
Terkadang gue harus diingetin tentang betapa buaya buntungnya si Pak Bos biar gak ada lagi efek kembang-kembang seperti adegan di Singapura kapan hari itu. Inget selain mata keranjang, doi juga punya tunangan yang saat ini lagi melototin gue seperti sosok Raminom. "Kenapa semingguan ini Kale ngilang gak bisa dihubungi? Kamu gak inget pesen saya untuk selalu kasih kabar dimanapun dan kapanpun Kale berada? Atau jangan-jangan kamu sengaja menyembunyikan dia dari saya?"
Dalam hati gue mengumpat, kenapa jadi nyalahin gue ampun? Dituduh macam-macam pulak, apes bener pagi-pagi udah kena semprot. Meski udah gue kasih penjelasan seperi apapun tetep aja nyolot, jadi cewek cantik yang bernama Masayu ini lagi mengkonfrotasi gue karena calon lakinya diketahui mengabaikan dia terus-terusan. "Sumpah bu saya gak ngumpetin bapak, silahkan cek kolong meja saya kalau gak percaya. Tugas saya disini cuma pegang scedule bapak dari senin sampai jumat terutama di jam-jam kantor. Coba ibu tanya Kak Bian aja, beliau yang lebih tau sepak terjang bapak di luar kantor."
Gak sepenuhnya bener sih, si kampret Bian suka lempar tanggung jawab seenak udel sampai gue ikutan rempong ngurusin Kale yang sering kita panggil bocah tua nakal.
"Bian sama aja! Persekongkolan busuk kalian membuat hubungan saya dan Kale jadi semakin renggang." Masayu nuding-nuding gue, telunjuknya yang bermanicure salon mahal cuma berjarak tiga senti dari hidung gue. "Awas aja kalau kamu sampai ikut-ikutan godain tunangan saya, coba gimana perasaan saya setiap kali Kale dikelilingin cewek-cewek genit seperti kamu? Cemas, khawatir, panik! Saya stress sampai rambut rontok banyak, dan semua itu gara-gara kamu yang gak pernah update kegiatan tunangan saya! Apa susahnya sih angkat telepon saya? Sesibuk itu sampai mengabaikan chat dari calon istrinya sendiri?"
Dan terjadi lagi....kisah lama yang terulang kembali, sampai khatam gue ngadepin tingkah para wanita-wanita bekasan Pak Bos. Tapi gue maklum aja, gua tahu aslinya rasa frustasi Masayu ini dimaksudkan untuk Kale, saking aja ketemunya sama gue akhirnya jadi kena imbasnya dah.
Sejauh ini gue cuma diam dan menyimak, sampai Masayu puas maki-maki gue dengan cuping hidung yang kembang kempis. Bian kemana sih? Anjing banget, tadi orangnya ada loh sampai kemudian dia ngeliat Masayu keluar lift. Langsung deh kabur entah kemana, cowok keparat.
"Sekarang kamu kasih tahu saya, dimana Kale? Kamu harus jawab jujur dan jangan bikin saya tambah emosi mendengar kebohongan-kebohongan kalian, saya udah capek dari kemarin bolak-balik kesini tapi hanya menemukan ruangannya yang kosong! Kamu juga ikut-ikutan gak ada, gimana saya gak curiga?"
"Saya minta maaf kalau sudah membuat ibu berprasangkan buruk pada saya. Setahu saya Pak Kale terbang ke Macau China untuk urusan pekerjaan, saya tidak ikut karena emang ijin ada keperluan. Kalau sesuai jadwal swharusnya semalam udah landing di Jakarta." Ceritanya gue lagi ngurus paspor atas perintah Pak Kale. Mungkin kalau udah pegang dokumen sah untuk bepergian ke luar negeri, gue juga akan diangkut kemana-mana seperti halnya Bian. "Kalau emang capek silahkan duduk dulu, bu. Saya bantu telepon Pak Kale, biasanya kalau saya yang telepon pasti diangkat, tunggu sebentar ya."
Dia mendelik. "Gak usah ngerasa diri kamu istimewa, inget kamu cuma kacung disini!"
"Ya gimana, saya bukan Jogja jadi gak istimewa." Entah darimana keberanian gue sampai keluar celutukan ngasal itu, saking empetnya karena disudutin mulu dari tadi. "Kalau ibu gak keberatan, kasih saya waktu untuk menghubungi Pak Kale.
Masayu nampak gak sudi menerima tawaran gue, tapi disisi lain cuma itu jalan satu-satunya dimana dia bisa menjangkau tunangannya. "Sini handphone kamu, biar saya sendiri yang telepon!"
