
Selesai makan Pak Bos minta jalan-jalan. Pusing gak gue suruh momong bocah tua nakal ini? Mending kalau di Jakarta, gue masih tahu gimana caranya nyetop taxi, bayar pakai gopay, dan nanya orang kalau kesasar. Nah sekarang, gue kayak lagi dipeletin sama.
patung singa duSelesai makan Pak Bos minta jalan-jalan. Pusing gak gue suruh momong bocah tua nakal ini? Mending kalau diJakarta, gue masih tahu gimana caranya nyetop taxi, bayar pakai gopay, dan nanya orang kalau kesasar. Nah sekarang, gue kayak lagi dipeletin sama patung singa duyung yang nyembur dari tengah Merlion Park itu. Demi Neptunus ini Singapura dan gue udah seperti orang udik disini!
Pak Kale mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai sembari menyilangkan tangan di depan dada. Tatapan bosannya terus menguliti gue hidup-hidup. Sedari tadi gue berusaha mendapatkan wifi untuk menghubungi Bian. Baru tau gue kalau di luar negeri provider kita gak ada nyawa. Kalau gue lompat-lompat mungin gak ya nyamber sinyal Telkomsel dari pulau seberang?
Tau-tau HP gue diambil Pak Bos terus disakuin. "Eh, Pak." Gue noleh. Pak bos tepat banget ada di belakang gue.
"Kelamaan. Ayok!" Telapak tangan Pak Kale meremas telapak tangan gue dan gue gak mampu melawan tenaganya yang menyeret badan gue agar menyamai langkahnya.
"Tapi Pak, saya perlu kasih tau Bian."
"Itu bukan urusan saya." Netranya yang tertutup kaca mata hitam itu sibuk menikmati suasana markah kota di sepanjang Marina Bay Sand, distrik bisnis sentra Singapura yang juga merupakan kawasan wisata utama di One Fullerton.
"Iya saya tau itu bukan urusan Bapak, tapi urusan saya. Makanya saya perlu HP saya Pak untuk menghubungi Bian, Pak." Gue berusaha mendapatkan ponsel yang sekarang bersemayam di salah satu saku celananya itu.
Pak Kale mencondongkan pinggulnya ke arah gue. "Nih ambil sendiri!"
Ya kali gue rogoh-rogoh saku celananya. Ntar kalau dapet jackpot terong Alaska bisa pingsan najis guenya.
"Pak!" gue mendesah berat sambil memejamkan mata.
"Ya udah kalau gak mau!" Dia nyengir penuh kemenangan. Heran, hobi amat ngerjain orang.
"Nanti kalau Bian nyariin gimana?"
Tanpa beban Pak Kale menjawab, "Itu urusan dia."
Iya, dia bisa santai-santai, lah gue yang kena damprat.
"Tapi kalau gak ada Bian bapak nanti gimana? Saya gak tau jalanan di sini, Pak."
"Repot amat sih jadi kamu. Tinggal jalan aja apa susahnya. Kalau kesasar nanti cari kantor polisi."
"Terus meeting bapak yang jam empat nanti gimana?"
Lelaki itu melirik rolex yang membalut tangan kanannya. "Masih ada waktu. Nanti kita balik sebelum jam tiga."
Enak bener jadi bos, gue yang cuma kacung ini bisa-bisa lempoh kehabisan baterai. Dikira nyiapin meeting selesai dalam sekali kedip. Gue sampai ngedumel lirih. "Katanya tadi cuma makan siang, lah kok molor jadi acara jalan-jalan."
Ternyata telinga Pak Bos mampu mendengar ocehan lirih gue itu. "Ya suka-suka saya. Orang saya bosnya."
Pengen lempar sandal tapi... ya sudahlah, lempar diri aja ke rawa-rawa.
Ini adalah kali pertama gue keluar negeri. Walaupun metropolis di Singapura gak jauh beda sama Jakarta, tapi gue sukses dibuat katrok sama smart system yang ada di sana. Lihat jalanan dan tata kotanya aja udah mikin ngelongo. Negara yang luasnya beda tipis dengan Ibu Kota DKI Jakarta itu berfokus pada pembangunan berbagai jenis transportasi massal, seperti peremajaan bus, perluasan jangkauan trayek, pengadaan MRT, sampai LRT berteknologi canggih. Sistem transportasi berintegrasinya membuat negara ini menjadi salah satu negara technology megacity terbaik di dunia.
