Can I Love You?

Can I Love You?
Chapter 49: Keputusasaan.



Raven menjalani kehidupan sebagai Natara di dunia ini. meskipun menyiksa, Raven tidak pernah ragu untuk mengurus Putri Anila. Di dalam benaknya mungkin ada banyak keluhan yang berasal dari emosi pribadi milik Natara, namun bagi Raven dia selalu siap membantu putri Anila.


Sulit untuk beradaptasi, dia bahkan tidak tahu kenapa bisa berada dalam tubuh ini, dunia ini, dan zaman ini. Raven menyisir rambut bergelombang milik putri Anila, dia juga berharap akan melakukan ini dengan Anilanya setelah berhasil keluar dari tempat ini.


“Lona, apakah Kakak bahagia sekarang?” tanya putri Anila menatap nanar cermin. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.


“Dia sudah bahagia. Mungkin dia menemukan kehidupan yang layak di suatu tempat.” Natara—Raven—menjawab sambil mengikat rambut gadis itu.


Itu jawaban yang singkat dan terkesan tidak peduli. Bagaimanapun, Raven tidak bisa mengontrol mulutnya untuk berbicara, ini murni percakapan Natara dan putri Anila.


Raven masih tak menyangka, Anila pernah hidup sebagai keturunan Indurasmi. Indurasmi berarti sinar rembulan, Anila Rembulan adalah istrinya sekarang. Dia bukan lagi Anila Indurasmi berdarah bangsawan, dia menjadi anak penyihir di kehidupan mereka.


Apa yang terjadi pada Anila? Raven menahan napasnya, sakit membayangkan hal buruk terjadi pada orang yang dicintainya.


“Ayo, Lona.” Putri Anila bangkit dari duduknya, dia berjalan di depan Raven dengan langkahnya yang tegas. Hati gadis itu mungkin terluka, akan tetapi langkah kakinya tak gentar untuk menghadiri pemakaman Pangeran Laskar.


Putri Anila tidak sekalipun mengeluarkan tangisnya di acara itu, dia hanya mengikuti ritual dengan benar, membiarkan ibunya meraung di pelukannya. Putri Anila bukanlah anak-anak lagi, dia memilih untuk diam saat ibunya meracau untuk mengembalikan jiwa Laskar pada alam semesta.


Putri Anila tahu itu mustahil dilakukan oleh mereka. Dia mengepalkan tangannya.


Natara berada di posisi di mana dia memiliki perasaan penuh rasa puas. Raven tidak tahu perasaan itu, namun dia bisa mencium hal tidak baik dari itu.


Hari keempat Raven berada di dunia ini, membuatnya tersiksa. Dia mengira ini akan menjadi hari biasanya, dia mengurus putri Anila lalu belajar lingkaran sihir. Natara sangat pendiam, dia tidak bisa juga membaca pikiran Natara, apa yang Natara pelajari?


Putri Anila berlatih berpedang lebih keras, belajar ilmu sihir suci, mempelajari sejarah dan politik kerajaan, mengikuti rapat dengan para mentri, dia melakukan itu demi ayahnya yang kehilangan sosok pewaris.


“Apa aku sudah cukup, Lona?” tanya putri Anila pada Natara.


Natara yang sedang menyediakan kopi terdiam sesaat, “Bukan seberapa cukup kau melakukannya, tapi ‘siapa’ yang melakukannya. Raja hanya peduli itu.”


Lagi-lagi bukan kalimat manis yang Natara lontarkan.


Semua itu berjalan lancar, sampai putri Anila melewati batas umur seorang perempuan seharusnya menikah.


Gadis itu terus bekerja menggantikan kakaknya, waktu luangnya berkurang, ilmu pedang dan sihirnya sangatlah matang kali ini. dia hidup dengan bakat yang mengerikan, di sisi lain, karena hal itu lah putri Anila mengalami kecewa yang berat.


“Aku akan mengangkat putra adikku sebagai pewaris kerajaan.” Begitulah pengumuman sang raja yang dipertanyakan seluruh negeri.


Raja Indurasmi memiliki anak perempuan berbakat, bijak dan cerdas. Akan tetapi, kenapa raja tak mengangkatnya sebagai pewaris?