Gak mau debat, gue sodorin aja handphone cicilan setahun bunga dua persen itu. "Nomornya sudah saya call, tunggu aja diangkat."
Udah dibantuin ukannya makasih malah melengos dengan angkuh sambil berjalan menjauh dari meja gue, rada gak nyangka gitu dia ketika panggilan itu beneran diangkat gak kurang dari sepuluh detik. Makanya gue heran bisa-bisanya orang lain sebegitu sulitnya mengkontak nomor Pak Bos, mungkin Masayu memang bukan prioritas kali ya.
Samar-samar gue denger perdebatan sengit yang didominasi dengan teriakan marah Masayu dalam usahanya mengkonfrontasi lawan bicaranya. Sepertinya hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja, atau lebih kasarnya lagi diujung tanduk.
Emang sih, Kale kalau gonta-ganti cewek udah seperti makan prasmanan, ngincip sana, ngincip sini. Tapi karena Masayu udah berstatus calon istri harusnya dia diprioritaskan dan diperlakukan lebih baik, yah minimal posisi utama. Kasian ya, gue aja ikutan prihatin.
Masayu mengembalikan ponsel gue dengan mata sembab, gue jadi makin gak tega lihatnya. Selama beberapa saat dia hanya terisak di depan gue, meski dia menyebalkan tapi gue gak bisa diam aja. "Ibu baik-baik aja? Mau saya bikinkan teh?" Sambil gue sodorin tissue untuk menghapus air matanya.
Masayu makin kenceng nangisnya, gue jadi bingung sendiri. Biasanya cewek kalau lagi sedih, dia cuma butuh dipedulikan, minimal dapat pelukan dari seseorang yang peduli. Gue peduli makanya langsung gue peluk. "Its okey, its okey!"
Entah berapa banyak tangisan yang sudah Masayu curahkan demi Kale, pasti sudah gak terhitung lagi. Gue membiarkan Masayu tersedu-sedu di bahu gue, ikut larut merasakan rasa sakit hati yang mendalam.
"He dumped me." Ujar Masayu sambil sesenggukan.
"Son of *****!" Gue gak tahan untuk mengumpat.
"Should i give up?" Masayu melepaskan pelukan singkat itu.
"I dont want you give up, never. But you deserve better in another way." Saran gue sebagai women support women. "Ibu gak akan bahagia kalau tetap bertahan pada hubungan yang gak jelas ini, kalau dipaksakan sekalipun ujung-ujungnya nanti ibu sendiri yang menderita."
"Panggil Ayu aja, gak usah pake ibu." Ngomong gitu sambil nyedot ingus dengan tissue.
"Kale pasti nyesal udah melepaskan berlian seperti Anda." Kata gue tulus.
Masayu menggeleng. "Gak bakal, dia tadi lagi sama cewek. Ketawa-ketawa manja seakan dunia milik berdua, belum aja dibuang sebentar lagi. Gak tahu aja diluar sana deretan ceweknya pada ngantri dari sabang sampai merauke."
Tuh, dengerin wahai hati gue yang terdalam, jangan konslet lagi seperti kejadian di Singapura. Kelakuan bejad gini benernya dikasih tai.
"Im sorry." Tampang gue menyesal banget. Pengen sekali gue berbuat sesuatu untuk meringankan beban perempuan-perempuan yang udah disakiti Pak Bos, apalagi dapat testimoni langsung dari tunangannya. "Saya sebenarnya gak setuju dengan kebiasaan ehm Pak Kale, terutama pada perem...eh tapi saya gak berani...ehm bukan kapasitas saya untuk berkomentar apalagi ikut campur. Maaf saya gak bisa membantu banyak."
"Bukan salah kamu." Masayu memaksakan diri tersenyum. "Saya pulang aja, terima kasih ya handphone-nya."
Gue mengawasi kepergian Masayu sambil membalas lambaian tangannya, dia sempat minta maaf karena sudah berlaku kasar pada gue. Masayu dan gue sepakat gak ada dendam pribadi diantara kita. Gak lupa Masayu ngingetin gue untuk berhati-hati, jangan sampai gue terjebak rayuan mantan tunanngannya yang brengsek itu. Katanya gue terlalu berharga untuk sekedar dipermainkan. Jujur gue terharu, pelukan penuh kepedulian gue ternyata membuat keadaan menjadi lebih baik, jauh lebih baik dari yang gue bayangkan.