Can I Love You?

Can I Love You?
Chapter 54: Akhir (3)



Kursi roda Anila di dorong menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang inapnya. Itu adalah ruangan pasien yang katanya adalah salah satu orang senasib dengannya.


Ruangan itu senyap, ayahnya bilang keluarga dari pasien ini tidak pernah datang. Entah apa yang terjadi, ayah selalu menyempatkan untuk menjenguknya. Katanya, bagus jika mengajak seseorang yang sedang koma untuk mengobrol.


"Masuk." Suara itu mempersilakan mereka masuk saat sang ayah mengetuk pintu.


Anila mengangkat kepalanya. Dia bisa melihat rambut hitam pendek berkibar terkena jendela ruangan. Sepertinya suster ingin memberikan angin segar untuk pasien.


Anila terdiam, dia menatap nanar dalam keheningan yang singkat. Ayahnya menyapa ramah seperti kebanyakan orang saat menjenguk.


Sedangkan wanita yang duduk di atas brankar itu juga balas menatapnya. Banyak luka yang dia simpan dari tatapan itu, wanita itu memiliki banyak cerita yang ingin dia sampaikan.


Orang-orang mungkin tidak akan percaya bahwa wanita itu telah hidup ratusan tahun dan menderita. Menyimpan segala kesedihan dan kebencian dalam menunggu.


"Ayah lupa membawa keranjang buah!" Ayah Anila menepuk jidatnya, segera pria paruh baya itu meninggalkan mereka berdua di ruangan putih tersebut.


Sunyi.


"Bagaimana perasaanmu, Natara?" tanya Anila membuka suaranya. Dia hanya menatap wanita itu sesaat, sebelum menunduk.


Anila melihat jari-jarinya. Tunggu ...?


Cincin pernikahannya masih ada di sana.


"Dunia ini terang." Natara menjawab singkat. "Berapa lama aku tidak merasakan ini?"


"Kuharap setelah ini, kita berdua bisa berdamai." Anila membalas. Senyum merekah di bibirnya.


"Kau tidak ingin bekerja dibawah bos Revan lagi?" tanya Natara. Sebelumnya, tidak pernah mereka mengobrol seperti ini. Semuanya terasa sangat berbeda.


Anila menahan napasnya. Dia menghembuskan itu tak lama. Wanita itu ikut melihat jendela yang menampilkan langit biru.


"Sulit." Anila tersenyum pahit. "Bos sangat mirip dengan Rav. Untuk bersikap biasa saja seakan melupakan semua kenangan kami, itu sangat menyiksaku. "


"Jadi kau memundurkan diri." Natara mengangguk lemah. "Aku juga akan berhenti."


Anila menoleh dengan terkejut. "Kenapa?"


"Aku ingin memutuskan semua kenangan ketika aku masuk ke dunia itu, termasuk bos." Natara memandangnya pahit. "Aku ingin istirahat."


Anila mengerti. Natara pasti tidak bisa tidur karena harus mengurus banyak muridnya dan tidak ada yang membantunya di dunia itu.


“Bagaimana jika aku memutuskan untuk tidak berhenti?” Anila membalas singkat. Dia mendorong kursi rodanya lebih dekat, Natara yang duduk di kasur melihatnya.


“Kondisimu lebih buruk dariku,” ucap Natara.


“Tidak.” Anila mendengus. “Aku akan cepat sembuh.”


Anila kembali melanjutkan percakapan mereka, “Apa kau serius akan berhenti bekerja?”


“Meskipun aku ingin lanjut bekerja, menurutmu bos akan menerima karyawan yang sudah tidak berguna selama lima bulan penuh?” Natara tertawa singkat. “Dia ingin orang kompeten. Kau tahu itu.”


Anila diam. Natara mengusap wajahnya serius. “Dia bukan Putra Mahkota lagi, Anila. Dia ‘Revan’ dia bos kita.”


Anila mengelus cincin di jari manisnya. Benarkah dia dan Raven sudah berakhir?


Melihat tidak ada tanggapan dari Anila, Natara membuang wajahnya ke jendela kembali. Dia menutup mata sejenak, menghirup udara segar yang sepoi-sepoi. “Aku tidak menyangka kau masih bisa menyukai Putra Mahkota padahal dia memiliki wajah yang sama persis dengan bos dingin itu.”


Natara kembali melanjutklan, “Kau harus mulai menerima kenyataan, Anila.”


Kenyataan ya? Anila sudah tahu itu. Lantas, kenapa dia berani menaruh hati pada Raven?


Ayah Anila datang saat itu, Natara memasang senyum tipis menyambut kembalinya sang ayah.


“Anila? Apa kau tidak sehat?” Ayah Anila memerhatikan wajah pcat anaknya. “Kita masih harus menjenguk pasien satunya.”


“Ayah saja.” Anila tersenyum tipis. “Aku mau kembali ke ruang inapku.”


“Jadi kau benar masih pusing? Kenapa tak bilang dari awal?” Ayah Anila pamit kepada Natara. Pria paruh baya itu mendorong kursi roda Anila hingga dia kembali duduk di kasurnya.


“Ayah mengunjungi keluarga pasien lain ya?” Ayah Anila menarik selimut untuk wanita itu.


Anila mengangguk, membiarkan punggung ayahnya hilang ditelan pintu ruangan.


Sunyi kembali.


Kapan Anila bisa bebas dari ruangan putih ini?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua bulan berlalu dengan membosankan. Anila tentu saja sudah keluar sebulan sebelumnya, hanya saja, untuk masuk ke gedung kantor dan menyerahkan surat berhenti sangat sulit bagi Anila.