Saking canggihnya tempat ini, gue sampai yakin kalau gue diajakin naik bus bertingkat dengan fasilitas melebihi KAI premium itu gue gak bakalan berani jauh-jauh dari Pak Kale, karena gue pasti katrok dan bingung gimana caranya bayar satu tempat duduk. Jangankan bayar tempat duduk, pesen makanan di warung pinggir jalan yang pake mesin tunyuk-tunyuk itu aja gue bingung. Makanya gue nurut-nurut aja waktu Pak Kale ngegandeng tangan gue ke sana kemari.
"Woaaah..." Gue terdiktrasi melihat semburan air yang menari-nari membentuk sebuah pertunjukkan air mancur di tengah pusat distrik perekonomian Asia ini. Airnya bergoyang-goyang mengikuti irama yang diputarkan dengan semburan yang saling sahut menyahut membentuk perpaduan yang harmonis. Sang ikan berkepala singa yang bersinggah di tengah itu terlihat semakin cantik bermandikan bulir-bulir kristal yang menyembur ke udara. Katanya jika malam hari, pertunjukan air mancur ini akan semakin epik diramaikan kilatan-kilatan cahaya dengan berbagai spektrum warna menghiasi langit malam yang gulita. Saking terpukaunya, gue tersadar pertunjukkan telah habis begitu gemuruh tepuk tangan para turis-turis yang kebetulan memadati area pusat kota itu menutup pertunjukkan air mancur.
"Yah," Gue menggerutu.
"Udah?" Bukannya menikmati pertujukkan, Pak Kale dari tadi mantengin gue. Mungkin terheran-heran ngeliat gue yang sama gituan aja terkesima.
Gue ngangguk.
"Kalau udah ikut sa—"
"Woah, itu!" Gue nunjuk ke arah flyer dengan bianglala besar yang gue yakin kalau sampai di puncaknya seluruh kota Singa ini akan keliatan.
"Kirain apaan, eh mau kemana?" Pak Kale ngekor gue yang udah kabur memasuki area Garden Bay. Di situ, gitu dikejutkan lagi oleh landscape tanaman hijau dataran tinggi dengan kuntum bunga mekar di sana-sini. Kali ini gue harus acungin jempol karena tata kotanya yang gak hanya metropolis namun juga diseimbangkan dengan pemeliharaan jantung kota sebagai bentuk apresiasi terhadap lingkungan hidup.
"Pak, fotoin dong." Gue kalap. Jiwa katrok gue menggelora. Namanya juga baru pertama kali keluar negeri, pasti ada dong hasrat-hasrat untuk mengabadikan demi dipamerin via status whassap dan gegayaan di instastory.
"Kamu nyuruh saya?" Mata Pak Kale macam mau loncat keluar.
Gue nodongin tangan ke depan. "Makanya mana HP saya biar saya bisa foto sendiri?"
Dengan ogah-ogahan Pak Kale memposisikan kamera Iphonenya ke arah gue berdiri. "Tu.. wa..ga... tu wa.. ga.. tu.. wa..ga.. udah." Dia asal jeprat-jepret gak nunggu gue eksyen ganti gaya.
"Liat dong Pak." Gue sampai mendongak demi bisa ngintip, tapi gak dibolehin keburu Hpnya masuk lagi ke kantong dan bikin gue gigit jari.
"Panas di sini. Kanis carikan saya minum!" Pak Kale memasukkan kedua tangannya ke celana dan berjalan membelakangi gue.
Gue langsung ngekor dari belakang. "Bapak pengen minum apa?"
"Yuankang."
Mampus, bahasa kokoh-kokoh negri seberang tiba-tiba muncul.
"Em... itu apa ya Pak? Saya gak ngerti."
Dia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Lelaki itu mendengus sesaat sebelum berkata, "Kamu..." Gue udah dag dig dug karena muka gue ditunyuk-tunyuk, pasti kena damprat ini... pasti. Padahal gue udah ngapalin loh berbagai macam menu makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi Pak Bos sampai lidah gue kepleset mulu karena nama-namanya susah semua, tapi gak ada tuh menu yuyu kangkang - yuyu kangkang tadi. Atau ada ya? Nanti deh gue buka contekan lagi.
Tapi, bukannya kena damprat, tangan gue ditarik lagi. "Sini ikut saya."
Gue nurut aja dibawa ke salah satu food court berkelas internasional yang menyajikan beberapa pilihan minuman khas Singapura itu. Pesennya aja pake tab, tinggal tunyuk-tunyuk milih rasa dan topping semau kita terus gesek, dan gak lama kemudian kita bisa ambil minuman yang udah dipesen lewat counter. Ingat, ini bukan Indonesia yang budaya 'dilayaninya' masih kental. Hampir semua yang ada di smart city ini udah self-service, artinya kita pesen, kita juga yang ambil. Tapi karena gue sama si bos, tetep aja dia cuma duduk-duduk ganteng nungguin diladenin sama gue.
