
"Astaghfirullah, bukan!" Gue kebingungan mencari alasan. "Pemulung mau ambil kardus bekas, tapi gak pake permisi dulu sama aku."
Mudah-mudahan kebohongan gue bisa diterima. "Ati-ati loh, nok. Cepet panggil security suruh pergi."
"Yo wes, tutupen." Setelah sambungan itu berakhir, gue langsung taruh kembali handphone dan mencak-mencak. "Bapak ngerti sopan—"
Kalimat gue nyangkut ditenggorokan, dengan mata kepala sendiri gue menyaksikan Kale membuka kaos olahraganya, kilatan keringat nampak terlihat di perut dan dada telanjangnya.
**** meledak kandung kemih gue bwank, disuruh ngelihat veins kayak sisaan kawat proyek begini. Astaga Kanis, banyak-banyak nyebut lo!
"Panas di sini. Gerah." Pak Kale tanpa permisi menjatuhkan badannya di kasur gue dan memakai boneka beruang gue sebagai bantalan. "Eh, apa ini?" tangannya merayap ke balik bantal dan ketika menemukan sesuatu tiba-tiba seringainya kembali keluar. "Kanis, saya nemu harta karun!"
Sialan. Kutang gue!
Buru-buru gue rebut dari tangannya, terus gue umpetin dalam lemari. Bisa-bisanya sih gue naruh kutang sembarangan. Duh, malu.
"Size B ya?" Si brengsek Kale naik turunin alisnya.
"Bukan urusan Bapak." Balas gue pedes.
"Boleh gak kalau jadi urusan saya?"
"No," Gue dengan tatapan memperingatkan. "Jokes atau perkataan apapun yang menjurus pelecehan, dilarang di kamar ini."
"Baik." Kale mengiyakan. "Kecuali kamu duluan yang mulai, saya tinggal lanjutin."
Gue berdecak. "Bapak ngapain sih tiduran di situ?"
"Capek saya."
"Capek ngapain? Jogging aja baru dapet setengah putaran."
"Capek lari-larian di pikiran kamu." Dia memperbaiki posisinya agar lebih nyaman sebelum memejamkan mata.
"Gombal juga gak boleh!" Gue kasih peringatan tambahan.
Kale melek lagi. "Kalau apa-apa gak boleh, terus saya disuruh ngapain?"
"Pulang,"
"Tapi saya sudah betah disini, Kanis. It feels like home." Kale membenamkan mukanya di bantal gue, dan mengusap-usap hidungnya di sana. "Baunya enak, mengingatkan saya dengan istri dirumah padahal satupun saya belum punya."
"Ngomong sama bapak lebih capek daripada senam zumba." Gue tinggal ke belakang untuk mengambil cucian yang sudah selesai digiling mesin cuci, tinggal dijemur dan nunggu kering. Gue sengaja cuci sendiri jadi nanti waktu dimasukin laundry cuma bayar ongkos setrikaan aja, lebih irit.
"Kanis, kopi saya mana?"
Dikira ini hotel yang ada pesanan layanan kamar.
"Bikin sendiri." Teriak gue tanpa menghentikan kegiatan gue mindahin cucian ke keranjang.
"Mana bisa. Saya bisanya cuma satu. Bikin rumah tangga sama kamu." Suaranya teredam bantal.
Kuping gue geli dengernya. "Saya bikinin kopi sachetan, tapi habis itu bapak pulang ya?"
Dengan takut-takut gue gerak-gerakkan telapak tangan di depan muka dia, tapi gak ada reaksi. Terus gue jawil dikit telinganya, masih gak bergerak juga. "Tidur atau pura-pura sih?"
Nekat gue goyang-goyangkan badannya dan memanggilnya dengan suara lirih. "Pak Kale, Bapak? Dengar saya gak? Jangan tidur di sini, gak enak kalau ketahuan penjaga kos." Percuma, orangnya tetap bergeming.
