
"Kanis? Kamu dimana?" Kale baru turun kira-kira sepuluh menit kemudian dengan setelan jas yang udah gue siapkan untuknya, lumayan seneng karena gak dapat komplain mengenai pilihan outfit hari ini yang berarti Pak Bos menilai gue cukup kompeten.
"Disini, bapak udah selesai ya?" Sebelum gue samperin, Kale keburu nyusul gue ke dapur.
Selama nunggu di bawah, gue gak bisa berhenti mengagumi dapur Kale yang indah. Asyik aja gur mantengin satu-persatu peralatan masaknya yang super canggih dan terlihat masih sangat baru, beberapa diantaranya malah masih terbungkus plastik jelas banget kalau belum pernah dipake. Bener-bener penggambaran dapur impian gue, kalau nanti gue dikasih rejeki lebih-lebih untuk punya rumah sendiri pokok gue mau bikin persis seperti ini.
"Mana sarapan saya?" Ditodong gitu tiba-tiba.
"Nanti beli sambil jalan, atau bapak pengen sarapan di mana? Nanti saya bookingkan."
"Saya mau makan di rumah aja." Kale menarik salah satu kursi makan dan memposisikan duduk nyaman disana. Kirain begitu udah rapi, udah wangi gini dia bakalan langsung ngajakin gue cabut.
"Makan di rumah?" Otak gue berpikir cepat, oke solusinya jelas delivery order.
Selagi gue utak-utik handphone, Kale terus nanya. "Kamu bisa bikinin sesuatu buat saya?"
"Bikin apa, Pak?" Gue angkat muka sedikit.
"Masakin saya sarapan. Kamu pinter bikin kopi, pasti kamu juga jago di dapur kan?" Dia menggiring asumsinya sendiri.
"Hah?"
Dengan jari saling tertaut Kale menunggu gue bereaksi. "Kenapa bengong, cepat sana kamu masakin saya."
Gue kedip sekali, beneran ngerjain gue ini orang. "Pak, kita lagi buru-buru loh."
"Roti bakar aja cukup." Seakan menggampangkan gitu. Dia nunjuk nakas paling atas. "Ada roti dan selai kacang disana, toasternya di dekat kulkas."
Titah Pak Bos begitu jelas, jadi gue gak bakal bisa bantah. Sambil nahan gerutuan, gue buatin tuh requestan beliau.
"Sekalian telur mata sapi, bahannya ada di kulkas kamu ambil aja." Kale nambahin, apanya tadi roti bakar cukup? Omongannya penuh tipu-tipu.
Gue langsung hela nafas, belum juga selesai satu udah disuruh bikin yang lain. Sabar, sabar.
"Baru kamu perempuan yang saya ijinkan ngacak-ngacak rumah saya." Kale mengamati gue yang lagi sibuk wara-wiri.
"Masa sih?" Gue mendengus gak percaya, sementara tangan gue sibuk mengolesi selai pada dua tangkap roti tawar.
Mungkin memang hanya orang-orang tertentu yang diijinkan masuk wilayah terlarang ini, termasuk gue dan Bian yang bertindak sebagai sekretaris serta asisten pribadinya. Bukan karena gue special atau sejenisnya, karena jatuhnya gue udah macam babu.
Tapi mustahil banget kalau gue satu-satunya makhluk feminim yang menginjakan kaki rumah ini, emang mbak-mbak art yang suka bersih-bersih disini gak termasuk kaum gue? Karena rumahnya rapi, bersih, dan kinclong sampai gak nemu setitik debu sedikitpun, meski gak nginep seenggaknya seminggu tiga kali pasti mampir lah.
"Pembantu atau orang suruhan ibu saya gak perlu masuk hitungan." Kale seakan bisa membaca pikiran gue.
Gue meliriknya dengan skeptis, lalu pacar-pacarnya yang banyak itu pada gak punya **** apa? Mereka jelas-jelas berjenis kelamin perempuan sama seperti gue.
"Saya gak pernah bawa cewek lain ke rumah ini, serius." Seakan dia harus menjelaskan pada gue, padahal gak perlu sampai segitunya.