"Pak, cuma minum aja ini, gak mau makan apa gitu? Cilok singapure atau barangkali pengen nyicipin seblak hongkong?" Gue aji mumpung. Siapa tahu Pak Kale mau beli makanan lain yang gak bisa gue dapet di Jakarta, kan lumayan, gue pasti ikutan dibeliin. Gue pengen coba jajanan pinggir jalan khas daerah sini.
Lelaki itu menyeruput minuman berwarna pekat itu sebelum menjawab, "Tadi kan saya udah makan."
"Maksudnya camilan gitu, Pak." Gue pasang muka ngarep.
"Ke Waterboat House jauh jalannya, ke Monti At-1 harus reservasi dulu, ke Saint Pierre, ini hari Senin, mereka tutup." Pak Kale nyebutin satu per satu rumah makan berkelas yang bikin kuping gue pegel cuma denger namanya doang.
"Maksud saya streetfood, makanan yang dijual di pinggiran gitu, Pak?" Aslinya gue ngeces banget liat beraneka ragam jajanan asing yang melambai-lambai di sepanjang jalan Pak Kale narik gue ke sini tadi. Ada coklat merlion, bakkwa, pasta laksa, thosai, prata, dan berbagai jenis olahan lainnya yang pasti bikin gagal diet. Kalau aja gue sempet nukar rupiah gue ke dollar Singapura, pasti gue udah jajan banyak di sini. Tapi apa daya, gue diculik ke sini cuma bawa baju sama HP doang. Itupun HP gue disita Pak Bos.
Gue lupa kalau Pak Bos itu bukan rakyat jelata. Denger gue nyentil jajanan jalanan, dahinya langsung mengernyit. "Jangan bilang kamu nyuruh saya beli makanan-makanan pinggir jalan?"
"Loh, kenapa emang? Makanan pinggir jalan gak bikin mati kan Pak?"
"Bagaimana tentang higenitasnya? Ijin operasionalnya? Kualitas bahan-bahannya? Kamu mau bikin saya masuk rumah sakit?"
"Selesein minuman kamu, habis ini kita belanja." Sekate-kate kalau bikin rencana dadakan, hari ini gak ada schedule jalan-jalan apalagi belanja. Asisten doi kemana sih, Kak Bian seneng pasti bisa jauh-jauh dari Pak Bos barang sebentar sementara gue dicencang gini gak bisa kemana-mana selain menuruti kemauannya.
Mata gue langsung membesar. Gue pernah denger kan ya di Singapura itu pusatnya barang-barang branded dan berkelas. Semua bisa didapat dengan harga yang lebih miring karena pajaknya gak setinggi Indonesia. Apalagi Singapura adalah titik persilangan ekspor-impor dari berbagai belahan dunia, kebayang kan gimana komplitnya kalau belanja di sini. Kira-kira butuh berapa jam beliau yang kampret ini menghabiskan waktunya untuk beli-beli barang bermerk, gue jelas gak sanggup kalau diseret seharian.
"Kenapa gak sewa jasa pembelanja pribadi aja sih, Pak?" Keluh gue.
"Fungsi kamu disini ngapain kalau gak menjalankan kemauan saya?" Jawabnya enteng. "Saya anggap kamu multitasking, jadi kamu saja yang milihin."
Rasa-rasanya pundak gue ketibanan beras sekarung, kerjaan gue nambah jadi kacung si bangsat ini.
"Ayok buruan selesein minuman kamu. Jam empat nanti kita ada meeting di Jakarta." Perintah Pak Kale kemudian.
Singapura mendung gaes, semendung hatiku yang cuma dibabu-babuin sama pak bos. Dia jalan di depan dan gue dengan malas ngekor di belakangannya. "Pak, bapak mau nyari apa sih sebenernya?" Kaki gue pegel dari tadi cuma diajak muter-muter tanpa kejelasan.
"Apa ya? Kira-kira hadiah apa yang bakalan disukai cewek?" Dia sendiri gak yakin, malah nanya gue yang gak ngerti apa-apa masalah belanja di store barang mewah.
"Cewek yang mana lagi sih Pak?" Gue heran.
"Evelyn. Ah, kamu belum kenal ya?" Pak Kale ketawa kecil.
Gabut banget ngapalin ceweknya si bos satu persatu yang jumlahnya aja bergelimpangan kayak ikan di lautan. Mending gue ngapalin nama-nama pahlawan, lebih berbobot.
