
"Yank? Bukain, gue laper nih!" Gedoran pintunya makin kenceng, gue buru-buru bangkit sambil merapikan baju sekenanya, bahaya kalau sampai Raffa mengira gue dan Kale habis berbuat yang tidak-tidak padahal nyatanya bukan seperti itu.
Rambut gue yang acak-acakan gue sisir-sisir pake tangan, aduh gue mesti gimana ini, tolong!
Ditengah-tengah kepanikan gue mondar-mandir mikirin solusi, Kale cuma terduduk dan bertanya bego. "Pacar kam—"
"Ssst!" Gue nyuruh Kale untuk tetap diam. "Ikut saya, dan jangan menimbulkan suara apapun."
Kale macam ogah-ogahan waktu gue suruh sembunyi di kamar mandi. "Banyak kecoa, Kanis. Saya gak mau."
Gue kasih tatapan galak dan desisan ular cobra. "Masuk kamar mandi atau saya jejelin ke mesin cuci?"
"Kamu gak bisa memperlakukan saya seperti ini, saya ini bos kamu. Pacar kamu yang nunggu di luar juga anak buah saya, kenapa saya harus takut?" Kale menanggapi kengototan dengan santai.
Gue habis sabar, dengan sekuat tenaga gue mendorong paksa Kale masuk ke dalam ruangan sempit berukuran 2X3 meter itu. "Pokoknya Raffa gak boleh lihat bapak disini, cepet masuk sekarang!"
Buang-buang waktu banget, Kale ngajak gontok-gontok dulu. "Pak Kale, please kasihani saya. Bapak sembunyi sebentaaar aja sampai Raffa pulang, paling lama lima belas eh sepuluh menit. Sebagai gantinya saya akan nurutin semua kemauan bapak—" Anjing, gue salah ngomong.
"Oke deal!" Kale langsung sepakat dengan raut kesenengan.
"Yank!! Kamu pingsan atau mati sih?" Raffa mulai hilang kesabaran/
Gue cuma bisa mengumpat sambil lari ke arah pintu, setelah tarik dan buang nafas sekali. Gue putar kenop dan menyambut Raffa. "Apa sih? gue masih ngantuk."
Sengaja gue sipitin mata dan pasang muka capek biar pacar gue percaya kalau gue habis berbaring dengan kasur ehm sendirian.
"Ada makanan gak, gue belum makan dari pagi." Raffa hampir melewati gue, tapi keburu gue halang-halangi.
"Jangan masuk ih, peraturannya diperketat gara-gara kamar depan kena gebrek bini sahnya. salah sendiri nekat bawa selingkuhannya tinggal disini, sih. Bapak kos lagi memantau siapa aja yang keluar masuk tempat ini." Duh gusti sejak kenal Kale, gue jadi pinter berbohong.
"Kapan kejadiannya, kok gue gak tahu?" Raffa menghenyakan pantatnya di kursi stoll yang beberapa saat yang lalu diduduki Kale, minum air putih bekasnya dan juga mencomotin cemilan yang tersaji di meja tanpa menaruh curiga.
"Minggu kemarin, uhm habisnya lo lama gak kesini sih." Saking groginya, gue sampai gak memperhatikan bener-bener perkataan Raffa. Sesekali gue menoleh arah kamar mandi, untuk sekedar memeriksa keadaan. Pandangan gue berhenti pada gundukan kaos milik Kale yang tergeletak di atas kasur, berikut Iphone series terbaru warna grey dan jam tangan rolex yang ditaruh sembarangan di nakas.
Gue kemarin-kemarin selalu berharap Raffa main di kosan gue tanpa pandang waktu, tapi untuk sekarang, detik ini juga gue pengen dia segera hengkang. "Lo beli makan di luar aja, gue lagi gak punya simpenan lauk nih."
Jantung gue serasa diajak uji nyali waktu Raffa menemukan sepasang sepatu adidas ukuran besar yang gak mungkin banget punya gue. "Punya siapa?"
