Boss Babe

Boss Babe
Cepat Putus Ya?



Sebulan berlalu semenjak gue resmi menjadi sekretarisnya Pak Ken, atasan gue sekaligus pemegang tahta kedua tertinggi di perusahaan ini setelah ayahnya. Meski usianya sudah berada di awal tiga puluhan tapi kelakuannya ngalah-ngalahin bocah SD kebelet sunat.


"Bos lo minta dibikinin kopi tuh, Neng." cowok rada kelainan yang berjudul Febian itu menghampiri gue dengan gayanya yang kemayu. Tugasnya sebagai asisten lebih banyak ngintilin si bos dan meladeni kebutuhannya ketika berada di luar kantor, sementara gue yang kebagian jaga kandang.


"He eh." Mata gue masih terpaku di layar laptop, baru lima menit yang lalu bos kampret itu minta dibikinin draft presentasi untuk meeting siang ini, dan sekarang dia udah nyuruh-nyuruh lagi. Pantat gue gak dibiarin duduk dengan nyaman ya, heran.


"Buruan keburu orangnya ngap-ngap tuh." Bian ngetok-ngetok meja untuk menarik atensi gue.


Gak gue respon karena emang lagi nanggung, otak dan ketikan tangan gue kadung singkron menyusun kalimat demi kalimat. Gue dulu sempat menganggap remeh pekerjaan sekretaris, anggapan gue mereka cuma modal cantik dan menjadi pajangan di ruanggan atasan. Tapi ternyata gue salah besar, kerjaan sekretaris sangat melenceng dari job desk. Gue gak hanya kebagian mengurusi jadwal atau hal-hal yang berhubungan dengan administrasi, tapi gue juga harus meladeni kerempongan si bos.


"Woy!" biasa kebanci-bancian, tapi kalau khodamnya keluar gini kaget juga gue.


Gue mendesis kesal sebelum berdiri, bukan kesel pada Bian sih, tapi sama dalang utama yang suka bikin gue repot di setiap waktu.


"Benerin dulu kancing lo." Bian berpesan sebelum gue beranjak masuk ke ruangan Pak Bos. Gue sambut niat baiknya dengan kasih jempol, dia udah berbaik hati loh mengingatkan gue untuk gak sembrono dalam berpakaian.


Di depan pintu yang bercat hitam dan berukiran megah itu, gue merapikan penampilan dulu sebentar. Kancing cuma gue sisain satu yang paling atas, blazer aman menutupi bokong dan rambut gue kedepanin semua untuk menutupi dada.


Sejak gue jadi sekretaris doi, pakaian gue jadi rada konservatif. Karena gue inget banget peringatan Brian di hari pertama gue menginjakan kaki di lantai ini. Katanya kalau gue gak pengen bikin mata si bos melotot, gue setidaknya harus mengenakan baju kerja era 80-an dimana ukurannya kedombrongan semua.


Tapi gue gak segitunya sih, gue masih pake baju kerja yang lama cuma lebih selektif aja, lekukan tubuh gue tutupin dengan blazer sepanjang jam kerja samasekali gak gue lepas, terutama kalau Pak Ken berada di kantor, lalu kemeja jangan pakai yang putih atau berbahan tipis. Make up gue dari dulu begini-begini aja, gua gak suka menor. Gue juga mengurangi penggunaan parfum, cuma pake dikit aja sebagai syarat.


Merepotkan ya? Apa gue harus meniru gaya busana Ibu yuli dan mengenakan hijab ya? Susah emang kalau punya bos yang keranjingan kalau lihat cewek cantik berambut panjang dan berkulit putih bersi. Sekalian aja naksir Mbak Kunti yekan, dikasih bonus bolongan dipunggung.


Bukan gue memuji diri sendiri cantik, tapi nyatanya Ken tahu barang bagus. Kalau gue boleh kasih penilaian, meski dia orang pribumi asli tapi sangat mencintai produk luar negeri, nanti deh gue ceritain kenapa gue bisa berpendapat demikian. Sekarang mari kita bikin kopi pake standart yang ngalah-ngalahin starback.


"Permisi." Gue nyelonong masuk tanpa menunggu dipersilahkan.


"Kok gak pake rok?" Tatapan matanya mengikuti gue.


Tuh kan, udah gue tebak pasti celana bahan gue pasti jadi bahasan pagi ini.


"Basah, Pak." Gue langsung menuju tray dimana sajen-sajen untuk bos besar itu disajikan. Selain peralatan dan bahan pembuatan kopi, disana juga tersedia berbagai cemilan manis keluaran impor.


"Masa cuma punya satu?"


"Iya." singkat aja gue jawabnya sambil menyalakan pemanas air yang disetel pada suhu 120 derajat, gak boleh kurang dan gak boleh lebih. Ken menyukai kopi seduhan yang langsung disiram dengan air mendidih. Biji kopinya harus berjumlah 50 butir, yang 20 digerus kasar dan sisanya dihaluskan. Pake gula dua setengah sendok. Cara mengaduknya sepuluh kali ke kanan dan lima belas kali ke kiri, terakhir jangan lupa buang gelembung-gelembung diatasnya.