Gue mengedik tanda gak peduli, lagian bukan urusan gue. Mau Kale bikin pesta bikini bareng selusin cewek-cewek, atau mau ternak betina kek, semua itu diluar kuasa gue. Dia bebas mau ngapain aja, toh masih muda, bujang dan lagi nakal-nakalnya. Tapi syaratnya wajib vaksin dulu sebelum dia ngelakuin hal aneh-aneh, pokoknya harus hari ini biar usaha gue menyantroni rumah ini gak sia-sia. Nah kalau berhubungan dengan jadwal-jadwal gini, baru deh gue bersedia tanggung jawab.
"Kamu gak percaya ya?"
Gak gue tanggepin karena gue sibuk nyari tombol cetekan kompor. "Pak, nyalainnya gimana?"
"Tinggal bilang, selamat pagi Kanis sayang...saya mau pake dapurnya."
"Jangan bercanda dong, Pak." Gue kesusahan dengan segala peranti alat masak canggih ini, sampai kemudian Kale dari tempatnya duduk berhasil mengaktifkan seluruh komponen dapur pintar ini, termasuk kompor listrik berikut toasternya sekalian.
"Dapur aktif, selamat memasak sayang." Jawab sistem kendali rumah pintar dengar suaranya yang datar.
"Terima kasih Kanis sayang."
Gue menoleh untuk meminta penjelasan, eh Kale malah tertawa melihat ekpresi gue yang gak terima. "See, semudah itu."
"Kanis? Bapak kasih nama robot asisten dirumah ini Kanis?" Makin dibikin bete aja gue. "Emang gak ada nama lain?"
"Terserah saya lah, rumah-rumah saya sendiri." Jawabnya dengan songong.
"Harusnya nama saya dipatenkan biar gak dicolong seenaknya gini, harusnya kan saya dapat royalti!" Gregetan banget, gak gue sebagai sosok nyata, gak sebagai robot kerjaan gue cuma melayani Kale.
Ketawa Kale makin lebar. "Gak tahu kenapa akhir-akhir ini saya sangat terobsesi sama kamu. Harusnya kamu seneng kan?"
"Dih!"
"Denger ini, kamu pasti suka." Kale lanjut ngomong sama udara kosong. "Kanis sayang, kamu cinta gak sama saya?"
"Cintaaa sekali." Kocak ini robot asisten pasti udah kemasukan virus.
"Good job Kanis sayang." Kale mengangkat-angkat alisnya dengan nyebelin, dibilang dia seneng banget kalau bisa ngerjain gue. "Kanis sayang, bilang saya ganteng."
"Very-very handsome, i love u ganteeeng!" Suara dinginnya beneran gak singkron sama nada genitnya, sumpah gue merinding sampai bulu kuduk berdiri semua.
"Shut up, Kanis!" Gue nimbrung pada pembicaraan searah itu.
"Kanis itu kamu," Tunjuk Kale. "Kalau dia lebih suka dipanggil Kanis sayang."
"Kanis sayang, bisa diem gak kamu?" Keketusan gue lebih tujukan pada Kale. "Stop cringey, oke?"
"Maaf sayang."
"Thank you!" Teriak gue frustasi.
Kale bener-bener puas bisa gangguin gue sampai keluar emosinya, dia lalu bilang gini. "Gimana kalau panggilannya diganti jadi Kanis istriku?"
Bodo amat. Gue kembali menghadap kompor dan berkutat dengan agenda membuat sarapan. Setelah meletakan teflon anti lengket dan menuang sedikit olive oil, ketika sudah terasa panas gue lanjut mecahin dua butir telor omega yang warna kuningnya cakep banget. Tambah garam dikit, taburin merica, tunggu agak matang gak usah dibalik langsung angkat, selesai.
"Masih lama, Kanis?"
"Sebentar, Pak." Gue sajikan telor mata sapi itu dalam piring ceper beserta roti panggang dengan olesan butter diatasnya, sewaktu gue taruh meja Kale langsung menyambarnya.
"Saya lapar sekali." Ujarnya tanpa gue tanya.
Gue tadinya mau nunggu diteras aja, sekalian ngasih intruksi pada Pak Jumani. Tapi gak dibolehin sama Pak Bos, gue malahan disuruh nemenin dia makan sampai selesai.
"Kamu duduk sini." Kale menarik kursi di sebelahnya.
