
Anila terkejut dengan saran sang ayah. Sihir yang sama? Bukankah itu sihir terlarang?
“Risikonya terlalu tinggi, Ayah. Aku tidak tahu apakah energi magis dalam tubuh Natara bisa menerima jiwaku. Natara juga terlalu kuat.”
Ayahnya tersenyum. “Bukan masuk ke dalam tubuh Natara.”
Anila memproses jawaban sang ayah. Bukan dalam tubuh Natara lantas siapa? Mata wanita itu kemudian melebar, dia mengerti.
“Kamu bilang ini kehidupan ketigamu,” lanjut ayah. “Di sana ada Ayah juga ‘kan?”
Anila mengangguk.
Ayah Anila kemudian duduk kembali di lingkaran sihir. “Biarkan Ayah menerima semua memorimu, Nak.”
Anila menyentuh kedua pundak ayahnya. Dia menyalurkan semua memori itu. Kematian ibunya, keputusasaan sang ayah, usahanya untuk menjadi punggung keluarga, beban pekerjaannya, serta rasa sayangnya pada Laskar.
Tak lama, sebuah portal tak besar muncul di hadapan mereka. Itu seperti ... kaca.
“Bagaimana ke adaan putriku?”
Anila mendekat pada portal, matanya berkaca-kaca melihat ‘ayah’-nya sedang berdiri di samping ranjang rumah sakit. Anila bisa melihat tubuh kurusnya dipasangi alat bantu napas dan juga infus yang menjulur di tangannya.
“Putri anda memiliki detak jantung yang stabil. Tapi maaf, kami masih belum tahu kapan dia akan membuka matanya.” Dokter tersenyum letih, menjawab.
“Apa yang membuatnya seperti ini?”
“Kita hanya bisa berharap ada keajaiban, Tuan.”
Ayah Anila yang ikut menonton dirinya, termenung. “Anilaku ... tidak ada di sana ...?”
Anila melihat pada pria paruh baya itu, dia menggeleng pelan. “Tidak tahu apa yang terjadi.”
Ayah Anila kembali menutup matanya. Dia berbicara lirih. “Tuan, apa kau mendengarku?”
Anila mengernyitkan keningnya bingung. Dia kemudian menoleh pada portal saat suara datang dari sana.
“Siapa yang berbicara?”
Napas Anila tercekat. Ayahnya mendengar!
“Kau tidak bisa melihatku, namun aku adalah bagian dari dirimu.” Ayah Anila membalas. “Putrimu ada di sini. Dia sangat merindukanmu.”
“Apa aku berhalusinasi? Siapa?”
“Kau tidak berhalusinasi. Aku adalah dirimu.”
“K-kau, apa yang kau maksud?”
“Apa kau ingin putrimu kembali?
“Jika ini bukan mimpi, tentu saja. Tolong kembalikan putriku ....”
Ayah Anila menarik napas berat. Dia tersenyum nanar dengan mata tertutup. “Bisakah kau menganggap jika kau memiliki dua anak kembar dengan nama yang sama?”
“Anila dan Anila?”
“Iya ... kumohon. Tutup matamu.”
Anila bisa melihat ayahnya di portal menutup mata. Dia duduk di samping ranjangnya. Menggenggam tangan kurus Anila yang tidak bergerak.
“Aku memiliki putri. Dia bernama Anila Indurasmi. Dia anak yang agak keras, dan sedikit ceroboh. Dia perhatian dan kadang sangat cuek. Dia bisa menerima semua risiko hidup hingga menjual dirinya sendiri ke istana sebagai pembantu.” Ayah Anila mulai berbicara. “Tolong anggap dia adalah anakmu sendiri juga.”
Anila merasakan tubuhnya berdenyut. Dia terduduk di lantai. Jantungnya berdegup dengan kencang. Aura kebiruan menyelimuti tubuhnya, angin sejuk berputar di sisi tubuhnya. perasaan macam apa ini?
“Putrimu, Anila Rembulan ada di sini. Dia anak yang tangguh dan cerdas. Dia berani dan teliti.” Ayah Anila tetap melanjutkan kalimat-kalimat itu. “Dan ada satu hal yang harus kau tahu sebagai ayahnya. Indurasmi dan Rembulan tetap dua anak yang berbeda.”
“Anila Rembulan sudah menikah dengan pria bernama Raven Nabastala.”
Saat itu juga ayahnya yang ada di portal membuka mata terkejut. “Kalian berada di mana?”