Dia akan melihat wajah Raven yang memandangnya asing. Dia akan melihat wajah dingin yang sama namun tidak ada lagi cinta untuknya.


Itu menyakitkan. Maka setelah sebulan, Anila sudah berdiri di depan gedung yang sudah lama tak ia lihat. Kantornya.


Beberapa karyawan dengan wajah baru, melintasi Anila dengan rasa penasaran mereka. Melihat Anila memakai sergam kantoran dan memiliki id card atas nama perusahaan mereka, membuat banyak pertanyaan dariu tatapan-tatapan mereka.


Anila menarik napas, dia melangkah masuk saat penjaga pintu menatapnya terkejut.


“Bu Anila?” tanya sang penjaga itu memastikan.


Anila tersenyum tipis. “Lama tak berjumpa, Len.”


Tidak heran Len dan Anila selalu saling menyapa di pintu.


“Dari mana kau tahu aku masuk rumah sakit?” tanya Anila heran.


Len menggaruk kupingnya. “Bos Revan bilang begitu.”


Bosnya mengunjunginya? Kenapa ayahnya tidak pernah membahas itu?


Anila segera melipir ke lobi. Dia di sapa dan segera berpindah ke lift. Sambil menekan lantai ruangan bosnya, Anila menatap pantulan wajahnya di dinding lift. Dia memasang senyum formal, dia harus bisa bersikap bahwa semuanya adalah mimpi.


Anila melangkah keluar saat melihat pintu lift akhirnya terbuka. Dia menatap ruangan bosnya. Menutup mata sejenak, menenangkan diri. Dia tidak boleh rapuh, dia harus melupakan semuanya dan terus hidup.


“Masuk.”


Seorang pria dengan wajah seperti pahatan sempurna sedang membawa berkas-berkas di mejanya yang menumpuk. Kacamata bertengger di hidungnya, pria itu sangat fokus. Anila menahan napasnya yang sesak.


Rasanya seperti melihat Raven bekerja sebagai putra mahkota Nabastala.


Revan mengangkat kepalanya, dia melihat sosok Anila yang melangkah mantap meletakkan sebuah surat di atas mejanya.


“Silakan wawancarai saya jika Anda berkenan.” Anila memasang senyum formal, matanya memanas.


Revan mengambil surat yang Anila letakkan, dia membuka lembaran itu dan mulai membacanya. “Kau ingin mengundurkan diri?”


Suara itu. Anila sangat merindukannya.


“Seperti yang saya tulis, ya. Saya ingin mencari pekerjaan baru.” Anila menjawab.


“Mencari?”


“Saya harus tetap bekerja karena saya memiliki adik dan ayah. Namun, untuk terus bekerja di sini, saya sudah memutuskan untuk berhenti.”


Anila tidak bernapas selama Revan melepas kacamatanya. “Apa pekerjaan yang kautuju?”


“Saya belum memutuskan.” Anila jujur.


Revan mengerutkan kening. “Kau berani untuk berhenti, tapi tidak ada rencana pekerjaanmu?”


Anila memberanikan diri membalas, “Apakah Bapak ada saran untuk saya?”


Bosnya berpikir dalam beberapa detik. “Ada.”


“Apa itu, Pak?”


“Apa kau ingin bekerja di rumah? Kau bilang kau memutuskan berhenti di sini. Aku cukup tahu alasannya, lelah dan waktunya terlalu padat. Meskipun gajinya setimpal, banyak karyawan mundur.”


Anila mendengarkan. ”Mungkin saya akan bekerja di rumah.”


Revan mengangguk sekali. Dia meletakkan surat Anila. Lalu membuka laptoprnya.


“Bapak bisa mengirimkan email kepada saya untuk saran pekerjaan itu.” Anila


Revan melirik singkat. “Tidak, aku sudah mengirimkan namamu pada pihak di sana.”


Anila terkejut. “Saya belum tahu pekerjaan saya?”


“Aku mengirim namamu kepada desainer undangan pernikahan.”


Anila termenung, apa katanya?


“Anila Rembulan,” Revan berdiri, dia menggenggam tangan Anila, “maukah kau menikah denganku di kehidupan kali ini?”


Anila menahan napasnya. Dia melihat pada mata Revan yang menatapnya penuh harap. Revan menekankan kalimat ‘kehidupan kali ini’, seakan dia ingin memberi tahu sesuatu pada Anila.


Dengan suara serak, Anila membalas, “R-Rav?”


“Maukah kau menikah lagi denganku—yang bukan seorang putra mahkota Nabastala ini—Anila?”


Anila langsung menabrak dada bidang pria itu. Dia menangis dan memeluknya dengan erat. Semua penyesalannya kembali timbul ke permukaan. “Itu kau.”


“Ini aku, Nil. Aku di sini.”


Anila menumpahkan segala kesedihannya. “Bagaimana bisa?”


“Panjang ceritanya, Nil.” Revan mendekap Anila lebih erat. “Jadi, apa jawabanmu?”


“Kau janji akan menceritakan itu, kan?” tanya Anila memastikan.


Revan mengangguk. “Jawabanmu?”


Anila mengeluarkan suaranya. “Ya. Tolong temani aku di kehidupan kali ini.”


Mereka berpelukan lebih erat. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain kerinduan Anila pada Revan ataupun Raven. Dia sudah membawa banyak penyesalan dan kemungkinan. Anila bahkan sering melamun karna penyesalan itu.


Akan tetapi, sekarang mereka berpelukan. Bisa menyentuh satu sama lain. Anila tidak bisa untuk tidak menangis.


“Sudah tenang? Ingin mendengarkan ceritaku?


Anila menyeka air matanya. Dia mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...