
Gue lagi sortir dokumen sewaktu Pak Bos ngehubungin gue via intercom. "Kanis, masuk ruangan saya."
"Ngapain, Pak?" Gue waspada, sementara Bian lagi ijin keluar tapi gak balik-balik. Gue was-was kalau cuma berduaan sama Kale di area yang terkenal paling eksklusif ini.
"Gak bisa apa tinggal jawab, baik pak saya ke sana sekarang."
"Tapi saya lagi sibuk banget, Pak."
Jeda sebentar sebelum Kale kembali bersuara. "Kamu mau saya gotong kesini."
"Enggak, Pak." Setelah mematikan interkom, gue buru-buru berdiri.
Tentunya gue benerin penampakan dulu, pokok jangan sampai terlihat aurat sedikitpun. Termasuk leher, makanya gue hampir gak pernah cepol rambut untuk menghalau pandangan yang suka jelalatan. Begitu merasa aman dengan outfit yang gue kenakan, segera gue masuk ke ruangan pak bos. "Siang, Pak?"
Tanpa mengangkat kepalanya, Kale mempersilahkan gue masuk.
Gue mendekat dengan lagak setenang mungkin, sambil mengamati doi yang lagi mantengin ipadnya sementara tangannya mencoret-coret menggunakan pen digitalnya. Karena gue gak mau mengusik, makanya gue biarin aja dia dengan kesibukannya.
"Kok diem aja?" Tanya Kale tanpa menghentikan kegiatannya.
"Eh bapak perlu sesuatu?" Gue menyahut cepat.
Kale mengangguk singkat.
"Bapak butuh apa?"
"Hm, coba tebak?"
Gue melirik kotak bento yang seharusnya menjadi menu makan siang Pak Bos, namun jika melihat bentukannya masih utuh pasti isinya belum tersentuh. "Mau saya pesankan menu yang lain?"
"Ayo tebak lagi." Kalau Kale terus nunduk gini gue jadi gak bisa menilai ekpresinya beneran serius atau cuma jahil pengen ngerjain gue.
"Sparkling waternya kurang dingin?"
"Bukan." Kale menggeleng kecil.
Gue menelengkan kepala. "Uhm kuaci?"
"Salah."
Sambil gue mengingat-ingat, sambil gue sebutin semua kebiasaan Kale khususnya pada siang hari bolong seperti ini. "Kemeja untuk ganti sudah saya gantung di lemari belakang, saya juga sudah menghubungi personal shopper yang berada di Jerman untuk menyiapkan pesanan bapak, untuk notulen rapat meeting tadi pagi masih saya kerjakan—"
Kale mengusap hidungnya sembari menyimak cerocosan gue. "Setelah ini kamu potongin kuku saya."
"Baik segera saya kerjakan. Maaf ehm jadi saya harus booking tempat untuk sore ini ya, Pak?" Gue minta perintahnya untuk diperjelas. "Atau sekarang?"
"Sekarang. Tapi kamu yang ngerjain."
"Gimana?" Gue mencerna sedetik baru merespon.
"Potongin kuku saya." Kale sudah selesai dengan Ipadnya, setelah menyingkirkan gadgetnya di laci akhirnya perhatiannya sepenuhnya tertuju pada gue.
"Saya, Pak?" Gue nunjuk diri sendiri.
"Saya gak suka kuku saya panjang..." Sambil dia mengamati jari-jari tangannya.
Dalam hati gue membatin, gak nanya! Mau kuku dia sepanjang buto ijo juga bodo pisan.
"Kanis? Kamu denger perintah saya?"
"Denger, Pak. Tapi maaf saya gak bisa…" Gue tambahin alasan. "Selain alatnya gak ada, bapak sebaiknya menyerahkan urusan manicure dan pedicure ini pada ahlinya aja."
"Saya gak butuh treatment profesional, saya cuma pengen kuku saya dirapikan, thats it." Sepertinya Kale tipikal cowok yang rutin memotong kuku dan rambutnya agar tetap pendek, dia paling gak suka kalau penampilannya berantakan meski cuma setitik cela.
"Tapi saya tahu dimana salon nail art langganannya artis—" Kalimat gue gak selesai.