Tahu banget kalau gue bakal nolak, pinggang gue diturunin paksa sampai gue berhasil terduduk pasrah di sampingnya.
"Kamu sudah makan?"
Gue menggeleng, lagian mana sempat dari pagi gue udah dibikin rempong sama dia. Nenggak air putih yang udah jadi rutinitas keseharian aja sampai kelupaan.
"Kenapa gak sekalian bikin sarapan untuk kamu sendiri?" Kale menghentikan suapannya.
"Saya masih kenyang." Gue mempersilahkannya lanjut.
"Kita makan berdua." Kale menggeser piringnya. "Ayo ambil Kanis, ini perintah."
Malas debat, gue nurut aja dan mengambil secuil roti panggang.
Kale gak sabar melihat gue cuma nyicipin secimit-secimit, dia lalu membagi separuh telur dan rotinya untuk jatah gue sarapan. "Kebanyakan, Pak. Nanti bapak gak kenyang."
"Sudah makan aja." Dengan berbekal perintah suara yang ditujukan pada udara kosong, Kale berucap. "Kanis sayang, tolong musiknya."
Alunan melodi indah segera terdengar seantero dapur, dengan playlist yang kebanyakan memutar lagu-lagu barat dari band kesukaan Kale, seperti cold play, maron five dan sebagainya.
Kalian bayangkan saja, duduk sebelahan, makan sepiring berdua, sesekali ngobrol ringan sambil diriingi suara musik yang romantis, gue yakin siapapun yang melihat kita sekarang pasti akan berujung salah paham.
"Kamu suka nonton konser?"
"Suka." Gue ngangguk dengan garpu teracung di tangan.
"Konsernya siapa?"
"Saya cuma bilang suka, bukan berarti pernah." Jawab gue sambil terus ngunyah.
"Masa belum pernah samasekali?"
"Nonton konser sebenarnya masuk bucket list saya, tapi untuk sekarang-sekarang ini gak dulu deh, sayang duitnya." Kata gue bijak. Mau fokus memenuhin kebutuhan primer dan sekunder dulu, urusan tersier belum begitu penting buat gue.
"Kapan-kapan nonton sama saya."
"Bapak ngajak yang lain aja, saya lagi males." Tolak gue sambil lalu.
"Yakin gak mau nonton Cold Play?"
"Serius?" Gue noleh berbarengan dengan Kale.
"Beneran, kalau kamu gak mau ya udah...." Kale ngetes gue nih.
Raut muka gue langsung berubah curiga. "Bapak pasti ada maunya nih?"
"Yah minimal kamu mau tidur sama saya...."
Babik, keperawanan gue cuma dihargai selembar tiket konser? Mati aja sono.
Tanpa mengucap sepatah kata, gue langsung berdiri dengan muka bete.
"Saya bercanda," Kale segera menyadari kemarahan gue. "Masa kamu belum terbiasa saya isengin? Duduk Kanis, selesaikan dulu sarapan kamu."
Gak gue gubris, lempeng aja gue nyingkir dari sana.
**
Gue udah dibikin darah tinggi mulu sama kale, ditambah sekarang Bian yang mengusik kesabaran gue yang setipis tisu.
"Ya gak bisa dong. Ini harusnya kerjaan lo bukan gue!" Pengen banting ponsel aja rasanya.
"Sorry banget, Nis. Perut gue nyeri lagi neh, biasa haid hari pertama." Bian masih dengan drama menstruasi abal-abalnya.
"Udah dikompres belum? Biar jadi rar lo sebadan-badan menciut—" Balas gue sarkas.
"Dasar perempuan kejam, ah udah dulu ya. Gue mau ganti pembalut, byee cyantik!" Langsung ditutup gitu aja teleponnya, gimana gue gak misuh-misuh coba.
"Haloo? Kak Bi? Kak Bi?" Sialan. Bukan begini kesepakatan awalnya.
Kanapa jadi gue yang dikasih tangung jawab penuh, harusnya beban berdua lah. Ogah banget gue sendirian disuruh momong bocah tua yang denger kata jarum suntik aja auto nyungsep di balik kursi.
"Pak Kale?" Gue toel-toel bahunya.
Dia pura-pura merem.
