Can I Love You?

Can I Love You?
Chapter 53: Akhir (2)



“Natara, ini bukan akhirmu.”


Anila mengucapkan kalimat itu dengan pesan tersirat yang begitu dalam. Mungkin hanya Anila dan Natara yang tahu, makna dari kalimat tersebut.


Cengkeraman tangan Anila melemah. Mata wanita itu sarat akan kesedihan yang dalam. Sesuatu yang Anila rasakan sekarang, adalah jiwa ‘Putri Anila' yang sudah lama terkubur.


“Lona, senang bertemu denganmu.” Ucapan itu singkat namun sangat tulus. Anila membiarkan jiwanya di masa lalu mengatakan itu. “Meskipun kamu berniat buruk, hanya kau satu-satunya yang tidak pernah membocorkan betapa rapuhnya aku. Betapa aku sering melamun dan mengeluh.”


Hati Anila ngilu merasakan kebencian samar dari jiwanya. Mungkin putri Anila tidak tahu apakah dia harus sakit hati atau menerima bagaimana Natara mengkhianatinya.


“Naif.” Suara Natara bergetar. “Kau punya banyak kesempatan untuk meninggalkan kerajaan. Kenapa kau berusaha menggantikan saudaramu? Sungguh bodoh.”


“Ini bukan tentang aku menginginkan kekuasaan itu. Ayahku harus dihentikan sebelum dia melakukan dosa tak termaafkan.” Putri Anila terus berbicara. “Tapi posisi di mana dia merubah garis pewaris, membuatku tidak bisa melakukan apapun.”


“Dosa?”


Anila tersenyum sayu. “Kau tahu kenapa kau ada di sini, Natara?”


Natara terkejut, putri Anila tak memanggilnya ‘Lona' lagi?


“Para penyihir termasuk 'ayah'-mu dan raja meramalkan dunia ratusan puluhan ribu tentang dunia yang berbeda. Dunia yang mungkin sudah hebat lebih dari dunia kita.” Putri Anila menarik napas.


“Mungkin kau sudah menebak, ya dunia yang kalian tinggali ‘dunia modern’” Putri Anila terus berbicara. “Maka ada tiga jenis keluarga yang mempertaruhkan anak atau keturunan mereka. Ayahku, mengorbankan aku melalui takdir. Ini yang membuatku belajar sihir, aku sudah tahu akan ada situasi buruk di masa depan.”


“Keluarga Nabastala, mempertaruhkan keturunan mereka yang belum lahir saat itu. Lalu kau, Lona, kau dipertaruhkan hari itu juga. Ayahmu sangat terpukul saat tahu sihir mereka gagal dan jiwa Lona telah lenyap. Dia tetap sayang kepadamu meskipun tahu kau bukan jiwa putrinya.”


Raven mendengarkan seluruh cerita itu. Tidak tahu ingin bereaksi bagaimana. Natara terdiam, dia menunduk.


Seluruh keberadaan jiwa putri Anila lalu lenyap dengan damai. Anila yang mendengar kebenaran itu, akhirnya mengerti.


Putri Anila memintanya untuk memutuskan.


[Cintai Putra Mahkota atau bersimpati dengan ‘Lona'?]


[Pilihanmu akan merusak dunia. Ceritamu hampir selesai.]


 


Anila menggigit bibirnya, dia mengencangkan tangan di sekitar leher Natara. Natara bahkan tidak melawan. Bagaimana ini?


Anila bisa merasakan matanya memanas. Dia tidak bisa memilih, Raven yang dia cintai atau Natara yang terjebak di dunia ini menderita serta ayahnya yang menunggunya di rumah sakit.


Anila mengangkat pandangannya pada Raven. Pria itu hanya berdiri, bibirnya bergetar hendak mengucapkan sesuatu. Susah payah, Raven membatu.


“Nil, aku sangat mencintaimu.”


[Cinta Putra Mahkota: selesai]


Raven mungkin sudah tahu keadaan ini. Anila memiliki kehidupan nyata. Namun, Anila bahkan belum sempat memberitahu kehidupannya, cerita suka dukanya, betapa Anila mencintainya, dan bagaimana masa lalunya yang seharusnya mereka bagikan.


Anila bahkan belum memberitahu bahwa Raven adalah karakter buku yang dia baca.


“Nil, ada kehidupan di sana. Mereka, keluargamu, atau ayahmu yang menemanimu melihat bintang jatuh di malam hari, mungkin dia sudah menunggu.”


Raven masih mengingat pembicaraan kecil mereka di balkon waktu itu.


“Nil, di suatu tempat, mungkin di dunia yang berbeda. Kumohon menikah lah lagi denganku.”


[Epilog diterima]


Anila terisak. Dia mengangguk. Tetesan air mata membasahi pipinya.


“Aku harap itu bukan dunia yang singkat seperti ini.” Raven tersenyum. “Terima kasih.”


