
Menjadi wanita yang kompeten emang kualitas mengesankan yang diinginkan sebagian besar kaum perempuan, gak terkecuali gue yang sebenarnya merasa cukup mampu untuk melakukan segala hal, baik itu pekerjaan, maupun sisi kehidupan gue yang lain. Gue harusnya bangga karena gak semua orang memiliki kualitas yang mengesankan ini, tapi kenyataan yang gue rasakan justru jauh dari itu.
Ketangguhan gue kadangkala menjadi batu sandungan dalam hubungan percintaan, seperti yang sedang gue hadapi sekarang. Gue seperti terpaksa menekan kualitas diri gue sampai batas bawah yang maksimal demi menyamai ego lelaki yang sekarang menjadi kekasih gue.
Gue lagi beberes kamar kosan ketika pacar gue dateng dengan muka yang ditekuk, memang gue yang menyuruh dia kesini. Tapi gak perlu pasang wajah bete juga kali, kan gue juga sama capeknya dengan dia.
Udah gak ngucapain salam, masuk-masuk cuma buat duduk dan mainan handphone. Pacarnya dulu ini kek yang disapa, kita udah tiga minggu gak bisa meluangkan waktu berdua karena sama-sama sibuk. Kalau bukan gue yang lebih peduli dan inisiatif bertindak, hubungan ini lama-kelamaan pasti hambar.
Sayang banget loh, kita pacaran gak sebentar. Dari jaman kuliah di Jogjakarta sampai tahun ini sudah menginjak 7 tahun, kalau jangka waktunya bisa dibuat kredit rumah mungkin udah lunas dari kemarin-kemarin. Gue sampai rela membuang kesempatan bekerja di pemerintahan demi mengikuti dia berkarir di Jakarta, gue yang harusnya sudah jadi PNS Kemenkumhan dengan penempatan Sopeng Kalimatan, akhirnya nyusulin dia daftar di salah satu perusahaan swasta yang sama, yaitu kantor tempat kita bekerja sekarang.
Gue rela melakukan semuanya buat nemenin dia dari nol, sampai restu dari kedua orang tua aja gue abaikan. Mereka sebenarnya gak suka dengan perilaku pacar gue yang suka mendikte dan ngatur-ngatur hidup anaknya itu. Tapi gue gak apa-apa, gue terima baik dan buruknya dia saking cintanya gue pada cowok ini. "Kamu udah makan?"
Gak dijawab, sepertinya apapun yang sedang ditayangkan di layar handphonenya jauh lebih menarik dibanding cewek yang sudah setia menemaninya bertahun-tahun.
"Mau aku masakin gak?"
"Nanti aja." Jawabnya singkat, tanpa mengalihkan perhatian dari gadgetnya itu.
"Kamu denger gak gosip di kantor?" meski dongkol tapi gue pengen terlihat sebagai sosok yang menyenangkan dan ceria. "Ada cewek ngamuk-ngamuk di lobby sampai bikin security kewalahan, katanya sih model terkenal tapi gue lupa namanya."
"Gak penting."
Gue menghela nafas dan meneruskan menyapu lantai, kira-kira salah gue dimana sampai dia bersikap dingin seperti ini. Gak kasihan apa lihat gue yang merantau ke sini sendirian, dan cuma dia yang bisa andalkan. Gue gak punya siapa-siapa disini selain dia, cowok tempat gue menggantungkan masa depan.
Harapan gue setinggi langit, meski gue sering meragukan hubungan ini tapi gue gak pernah menurunkan ekpektasi gue terhadapnya, karena gue masih yakin dia yang terbaik.
"Kapan kita ke Cikarang? Gue kangen sama Umik." orang tua pacar gue hanya tinggal ibunya saja, kita sering teleponan tapi akhir-akhir ini gue jarang main kesana. Pacar gue yang keberatan kalau gue mengunjungi rumah ibunya tanpa ditemani dia.
"Nantilah."
"Kamu kenapa sih ketus banget?"
"Perasaan lo aja kali." sumpah dia berubah banget.
Gue membuang sapu dengan kesal. "Bisa gak sih lo taruh itu hape dan ngobrol baik-baik sama gue?"
"Hm." samasekali gak digubris, gue seperti ngomong sama tembok.
"Raffa!"