"Tas aja lah Pak. Atau sepatu. Pasti suka." Gue ngasal.
"Sepatu? Tapi mana saya tau ukuran kakinya." Alisnya berkerut.
"Ya udah tas aja deh Pak biar gak ribet." Kata gue cepet, capek cuy kalau terus-terusan disuruh berkompromi dengan bos gajetot ini.
"Terus Mora dikasih apa?"
Aish, cewek yang mana lagi itu. Gue ngelus dada sampai rata.
"Kasih dompet." Ide gue langsung diiyain Pak Bos.
"Kalau Zevira?"
"Haduh Pak, bapak ternak jurig ya? Kenapa banyak banget yang dikasih oleh-oleh." Gue sewot sendiri. "Samain aja semua udah beres, tas atau dompet model sama tapi beda warna. Toh mereka gak bakalan tau, gak bakalan ngecek juga,"
"Ah, high heels, mini skirt, dan stocking yang dipake manekin itu bungkus sekalian." Pak Kale samasekali gak gubris ocehan gue.
Gue ngikutin arah pandang Pak Kale. "Stoking jala-jala itu buat siapa lagi, Pak? Kaki pacar bapak ada yang buriq emang?"
"Buat kamu. Biar makin seksi betisnya." Dia kasih kecupan terbang.
Jijay.
***
"Kanis, sudah saya bilang berapa kali, jangan jauh-jauh dari saya." Kerah leher blazer gue ditarik dari belakang, macam megangin anak kucing bae.
"Eh, iya Pak." Gue buru-buru nemplok dia lagi. Urusan belanjaan tadi Pak Kale udah nelpon Bian biar diurusin pengirimannya sampai ke Jakarta. Termasuk stocking jahanam tadi, ikutan masuk diantara barang-barang branded yang siap disumbangsihkan Pak Kale untuk menyantuni pacar-pacarnya.
Pak Kale tiba-tiba berenti bikin kening gue nabrak punggungnya. "Suit.. suit..." dia bersiul. Kalau mode begini gue yakin dia lagi ngeliat betina cantik. Gue mengikuti arah pandang Pak Kale untuk memastikan.
Tuh kan bener. Ada cewek rambut pirang dengan dada nyembul dan udel ngintip yang lagi jalan lenggak-lenggok mamerin bokong di depan sana. Pejantan mana yang gak ngeces, kecuali jenis melehoy sih.
"Kamu tunggu sini bentar, jangan kemana-mana. Saya mau memperluas koneksi dulu." Gak banget alasannya, bilang aja pengen mancing betina.
"Tapi Pak, kita bentar lagi mau pulang loh. Keburu ujan juga nanti gak dapet ijin terbang." Gue setengah teriak untuk ngingetin kalau private jet dia yang udah nunggu di samping jadwal meeting untuk jam empat nanti.
"Saya cuma bentar kok. Gak usah cemburu ya. Kamu tetep yang nomor satu kok." Dia kasih kedipan genit terus pergi ninggalin gue berdiri di situ.
Idih! Ada benang sama jarum gak? Gue banget pengen nyulam mulut yang jadi pangkalan buaya itu.
Dari jauh gue masih bisa ngeliat gerak-gerik Pak Kale yang lagi ngegodain mbak bule itu. Pergerakannya licin banget bos. Gue yakin setelah acara nemplok-nemplokan itu bentar lagi bakalan berlanjut ke adegan *****-*******. Males banget gue liatnya. Mending jalan-jalan sambil menikmati pemandangan asing ini. Kapan lagi jalan-jalan keluar negeri, iye kan?
Gue lempeng aja jalan. Membiarkan kemana langkah kaki gue membawa. Banyak banget spot-spot menarik di kota kecil ini. Andaikan bawa HP pasti gue udah kenyang foto-foto. Sayang, HP gue masih disita Pak Bos. Tapi ada untungnya juga sih, gue bisa beristirahat dari teror para lintah darat itu.
Huh, suka sebel kalau inget. Apalagi Raffa kalau ditanya gak pernah punya solusi. Malah bikin masalah makin runyam. Perasaan dulu hubungan gue sama Raffa hepi-hepi aja. Tapi kenapa makin ke sini makin kusut. Banyak banget hal realistis yang menampar komitmen kita berdua. Terutama masalah finansial. Bener kata orang, cinta doang gak bikin kenyang. Baru mau melangkah ke jenjang yang lebih serius aja gini banget rasanya. Dana buat rumah lah, cicilan mobil, belum nanti kalau punya anak. Hufh...