Disini gak ada mesin pembuat kopi otomatis, karena Ken lagi menggilai hal-hal yang berbau otentik termasuk dalam penyajian secangkir minuman pekat itu.


"Jawaban kamu gak nyenengin banget?" meski Ken sedang berbicara pada gue, tapi gue gak mau repot-repot menengok. Sebentar lagi airnya mendidih, dan gue lagi ngelapin cangkir dengan hati-hati. Cangkirnya bukan sembarang cangkir loh, yang pasti made in eropa dan bukan buatan lokal.


Gue gak pernah lihat dia mencintai produk-produk Indonesia. Baju batiknya aja keluaran Gucci, coba deh bayangin sendiri gimana anehnya bos gue ini.


"Saya disini bekerja, bukan untuk nyenengin bapak." tanggapan gue rada sengak. Gue gak peduli semisal didepak jadi sekretarisya, karena justru itu yang gue harapkan.


"Emang kenapa kalau nyenengin saya?"


"Gak berminat, Pak."


"Dicoba dulu, kali aja berminat." caranya omong udah seperti orang jualan di tiktokshop.


Gue udah selesai bikin kopi, setelah kasih tatakan segera gue bawa cangkir itu di atas mejanya.


"Kamu udah punya pacar."


"Punya." gue jujur masalah punya gandengan, ya masa disembunyikan dari Pak Ken sementara seluruh kantor sudah tahu.


"Cuma satu?"


Hah? Menurut ngana idealnya orang pacaran tuh diisi berapa orang? Emangnya dia, bener tunangan cuma satu, tapi pacarnya banyak. Salah satu tugas gue sebagai sekretaris yang baik dan budiman, gue harus bisa mengkoordinir perempuan-perempuan itu biar jadwalnya gak bentrok satu sama lain.


Ken mengkoleksi berbagai jenis cewek cantik dan seksi, mulai dari yang berprofesi sebagi artis sampai anak dari kolega bapaknya juga diembat. Harus cantik dan berpenampilan di atas rata-rata, kemampuan otak berada di urutan kesekian, dan ada bonus tambahan jika kelahiran setengah bule. Gak tahu juga alasan dia keranjingan sama cewek seksi berdarah campuran, atau emang udah fetishnya kali ya. Terserah dia ajalah, selera dia bukan urusan gue.


Aman lah, gue gak masuk kriteria cewek idaman Ken. Gue gak merasa cantik dan seksi soalnya, penampilan gue juga sesuai standart budak korporat bergaji pas-pasan. Meski orang-orang bilang muka gue seperti cici-cici, tapi gue beneran darah murni loh. Gue orang jawa, bokap dan nyokap asli Surabayaa. Ada sih sedikit darah chinese dari buyutnya bokap, makanya mata gue rada sipit.


Tapi tetep aja ya dia suka banget ngeliatin gue seperti singa yang pengen nerkam mangsanya, padahal gue udah pake baju sesopan mungkin loh.


Hii, takut banget loch. Kabur aja ah. "Ada lagi yang lain, Pak?"


"Masayu?"


Gue melongo, kenapa dia nanya tunangannya pada gue? Emang gue emaknya, kenal aja enggak.


"Kamu gak baca chat saya?" Matanya menelisik gue.


"Chat di nomor saya atau satunya?" gue merujuk pada Ipad milik Ken yang dikhususkan untuk menghandle betina-betinanya. Doi memberikan mandat pada gue untuk merespon, mengalihkan chat serta panggilan, dan memblokir nomor-nomor yang sudah gak berkepentingan. Atau bahasa halusnya gue disuruh 'menyingkirkan' pacar-pacarnya itu ketika Ken sudah bosan dengan mereka.


Alhasil, gue jugalah yang akhirnya dikejar-kejar bekasan Pak Bos untuk menuntut penjelasan karena mereka sendiri kesulitan untuk menjangkau lelaki  itu. Ditambah Ken sialan itu punya prinsip, jika dia gak akan pernah memungut kembali sampah yang sudah dibuangnya, emang dia brengseknya ngalah-ngalahin penjahat kelamin.


"Batalkan jadwal makan malam kita, saya lagi males ketemu dia."


Again, dan again. Langsung kebayang, gimana nasib gue setelah gue memberitahukan pembatalan dadakan ini pada tunangannya. Cewek ningrat itu pasti langsung membentak-membentak gue, lalu dengan semena-mena dia akan menyuruh gue untuk menghubungkan teleponnya pada kekasihnya sampai dapat tersambung. Tapi sayang cowoknya gak peduli, malah doi asyik-asyikan selengki dengan yang lain.


Gue udah hapal, bree. Meski baru sebulan gue udah dipaksa untuk terbiasa menghandle semua kekacauan yang diciptakan bos gue sendiri. Nasib, nasib. "Baik, Pak. Ibu Cheryl tadi juga telepon, minta ditemenin ke pesta ultah temen—"


"Skip."


Gue sambil mengingat-ingat. "Ibu Michelle? Skip juga."


"Pinter." Pak Ken tersenyum tengil.


