Boss Babe

Boss Babe
Bos Nyebelin



Gue lagi teleponan dengan Raffa, perihal emaknya yang minta tambahan duit untuk biaya pembangunan


rumah kita yang sudah memasuki tahap finishing. "Kan minggu kemarin aku udah ngasih lima belas juta ke ibu kamu, masa sekarang udah habis sih?"


"Udah habis buat bayar tukang, keramiknya aja belum kebayar." Raffa beralasan. "Kamu kira bikin rumah itu murah?"


"Kalau tau gakmurah harusnya kamu udah mempersiapkan dari jauh-jauh hari. Jangan apa-apa nubruknya ke aku mulu."


"Lah terus gimana ini?" bisa-bisanya Raffa balik nanya, bukannya cari solusi sendiri.


"Gantian kamu dong yang usaha cari dana, masa aku terus yang harus muter otak?"


 Jadi ceritanya, Raffa dapat jatah warisan berupa sebidang tanah kosong di samping rumah orang tuanya.


Atas usul dari emak doi, kita disuruh bangun disitu aja daripada beli


perumahan, udah mahal tapi ukuran bangunannya kecil. Gue diyakinkan kalau itu


rumah akan kita tempati berdua setelah menikah, atau buat investasi jangka


panjang kalau emang kita masih kepengen menetap di daerah sekitaran kantor.


Gue percaya ajaomongan raffa kalau gue gak harus ikutan nanggung biaya bikin rumah yang sampai detik ini sudah menghabiskan dana sekitar lima ratus juta itu, awalnya gue iyain karena mikirnya Raffa sudah siap secara finansial. Tapi begitu proyek pembangunannya sudah jalan yang terjadi gak seperti itu. Satu-satunya sumber pendanaan ternyata cuma dari tabungan gue yang dia keruk dengan alasan 'pinjem dulu ntar gue ganti', dan sekarang saldo di rekening gue udah nipis, wajar dong kalau gue minta pengertian dia.


"Nanti kamu juga tinggal disitu, gak usah perhitungan kenapa sih?"


 Astaga, biar gue gak emosi mari tanamkan pikiran kalau cewek jangan mau enaknya doang, nemenin calon


laki berkembang itu susah dan butuh kesabaran.


Setelah gue hela nafas dalam-dalam, gue kembali merespon Raffa. "Oke masalah rumah aku coba ikhlas, tapi bayar dulu utang kamu yang kecil-kecil. Total delapan juta yang katanya kamu pake buat bayar cicilan mobil bulan kemarin."


 "Tunggu bonusan cair."


"Katanya bonusan untuk bayar pinjol kamu yang pake namaku?" gue kesel. "gesek kartu kredit gue buat beli sepatu dan celana di PI juga belum kamu ganti."


"Oh iya. Ya udah tunggu THR aja." dengan santainya Raffa jawab gitu.


 "THR masih 6 bulan lagi!" gue habis sabar.


 "Kalau aku ada duit ngapain sih aku janji-janji gini?" dia ngomong seakan hal tersebut


bukan masalah yang besar. "Oh ya, aku pinjem nama kamu buat ngajuin pinjol."


"Again? Ingat Pinjol kamu udah di berapa tempat, Raf? Pantes aja gaji kamu habis terus...."


"Katanya aku harus usaha cari dana buat bangun rumah, ini aku lagi usaha masih aja salah di mata kamu." Raffa malah nyalahin gue.


Pengen gue banting ini handphone tapi inget cicilannya masih setahun lagi, ya gak mungkin lah gue bisa beli cash secara duit gue dikuasai Raffa semua.


 "Kanis, sarapan saya mana?"


 "Apa lagi,sih?" gak sadar kekesalan gue terlampiaskan pada orang lain.


"Kamu mau saya pecat?" ternyata Pak Bos yang mengiterupsi.


Aduh, takut banget sampe tumbuh dewasa. Gue langsung gelagapan. "Eh enggak, Pak. Maaf."


"Sandwich saya mana?"


 Gue tepok jidat, apa gue pesenin di restauran Itali yang ada di gedung sebelah aja ya. "Kasih


saya waktu dua puluh menit ya, Pak."


 Kale melirik arloji di tangannya. "Sepuluh menit."


"Oke." tanpa pamitan gue langsung ngibrit menuju lift dan tergesa-gesa memencet tombolnya, beruntung lift ini hanya diperuntukan bagi direksi jadi akses penggunaannya lebih cepat.


***


Begitu pesanan sandwich sudah kelar gue bayar, secepat kilat gue langsung balik ke kantor. Gak sempat lihat berapa waktu tersisa yang gue punya, yang penting gue udah berlarian dengan maksimal tanpa memperdulikan rok ketat dan sepatu high hells gue. Sampai lantai atas nafas gue tinggal sisa separoh, dan sialannya lagi ternyata gue telat lebih dari dua puluh menit.


Gue langsung terngiang-ngiang kalimat sindirian Pak Bos yang kurang lebih seperti ini.


"Kamu kurang gesit, Kanis. Percuma dong kamu punya betis bagus?" atau misal hal yang gue lakukan gak sesuai dengan kemauannya, dia pasti ngomong gini, "Betis kamu boleh kencang, tapi sayang setelan otak kamu longgar, coba itu bautnya dibenerin dulu."


 Sumpah gue tertekan banget ketika doi mulai konslet gitu, it's freakin odd for me sampai tertanam dalam benak gue, 'jangan minder kalo gak cantik paling gak kata Pak Bos betis gue bagus', what the hell banget gak sih?