"Pak Kale?" Gue berusaha manggil lagi.
"Zzzzzz...."
"Gak usah pura-pura tidur!" Gue tarik tangannya.
"Udah gak marah kan?" Pertanyaan sama yang sudah diajukan berkali-kali.
"Bapak sih red flag banget, makanya saya males nanggepin." Sembur gue.
"Saya cuma bercanda, maaf ya?"
Gue maafin tapi pake syarat. "Sekali lagi bapak ngelecehin saya, baik itu verbal maupun tindakan. Mau itu iseng-iseng atau beneran, pokok gak ada ampun."
"Kalau saya kelepasan?"
"Entah sengaja atau gak, tetep no way." Gue ultimatum sekali lagi. "Saya gak masalah dianggap babu atau keset yang bisa diinjek-injek, karena melayani bapak memang bagian dari pekerjaan saya. Tapi untuk hal-hal yang mengarah negatif dan merendahkan diri saya sebagai wanita, mohon maaf kita stop saja sampai di sini."
"Betul!"
"Contohnya duit ya?" Logikanya kepake banget ini orang.
Diri gue penuh kontradiktif ini hampir gak terima, tapi kembali lagi duit bisa menjadi hal positif kalau ditangan orang yang tepat, bisa juga negatif kalau tidak tepat penggunaannya. Bingung ya gue, mau bilang gak butuh tapi sebenarnya butuh banget. Lagian ngomongin duit loh ini? Gue gak bisa sok-sokan nolak.
"Kalau saya hamilin aja gimana, saya bisa kasih kamu duit dan bonusnya testpack positif." Tawaran Kale udah seperti pembodohan publik.
Gue mendelik, bisa-bisanya Kale melanggar ketika kesepakatan baru berjalan semenit. Mulut gue masih berbusa, belum juga sempat mingkem eh udah berulah lagi.
"Katanya kamu hanya mau nerima hal yang positif, bukannya bayi itu anugerah terindah dari Tuhan? Masa kamu dilabelin negatif? Mindset kamu tuh yang harus dirubah, negatif itu gak selamanya buruk dan positif gak selamanya baik, biar kamu juga bisa memandang dunia dengan cara berbeda." Kale tuh pinter memutarbalikan omongan gue, capek banget sumpah.
Udahlah, Pak Bos emang otaknya rada mesle, gue yang waras mending ngalah aja.
"Oh ya, Kanis—" Kale nowel lengan gue.
Gue reflek nengok sambil pasang tampang, apa lagi nih? Mau ngapain lagi? Gak bisa ya gue hidup tenang?
"Saya belum ngomong, biasa aja dong mukanya." Dia tertawa puas karena belum-belum udah bikin gue senewen.
Trauma banget gue, ini orang aneh-aneh mulu sih.
Alis Kale naik turun. "Jadi gimana? Mau gak hamil anak saya?"
Gue tarik nafas dalam-dalam sebelum teriak. "Vaksin dulu baru ngomongin anak!"
"Bener ya?" Kale nantangin, tapi sebelum gue bisa nanggepin lebih sengak keburu dipanggil untuk masuk ke ruang tindakan.
"Vaksinnya sudah siap. Bapak silahkan masuk." Ujar perawatnya dengan sopan.
Pak Kale langsung menghindari tatapan gue. "Saya mau ke toilet dulu."
Hidung gue kembang kempis, tadi aja belagu ngajakin bikin anak. Giliran mau disuntik mentalnya langsung ciut. "Nanti aja ke toiletnya, kita vaksin dulu!"
"Saya kebeletnya sekarang." Kale udah ngeloyor ningglin gue,
Gue berdecak dan terpaksa ngekorin dari belakang, Pak Bos kudu dipantau biar gak kabur, sampai gue bela-belain nunggu di depan toilet cowok.
Beneran jahanam si Bian, bisa-bisanya ngeprank di saat genting dan meninggalkan gue dengan seonggok bocah tua yang susah diatur ini. Ditambah lagi gue harus menahan risih karena tatapan aneh orang-orang yang keluar masuk toilet cowok ini seolah-olah gue ini penguntit mesum.
