
Gue lagi seneng, semalam Rafa ngajak baikan dan kita lanjut ngedate. Agenda kencan pada umumnya, habis makan lanjut nonton. Baik banget gue dibawain sayur yang dimasak ibunya, begini aja gue udah merasa dihargai banget. Chatnya juga panjang-panjang ketika memberitahu gue habis ngapain aja seharian tadi, tahu banget dia kalau gue paling seneng dikabarin duluan.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" Kepergok Kale ketika gue cengar-cengir sendiri. mana tampang gue macam kurang se-ons.
"Enggak Pak." Gue senyum lebar.
Kale memutuskan berhenti di meja gue, menyandarkan kedua tangannya disana dan mengamati gue seakan-akan gue objek yang menarik. "Mikirin saya ya?"
Reflek gue mundr sambil pegang dada. "Amit-amit."
Kale terkekeh dan tetap berada pada posisinya. "Jangan kecewain saya dong. Saya tadi sudah berharap loh."
Alih-alih menjawab, dengan jumawa gue pertontonkan aja chat whassap dari ayang beb. "Ngerti sekarang ngerti dong, masa enggak ngerti."
"Bukannya gak ngerti tapi saya gak peduli." Tiba-tiba ngegas terus ponsel gue langsung disingkirin gitu.
Gue langsung merepet dapat respon yang menohok. Mungkin gue terlalu lancang kali, ya. "Uhm bapak butuh sesuatu?"
"Resechedule meeting nanti sore tapi saya tetap minta data rancangan anggaran yang akurat, suruh direksi kirim sekarang. Kamu masih punya waktu buat rapihin dan koreksi, karena dalam satu jam proposalnya sudah harus jadi. Besok pagi kamu wakilin saya rapat koordinasi di hotel mulia, jam sebelas sudah harus kirim laporan pada saya gak boleh telat semenit pun. Wajib tulis pake tangan gak boleh diketik. Setelah itu kamu jalan kaki ke fairmont, bikin reservasi untuk ketemuan dengan klien Vietnam kita. Dilarang via telepon, kamu harus ketemu manajernya langsung. Setelah sampai sana kamu segera video call saya, biar saya sendiri yang ngomong. Saya akan mengecek pergerakan kamu secara berkala, jadi jangan pernah coba-coba untuk curang apalagi membodohi saya." Perintah Kale dengan gelagat gak mengenakan.
Gue kedip-kedip bengong mendengar titah beliau yang semustahil bikin 1000 candi dalam satu malam. "Bapak bercanda kan?"
"Emang muka saya keliatan ngajak bercanda ya?" Perubahan nada suara Kale yang tiba-tiba galak bikin gue keder. Emang harus pandai membaca situasi, intonasi suara, dan raut wajahnya. Kalau kira-kira prosentasi di bawah 30%, kurangi intensitas bertanya, jangan komentar yang gak perlu dan dilarang keras membantah. "Sebelum lupa saya ingatkan kalau bulan depan ulang tahun pernikahan ayah dan ibu saya. Kamu cariin hadiah yang bagus, emang masih lama tapi kamu bisa mulai cari dari sekarang. Budget bebas, dan besok siang daftar hadiah sudah harus di meja saya lengkap dengan foto dan daftar harga, nanti kita lihat kira-kira kerja kamu becus atau gak?"
Berasa jadi paranormal anjir, harus bisa nebak moodnya.
"Baik, pak. Ada yang lain?" Pokok iyain dulu, entah gimana-gimananya lihat nanti aja. Gue udah lemes ngebayangin harus lembur malam ini supaya besok bisa mengerjakan hal lain yang diperintahkan.
"Saya akan sangat senang kalau kamu mau belajar table manner, dan saya wajibkan kamu pake rok di kantor saya!" Belum sempat gue respon, Kale sudah berlalu dari hadapan gue.
Gue buru-buru mencatat semuanya sebelum kelupaan, tugas pertama gue harus telepon masing-masing divisi buat nagih data yang harusnya dilaporkan di meeting nanti sore, kira-kira sudah siap belum ya? Mati aja kalau gak kehandle, satu jam gue udah berkurang sepuluh menit.