Akhirnya dia mendongak meski dengan raut marah. "Bisa gak sih lo, jangan dikit-dikit manggil gue ke sini, gue juga punya urusan sendiri yang penting? Manja banget jadi cewek!"
"Lo bilang gue manja?" gue gak terima. Kapan coba gue nyusahin dia, malah yang ada justru kebalikannya.
"Gak cuma manja tapi juga ngrepotin."
"Gue salah apa sama lo?" gak tahan lagi gue, pengen meledak aja rasanya. "Raffa, jawab gue! Pasti ada alasan kenapa lo jahat gini sama gue?"
Raffa mengantongi ponselnya dan berdiri. "Lo dapat promosi lagi kan? Kok gak cerita sama gue?"
"Oh itu." gue memang sengaja gak ngasih tahu karena gue gak enak sendiri. Raffa yang lebih berambisi mengikuti asessment kenaikan jabatan itu, tapi malah gue yang dapat promosi duluan. Gue udah dua kali naik grade sementara dia masih disitu-situ saja, kalau saja dia mau dimutasi di bagian procurement and purchasing atau marketing and distribution yang mengharuskan staff didalamnya bekerja lebih ekstra di lapangan dan menjaring konsumen sebanyak-banyaknya, gue yakin pasti karirnya akan melejit lebih cepat. Tapi sayang, Raffa gak mau denger saran dari gue karena dia tipikal pegawai yang gak suka ambil resiko dan lebih mengedepankan kenyamanan dalam bekerja. "Gue udah pengen cerita tapi muka lo asem terus, gue takut lo marah kayak sebelum-sebelumnya."
Gue yang cewek aja berani pindah-pindah divisi dan menjajal banyak bidang sebelum akhirnya gue ditempatkan di divisi legal seperti bidang ilmu yang gue tekuni, Raffa aja yang cemen tapi suka gak sadar diri.
"Itu lo tahu kenapa gue marah?" hardiknya.
"Bukan salah gue, anjing!" Gue balas teriak. Kesel usaha dan pengorbanan gue gak dianggap, dia justru menyudutkan gue atas hal yang terjadi diluar kemauan gue. "Lo tanya sendiri ke bos lo kenapa gak elo aja yang lolos seleksi, jangan gue terus yang lo tekan!"
Raffa yang gak terima gue anjing-anjingin, balas memaki gue dan membanting semua barang yang bisa di raihnya. Gak terkecuali sapu gue yang berakhir patah jadi dua.
"Mau lo apa sih? Lo pengen gue nolak promosi itu? Lo mau gue ngadep Bu Wita untuk menurunkan posisi gue jadi staff lagi?" gue frustasi. "Apa gue resign aja biar lo seneng? Gitu kan mau lo? Biar gue gak semakin menginjak-nginjak harga diri lo sebagai laki-laki. Lemah lo. Raf. Takut banget lo kesaingan sama cewek!"
"Bacot!" setelah mendorong gue minggir dengan kasar, dia lewat gitu tanpa minta maaf.
"Raffa!" gue kejar sampai di parkiran, tapi dia mengabaikan rengekan gue dan memilih untuk tetap pergi dengan montornya.
Kalau gue menahannya maka gue akan terlihat lebih menyedihkan, jadi gue biarkan saja dia berlalu dan meninggalkan gue dalam kesedihan. Gue gak pernah merasa sehina ini jadi perempuan, kurang bucin apa gue sama dia? Kurang korban perasaan yang bagaimana lagi? Gue seperti pacar yang gak ada harganya samasekali.
Gue cuma bengong disitu sampai kemudian temen kosan sebelah kamar nyamperin gue, dia nepuk punggung gue dan berkata. "Cari makan yuk, gue yang traktir."
Gue mendongak dan mendapatinya tersenyum, Gwen Sinaga si gadis batak yang memiliki suara sekeras toa namun berhati lembut. Dia pasti denger waktu gue ribut-ribut dengan pacar gue.
"Yuk." gue mengiyakan ajakannya, kebetulan dia juga sekantor dengan gue dan Raffa. Kos-kosan ini letaknya memang gak seberapa jauh dari tempat kita bekerja, Kalau mau jalan kaki juga bisa, tapi harus mau keringetan dan ngos-ngosan dulu.