"Eh," Gue berpikir cepat. "Punya eh siapa ya, eh itu dagangan punya orang. Dititipin dulu di sini karena kamarnya penuh. Lo tahu Gwen, kan? Dia jualan barang branded second gitu."
"Kirain lo beli buat gue." Tatapan Raffa masih terpaku pada sepatu mahal itu. "Asli gak?"
"Asli dong!" Sadar kalau ngegas, nada suara langsung gue kembalikan sebiasa mungkin. "Kalau lihat bentukannya sih kelihatannya asli."
"Kalau lo gajian, beliin gue satu, Kalau bisa yang persis seperti ini."
Gue kasih anggukan cuma biar cepet, karena bukan waktu yang tepat untuk gue berdebat atau menagih pengertian Raffa, apalagi sampai nagih hutang-hutangnya yang segunung itu.
Raffa baru berdiri setelah menghabiskan jajanan gue, biasanya gue berat melepas kepergiannya tapi sekarang perasaan itu mulai terkikis habis.
"Pinjam seratus nanti gue ganti." Sebelum berpamitan, Raffa sempat-sempatnya minta ongkos.
Gue udah jengah banget, tanpa mengucapkan sepatah katapun gue ambil dompet dan mengambil selembar untuk kemudian gue lempar ke mukanya.
***
Kale heran, habis muka gue ditekuk mulu sejak dia keluar dari tempat persembunyiannya. "Kamu kenapa?"
Gue hela nafas panjang-panjang. "Gak apa-apa."
"Putus lagi sama pacar kamu."
"Gak usah ngarep, saya cuma kesel aja tapi gak sampai putus." Gerutu gue, kembali menghadapi seonggok cucian setengah basah yang sempat terabaikan. "Udah ah, gak usah nanya-nanya. Gak usah kepo urusan saya, mending Bapak bantuin saya jemur baju—"
Gak disangka, Kale nanggepi beneran omelan gue, keranjang cucian gue langsung diangkat dengan mudahnya. "Jemur di mana?"
"Eh, depan..." Gue masih cengo natap punggungnya yang segera berlalu dari hadapan gue, buru-buru-buru gue susul setelah ambil hanger baju berbahan stainless stell dan jepitan plastik.
Tiang jemuran gue masih terlipat rapi, karena memang hanya digunakan seminggu sekali. Kale bantuin gue ngejereng tiang jemuran itu persis di depan kamar, dan sewaktu gue masang hanger satu-satu pada baju yang habis gue cuci, Kale masih setia nungguin di sebelah gue.
Tentunya sambil kasih komentar yang gak perlu. "****** kamu modelnya seperti emak-emak, sakit mata saya ngelihat bentuknya yang seperti tenda pramuka dibalik."
"Makanya gak usah dilihat!" Langsung gue sembunyikan di deretan paling belakang, tapi sayang hal tersebut tidak menghentikan Kale untuk ngurusin perkara dalaman gue.
"Bukan urusan bapak! My underwear is my rules, samasekali gak ada hubungannya sama anda!" Gue sengakin sebelum berbalik masuk kamar.
"Dalaman itu mencerminkan kepribadian seseorang, Kanis. Kelihatan sekali kalau kamu cewek lurus dan baik-baik." Kale gak bosan-bosannya ngerecoki gue, ngekorin mulu kemana-mana. "Tapi tenang aja rahasia terdalam kamu aman di tangan saya."
Asli capek banget gue sama ini orang, bikin kepala gue pening dan dongkol sampai ubun-ubun.
"Ngomong-ngomong besok sudah senen, waktunya *****." Bayangkan jadi gue, udah engeb masih aja dikasih candaan gak senonoh dari suhu pengendali elemen lendir
"Bisa diem gak? Bapak mau saya flush ke toilet?" Tatapan sangar gue menyuruhnya untuk berhenti ngoceh.