“Di dunia yang berbeda.” Ayah Anila menjawab.
“Raven Nabastala.”
Ayahnya yang berada di portal terdiam. “Lanjutkan.”
“Dengan kau yang bisa menerima bahwa kau memiliki dua putri identik. Anilamu bisa memasuki raga Anilaku. Aku berharap kau menerima ini.”
“Kau ... berusaha untuk membiarkan Anila berada di sana?”
“Aku tidak tahu apakah aku nyata atau tidak.” Ayah Anila menjawab. “Maka kita bisa tahu jika kita melakukan ini.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Raven muntah darah. Dia menerima energi magis dalam tubuhnya yang tidak mampu untuk itu. Natara memaksakan Raven untuk melihat masa lalu itu. Lalu apakah Raven akan bersimpati pada Natara?
Tidak. Dia mencintai Anila lebih dalam dari yang Natara tahu.
“Keputusan ada di tanganmu, Putra Mahkota.” Natara berbicara. “Kau tahu? Anila yang bersamamu saat ini adalah wanita yang hidup tiga kali, dan hanya percaya satu dunia yang kami sebut zaman teknologi.”
“Dia bisa saja meninggalkanmu setelah misi dari layar sistem sialan itu berakhir. Dia anak yang penurut, sistem pasti memperbudaknya."
Natara meludah. “Aku tidak tahu kenapa dia bisa masuk ke sini. Namun rasanya tidak adil aku harus melewati ratusan tahun untuk menunggunya ada di sini.”
“Padahal kami ada di dunia yang sama. Kenapa sangat tidak adil?”
Raven menggeram. “Pemikiranmu yang merasa hanya kaulah yang berhak menderita sungguh menjijikan.”
“Apa ini artinya kau tetap menolak untuk bekerja sama?”
“Aku tidak akan pernah meninggalkan Anila.”
Natara menendang tubuh Raven. Kembali tubuh Raven terpental jauh. Tangan Raven terkepal kuat mencengkeram salah satu bagian pakaiannya. Pria itu meringis, tangannya sudah berdarah.
“Apa yang kau pegang?” Natara menarik tangan Raven yang memerah. Sebuah kunci dengan ukiran kuno jatuh menggelinding di lantai yang kotor.
Natara tertawa, wajah Raven banjir keringat. Tubuhnya tidak bisa menerima tekanan sihir yang mengerikan milik Natara. Ini sangat membuatnya frustasi.
Natara merapalkan mantra, tubuh Raven terikat rantai. Dia dengan paksa ditempelkan di dinding ruangan yang berdebu. “Bajingan!”
Raven sudah tahu kunci apa itu sekaranng. Itu kunci untuk membuka jasad Anila.
Pria itu menarik lengannnya, bergores karena rantai besar bergesekan langsung dengan kulitnya. Untuk melihat keadaannya sekarang, Raven mungkin melihat darah yang mengalir di dinding ruangan berjatuhan dari tubuhnya.
“Raven Nabastala, apakah kau siap jika Anilamu mungkin sekarang mati di suatu tempat?”
“Istriku tidak selemah itu.” Raven membalas. “Dia tidak akan mati. Tidak akan.”
Natara tertawa. Dia menyugar rambut merahnya yang mengerikan. Wanita itu mengucapkan mantra, lalu mereka sudah sampai di bawah tanah kerajaan Nabastala.
Sebuah lukisan terpajang di sana. Lukisan yang sudah tua, dulu Raven kecil sering bertanya-tanya pada ibunya, lukisan siapa itu.
Itu adalah Anila Indurasmi.
“Setelah merasakan banyak jasad, jasadmu yang aku tunggu Anila! Aku sangat menginginkanmu!” seru Natara berteriak hingga bergema.
Kepala Raven jatuh lunglai, sakit rasanya saat dia sudah kehilangan banyak darah dan diikat dengan rantai yang tebal.
Natara berjalan lebar mengangkat lukisan itu. Serangga merayap lantas berlarian kehilangan tempat teduh mereka.
Di belakang lukisan itu. Bunga matahari yang layu terlihat.
"Jasadmu yang paling dilindungi Nabastala."
Itu bukan dinding, itu peti mati dengan warna yang sama seperti dinding ruangan bawah tanah.
"Anila Indurasmi, kau memang ditakdirkan untuk kalah melawanku."
Raven bisa melihat Natara mengambil peti itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...