Dulu gue sempat memandang remeh kerjaan sekretaris, dikiranya cuma duduk cantik di depan komputer atau angkat telepon. Ternyata jadi sekretaris wajib punya skill mind reading, mengubah yang impossible menjadi possible, menjadi pesulap, menjadi tameng dan keranjang untuk menyimpan banyak rahasia dari pak bos.
Ditengah-tengah gue ngetik proposal, Bian dateng dengan handphone nempel telinga. Mulutnya ngoceh seperti mucikari lagi nawarin jualannya. "Aduh Memsye, udah gak bisa lagi dislundup-slundup. Atuh lah pengertian sedikit. Schedule babang bos padet merayep macam mudik lebaran jalur ekonomi. Kalau masih kekeuh, eike schedulein next week mau?"
"Eh wait eyke hold dulu yes." Belum selesai satu panggilan, masuk panggilan dari nomor ponselnya. "Iya sis? Oh, masih aman kok. Eike kosongin slot spesial buat sista terkeceh. Hu'um. Tapi jangan lupa sawerannya ya sis..."
Salah satu skills Bian yang patut diacungi jempol yaitu kemampuan multitasking antara kuping kanan dan kuping kirinya. Bener-bener gak ada lawan. Telepon kantor masih nempel di kiri, ponsel pribadinya ikut nemplok di tangan kanan.
"Wait ya Memsye, ada panggilan masuk nich. Halo? Aduh kuping gue." Dia langsung matiin. "Sis, udah dulu yes. Nanti eike calling-calling lagi." Dia ikut matiin ponselnya. Gak cuma diputusin panggilannya, tapi bener-bener di shut down sampai mati suri. Telepon kantor kembali berdering. Bian mendengus lalu serta merta mencabut kabelnya.
"**** ah, gue butuh me time!" Dia ngereog.
"Bukan me time, Bi. Ruqiyah." Gue juga butuh, demi memberikan asupan kedamaian pada jiwa gue yang mulai goyah.
Bian menyandar syahdu pada tembok, gaya doi udah kayak yang paling teraniaya sealam jagad raya semesta ini. "Kalau emang ujung-ujungnya harus dirukiyah, gue ikhlas. Asalkan pak ustadnya hensem pisan."
Efek samping ngurusin jadwal kencan Pak Bos, bisa jadi setengah gila kayak Bian ini. Pusingnya melebihi ngadepin aduan customer BPJS. Ada yang nuntut inilah, minta itulah, kena marah, disumpah-serapahin online, diteror siang malem pagi sore, sampai mau pup aja rasanya seperti diburu tentara Nippon. Gue aja baru ketemu barisan para mantan udah mengibarkan bendera putih, apalagi bagian Bian ngurusin ciwi-ciwi Pak Bos yang masih pada aktif.
'Anjing birahi' mungkin cocok buat nama tengah bos gue.
"Oke, gue udah memutuskan." Bian tiba-tiba ngasih pengumuman. Kemana perginya dia yang menye-menye tadi, kenapa sekarang jadi semangat empat lima begini?
"Gua ambil cuti. Gue butuh healing biar psikis gue kagak ambyar." Bian nonjok-nonjok ke udara macem calon lurah yang lagi menyampaikan orasi berapi-api.
Gue cuma ngangguk-angguk aja. Kadang Bian cuma butuh diiyain.
"Untuk itu..." Tangan Bian megangin pundak gue, "Gue percayakan tugas negara ini pada Kanis. Satu-satunya orang yang bisa menghandle betina lain, baik yang masih dinas ataupun pensiunan. Gue yakin lo pasti mampu. Uraaaa!"
"Hah?" Rahang gue langsung jatuh. "Maksud lo?"
Dia dengan semangat menggebu-gebu mengepalkan tangannya ke udara. "Udah saatnya asrama putri Pak Bos ganti menejemen. Di bawah pengasuhan lo gue yakin asrama putri Pak Bos bakalan menjadi lebih baik."
