sering mengunjungi Lunar kesana.


Refleks, telapak tangan Anta terulur dan menyentuh pipi merona Lunar sembari berkata dalam hati, “Ayah ingin kamu tau, jika pria brengsek yang ada didepan kamu ini adalah ... ayah kamu, sayang.”


***


Nampaknya betul jika ucapan ibu adalah sebuah do'a. Ingat dengan ucapan Leona saat masih di sekolah Lunar tadi 'kan? Ucapan tersebut rupanya menjadi sebuah do'a tanpa ia sadari. Leona melihat dengan mata kepalanya sendiri dari kejauhan, jika Lunar sedang bersama pria yang sudah mengacaukan hidupnya, dan juga seorang anak kecil laki-laki dalam gendongan.


Ia tertegun, kakinya stagnan, bahkan bergetar melihat pemandangan itu. Lunar dan Antariksa, memiliki wajah yang hampir sama. Leona jadi ingat bagaimana ucapan ibunya dulu saat Lunar baru lahir ke dunia.


Lihat, wajahnya sangat mirip dengan Antariksa. Tuhan itu Maha Adil, Na. Jadi jangan takut Antariksa menyebutmu macam-macam, Anak kalian sendiri yang akan membuktikan jika dia adalah darah dagingnya.


Dan sekarang terbukti. Leona dapat menangkap bagaimana wajah pias Antariksa ketika menatap Lunar. Pria itu bahkan mengusap pipi putrinya yang selama ini coba pria itu sangkal, Lunar membalasnya dengan sebuah senyuman lembut.


Melihat itu, telapak tangan Leona mengepal, rahangnya mengerat sarat marah. “Brengsek!!”


Leona berjalan cepat, lantas menyahut pergelangan tangan Lunar dengan tatapan sengit kepada Antariksa yang sontak membuat senyuman indah di bibir gadis kecil itu sirna.


“Jangan pernah sentuh anakku!”


Mendengar suara ibunya yang meninggi kepada orang yang membantunya, Lunar pun menegur sang ibu.


“Lunar ikut bunda.” tegas Leona sembari menarik Lunar pergi menjauh dari sosok Antariksa yang terlihat berusaha mengejar.


“Na, tunggu.”


Leona tidak peduli. Dia terus menarik Lunar menghindar dari Antariksa yang tak putus asa mengejar. Sedangkan Lunar sendiri, hanya bisa berjalan cepat mengikuti langkah sang ibu tanpa berbicara sepatah katapun. Ia bahkan menyempatkan diri melihat kebelakang demi pria asing yang menurutnya sangat baik itu.


Sesampainya di meja kasir dan membayar beras yang ia beli, Leona bergegas membawa Lunar menuju parkiran motor. Sebisa mungkin dia menjaga agar Lunar tidak lagi tersentuh oleh pria yang sudah membuatnya sakit hati itu karena dia takut, Lunar akan berpaling darinya dan lebih memilih pria itu yang bisa memanjakan sekaligus mewujudkan semua keinginannya.


“Bunda, siapa paman itu?”


“Bunda akan kasih tau kamu dirumah. Sekarang, Lunar harus nurut sama bunda, ya?”


Gadis kecil itu mengangguk paham, dan mereka berdua pun meninggalkan Antariksa jauh di belakang.


Tatapan matanya terpaku pada dua presensi yang meninggalkannya. Ia mengembuskan nafas sangat besar hingga kedua pipinya mengembung menahan sesak di dada, wajahnya menoleh ke arah samping, dan kedua lengannya berkacak pinggang. Antariksa panik karena Leona dan putri mereka meninggalkannya seperti ini, sesakit ini.


Ya, Anta tau jika Lunar adalah putrinya. Dia sudah melihat dengan mata kepala sendiri jika gadis kecil itu sangat mirip dengannya. Wajah gadis kecil itu sangat mirip dengannya, namun Lunar memiliki kepribadian yang baik seperti Leona, ibunya.