“Ayah! Aku harus mendengarkan penjelasanmu dahulu!” Putri Anila melangkah lebih cepat menghampiri raja Indurasmi.


Raja memandangnya kesal. “Tidak ada. Pergi.”


“Ayah, aku sudah berusaha memenuhi seluruh syarat menjadi seorang pewaris, aku lebih dari mampu!” Putri Anila terus berbicara. Dia merasakan sakitnya rasa kecewa yang meledak dalam hatinya. Rasanya seperti dikhianati atas semua usaha yang dia lakukan.


“Anila, pergi.” Raja menggeram. Putri Anila berbalik dan melangkah pergi.


“Nona?” Natara memanggilnya dengan suara yang kecil. Putri Anila tak menghiraukannya, dia keluar dari ruangan rapat dengan tergesa-gesa, dia membenci untuk pertama kalinya.


Natara tak berniat untuk meninggalkan putri Anila, dia menyusul hingga dapat menemukan gadis itu sedang menangis. Setelah sekian lama dia tidak menangis setelah kepergian sang kakak, akhirnya pertahanan itu runtuh.


Itu kehidupan yang menyakitkan, ibunya juga sudah pergi beberapa tahun lalu, putri Anila benar-benar sendiri. Asing dengan ayahnya.


Natara memandang kereta kuda yang membawa pergi Anila dari kerajaan dalam diam. Dia bergumam, “Pemberontakan di mulai.”


Raven tersedak, Natara membentuk lingkaran sihir indah di depan istana. Dia merapalkan mantra. Lantas, api mengelilingi istana. Semua orang berteriak. Raja Indurasmi dan keponakan-keponakannya yang menjadi pilar kerajaan, dibunuh oleh Natara.


Keluarga Nabastala yang bekerja di bawah Anila Indurasmi, dikurung dalam penjara bawah tanah.


Natara sudah sekuat itu. Raven merasakan tubuh itu menggigil kesenangan, melepas semua energi sihir yang tak terbatas. Natara mengerikan.


Belum sempat Raven bisa mengira-ngira apa yang menjadi tujuan Natara, sebuah layar biru muncul di depannya—lebih tepatnya di depan Natara. Layar mengambang yang asing, sebuah benda yang tembus pandang. Apakah itu sihir?


“Sistem sialan ini akhirnya muncul,” desis Natara.


[Anda melanggar alur cerita ‘Seorang Anak Penyihir yang Menjadi Raja!’]


“Aku akan menjadi raja setelah membunuh semua keturunan ini!” bentak Natara di depan benda itu.


[Ini alur cerita yang buruk. Sistem tidak menerima]


“Persetan! Kerajaan ini sudah menjadi milikku, aku juga membiarkan Anila hidup bahagia di luar sana!”


Raven hanya mengetahui ‘sistem’ itu tidak mau merespon lagi untuk beberapa saat. Natara memiliki emosi yang meledak penuh amarah. Raven bisa merasakan keputusasaan dan marah yang menyatu dalam hati Natara.


[Tokoh Utama; Anila Indurasmi. Misi; Jadilah raja.]


[Sistem sudah memberi Anda misi]


Natara mengepalkan tangannya. Dia memungut mahkota raja yang terguling bersimbah darah. “Aku sudah menjadi raja!”


[Cerita Anda tidak sesuai]


“Jangan bermain-main denganku, bodoh! Kembalikan jiwaku ke duniaku!” erang Natara frustrasi.


Dunianya? batin Raven bertanya-tanya.


Sistem menghilang.


Natara memanggil sistem berkali-kali. Dia berteriak dan memaki. Bahkan sampai di hari di mana dia diangkat menjadi raja, sistem tidak muncul lagi. Sistem menghilang. Dia tidak menilai ‘cerita’ Natara lagi.


Natara kalut. Dia terjebak di sini. Sedangkan seorang pria paruh baya yang diangkat menjadi penasihat—dia adalah seorang penyihir, hanya bisa diam saat Natara mulai berbicara sendiri.


“Penasihat,” panggil Natara.


“Ya, Yang Mulia Raja?” balas sang penasihat.


“Perintahkan seluruh prajurit untuk mencari Anila Indurasmi. Segera.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...