"Kalian putus, ya?" tanya Gwen sambil jalan bersisian di trotoar dengan gue.
"Enggak, kok."
"Seru banget berantemnya, kirain bakal udahan."
"Jangan dong, udah pacaran tujuh tahun masa putus?" gue masih pengen mengusahakan hubungan ini, karena gue gak ada pilihan lain.
Gwen muter mata. "Iya dah, terserah lo aja menjalani. Gue cuma pengen ngasih tahu aja satu hal, pacar lo itu cowok toxic. Dia yang gagal asesment tapi nyalahin orang lain, cowok tai."
"Tapi gue sayang sama dia."
"Capek gue ngasih tahu lo." Gwen gedek-gedek. "Kalau aja lo mau noleh sedikit, sebenarnya banyak cowok yang lebih baik dari Raffa, saking aja mata lo buta ketutup cinta."
Gue gak ambil hati omongan pedes Gwen. "
"Jomblo dari lahir mah bebas, cuma tahu teori doang tapi praktek zonk." Gwen nyengir.
Gue balas ketawa sambil gandeng lengannya, tempat yang kita taju sudah dekat tinggal satu belokan lagi.
Kita memutuskan untuk makan di warung nasi goreng langganan, sambil menunggu pesanan datang Gwen memberitahu gue. "Bu Yuli udah lahiran."
"Bu Yuli siapa?"
"Sekretaris CEO, orangnya pake hijab." terang Gwen.
"Gak kenal gue." gue mengedikan bahu.
"Bu Wita lagi cari gantinya, tapi dia gak mau ngerekrut orang baru." Gwen salah seorang staf di divisi HRD, dia pasti duluan tahu jika ada kursi-kursi kosong yang perlu diisi.
"Bener lah, gue setuju. Mentraining anak baru juga butuh waktu kali," gue sependapat.
"Bian udah ribut minta segera dicariin sekretaris pengganti, dia sampai ngancem bunuh diri segala kalau gak segera diturutin." Gwen ngakak. "Ada-ada aja tuh lakik melehoy."
"Kapan lagi loh dia bisa kerja berduaan aja dengan Pak Bos, kan demenan dia yang ganteng-ganteng kekar gitu?" Gwen emang paling terdepan dalam urusan pergibahan.
"Gosip aja lo, udah yuk makan." kebetulan pesanan kita juga udah dateng, ternyata ribut sama pacar bikin laper juga ya.
***
Sebenarnya gue menghadap kepala HRD untuk tanda tangan asessment, tapi malah berujung gue kena apes. "Aduh jangan saya, Bu. Kasih kesempatan pada yang lain aja."
Masa gue baru mau naik jadi supervisor di bagian legal terus tiba-tiba gue dipindah tugaskan menjadi sekretaris pengganti. Gue gak berkenan karena title gue sarjana hukum dan bukan lulusan kesekretariatan, tapi kenapa justru gue yang dikirim ke lantai paling atas.
Pokoknya gue harus protes sebelum surat penugasan gue turun, kan gue juga harus mikirin perasaan Raffa juga. Gue naik grade aja dia ngamuk, apalagi kalau gue jadi tangan kanan bapak CEO.
"Hanya untuk sementara, Kenes. Sampai Ibu Yuli kembali dari cuti melahirkan." Bu Wita menyebutkan nama sekretaris Pak Bos yang sebelumnya, dia dikabarkan telah melahirkan anak kembar dan denger-denger ketubannya pecah waktu masih di kantor. Mendadak sekali memang, tapi kan gak harus gue juga yang menggantikan posisinya. Emang sekretaris direksi yang lain gak bisa merangkap tugas, atau menghandle dulu kerjaan Bu Yuli sampai orangnya balik dari cuti.
"Berarti cuma tiga bulan?" gue memastikan.
"Kita lihat nanti, ya? Saya perlu berdiskusi terlebih dahulu dengan Ibu Yuli dan juga meminta pendapat Pak Ken."
"Memang Pak Ken sendiri yang meminta saya untuk menjadi sekretarisnya?" gue bukan penasaran, cuma pengen ngerti ide gila dari siapa sampai kerjaan gue harus banting setir begini.
"Bukan. Saya sendiri yang mengajukan." Bu Wita memberi gue senyum pengertian.
"Kenapa ibu milih saya?" gue kejar penjelasannya.
