
Semeter lagi sampai di kosan gue yang tepat di depan pintu masuknya terdapat excavator yang ditaruh sembarangan, jangannya mobil mau parkir untuk sekedar papasan aja harus gantian.
"Daerah kosan kamu panas ya?" Kale bisa berpendapat gitu karena gak pernah hidup di daerah perkampungan padat yang serba ruwet dan semrawut, berbanding jauh dengan komplek tempat tingalnya yang selalu rindang dan teduh.
Apalagi cuaca akhir-akhir ini emang gak bisa ditebak, sebentar cerah dan gak lama gitu turun hujan. Setelah seharian kemarin Jakarta terus-terusan diguyur hujan, giliran hari ini panasnya terik banget. Belum nongol satupun awan hitam di langit, syukur deh akhirnya gue bisa jemur baju dengan tenang.
"Bapak temenan sama setan, sih. Makanya hawanya panas mulu, saya sih biasa aja." Gue mematahkan basa-basinya. "Tapi bener sih, Jakarta kalau lagi musim kemarau beuh panasnya nyengat banget, ke warung doang gak pake jaket pulangnya jadi aedes aegypti."
Kale tergelak. "Kamu lucu Kanis, saya suka gaya bicara kamu yang ceplas ceplos tapi bisa bikin saya ketawa."
Bian selalu wanti-wanti, Pak Bos jangan dikasih celah sedikitpun, pokok harus teges. Kalau cara ngomong gue menye-menye lenjeh bakalan makin disantap sama beliau yang bukan sembarang beliau ini.
"Kosan kamu disini?" Tanya Kale waktu gue belok tanpa aba-aba, memasuki bangunan yang tampilannya cukup modern untuk ukuran kos-kosan.
Faktor utama gue memilih kosan sudah pasti lokasi, gak mungkin dong kerja di Jakarta Selatan tapi ngekos di Antartika. Mahal dikit tapi masih bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik ojek, gue gak mau ah tiap hari desak-desakan di transportasi umum. Bukannya mau gaya-gayaan tapi lihat efisiensi waktu dan usaha yang harus gue keluarkan, lagipula kos-kosan ini udah yang paling murah di sekitaran sini.
Selain jarak dengan kantor, yang perlu diperhatikan apakah lokasi kosan gue tersebut cukup strategis atau tidak. Lingkungan sekitar kostan harus nemu warteg, ATM, supermarket, dan rumah sakit. Soalnya tempat makan dan belanja punya nilai penting buat gue sebagai anak perantauan yang gak punya kendaraan, jadi harus cari tempat tinggal yang sekiranya gue sanggup bayar ongkos transportasinya kalau mau kemana-mana.
Harga kost bulanan di Jakarta sebenarnya ada aja sih yang sekitaran 500rb per bulan, cuma dapatnya pasti pelosok atau masuk gang di daerah tertentu, kalau di SCBD, Karet, Kuningan susah banget untuk nemuin harga dibawah dua jutaan.
Tapi tetep ya, sepandai-pandainya gue milih kos-kosan masih aja kena julidan Kale. Baru aja menginjak teras padahal, udah dikomplain aja gue.
"Seriously? This is how you live, Kanis?" Kalau bisa copot, udah nggelinding sampai Hawai itu bola matanya.
Gue yang menganggap kos-kosan ini sangat layak ngerasa gak terima. "Kenapa? Sempit? Lebih bagusan kandang Ferrari punya Bapak? Gak ada kok yang nyuruh bapak kesini?"
Gak cuma menyasar teras depan, karena penasaran, Kale maksa masuk ruangan gue yang isinya dapur kecil, kamar tidur, dan satu kamar mandi. Dia ngeliatin sekeliling dengan alis berkerut, seakan-akan sedang memberikan penilaiannya. "Ada ya manusia hidup kayak gini?"
"Ada pak, dan manusia itu saya." Sambil gue nunjuk diri sendiri.
Dia masih gak habis thinking. "Masa dengan gaji kamu sekarang, kamu gak bisa tinggal di apartemen atau cari rumah sewa yang lebih baik?"
"Bapak lupa saya lagi kejerat hutang?"
"Tapi ini... Kanis... tinggal sama saya aja ya? Saya punya banyak kamar nganggur." Tanpa mengurangi rasa hormat, gue dorong Kale sampai keluar pintu.
"Batas suci di sini, silahkan bapak tunggu di ruang tamu." Gue galak. "Mundur lagi mundur, eh ehh lepas dulu sepatunya nanti lantai saya kotor."
"Mana ruang tamu?" Kale yang kedorong atas desakan gue lagi celingukan mencari keberadaan ruangan yang gue maksud, namun dia hanya menemukan dua buah kursi stoll di teras dan satu meja kecil dengan pot kaktus sebagai hiasan diatasnya.