Bian me nyebut paguyuban ciwi-ciwi yang dikencani Pak Bos dengan sebutan asrama putri, terus gue jadi latah pake istilah aneh-anehnya."Enak aja. Ogah gue jadi ibu asrama. Apa-apaan... Enggak-enggak! Kerjaan gue banyak."
"Ayolah sis, kita kan BFF."
"Idih. BFF kalau ada maunya doang." Cibur gue.
"Tugas lo cuma ngatur jadwal pak bos meet and greet sama penghuni asrama putri aja kok. Lagian cuma tiga hari selama gue cuti." Bian nawar lagi.
"Ogah. Mending gue resign daripada babak belur diteror reog-reog betina."
"Oke noted. Gue tunggu surat pengunduran diri lo ASAP yes." Bian mainin kukunya yang terpangkas rapi dan pendek.
Lah, diseriusin. Kalau gue gak kerja, gimana gue cari duitnya? Inget tagihan pinjol yang siap gorok leher gue. Buru-buru gue jelasin kalau gue baru ketiban apes, "Atasan lo tau-tau nguji mental gue, Kak. Ngasih kerjaan udah kayak mision imposible aja, dan gue gak yakin bisa nyelesaikan semua tanpa bantuan lo."
"Apa peduli gue?" Jawaban yang terkutuk.
"Kak Bi please." Muka gue bikin memelas mungkin, sambil gue sebutin daftar tugas yang harus gue selesaikan sampai besok sore. Gue sampai menangkupkan kedua telapak tangan dan memohon belas kasihan. "Help me, sebagai gantinya gue rela jadi babu lo selama sebulan."
"Hmm, mana tega sih gue babu-babuin lo." Dia ambil nafas buang nafas, butuh kira-kira semenit menimbang dan memutuskan. "Baiklah junior. Sebagai senior yang harus lo hormati gue dengan senang hati melimpahkan tugas mengurus asrama putri pada elo seorang dan penugasan ini berlaku selamanya. Tempel materai sepuluh rebu, cap jempol. Uraa!"
"Gak ada selamanya, kalau bagi tugas gak apa-apa gue mau." **** senioritas. Gue beneran gak berdaya melakukan penolakan atas tugas paksa yang dibebankan secara gak adil ini.
"Oke deal!" Bian girang. "Minimal kita bagi shif lah, lo pagi gue siang. Sore off dan malam buka lapak lagi khusus untuk member eklusif."
Dih segala member eksklusif, yah gue gak keberatan sih asal ada cuannya. Gue cuma bercanda waktu ngomong begini, tapi Bian anggapnya beneran. "Mata duitan amat ini bocah, gue khawatir lama-lama lo ditawar Kale terus mau-mau aja jual diri."
***
Raffa minta ditemenin jogging pagi ini. Dengan senang hati gue bersedia, sampai gue siapin susu coklat panas dalam termos dan basa bekal gorengan buat ganjal perut. Udah gue kemas rapi dalam wadah yang cachcy. Sambil nunggu jam, gue benerin ikatan kuncir kuda dan memulas ulang lip gloss tipis-tipis di bibir.
Berhubung bensin Rafa menipis, jadi dia gak bisa jemput gue dulu. Terpaksa kita janjian ketemuan langsung di GBK sekitar jam setengah enam. Tapi masalahnya gue udah nunggu sampai kelewat tiga puluh menit, batang hidung Rafa gak nongol-nongol mana susah banget dihubungi.
"Halo?" Tanpa mengecek, tangan gue refleks gerak ketika handphone tiba-tiba berdering.
"Pagi sweatheart."
Lah bukan pacar gue.
Gue berdehem sebentar untuk menetralkan suara. "Ada yang bisa dibantu, Pak?"
"Bisa pesenkan saya B'day cake? Untuk anaknya teman saya, umurnya lima tahun." Pasti temannya ini janda cantik, sampai repot-repot gitu Pak Bos demi ultah seorang bocah.
"Bisa, mau dikirim kemana?" Kemarin lebih parah, gue diminta ngurusin agenda imunisasi doi biar gak bentrok dengan jadwal meeting dengan klien. Gue pikir imunisasi apaan udah gede juga kan, eh usut punya usut ternyata pak bos yang kelaminnya suka celamitan itu berencana ikutan vaksin HIV Aids, gue sampai ngakak brutal waktu diceritain Bian.