"Karena kerja kamu cepat dan...galak." Bu Wita sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan ini, dari jamannya CEO masih dipegang Pak Wisesa sampai sekarang digantikan oleh putra sulungnya.
Gue ngerutin alis. "Galak? Saya enggak seperti itu."
"Maaf bukan galak tapi tegas, saya rasa kepribadian kamu cocok untuk menjadi sekretaris bapak CEO kita. Saya justru tidak akan merekomendasikan kamu jika perangai kamu lemah lembut, nanti dibentak sedikit nangis." Bu Wita ternyata sudah mempelajari karakter gue luar dalam, bener-bener orang HRD sejati. "Kamu masih pacaran dengan anak pajak itu, kan?"
"Raffa? Masih, Bu."
"Bagus. Itu akan sangat membantu kamu ketika menjadi sekretarisnya Pak Ken."
Gue bingung, apa korelasi mengenai hubungan pacaran dengan posisi baru gue? Tapi sebelum gue bisa mempertanyakan lebih lanjut, Bu Wita sudah mengakhiri pembicaraan kami. "Untuk sementara hanya itu saja yang bisa saya sampaikan. Kamu coba dulu, ya? Gak ada salahnya belajar hal lain diluar job desk kamu yang sekarang. Siapa tahu kamu bisa lebih berkembang dan mengungguli rekan-rekan kamu yang lain. Saya yakin kamu pasti bisa, good luck ya Kenes."
Gue udah gak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan penugasan sementara ini, mudah-mudahan tiga bulan itu gak lama dan gue bisa balik lagi ke kubikel gue yang berada di lantai sembilan.
Hari itu juga gue diperintahkan untuk menghadap Pak Ken, ruangannya berada di lantai khusus direksi yang gak pernah gue injak sebelumnya. Begitu lift terbuka, gue langsung disambut suasana memiliki kesan powerful, berkuasa, dan juga representable.
Iyalah, di lantai inilah keputusan-keputusan penting perusahaan dibuat. Karpet mahal dan interior mewah sudah menjadi hal yang biasa.
Perusahaan ini mempunyai banyak lini bisnis, mulai dari jaringan perhotelan, sampai retail dan manufaktur. Didirikan tahun 1967 oleh salah satu pejabat orde baru yang kemudian diwariskan pada anak dan cucunya. Menurut pemberitaan sih pendanaanya dari hasil korupsi pada jaman itu, tapi sudahlah gak usah dibahas. Selain takut keciduk, gue juga ogah ngomongin orang yang udah mati.
Gurita bisnis keluarga Wisesa terbilang panjang. Lewat bendera Wisesa Kentana Group, kelompok bisnis konglomerasi ini juga tercatat memiliki beberapa pabrik yang membawahi produksi makanan dan minuman instan. Tidak hanya itu keluarga mereka juga memiliki bisnis properti yang mencakup banyak daerah di Indonesia, seperti hotel, apartemen, convention center, dan termasuk diantaranya beberapa hotel berbintang. Di luar bisnis keluarga, Ken Daru Wisesa juga merintis bisnis hiburan dengan beberapa teman pengusahanya. Dia memiliki sejumlah restauran, club malam, dan memegang lisensi dari beberapa Bar terkenal.
Meja sekretaris yang berada di luar ruangan dalam kondisi kosong, tentu saja karena gue nanti yang akan menempati. Gue ketuk pintu tapi karena gak ada jawaban, gue lalu menarik handle dan membukanya perlahan.
Dari sini saja gue sudah bisa mencium aroma-aroma kekayaan, baik dari tata ruang maupun perabotannya terlihat begitu elegan. Di tengah-tengah ruangan terdapat meja hitam besar dengan list putih, posisinya tepat berhadapan dengan pintu masuk.
Tapi gue gak mendapati seorangpun disana, ada jas yang tergantung di kursi namun pemiliknya...
"Lo gimana, sih? Muncrat semua ke muka gue nih!"
Gue dikagetkan ketika mendengar suara itu, ternyata di sisi sebelah kanan terdapat deretan sofa tamu dimana dua sosokĀ laki-laki sedang melakukan sesuatu yang gak gue ketahui. Satu orang duduk bersandar sambil menengadahkan kepalanya, sementara rekannya membungkuk tepat diatasnya.