Tanpa Leona tau dan sadari, dulu, Antariksa memantaunya. Namun Antariksa terpaksa menghentikan semuanya saat tau Leona menitipkan bayinya di desa untuk diasuh kedua orang tua mantan istrinya. Ia tidak ingin berurusan atau melibatkan kedua orang tua Leona untuk urusan yang seharusnya sudah selesai.


Dan sekitar sebulan yang lalu, Anta mendapatkan informasi dari orang suruhannya jika Leona sudah membawa putrinya kembali ke kota. Anta juga diberi tau nama bayi yang sudah tumbuh menjadi anak-anak itu.


“Lunar ... ” gumamnya pada diri sendiri. Ia sadar betul jika tidak mungkin memaksa Leona untuk kembali bersedia menerimanya, apalagi meminta Lunar mengakuinya sebagai seorang ayah. Tidak, itu tidak akan terjadi dengan mudah. Leona pasti tidak akan membiarkan Lunar tiba-tiba dekat dan akrab sebagai ayah dan anak. “Bagaimana caranya aku harus memulainya lagi, Na?” lanjutnya, menatap jalanan yang tidak lagi memperlihatkan Leona dan Lunar.


“Kamu ngejar siapa sih?!”


Suara itu mengejutkan Antariksa yang masih tertegun akan kepergian Leona. Ia menoleh ke sisi kanan dimana sumber suara itu berasal, dan mendapati sang mama bersama Kalvin, putra dari kakak Antariksa.


“Ada Leona—”


“Mama sudah ingetin kamu, jangan lagi berhubungan atau berurusan dengan dia. Mama nggak suka!”


Dulu, mamanya sangat menyayangi Leona seperti anaknya sendiri. Tapi karena hasutan Amanda, mama dan papanya berubah membenci Leona. Bahkan mereka berdua lah yang mendukung perpisahan dirinya dengan Leona padahal, Anta berusaha untuk tidak melanjutkan talak yang sudah keluar dari bibirnya dan meminta Leona kembali bersamanya. Namun semuanya berubah semakin runyam karena Amanda yang menghasut kedua orangtuanya. Amanda berkata jika Leona berselingkuh, hingga akhirnya pilihan berpisah menjadi opsi satu-satunya yang ada diantara mereka berdua.


“Tapi Anta juga pingin dekat dengan anak Anta, mam.”


“Dia bukan anakmu! Apa kamu lupa apa yang sudah dilakukan wanita itu padamu? Dia bermain serong dibelakang mu, Ta. Anak itu bukan anakmu!”


“Dia anak Anta, mam—”


“Darimana kamu tau jika anak itu adalah anakmu?”


“Mama tidak perlu tau darimana aku mengetahui hal itu. Yang paling penting, Anta ingin mereka berdua kembali ke hidup Anta.”


“Gila! Mama tidak akan setuju atau mengakui anak itu—”


“Terserah mama. Anta hanya ingin mereka berdua menjadi bagian hidup anta lagi. Anta akan berjuang meskipun tidak akan mudah.”


***


Leona segera membawa Lunar masuk kedalam rumah dan mengunci pintu. Ia tidak peduli beras satu karungnya masih ada diluar, karena baginya, Lunar adalah segalanya.


Nafas Leona memburu, lututnya gemetar, dan jantungnya berdegup begitu kencang. Ia ketakutan. Tidak menyangka jika akan bertemu Antariksa hari ini, karena harapan yang ia inginkan, sebisanya tidak bertemu dengan laki-laki itu seumur hidup.


“Dengarkan bunda, sayang.” kata Leona lembut, meraih pipi Lunar dan mengusapnya. “Jika Lunar bertemu paman tadi, tolong menghindari nya ya?”


“Kenapa, bunda? Kenapa Lunar harus menjauhi paman itu? Paman itu baik kok, bun.”


“Bunda tau, tapi tolong dengarkan bunda, ya. Jauhi paman itu, pergi sejauh mungkin jika Lunar melihat paman itu, mengerti?” []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...