"Kamu terlalu sering ngebantah saya, Kanis. Kalau saya bilang kamu, berarti saya pengennya kamu yang kerjain bukan yang lain." Potong Kale dengan sedikit tekanan nada yang membuat gue langsung terdiam. "Sini kamu, duduk dipangkuan saya biar enak eksekusinya."
Gue langsung mendelik, dan gak lupa kasih decihan najis. Namun sepertinya Kale gak menghiraukan gelagat keberatan gue, dasar bos najis.
Usai mengambil sesuatu dari laci, Kale kembali ngeliatin gue yang ogah bergeming. "Oh kamu mau kita ngelakuinnya sambil berdiri? Oke, gak masalah."
Kale lalu beranjak sambil memainkan alat yang dipegangnya, yang ternyata berupa gunting kuku kecil bewarna emas.
"Tolong ya." Kale hanya berjarak sejengkal dari tempat gue berdiri, kita benar-benar sedekat itu. Hih, nyusahin aja bisanya!
Gue yang gak bisa berkata-kata hanya bisa pasrah menerima sodoran gunting kuku tersebut, berikut telapak tangan Pak Bos yang ukurannya jomplang banget sama punya gue. Konon katanya, lelaki yang bertangan besar dinilai sebagai orang perfeksionis dan benci dengan hal-hal yang tidak berjalan dengan semestinya. Pokok jangan sekali-sekali mengganggu jika dia sedang berkonsentrasi terhadap sesuatu.
"Relax, Kanis. It doesn't takes more than five minute." Belum-belum gue udah diceng-cengin, mana senyumnya lebar banget kayak puas banget gitu ngerjain gue.
Kuku Kale lumayan alot dan tebal, sementara alatnya cuma bagus bentuknya doang, tapi untuk ketajamannya gak banget dah. "Jangan gerak, susah nih!"
Kale diomelin malah makin lebar senyumnya, tapi gue malah ngerasa aneh kalau doi gak komentar apa-apa, kayak bukan pak bos aja.
"Tuh kan miring, bapak gak mau diem sih." Gue ngedumel.
"Sorry." Dia langsung anteng, meski senyumnya masih jahil.
Gue natap doi dengan ekpresi gak yakin, tumben si bos gak nyusahin gini.
"Kenapa kok ngeliatin saya terus?"
"Dih." Gue melengos, jadi males bertatap muka kalau orangnya over kepedean gini.
Karena udah selesai satu tangan, gue lanjut tangan sebelahnya. Tapi berhubung Kale gak mau ngelepas tautan jarinya yang menjepit ujung jari gue, proges gue untuk merapikan kuku doi jadi terhambat. Mau gue lepas gak bisa-bisa, sampai gue kesel sendiri tarik-tarikan sama doi. "Pak Kale ngapain sih? Dilanjutin gak potong kukunya?"
Kale tersenyum tipis. "Kenapa ya saya suka sekali godain kamu?"
Sebagai perempuan dengan mental kadang-kadang seperti gue, yah kadang bisa sekuat baja tapi juga bisa selembek tahu....suka bingung sendiri untuk menentukan sikap, pengen gak peduli tapi situasi berkata sebaliknya.
"Jawab saya, Kanis." Desaknya, masih dengan senyum yang sama.
Mana keringatan dingin pula, lemah banget gue anjing. "Saya gak tahu, Pak. Mungkin udah settingan default dari lahir."
Kale manggut-manggut setuju. "Tapi beneran lucu."
"Terimakasih sudah memuji saya, Pak. Setidaknya saya merasa disukai beberapa rakyat indonesia walaupun crush saya tidak termasuk di dalamnya." Kalimat gue random amat.
"Siapa crush kamu?"
"Aktor korea, Pak. Kalaupun saya sebutin namanya paling juga bapak gak tahu." Jelas gue, kalau dipikir-pikir Raffa hampir gak pernah muji apalagi kasih apresiasi, yang ada gue dicacatin mulu.
"Oh kirain cowok ganteng yang ada didepan kamu sekarang." Sungguh pede sekali kelabang satu ini.
Langsung gue stop mumpung masih waras. "Boleh saya lanjut potong kukunya, Pak?"
"Silahkan." Setelah melepaskan jari gue, Kale lalu memberikan tangannya yang lain.