Terakhir, gue coba mengangkat satu tangannya yang dia letakkan di atas pelipis tapi... tiba-tiba Kale menarik badan gue hingga jatuh telungkup di atas dadanya yang telanjang. Matanya terbuka bersitatap langsung dengan gue, juga jarak yang teramat dekat sampai bisa merasakan helaan nafas masing-masing.
Lagi-lagi, gue merasakan reaksi tubuh yang persis sama seperti waktu di Singapura. Detak jantung berderu lebih cepat tanpa bisa gue cegah. Perut jumpalitan dengan sensasi hangat yang gak bisa didefinisikan.
Ketampanan wajah Kale terpahat begitu sempurna di hadapan gue. Bibir tebal, rahang tegas, serta bola mata hitam yang menghipnotis membuat sekujur tubuh gue seketika lemas tak berdaya. Gue seperti terpaku dalam pengusaan lelaki ini.
Gue paham kenapa Kale dikejar begitu banyak perempuan, selain isi dompetnya bisa buat bayar hutang negara, doi juga memiliki aura alpha male yang susah ditolak betina manapun. Gobloknya, type seperti Kale inilah yang paling digilai kaum gue kebanyakan. Most women love red flags and love making decision based on their feelings. Udah tahu bad boy dan jago ngeghosting, masih aja dihajar karena ngerasa dirinya si paling pawang buaya, emang dipikirnya merubah tabiat brengsek dalam diri laki-laki bertitle playboy itu semudah masak rica-rica. Gue jelas bukan termasuk salah satu dari mereka, gue gak sebego itu. I hope not, i dont want being that silly girl.
"Kanis," Suaranya Kale menyeret gue kembali pada kenyataan. "Dugaan saya benar, punya kamu pasti cup b, tapi untuk ukuran berapanya saya belum bisa memutuskan."
"Lepas, Pak Kale mau ngapain saya!" Gue berontak. Udah berjuang sekuat tenaga tapi tangannya terlalu kuat nahan tubuh gue.
"Gak akan saya apa-apain, Kanis. Saya lumayan jinak kalau sama kamu."
"Gak ngapa-ngapain ya lepasin!" Gue tambah menjadi-jadi, menggeliat di atas tubuhnya seperti cacing kepanasan. Kaki gue bebas ikutan nendang-nendang, sikut juga gak mau kalah.
"Aduh!"
Gue baru nyadar setelah Pak Kale melonggarkan dekapannya. Dia meringkuk seperti bayi sambil berlagak tersakiti. "Eh, kepegang ya. Maaf pak, gak sengaja. Lagian bapak sih iseng duluan."
"Kalau punya saya berdiri gimana? Diem dulu bentar, saya cek dulu masih berdiri atau gak?"
"Baperan amat titidnya, lemah!" Gue masih usaha melepaskan diri, males banget kalau sampai dilecehin Pak Bos di kamar kosan gue sendiri. "Lepasin, atau saya teriak!"
"Bantu saya, Kanis. Lihatin masih utuh gak?" Dengan sebelah tangan masih mendekap gue, Kale menggunakan tangan satunya untuk mengintip isi celananya sendiri.
Gue langsung palingin muka. "Gak mau, bau kambing bekasan orang banyak!"
"Saya cuma meluk sedikit, kenapa kamu histeris?"
"Dibilang jangan pegang-pegang saya, ini pelecehan!"
"Siapa itu, Kanis?" Gak disangka Kale melepaskan tangannya yang sejak tadi melingkari tubuh gue, tapi bukannya segera lari gue malah terpaku di tempat. Gak tahu gue lagi bengong, cara Kale manggil gue rawr banget bikin merinding cokkk!
Udah gitu dekat telinga banget bisikinnya. "Kanis? Denger gak?"
Jiwa gue lagi gak di tempat. Wtf, gue jadi gagu di bawah tatapan Kale. "Kanis?"
"Eh apa?" Gue gelagapan.
"Sepertinya di luar ada orang?" Kale nunjuk pintu.
"Hah?" Gue langsung kaget mendengar suara ketokan pintu yang bertubi-tubi
"Yank? Tidur ya?"
Suara Raffa yang familar, mampus gue.