Pasti gue akan berpikir macam-macam, seandainya gue gak melihat sebotol kecil obat tetes mata di tangan pria yang berdiri. "Ehm permisi?" akan terasa aneh kalau gue cuma bengong disitu.
Keduanya menoleh secara bersamaan, dan begitu melihat gue di depan pintu, lelaki yang duduk di sofa segera menyingkirkan pria satunya. "Minggir, nafas lo bau jigong."
"Belum kena loh, Bos."
"Suruh dia aja." orang yang dipanggil bos itu menuding gue. "Kamu sekretaris baru saya, kan?"
"Iya, Pak." jawab gue gugup, pasti Bu Wita sudah menelepon Pak Ken untuk mengabarkan kedatangan gue.
"Sini." Pak Ken menyuruh gue mendekat. "tolong kamu tetesin mata saya."
"Bapak nyuruh saya?" gue melangkah dengan hati-hati.
Pandangan Pak Ken meneliti gue dari atas sampai bawah, tatapannya terhenti lama ketika mengamati rok pendek gue. "Paha kamu bagus."
Gue memiringkan kepala untuk memastikan gue gak salah denger. "Apa, Pak?"
"Betisnya juga oke, kamu rajin nge-gym ya?"
Gue menggeleng. "Cuma jogging aja kalau lagi libur."
"Nice." sambil terus melihat gue, Pak Ken menjilati bibirnya. "Bian, kasih dia obatnya."
"Nih, masing-masing empat tetes." sodor Bian yang merupakan asisten pribadi Pak Bos.
Gue ragu-ragu menerimanya, tapi gimana masa gue tolak perintah bos sendiri. Akhirnya gue memberanikan diri mendekati lelaki itu, gue juga berdiri persis di tempat Bian tadi.
Pak Ken menengadah dan membuka matanya lebar-lebar, ketika gue menunduk otomatis wajah kami jadi saling berhadapan. Dalam posisi sedekat ini, gue bisa menilai jika orang ini benar-benar memiliki paras spek dewa, alias ganteng banget. Kulitnya yang sedikit gelap serta bentuk rahangnya yang tegas menambah kesan maskulin pada dirinya, juga didukung tatapan tajam dan bibir tebal yang membuatnya terlihat semakin tampan. Tubuhnya juga memancarkan aura yang kuat dan seksi, kalau gak inget kalau udah punya pacar pasti gue udah terpesona mampus pada orang ini.
Sekali lagi Pak Ken membasahi bibirnya. "Kenapa gak dari dulu kamu jadi sekretaris saya?"
"Gak usah genit, Bos. Nanti saya laporin ke bunda ratu loh." seloron Bian menggantikan gue menjawab. "no office affairs, no filrting-filrting ke anak buah, inget anda di pantau 7 kali 24 jam."
Pak Ken mengabaikan ocehan Bian dan menyuruh gue untuk mulai menetesi matanya. "Gak usah buru-buru, saya suka memandangi wajah kamu."
Kalau otak gue gak waras pasti udah terkaing-kaing denger ucapan manisnya. Gue menunduk dan pelan-pelan gue bubuhkan cairan itu agar tidak meleber kemana-mana. Bian juga membawakan gue tissu untuk menghapus lelehan di sudut mata Pak Ken. "Sudah, Pak."
Kedua matanya merah, entah karena infeksi atau alergi. Kenapa gak langsung ke dokter aja sih, masa orang kaya pake obat tetes warung?
"Terima kasih." matanya terpejam karena efek obatnya membuat pedih. "Saya mau tidur sebentar. Kamu boleh keluar, silahkan kamu bahas schedule saya dengan Bian."
"Baik, Pak. Saya permisi." pamit gue sebelum melipir ke pintu, ternyata Bian juga menyusul di belakang gue.
Sambil mencolek bahu gue, dia berkata. "Kayaknya gue harus kasih wejangan dulu sama lo."
Gue menoleh. "Wejangan apa, Kak?"
"Sst, diluar aja." Bian buru-buru mendorong gue keluar, dan baru kembali berbicara setelah menutup pintu. Rupanya dia gak mau Pak Bos dengan bisik-bisik kita. "Hati-hati sama Pak Bos, kalau lo gak mau dilep buaya sultan denger baik-baik omongan gue."