"**** down!" Gue nunjuk kursi yang terbuat dari tong dan busa tipis itu, ceritanya biar aesthetic gitu. Sementara sofa empuknya gue masukin kamar biar gak kotor-kotor banget. "Nah pinter, tunggu situ saya ambilin minum."
"Kopi seperti bikinan kamu di kan—" Kalimatnya langsung gue potong dengan semena-mena.
"Gak ada, saya cuma punya air galon!" Gue tinggal masuk rumah dan buka kulkas kecil untuk mengambil botol air es.
"Apa ini?" Kale lagi mengamati panganan berbentuk serabut warna pink yang sering disebut rambut nenek.
"Arbanat, versi murahnya arum manis." Gue ambil pel-pelan basah buat bersihin jejak sepatu berlumpur Kale yang nyelonong kemana-mana, sengaja gue sodok-sodokin daerah sekitar dia duduk biar keganggu dan sekalian angkat kaki dari sini. Ya kan kata mama gue, mengepel dengan sengaja selagi tamu berkunjung merupakan cara yang paling ampuh untuk mengusirnya.
Tapi gak ngaruh, Kale makin betah aja duduk-duduk di teras kosan gue. "Cemilan kamu full kalori, coklat, wafer, lalu apa ini? Permen kapas. Pantas saja namanya Kanis pasti karena kamu suka manis ya?"
"Gak usah dimakan, Pak. Repot amat."
"Apa arti nama kamu, Kanis? Saya baru sekali ini dengar nama Kanis." Kale menatap gue penuh ketertarikan.
"Bapak tahu asam kandis gak?" Sambil gue terus ngepel teras yang gak seberapa itu, gosok-gosok terus biar kinclonk.
"Apa itu? Asem yang buat masak ya?"
"Yah mirip-mirip asam jawa gitu. Dulu ibu saya ngidam asem kandis waktu lagi hamil saya, karena saya cewek huruf d pada kandis dihilangin jadi kanis." Jelas gue.
"Nama yang unik." Kale berkomentar setelah nyimak cerita gue, ngerasa gerah diperhatikan terus-terusan gue pura-pura sibuk aja, dengan menaruh sepatu dan sandal pada raknya. "Pantas selain manis, omongan kamu juga asem banget."
"Kale juga bukan nama yang umum, artinya apa?" Tanya gue sambil lalu.
"Kuat dan jantan, makna yang sangat mencerminkan diri saya."
Gue muter mata, gak usah ditanggepin nanti makin gede kepalanya. "Kirain nama sayuran yang suka dibikin jus itu."
"Kanis, ada nyamuk." Kale sibuk nabokin kulit tangannya terbuka.
"Belakang kos-kosan ini sungai, ya pasti banyak nyamuk lah, emang bapak ngarep ketemu hewan apa disini? Kupu-kupu malam, atau ayam kampus?" Gue juga sebel sih, tapi untungnya serangga-serangga pembawa penyakit itu gak muncul tiap saat, utamanya kalau lagi pancaroba seperti sekarang atau saat debit air sungainya menyusut.
"Ketemu kamu."
"Sayangnya saya bukan hewan, Pak." Gue judesin, pengen rasanya gue colokin gagang pel ini ke mukanya.
"Tapi lucu juga kalau pelihara kamu." Ekspresi Kale menyeringai, tapi sebelum gue nyembur dia segera menambahkan. "Oh bukan, jadi kesayangaan saya aja."
"Kesayangan buat dikoleksi, terus kalau udah bosan bapak buang gitu aja?" Sindir gue. "Seperti perlakuan bapak pada Masayu dan cewek-cewek lain yang pernah bapak pacarin? Mohon maaf saya gak tertarik, silahkan bapak cari yang lain."
"Saya tahu kamu akan jawab seperti itu," Dia kelihatan gak ngaruh dengar ketegasan gue. "Saya suka sikap sok jual mahal kamu, Kanis. Tolong pertahankan ya. Kebetulan saya suka sekali tantangan, cewek-cewek jaman sekarang terlalu gampang saya dapatkan, dan ujung-ujungnya cepat bikin saya bosan."
Gue memandang Kale gak percaya. "Saya bersikap seperti ini untuk pertahanan diri saya sendiri, bukan untuk membuat orang lain berkesan apalagi menyenangkan hati bapak. Saya punya value lebih sebagai seorang wanita, salah besar kalau bapak mengangap saya ini cuma barang buruan yang bisa menghibur kebosanan anda."
"Saya gak ngerti, Kanis. Gimana kalau kita pacaran dulu biar saya paham maksud kamu, atau minimal kita dekat dulu lah. Saya juga ingin lebih mengenal dan memahami isi otak kamu, oh ya satu lagi kamu bukan sekedar penghibur kebosanan saya, kamu lebih dari itu, Kanis." Kale emang sengaja bikin gue kesel, omongan berapi-api gue seakan gak ada artinya.
Gue tarik nafas, sambil mejamin mata, sabar ya sabar.