"Oke." Gue mengangguk-angguk, paham kalau udah dua yang diskip berarti Pak Bos emang lagi gak tertarik untuk berurusan dengan betina-betinanya paling tidak untuk malam ini.


"Nanti malam kamu pulang bareng saya, temani saya makan malam." katanya tiba-tiba.


Lah, loh. Kok jadi gue yang disasar. "Maaf gak bisa. Saya pulang bareng pacar saya, Pak."


"Sekali-kali bareng saya gak masalah kan?" Pak Ken menyeruput cangkirnya yang masih mengepul itu, gue lega racikan kopi hari ini lolos dari kritikan doi.


"Kasihan pacar saya kalau gak ditemenin." gue beralasan. "Soalnya kita setiap hari berangkat dan pulang bareng, sudah jadi kebiasaan aja untuk saling nungguin."


"Pacar kamu kerja dimana?"


"Di sini juga, Pak."


Alis Pak Ken terangkat. "Oh ya? Bagian apa?"


"Pajak."


"Staff? Atau sudah supervisor?" tanyanya lagi.


"Sayangnya masih staff biasa, Pak. Padahal udah lima tahun kerja di sini tapi dia belum pernah dapat promosi." gue sekalian aja ngebantu pacar gue, siapa tahu berhasil.


"Saya sebenarnya bisa bantu tapi..." Pak Ken bisa baca pemikiran gue. "Tolong jawab dulu pertanyaan saya. Kalian berencana menikah atau hanya berpacaran biasa?"


Karena bahasannya membuat gue excited, gue tarik satu kursi dan meletakan bokong gue disana. Meski gue harus melanggar aturan gue sendiri untuk tidak berlama-lama di ruangan Pak Bos, tapi gak apa-apa demi membukakan jalan untuk Raffa. "Kita sudah pacaran tujuh tahun, Pak. Tujuannya pasti nikah lah, masa umur segini masih mau main-main."


"Emang dia sudah melamar kamu?"


"Belum sih." kok gue berasa lagi dikorek-korek informasi pribadi.


"Kenapa belum? Katanya gak pengen main-main?"


"Dia merasa belum mapan, Pak." gue jujur aja deh. "Sepertinya dia insecure karena saya yang lebih dulu mendapatkan promosi dan kenaikan jabatan, gaji saya yang sekarang aja lebih tinggi dua strip daripada dia."


Pak Ken mengetuk-etukan jari di meja kerjanya. "Kalau saya bantu pacar kamu, ada jaminan gak dia akan menikahi kamu dalam waktu dekat?"


"Perlu saya ajak anaknya kesini, Pak? Biar bapak bisa tanya sendiri."


Pak Ken membuat gestur menolak. "Gak perlu. Kamu saja sudah cukup mewakili."


"Jadi gimana, Pak? Bapak bisa bantu, kan?" gue gak mau terkesan memaksa, tapi tetap menaruh harapan yang besar. Ayo Pak Ken, perbaiki citra lo dimata gue. Dengan dia membantu Raffa, otomatis dia juga akan mendapatkan respek tertinggi dari gue. Beneran ini, gue gak bohong.


Setelah menatap gue lama, Pak Ken akhirnya memberi keputusan. "Oke. Saya akan merekomendasikan pacar kamu dengan mata tertutup. Tapi jangan salahkan saya jika setelah ini dia akan ninggalin kamu."


Gue yang tadinya udah girang langsung tersinggung mendengar kalimat terakhirnya. "Maksud Bapak apa berbicara seperti itu? Kalau gak mau membantu ya sudah, tapi jangan menganggap semua cowok sama seperti anda."


Pak Ken malah ketawa liat gue tersulut emosi. "Semua cowok itu sama aja, Kenes. Kalau gak playboy berarti homo. Di sekitaran kamu aja deh, ada saya dan Bian. Kamu bisa menebak sendiri kira-kira kami yang mana, kan?"


"Papa saya normal dan setia pada istrinya." sanggah gue dengan ketus. "Mereka sudah menikah 30 tahun dan masih terlihat baik-baik saja sampai detik ini. Bisa-bisanya loh bapak menyepelekan kaum bapak sendiri?"


"Sama dong, ayah saya sampai sekarang juga masih bersama dengan ibu saya." Pak Ken gak ambil pusing dengan kata-kata gue. "Padahal menurut riset yang saya baca, pria bisa mencintai lebih dari satu wanita dalam hidupnya, bahkan secara bersamaan. Kondisi seperti itu bisa dibilang sangat normal."


"Normalnya itu, cowok baik-baik tidak akan membuka diri pada banyak wanita. Dia harus punya kontrol kuat untuk tetap setia. Kalau anda gak bisa seperti itu, berarti anda yang gak normal." cukuplah gue meladeni ocehan orang ini, gue langsung berdiri dan berbalik pergi tanpa berpamitan.


Sebelum gue berhasil mencapai pintu, Pak Ken meneriaki gue dengan kurang ajar. "Cepet putus, ya? Begini-begini saya gak suka metik bunga yang tumbuh di pagar milik orang."


Babi malah nyumpahin gue, hilang sudah semua respek gue pada bos keparat ini.