Sudah hampir dua puluh menit gue nunggu tapu Kale belum juga keluar. Kaki gue pegel, rasa malu juga udah sampai ubun-ubun. Habis sudah kesabaran gue. Nekat, gue celingak-celinguk dulu untuk memastikan di dalam udah sepi baru deh gue berani masuk.
Pokoknya habis ini gue mau bikin perhitungan sama Bian siluman. Kasian mata gue tercemar melihat deretan urinoir-urinoir yang nemplok pada dinding tembok. Simpel banget ya jadi cowok. Pipis aja bisa membentuk shaf berjamaah.
Omaigat, otak gue jadi ngebayangin.
Sekarang gue fokus mencari keberadaan Pak Bos, melewati bilik demi bilik sembari ngintipin bayangan kaki-kaki yang keliatan dari bawah, semoga aja gue gak salah ketuk pintu. Patokan gue tentunya celana dan sepatu mahal yang dikenakan Kale hari ini.
Tok.. tok..
Gak ada jawaban.
Gue ulangin sekali lagi.
Tok.. tok..
Karena gue yakin gak ada orang lain lagi di toilet ini, jadi gue berani bersuara. "Saya tahu bapak ada di dalem. Gak usah pura-pura pingsan."
Gue amati lagi kakinya yang bergerak-gerak resah.
"Nis, saya sembelit. Suntiknya besok aja ya."
"Nanti kalau ada malaikat ngaminin, bapak sembelit beneran loh." Sambil gue gedor-gedor pintunya.
"Ini beneran. Kalau gak percaya masuk sini bantuin saya ngeden."
Jijay banget sih.
"Bapak baik-baik aja tadi pagi." Gue kasih bujukan dan rayuan lembut." Mungkin bapak cuma nervous. Keluar dulu makanya, nanti diobatin perutnya biar enakan."
"Gak usah, saya gak suka dienakin obat, kalau kamu yang ngenakin baru saya mau." Gak jelas banget, dasar mesum.
Pokoknya urusan vaksin harus selesai hari ini, besok-besok gue udah gak mau. "Ya udah kalau bapak gak mau keluar, saya panggilin perawatnya kesini..."
Eh kedengeran beberapa langkah kaki mendekat disertai suara pintu berdecit terbuka. Mampus gue panik, tapi sebelum gue bisa cari tempat persembunyian, pintu di depan gue lebih dulu kebuka terus gue ditarik masuk secara tiba-tiba. Pelakunya tentu saja Kale, gue aja kaget sampai gak bisa berontak.
"Pak-emh." Mulut gue dibungkam.
"Sttt..." Pak Kale mengisyaratkan gue buat diem.
Kuping gue langsung bereaksi mendeteksi pergerakan di luar bilik.
"Angkat kaki kamu..." Bisik Kale di dekat telinga gue. Model kamar mandi dengan pintu menggantung seperti ini membuat orang dari luar hanya bisa mengintip sebatas betis ke bawah. Karena gue malu dipergokin berada di tempat laknat ini, gue segera mematuhi perintah Kale yang langsung menyambut kaki gue untuk melingkar di pinggangnya.
Baru sedetik kemudian gue menyadari posisi ambigu ini. Kale duduk diatas koslet dengan bokong gue nangkring di atasnya. Dia kesenengan banget karena badan kita saling nempel sementara tangan gue melingkar di lehernya. Tunggu, benda apa ini yang gue dudukin? Rasanya keras-keras nggeganjel?
Omaigat, terongnya Pak Bos!
"Mmm-" Gue udah hampir teriak seandainya tangan Pak Kale gak buru-buru ngedekep mulut gue lebih kenceng. Dia kasih isyarat biar gue tenang karena pekikan kecil gue barusan sepertinya menarik perhatian orang-orang yang berada di luar.
Jantung gue deg-degan. Bukan karena wajah Pak Bos jaraknya deket banget, atau nafas hangatnya yang menerpa wajah gue, bukan pula karena posisi gak normal ini, tapi lebih diakibatkan karena ketakutan gue sendiri. Takut banget dituduh berbuat macem-macem, takut banget kalau sampai kena grebek. Mau ditaruh mana muka gue kalau ditemukan lagi berduaan di toilet cowok yang sempit. Masuk ke sini aja gue malunya sampai ke ubun-ubun, apalagi kepergok dalam situasi seperti ini.