Ketika gue kembali fokus menyelesaikan tugas potong-potong kuku, Kale kembali mengusik gue dengan kelakuannya yang gak ketebak itu. Meniup-niup rambut gue sampai poni gue ikut berantakan.
"Pak!" Tegur gue dengan nada memperingatkan. "Gak selesai-selesai nanti... kerjaan saya di luar masih banyak."
Emang sih kalau kita lagi sejajar gini dahi gue tepat berada di dekat mulutnya tapi karena gue nunduk, ubun-ubun gue yang kemudian dijadikan sasaran.
Berhubung gue gak bereaksi apa-apa, Kale lalu beralih ke telinga gue hingga gue bisa merasakan hambusan hangat di leher sensitif gue.
"Pak Kale!" Gue berjengit, sialan banget memanfaatkan situasi tanpa concern dari gue. Efeknya bukan cuma kegelian, tapi sensasi semriwingnya itu loh, sampai nembus bawah-bawah, sumpah bahaya banget ini orang.
"Kamu butuh sugar daddy gak?" Tanyanya tanpa beban.
"Kalau job desk nya bacain bapak surat yasin saya mau." Bales gue lancang.
"Kalau jalan sama gadun, tertarik gak?" Kale masih senyum-senyum.
Gue mendesis gak sabar, apa bedanya gadun sama sugar daddy? Sumpah pengen gue amplas aja lidahnya yang gak bertulang itu.
"Kalau ditawarin jadi istri simpanan, kira-kira kamu mau pertimbangkan dulu gak?" Licin bener mulut kayak modus koruptor, gak lihat apa muka gue udah empet gini.
Gue tetap diam meski hidung gue kembang-kempis nahan sabar, takutnya kalau gue buka mulut bukannya jawaban bijak yang keluar melainkan umpatan segar. Lagipula gue takut karma, semisal gue ngatain Kale macam-macam terus suatu saar nanti berbalik pada diri sendiri gimana? Hidup gue masih panjang, mau gue isiin dengan hal-hal yang baik ajalah gak usah aneh-aneh.
Pokok gue pengen menjaga tempat kerja tetap bersih, karena disinilah tempat gue mengais rejeki. Jangan mengotorinya dengan skandal, karena akan membawa stigma negatif yang nantinya akan terus melekat pada diri gue. Profesi sekretaris identik sekali dengan hal kurang baik, mestinya gue ikutan menjaga nama baik dari profesi ini. Terlebih lagi, seorang sekretaris itu punya akses, kesempatan, waktu, privilege untuk berada di dekat boss dalam waktu yang lama serta situasi yang teramat intens. Kalaupun sukses jadi objek icip-icip bosnya, apa sih yang bisa dibanggakan? Gak ada.
"Kalau gak mau ya gak apa-apa, saya cuma nanyain buat teman."
Gue memaksakan diri tersenyum seperti logo kumon. "Ngomong apa sih daritadi ngang ngong ngang ngong mulu, ini antara saya budeg atau bapak lagi kumur-kumur."
"Kamu kapan sih jinaknya?"
"Gak bisa, udah bawaan galak dari sononya dan belum pernah disuntik rabies." Gue cepetin tuh motong kuku pak bos sampai jari yang terakhir. "Finish, bapak butuh bantuan apa lagi?"
"Butuh dingertiin kamu, tapi kamunya gak peka-peka." Kale angkat bahu seolah ucapannya barusan bukan perkara serius. "Oh ya ngomong-ngomong soal suntik. Kamu batalkan saja jadwal vaksin saya untuk besok dan seterusnya, saya berubah pikiran—"
"Oh tidak bisa, mending langkahi dulu mayat Kak Bian." Sela gue dengan tatapan mencela. "Harus vaksin lah enak aja dibatalin! Gak usah alesan ya, entah mau kaki dikepala, kepala dikaki pokoknya besok pagi bapak harus vaksin, titik!"
"Kanis, are you serius?" Tatapannya udah beda lagi, dengan kilatan nakal dan senyum sumringah seakan-akan telah mendapat lampu ijo dari gue. "Kaki dikepala, kepala dikaki? Kamu pasti suka posisi 69 ya?"