
Raven memusatkan kekuatannya pada otot. Dengan sisa tenaga, dia terus mengencangkan otot-otot lengannya, mata biru itu bersinar dengan kekuatan yang rasanya sangat tajam.
Natara mengambil peti panjang itu, dia meletakkannya di lantai kotor yang berdebu. Banyak saksi bisu yang melihat, para tahanan yang sudah diam membeku akibat hilangnya waktu.
Bahkan mungkin mereka tidak tahu bahwa ada Natara dan Raven di sana, mereka hanya sibuk terdiam dan tidak dapat berpikir.
Natara memutar kunci kuno pada lubang peti. Bau harum semerbak memenuhi ruangan, Natara semakin bersemangat. Ada ambisi besar untuk melihat tubuh Anila Indurasmi yang tak berdaya.
“Akhirnya! Milikku!” Natara berteriak kesenangan. Dia mulai mengangkat tangan. Mulutnya bergerak mengeluarkan kalimat-kalimat asing, mantra hitam yang tidak seharusnya digunakan.
Seluruh aura hitam berkeliling disekitar tubuh Natara dan jasad Anila.
“Akh!” Natara berteriak kesakitan. Dia jatuh lunglai di lantai, duduk bersimpuh. “Apa yang terjadi?!”
Bukankah ini seharusnya sudah selesai? Bukankah Natara sudah mengambil alih tubuh Anila?
Natara melihat, jasad Anila bangkit dan duduk di sana dalam beberapa detik. Mata Natara terbelalak, napasnya tercekat.
Putri Anila memutar kepalanya menghadap Natara, tatapannya tajam, dia berdiri dan berjalan menghampiri Natara yang segera bangkit dan melangkah mundur.
“Natara Walona.” Putri Anila mengucapkan namanya dengan tekanan yang dalam.
“Persetan!” Natara terlihat memandangi bagian kosong. Mungkin saja dia melihat layar sistem akhirnya muncul.
Natara mengangkat tangan, dia memukul sihir yang tidak mempan di tubuh putri Anila. Tidak bisa, percuma.
[Tubuhmu dalam kondisi fisik yang kuat]
[Penyelesaian masalah: putri Anila adalah tokoh utama kali ini]
Anila mengangkat kerah Natara, wanita tua itu tercekik. Putri Anika bukan tandingannya, dia hanyalah tokoh pembantu yang tidak akan pernah sekuat Anila.
“Kau selalu saja merusak kehidupanku!” Natara membalas.
“Aku yang merusak, atau kau yang tidak bisa berpikir untuk menjalani hidup sehat? Kedengkian dan ambisi negatifmu lah yang melakukannya.”
Natara mengeluarkan pisau di pinggangnya secara spontan, namun ditepis cepat oleh seseorang. Pisau itu tertempel darah.
Natara menoleh pada siapa yang melempar pisaunya, Raven berdiri di sana. Tubuhnya banjir oleh darah, namun tak gentar sedikit pun untuk melawan Anila.
“Sekali kau melukainya, aku akan membalasmu, “ desis Raven tajam.
Natara melihat waspada, dia mengambil langkah mundur saat melihat kedua orang yang awalnya targetnya balik melawannya.
“Natara, bersiaplah.”
Anila menyentuh pundak Natara, Raven menahan Natara agar tidak kabur. Pria itu masih memiliki tenanga yang cukup kuat, tangannya tetap kokoh.
Anila dengan mata tertutup mulai membaca sesuatu. Raven melirik wanita itu. Apa yang sedang Anila baca?
Melihat Anila dalam wujud Anika Indurasmi terlihat sangat berbeda, namun Raven bisa merasakan ikatan yang kuat antara dirinya dan Anila.
Natara berteriak kesakitan. Anila tidak berhenti, perlahan tubuh Anila dan Natara ambruk bersamaan. Raven menyentuh pundak istrinya yang perlahan tak berdaya.
Terlihat mata Natara sudah memutih. Jiwa-jiwa yang dia Terima berhamburan keluar. Wajah wanita itu perlahan menua, rambutnya memutih. Umurnya seperti terkelupas.
"Ini adalah bayaran untuk jiwa-jiwa yang kau ambil!" Anila berbicara. Natara terus berusaha memegang tangan Anila yang memaksanya untuk tetap berada di sini. Natara kehilangan tenaga, Raven tidak memiliki celah.
Setelah Anila mengucapkan kalimat itu, Natara terdiam, dia seperti memandangi sesuatu, layar sistem.
"Ini bukn akhirmu, Natara."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...