Tiga menit serasa satu jam menanti orang-orang itu selesai dengan aktivitasnya. Gue baru bisa bernafas lega saat mendengar pintu toilet telah tertutup berikut suara langkah kaki yang menjauh.
Seketika itu juga gue memukul bahu Kale. "Bapak ngapain sih narik saya masuk!"
"Saya mau nyelametin kamu."
"Gak usah sok-sokan jadi pahlawan kesiangan deh! Gara-gara bapak nih saya kejebak, nyaris banget tadi tuh!" Gue ngomel.
"Nyaris apa?"
"Nyaris ketahuan, padahal kita gak ngapa-ngapain!" Protes gue sepertinya cuma dianggap angin lalu. "Kalau sampai dituduh yang enggak-enggak gimana?"
"Sekalian aja kita ngapa-ngapain biar tuduhannya bener." Enak banget ngomongnya. "Gak usah panik, Kanis. Rumah sakit ini masih punya keluarga saya."
Seakan persoalannya bisa selesai semudah itu, dasar orang kaya gak punya empati.
"Ayo, Pak!" Gue udah mau berdiri tapi Kale megangin pantat gue.
"Mau kemana?"
"Suntik vaksin!" Gue tepis tangannya tapi gak ngaruh. "Kita udah molor dua jam dari jadwal, udah datengnya telat, pake alasan ke toilet segala... bapak lelet banget sampai saya harus nyusul ke sini."
"Gak ada yang nyuruh kamu nyusulin saya." Tanggapannya enteng banget.
"Saya harus ngecek, kalau bapak kabur nanti saya juga yang repot." Sergah gue.
"Silahkan aja kalau mau ngecek, saya udah siap." Dia merem.
Gue mengernyit. "Buruan berdiri ish, cepetan udah ditunggu dokternya ituloh!"
"Ini udah berdiri." Pak Kale nunjuk selangkangannya setelah gue angkat bokong dari sana. "Jadi gak nih suntik-suntikannya?"
****! Mesum banget otaknya, macam terbuat dari serat ******.
"Bapak tahu gak kalau suntik HIV yang disuntik apanya? Ya itunya." Gue kerjain balik.
Tatapan Kale berubah horor. "Jangan nakutin-nakutin saya, Kanis."
"Kita buktiin aja kalau gak percaya. Ayo buruan." Gue tarik tangannya supaya mau keluar dari bilik sempit itu.
"Eh sebentar,, perut saya masih gak enak." Dia pegangan ujung kloset kenceng banget.
"Udah gede masa takut jarum suntik sih?" Gue ledekin sambil gue seret tangannya,
"Kasih saya waktu untuk menyiapkan diri." Kale terus berpegangan pada benda apapun yang mampu diraihnya. "Kamu harusnya menghormati keputusan saya, Kanis. Dengan memaksa saya melakukan hal yang saya tidak suka berarti kamu sudah melanggar hak saya sebagai warga negara yang baik."
"Kelamaan!" Gue mendesis. "Bapak cuma vaksin bukan potong titid, gak usah alay!"
"Saya tetap menolak, dilanjut next time aja." Tubuhnya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman gue, sebelum dia berhasil lolos lebih jauh, gue buru-buru megangin celananya.
"Bapak jangan seperti anak kecil dong!" Gue bertahan dengan genggaman yang kenceng. "Gak sakit kok, beneran!"
"Mental saya belum siap, batalin aja."
"Bentar aja ish." Gue lebih effort lagi meganginnya, sampai akhirnya kesandung dan jatuh nemplok di atas badan Pak Kale. Tangan gue masih megangin celananya. Sementara tangan dia narik kerah baju gue.
Tepat di posisi seperti itu, tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Kain pel bapak-bapak cleaning service yang berdiri mematung di depan pintu sampai terjatuh dari tangannya. Belum juga gue berubah posisi, datang lagi bapak dan anak yang hendak menggunakan toilet ini. Si bapak dengan sigap nutup mata anaknya, tapi si anak gak mau rugi untuk menuntaskan rasa penasarannya. Menahan malu, gue cuma bisa nunduk dan menutupi wajah pake rambut terus melejit kabur meninggalkan Kale beserta aib yang tersisa.