Gue nyerah sendiri ngusir doi, mana lagaknya udah kayak yang punya kamar kosan ini. Rebahan santai di kasur gue, masih dengan kondisinya yang bertelanjang dada. Sampai gue pada titik bodo amat, terus gue tinggal dia mandi. Lama gak jogging bikin gue keringetan. Rasanya gerah banget dan pengen cepet-cepet bersihin badan biar segeran dikit.
Ketika gue udah kelar urusan di kamar mandi, sempat gitu gue terpana ngeliat Kale lagi mukul-mukul sesuatu pake batu segede bogeman tangan.
"Bapak ngapain?" Sumpah, seabsurd-absurdnya tingkah polah Kale ketika menjadi bos gue, nguli merupakan hal terakhir yang bisa gue bayangkan.
Kale mengigit lidahnya tanda sedang berkonsentrasi pada nakas yang terbuat dari kayu itu, akhirnya gue mendekat karena pertanyaan gue gak mendapat tanggapan.
Ternyata doi lagi benerin kaki meja yang somplak. "Eh, gak usah Pak! Nanti kalau tangan bapak kena pukul gimana?"
"Udah terlambat. Jempol saya udah tiga kali kena batu, lihat nih sakit rasanya cenut-cenut." Macam anak kecil ngadu ke emaknya.
Meja kecil di sebelah ranjang gue emang sengkleh gitu. salah satu kaki penyangganya harus dipaku ulang biar tumpuannya bisa berdiri lebih kokoh. Tapi karena gue gak ahli dalam hal pertukangan, terpaksa gue biarin aja sampai hari ini.
"Lagian bapak ada-ada aja sih. Gak pernah-pernahnya nukang malah pegang paku sama batu. Pakunya dapet dimana tadi?" Gue megangin tangannya dan ngusep-usep luka yang tadi dia tunjukin.
"Minta sama penjaga kos kamu. Eh, gak ding. Beli."
"Bayar berapa?"
"Satunya seratus ribu." Dia nyengir.
Gue tepuk jidat. "Bapak dikibulin tau gak. Mana ada paku satu biji seratus rebu?" Gue masih berbaik hati dengan niupin tangannya yang kemerah-merahan itu. "Masih sakit ya, Pak?"
"Iyalah. Mulai sekarang kamu harus gantiin kerja tangan saya. Pokoknya kalau saya mau makan ya suapin, mau nulis ditulisin, mau cebok dicebokin."
"Pak Kale!" Percuma bikin larangan ini dan itu, baru semenit udah dilanggar Pak Bos sampai gak kehitung lagi.
Liat mimik muka protes gue, Kale malah ketawa. "Hahaha... Lucu ya kamu, bikin saya betah aja."
Gue bikin ekspresi pengen muntah.
"Oh iya, Pak. Sekalian gantiin lampu kamar mandi saya dong? Tinggi banget saya gak nyampe." Namanya aji mumpung, yah kapan lagi gue bisa babu-babuin Kale.
"Saya gak tahu caranya."
"Lah bapak tadi tahu cara benerin kaki meja darimana?"
"Nonton youtube."
"Ya udah lihat youtube lagi aja." Perintah gue semena-mena.
"Oh gitu?"
"Ya kan daripada Bapak gabut?" Tambah gue.
"Emang saya kelihatan gabut ya?" Pake nanya lagi, tingkah dia seharian ini aja macam orang yang gak punya kerjaan. "Ya udah, saya mau lihat tutorial di youtube dulu"
Gue kasih jempol, "Sip. Saya ambilin bohlamnya dulu ya. Semangat, Pak!"
"Oke."
Cukup lama Pak Kale melototin layar ponselnya, masa sih lihat tutorial cara memasang bola lampu aja bermenit-menit lamanya. Karena penasaran, gue nanya langsung sama yang bersangkutan.
"Lama amat, Pak?" Gue mikirnya pasti ada kendala atau kesulitan yang belum dia pahami.
"Iya. Sekalian liat tutorial cara memasang CCTV di kamar mandi kamu untuk dihubungkan ke HP saya."
Gubrak.
"Pak Kaaaale!"