Bian aja ikut-ikutan berkomentar sarkas mengenai masalah perbetisan ini. "Ho oh Neng, betis lo bagus banget kayak knalpot bobokan ninja 2 tak, mengkilap. Pasti lo rajin ngayuh becak Jawa-Sumatra ya?"


Udahlah ya, paling gak masih ada hal positif dalam diri gue yang bisa dibanggakan. Andai saja betis gue bisa dijadikan jaminan di bank, pasti gue akan lebih bersyukur.


"Permisi?" mata gue terpejam ketika membuka pintu pelan-pelan, takut mergokin perbuatan gak senonoh yang mungkin saja dilakukan Pak Bos dengan salah satu partner wanitanya. Bian tuh yang sering ngeliat, makanya doi langsung mewanti-wanti gue untuk menutup mata sebelum memasuki ruangan ini.


Sepertinya aman, jadi gue buka mata dan segera melenggang masuk. Kale lagi duduk santai di atas meja kerjanya, dengan satu kaki naik di atas kursi. Sesuka dia ajalah, orang dia bosnya disini bebas mau kayang atau pipis sambil koprol juga gak ada yang ngelarang.


"Saya bilang sepuluh menit bukan tiga puluh, dari mana saja kamu?" decaknya.


Gue nyengir. "Antri, Pak."


"Kali ini saya maafkan karena kamu pake rok mini." tanpa sungkan dia meneliti tubuh gue bagian bawah, seketika gue nyesel memakai bawahan yang sempit ini. Bokong gue jadi menonjol sembarangan dan bikin mata Pak Bos jadi kemana-mana.


 Gue serahkan sebungkus sandwich dengan pilihan roti lapis berbahan rosemary parmesan itu, harganya


sekitar 120 ribuan untuk ukuran 12 inchies. Dari aromanya saja, sandwich ini udah menggiurkan banget. "Silahkan, Pak."


 "Kamu gak pesen?"


"Saya sudah sarapan nasi uduk."


 "Kamu kan bukan kuli, kenapa sarapannya seberat itu?" ujarnya sembari memakan sandwich itu.


Cara Kale mencemooh menu sarapan gue, membuat gue terhina. Hello, dia aja makannya sandwich ukuran


jumbo, seenaknya aja ngatain gue kuli? Kalori di porsi nasi uduk gue masih kategori aman karena gue cuma pesen separuh.


Apa dipikirnya semua masakan Indonesia itu sampah semua ya? Sementara masakan barat lebih terpercaya gitu? Belum aja gue jejelin pecel, gado-gado dan karedok yang isinya sayuran semua.


Kerena gue gak mau adu mulut pagi-pagi, jadinya gue telen lagi semua sanggahan itu. "Bapak butuh


apa lagi? Kopinya mau nambah lagi?"


Kale memberi gue kode untuk mendekat, karena mulutnya sedang penuh. Gue menurut dan berdiri di


sebelahnya, mana disuruh nunggu lagi dia sampai selesai mengunyah.


"Cobain."Pak Bos Pak Bos menyodorkan sandwich tujuh susun itu di depan mulut gue.


 "Enggak usah,


 "Segigit aja dan kamu gak akan menyesal."


 "Tapi kan punya bapak, masa saya ikut makan?" sanggah gue.


 "Cepet, pegel ini tangan saya." paksanya.


 Gue gak enak kan masa Pak Bos yang megangin, tapi ketika hendak gue ambil alih malah dia melarangnya.


"jangan sentuh makanan saya, kamu gigit aja."


 Jadilah gue gigit sedikit, dan mengusahakan di area yang belum disentuh Kale. Gila, tekstur rotinya lembut banget dan bisa dipastikan gue bakal jatuh cinta pada setiap gigitannya. Harga mahal emang gak bohong, rasanya emang seenak itu.


 "You like it?" Kale memutar sandwich itu sampai bagian yang tadi gue gigit dan


kembali menyantapnya tepat di area bekasan gue tanpa rasa jijik.


Gue bengong, lah jadi ciuman gak langsung dong? Kok gue jadi ngerasa dirugikan ya?


"Mau lagi?" tawar Kale.


Kali ini gue maju sendiri dan menggigit agak banyak, ketika mulai mengunyah sensasi gurihnya


keju, asamnya mayonaise dan manisnya saos mustard langsung meledak di mulut gue.


Kale mengamati mulut gue yang penuh sampai monyong-monyong, dan lelehan saosnya sampai belepotan di bibir gue. "Gak kurang banyak itu nyaploknya?"


Gue cuek aja lanjut nguyah, habis nelan semua baru deh gue tanggepin. "Enak, Pak. Pinter ya saya pesennya?"


"Besok-besok beli dua, jangan kemaruk ambil jatah saya." Kale makin protektif denganmsandwich yang dipegangnya, takut banget gue curangi lagi.


Dih, tadi dia sendiriyang maksa kenapa jadi gue yang disalahin. Karena gue ngerasa udah gak dibutuhkan lagi, gue pun undur diri. Tapi sebelum gue berhasil menyeberangi ruangan, Kale keburu berpesan.


"Saya mau makan siang di Skylight."


Aelah, sarapan aja belum kelar udah minta di bookingin restauran. "Siap, Pak. Ada lagi?"


"Pesan meja untuk dua orang."


"Baik."


Doi mengibaskan tangan dan menyuruh gue pergi, karena sebentar kemudian Pak Bos mengangkat telepon


dengan entah pacarnya yang mana, mungkin cewek baru kalau dari cara berbicaranya yang manis itu. "Hallo, babe. I miss you..."