"Nanti alamatnya saya kirim, kira-kira saya harus kasih kado apa ya?"
"Acaranya kapan, pak? Kalau nanti sore masih bisa saya pesenin ke market place."
"Oh gitu, ya udah atur aja. Acaranya masih besok."
"Baik saya catat. Kue dan kadonya for boy or girl?"
"Boy."
"Oke, nanti saya kabari kalau sudah beres." Gue udah gercep ngurusin printilan semacam ini, udah khatam baik cara maupun prosesnya. Terus gue boleh bangga karena makin kesini Kale jarang komplain, berarti doi puas dengan pelayanan ehm kerja gue. Iyain ajalah, gue udah dua bulan jadi sekretarisnya, pahit asemnya udah gue telen bulet-bulet.
"Makasih, Kanis."
"Sama-sama, happy weekend Pak." Hampir gue tutup tapi orangnya masih ngomong.
"Kanis, kucing ibu saya mati."
"Aduh turut berduka cita ya Pak." Haruscepat tanggap dan pinter nebak isi pikiran Pak Bos dari A to Z, semakin cenayang semakin kerjaan gue beres. "Nanti saya carikan gantinya, scottish fold warna grey seperti yang sebelumnya?"
"Harus persis sama biar ibu saya gak ngerasa kehilangan, sekalian belikan makan dan pasirnya untuk sebulan ya." Salutnya tuh, Kale perhatian banget sama ibunya.
"Noted." Gue nunggu kali-kali aja dapat perintah lagi.
"Kapan kamu bisa nemenin saya weekend, katanya deal tapi setiap saya ajak jalan nolak mulu?"
"Waktunya belum tepat, Pak. Bapak sendiri aja jadwalnya gak pernah kosong. Minggu kemarin kondangan ke Bali,kemarinnya lagi nemenin ibu ratu belanja ke luar negeri. Kapan itu bapak tau-tau dadakan terbang ke Jepang ngejar investor, bukan salah saya kan?" Bantahku.
"Makanya kamu saya ajak sekalian. Paspor udah jadi kan?"
"Perjanjiannya cuma di sekitaran ibu kota, maap saya gak terima orderan luar daerah."
"Lagi ngapain sekarang? Pasti rebahan ya?"
"Enggak ya, saya lagi di GBK." Pengen gue udahin mengingat masih harus pesen kue dan kado requestan beliau sendiri, aduh ngerepotin bae.
"Ngapain kesana? Kalau pengen olah raga mending kesini aja, saya punya gym pribadi dengan alat-alat yang lengkap. Bebas mau kamu pake seharian juga gak apa-apa."
"Err enggak deh, tapi makasih tawarannya." Gue masih sopan nih.
"Saya boleh gabung gak?"
"Gabung kemana?" Gue nanya bego.
"GBK, gabung sama kamu,"
"Saya udah janjian sama pacar saya." Semoga keengganan gue bisa dimengerti.
"Saya gak keberatan, pacar kamu pasti tahu siapa saya."
Gue muter mata, susah banget bikin ini orang nutup teleponnya.
"Katanya pengen kerja part time sama saya? Emang gak bisa sambil kamu pacaran sambil nemenin saya jalan?"
Jelas gak bisa, pake nanya lagi!
Uh, menggiurkan. Tapi jangan deh. Masak demi duit gue rela batalin janji gue ke Raffa.
"Lain kali saja, Pak. Bapak bisa ngomong jauh-jauh hari dulu biar saya bisa meluangkan waktu, jangan tiba-tiba gini." Halus banget gue nolaknya.
"Saya bayar dobel."
Denger kata cuan, pankreas gue langsung tergelitik.
"Udah dulu ya, Pak. Saya mau lari dulu keburu siang. Urusan kado dan kue serahkan saja sama saya, pasti beres kok." Dengan tekad bulat, terpaksa gue mengakhiri pembicaraan ini.
"Kanis, tunggu—"
Tut.. tut... panggilan langsung terputus. Huhu, sangat beradab sekali.