Gilaaa... merah banget muka gue. Kenapa mereka masuk di saat yang tidak tepat sih? Gue lebih menyalahkan Kale sebenarnya, coba kalau dia gak bertingkah pasti urusan vaksin sialan ini udah selesai dari tadi.
Ceritanya gue ngambek untuk kedua kalinya dalam kurun waktu sepagian ini, sementara Kale dengan muka tanpa dosanya cuma melenggang santai di sebelah gue.
"Saya gak mau minta maaf karena bukan salah saya." Kale berujar tenang. "Seandainya kamu tidak memaksa saya, pasti gak akan ada adegan gak senonoh seperti tadi, orang-orang pasti mengira kamu hendak memerkosa saya..."
Gue ngelirik dia dengan tatapan mematikan. Adegan gak senonoh apanya? Kita cuma gontok-gontokan biasa, tapi emang kalau dilihat dari point of view orang lain posisinya gue rada gak mengenakan sih.
"Untung cuma saya korbannya," Kale menyeringai. "Tenang aja saya gak akan minta ganti rugi, atau memperpanjang kasus ini, asalkan kamu mau jalan sama saya."
Gue makin mendelik sampai bola mata rasanya mau copot. "Bisa-bisanya bapak ngomong gitu?"
"Saya cuma mau ngajak kamu jalan, Kanis. Bukan kencan atau ngajak tidur. Semurah hati itu saya demi menyelamatkan nama baik kamu, coba kamu jadi saya yang harus membereskan kesalahpahaman yang tadi?" Ambil kesempatan banget ini orang, hari-harinya dipenuhi modus.
Gue judes minta ampun. "Saya gak akan nanggepin. Saya disini yang dipermalukan bukan bapak!"
"Kenapa jadi galakan kamu daripada saya?"
"Bapak tuh bisanya cuma nyusahin saya!" Gue lanjut emosi. "Masalah gak mau vaksin aja jadi merembet kemana-mana? Memang sepele buat bapak, tapi bagi saya itu bagian dari tanggung jawab. Ah percuma saya ngomel gini, bapak gak akan ngerti karena bapak gak pernah berada di posisi saya."
"Saya berlebihan ya?"
Pake nanya lagi, males ah. Gue memalingkan muka untuk menghindari konfrotasi lebih lanjut.
"Oke, silahkan kamu bawa saya." Kale mengulurkan kedua tangannya macam hendak diborgol.
"Bawa ke mana? Vaksin?" Gue memicingkan mata, nyaris mustahil membuat oknum inisial K ini menyerah begitu saja.
"Iya."
Eh, segampang itu?
"Tapi syaratnya saya minta cium." Senyumnya mengandung muslihat.
Ekspresi gue langsung berubah jengah, barusan gue bilang apa? Iyes, mustahil.
Tapi baiklah, gue sekali-sekali juga pengen ngecounter balik atasan yang terkutuk ini. Kasih pelajaran tipis-tipis sekalian untuk ngasih makan ego gue, karena dimana-mana perempuan itu gak pernah salah.
Sebelum gue berubah pikiran, dan sebelum Kale menyadarinya, gue harus segera bertindak. Dengan berjinjit ringan, gue lancang meraup pipinya dan memberikan kecupan kecil di sana, chuuu.
Kale tercengang sampai lupa berkedip. Hah? Gimana rasanya udah koar-koar biar keliatan woke tapi langsung kena skak sama gue? Sumpah puas banget rasanya.
Tanpa menunggu kelanjutan reaksi Pak Bos, gue langsung pergi begitu aja sambil ketawa dalam hati, kapok gak tuh?
"Kanis!" Setelah sadar dari keterkejutannya, Kale akhirnya buka suara. "Kamu apain saya... Kanis, kembali ke sini! Kamu harus tanggung jawab!"
Tanpa menoleh gue mengacungkan jari tengah ke atas, pecat ya sana pecat. Gue takut sih aslinya nantangin orang nomor satu di perusahaan. Tapi kata gue, Kale perlu sering-sering dijatuhkan ke bumi sambil digetok kepalanya biar cepet sadar dan syukur-syukur mau kembali ke jalan yang benar.