Gue berdiri di depan sungai yang membelah kota metropolis dunia ini. Gedung-gedung pencakar langit serta gagahnya jembatan dipenuhi dengan lalu lalang orang. Gue melihat mereka satu-satu. Ada pekerja kantoran yang sibuk dengan ponselnya, turis-turis yang sedang bercanda ria menikmati perjalanan, dan juga beberapa orang berjuang menyambung hidup dari menjajakan dagangan di pinggir jalan. Begitulah hidup. Terkadang keras tak pandang bulu, terkadang berat dan membuat ingin menyerah, atau hanya sekedar lelah dan ingin beristirahat. Seperti hubungan pecintaanku akhir-akhir ini, setelah sepuluh tahun bersama, sampailah kami di titik jenuh. Bukan, bukan berarti gue udah gak cinta sama Raffa, hanya saja gue butuh beristirahat dari realita dunia. Cinta gak selamanya indah, iya kan?
Entah, sudah berapa lama gue berdiri di sini. Semilir angin yang berhembus dingin menyibak rambut, membangunkan gue dari renungan akan makna kehidupan. Gue membuang nafas kasar sebelum memutuskan untuk kembali ke kenyataan. Ah benar, Pak Bos. Udah saatnya dia balik ke Jakarta. Tanpa membuang waktu lagi, gue membalikkan badan hendak angkat kaki dari tempat itu. Tetapi begitu mata gue menatap sekitar, ****! Gue dimana? Pak Bos dimana? Kenapa cuma terlihat lalu lalang orang-orang yang memadati pinggiran sungai?
Gue mencoba mencari ke sekitar. Kalau-kalau menemukan sosok lelaki berperawakan tinggi yang sedari tadi gue ekorin itu atau setidaknya tempat-tempat yang pernah gue tandangi. Tak peduli seberapa jauh kaki ini melangkah, tetap saja yang gue temukan hanyalah tempat asing yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Gue hilang arah. Gue sama sekali gak bisa mengingat jalan yang gue lewati sampai ke sini. Sepertinya gue terlalu tenggelam dalam pikiran saat berjalan tadi, hingga tak mengenali sedikitpun kanan dan kiri.
Bulir-bulir basah mulai turun dari langit. Hembusan angin yang semakin dingin terasa menusuk kulit. Gue sendirian di sini. Tanpa uang, tanpa ponsel untuk berkomunikasi. Gue gak tau harus kemana dan gue gak tau harus gimana. Ini tempat yang begitu asing. Tempat yang baru pertama kali gue datangi. Tempat yang sama sekali gak pernah gue kenal sebelumnya.
Gue tersesat.
Bagaimana ini? Apa yang harus gue lakuin? Bian... Pak Kale... Mama... Papa... tolong...
Tolong temuin gue di sini, takut hilang beneran.
Lutut gue melemas. Gue tertunduk merengkuh kedua kaki dalam kegundahan. Rasa takut perlahan mengerogoti, menyudutkan gue dalam risau dan sepi. Bagaimana kalau gue ditinggal di sini? Bagaimana kalau gue gak bisa balik lagi?
Gue nangis sejadi-jadinya di tengah titik-titik air yang mulai berjatuhan dari langit. Lama kelamaan hujan semakin deras. Pipi gue basah, demikian juga rumput-rumput di sekitaran.
Tapi, tunggu sebentar.
Kenapa gue gak ikutan basah?
Ujung sepatu pantofel yang berdiri di depan itu membuat gue berhenti menangis. Gue mendongak untuk memastikan. Pak Kale dan jas kerjanya menjulang begitu tinggi menanungi kepala gue. Dia mengunci netra dan menyamakan tinggi kami.
Tidak ada penghakiman di matanya, apalagi sorotan marah karena gue gak mematuhi perintahnya. Malahan dia mampu menenangkan gue hanya dengan tatapan lembutnya. "Udah saya bilang kan, jangan jauh-jauh dari saya. Kamu bikin saya khawa-"
Persetan dengan semua kalimat-kalimat itu. Gue lega banget mendapati lelaki itu menemukan gue di sini. Tanpa pikir panjang, gue langsung melemparkan diri ke dadanya dan memeluknya erat, takut jika dia tiba-tiba hilang dan gue kembali sendirian.
Dug.. dug.. dug..
Ada suara lain yang gue tangkap selain suara hujan di luar sana. Seperti gemuruh jantung yang berdetak dengan begitu cepat. Tapi gue juga gak yakin, apakah itu punya gue atau... punya dia.