[Kamu memilih simpati.]


“Apa yang kau lakukan?!” Natara berbicara dengan marah. Tubuhnya perlahan menghilang seperti serpihan. Wanita dengan rambut merah itu menangis. “Maaf.”


Itu maaf untuk Raven. Maaf telah mengambil satu-satunya orang yang Raven miliki di hidupnya.


Pandangan Anila memburam, bersamaan tubuhnya yang menghilang seperti serpihan kaca. Anila terus terisak, air matanya terus jatuh di lantai ruangan.


Raven mendekat, dia memeluk Anila yang tidak bisa dia rasakan tubuhnya dalam pelukan. Dingin.


Anila membalas pelukan itu, walau tahu itu mustahil.


Akan tetapi, Anila bisa merasakan dia menyentuh Raven, Raven bisa merasakan Anila dalam pelukannya sesaat kemudian. Tubuh Raven mulai luruh seperti serpihan kaca, sama seperti Anila.


“R-Rav?”


Anila memandang Raven, belum sempat Raven membalas panggilannya, Anila menghilang. Pandangnya gelap.


Di sisi lain, ada kelegaan dalam hatinya.


Tentang ayah dan Laskarnya.


[Sistem rusak, dunia ini hancur, t-terima kkkasih.]


[Ss-selamat atss penyelssaiannya]


Bahkan sistem sudah rusak. Kalimat yang ditulis tidak lagi benar.


Anila menghela napas.


Semua sudah berakhir.


Termasuk cintanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara monitor jantung terus berjalan dengan normal. Ayah Anila duduk di samping brankar, dia terus berharap bahwa suara yang datang padanya beberapa saat lalu benar-benar nyata.


"Nak, apa kau baik-baik saja?" Ayah Anila menggenggam tangan putrinya yang kurus. Anila tampak tenang, tidak menjawab.


"Waktunya memeriksa." Seorang pria dengan jas putih masuk sambil tersenyum menyapa ayah Anila. Pria paruh baya itu mulai memeriksa fisik Anila.


Matanya membulat. "Tuan, putri Anda mulai bernapas dengan normal."


Ayah Anila tertegun. Dia segera mendekat dan semakin erat menelungkupi telapak tangan putrinya. Ada respon, jari-jari Anila bergerak.


Dokter langsung memeriksa. "Ini keajaiban."


Kasus Anila memang aneh sejak awal, dia tidak terlibat dengan hal mencurigakan seperti narkoba atau obat lainnya. Posisi komanya sangat mendadak, menjadi kasus bagi para dokter. Sulit mencari tahu sebab Anila seperti ini.


Ayah Anila menangis, Laskar yang baru masuk memakai seragam sekolah langsung mendekat. Dia sepertinya cukup tanggap untuk mengerti melihat ayahnya tersenyum sambil menangis.


"Kakak?" Laskar memanggilnya lirih. Suaranya serak, hendak menangis seperti ayahnya.


Anila perlahan membuka matanya, silau cahaya ruangan putih. Sudah lama dia tidak melihat sinar lampu seterang ini. Tubuhnya terasa sangat lemah.


" ... Ayah?" Anila memanggil ayahnya lirih. Ayah Anila mengangguk, dia ingin memeluk Anila, namun Dokter masih mengecek kondisinya.


Setelah beberapa menit, dokter pergi dari ruang inapnya.


"Ayah tahu, Nak. Terima kasih telah memilih untuk pulang."


Anila menahan perasaannya yang berdenyut.


"Untuk suamimu ... Ayah tidak tahu bagaimana. Maaf."


Terima kasih dan maaf.


Anila hanya bisa tersenyum, seakan mengatakan semuanya baik-baik saja. Tidak apa-apa. Ayahnya tidak perlu merasa bersalah.


Anila menarik napas dengan susah payah.


Bagaimana kehidupannya tanpa Raven setelah ini? Kembali seperti biasa?


Apa yang terjadi dengan dunia Raven yang hancur?


Sistem, panggil Anila dalam hati. Tidak ada respon.


Layar biru itu sudah hangus. Tidak ada tanda-tanda sama sekali.


Suster masuk membawa mangkuk bubur. "Selamat, kakakmu akhirnya sadar. Kami turut senang."


Sepertinya suster itu ramah dan cukup akrab dengan Laskar.


Suster terus berbicara sambil meletakkan air. "Ada tiga orang koma yang sadar hari ini. Apakah ini doa-doa dari kalian yang akhirnya dikabulkan? Sungguh membuat saya tertegun."


Anila mencengkeram selimut.


Tiga?


"Ah, ibu dari salah satu pasien itu juga menjenguk putriku. Kami mungkin akan kesana untuk menjenguknya nanti." Anila menoleh pada ayahnya.


"Anila, makan buburmu."


Anila mengangguk, dia tidak ada tenaga untuk berbicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...