Boss Babe

Boss Babe
Agreement



Biasanya menu makan tanggung bulan gue paling keren Indomie dan mentok-mentok ayam kentaki pinggir jalan. Itu aja cari diskonan dulu atau patungan rame-rame beli paket hemat porsi kuli. Kadang masih diangetin buat sarapan keesokan harinya. Gue gak kenal yang namanya itungan kalori, pedoman gue gak jauh-jauh dari perut kenyang hati senang apalagi yang harganya gak bikin meriang. Sekalinya diajak makan elit — yang beneran elit dan berkelas — otak gue jadi ngebug, gak ngerti sama sekali gimana ceritanya makan aja pisaunya kembar tujuh cuma beda ukuran dan gerigi. Ini mau makan siang atau seleksi jadi panitia kurban sih?


Gue menahan diri untuk tidak norak, seperti keluarin HP terus jepret-jepret dan pamer di instastory. Gak lupa di kasih caption bahasa enggres ala-ala gue lulus circle perjakselan.


"Ngapain bengong?" Tiba-tiba saja satu iris daging wagyu A5 nyasar ke mulut gue.


"Pak! Eh," Mulut gue langsung penuh. Begitu olahan daging itu bertemu dengan lidah gue, mata gue langsung merem melek. Nom.. nom.. hmm.. enak gais sumpah gak bohong. Seumur-umur baru sekali ini nyicipin daging mahal. Beda jauh sama daging rendang di warung padang. Empuknya itu loh... serasa lumer di mulut. Bumbunya meresap sampai ke dalam dan pas banget di lidah. Teksturnya lembut gitu. Gak keras juga gak lembek. Ngunyah aja gak pake tenaga. Tau-tau mulut gue mangap dengan sendirinya waktu Pak Kale ngasih suapan kedua.


"Enak?" Gue liat cengiran di sudut bibirnya, yang entah berapa persennya bermaksud ngeledek


gue.


"Emh... ya." Gue jujur. Mau bilang gak enak, muna banget. Ngeiyain makin keranjingan pak bosnya. Tapi emang jempolan sih, seperti tagline iklan kecap kalau rasa itu gak  pernah bohong.


Sempat terpikir di kepala gue, ternyata begini enaknya jadi orang kaya. Tiap hari makannya berkelas. Selain mehong, kualitas bahannya juga gak kaleng-kaleng. Pertanyaannya, apakah poop mereka akan mengeluarkan intan permata? Apakah warna kuningnya cenderung gold dan bersinar terang? Hiya ngebayangin.


"Kamu suka pilihan menu saya?"


"Mantaf Pak." Mulut gue penuh. "Dagingnya empuk, gurih, dan lumer gitu di mulut."


"Berarti kamu mengakui kalau selera saya bagus?"


"Another level, numero uno, pokok the best lah. Bapak paling jago milih yang enak-enak." Maksud gue muji begini biar gak nanya mulu, tapi rupanya perkataan gue malah bikin dia besar kepala dan memancing perkara lain.


"Gitu ya." Dia ngangguk-angguk. "Saya emang pinter kalau soal ngenakin." Tuh kan senyumnya makin ambigu. Mana ekpresi mesumnya bikin gue ngeri. Kalau gak inget dia sumber penghasilan gue, udah gue ambil satu pisau terus gue colokin ke matanya.


"Bisa ngirisnya gak?" Dia makin ngeledekin gue. "Atau mau saya enaki-eh irisin lagi?"


"Enggak usah Pak. Saya bisa sendiri." Langsung gue ambil pisau yang paling deket dengan piring, terus gue sayat-sayat sendiri. Tapi kok... seret? Pantang menyerah gue ulangin sekali lagi. Kali ini pake otot sampai urat-urat leher gue keliatan. Masih aja gak bisa kepotong. Gue lirik piring Pak Bos. Kok dia bisa segampang itu motongnya, seperti lagi mengeksekusi puding dan bukannya daging.


"Harus baca mantra dulu biar bisa kepotong." Ujarnya santai.


Bodohnya gue percaya, namanya juga baru pertama kali makan di tempat sultan kalau norak harap


dimaklumi. "Baca apa, Pak?"


Raut muka Pak Kale makin keranjingan. Dia ngulum bibir sambil nahan ketawa. "Kamu ke sini saya bisikin." Tangannya bergerak mengisyaratkan gue untuk mendekat.


"Deketan lagi!" Gitu terus sampai muka gue hampir nempel di pipinya. Udah gue tunggu-tunggu tapi Pak Bos gak ngasih bisikin apa-apa dong. Keluar suara aja kagak. Malahan dia niup nafas panasnya ke leher gue, yang otomatis bikin bulu kuduk gue meremang.


"Pak—" Gue reflek menoleh, pas banget kedapetan depan bibirnya. Apa ini? Kenapa gue gak bisa gerak sama sekali? Badan gue membatu. Oksigen juga sirna entah kemana. Mata gue dikunci dengan tatapan tajam Pak Kale, sampai akhirnya gue... cegukan.


"Minum. Jangan malah bengong lihat saya." Dia menyeringai tanpa dosa. Keparat, gue baru sadar kalau dikerjain.


"Sparkling water, please!" Pak Kale memberi instruksi pada salah satu waitress yang melayani meja kami. Gak lama gitu, lelaki berambut cepak dengan seragam putih dan kancing di sepanjang potongan baju depannya itu membawakan seebuah gelas piala dengan air bening di dalamnya.


"Silahkan," Pak Kale menyodorkan minuman itu ke gue. Sementara gue masih terkesima aja sama air yang Pak Kale sebut sparkling water itu. Kalau lihat dari daftar menu dan diconvert ke rupiah, harganya menyamai biaya makan gue sehari. Padahal cuma air putih biasa loh. Gak ada sparkling-shimering-splendidnya. Rasanya juga tawar, seperti hidup gue. Gue sih ogah ngeluarin duit segitu cuma buat sebotol air minum, apakah gue yang katro atau memang dunia udah mulai gila sih.


"Makasih, Pak."


Ahh, tapi minuman mahal segernya emang beda ya. Tau-tau air segelas yang harganya ugal-ugalan itu


habis gak bersisa. Ilang bersama suara cegukan gue yang mirip-mirip meongan kucing kejepit.


"Udah? Saya enakin lagi nih." Daging wagyu A5 punya pak bos yang udah dipotong kecil-kecil itu berpindah ke depan gue, menggantikan punya gue yang masih utuh dan gak tergoyahkan. "Lain kali kalau motong beef pake pisau yang tengah. Barusan yang kamu pake itu buat motong buah."


Oh, gue sambil mengamati pisau-pisau itu. Kalau untuk motong testisnya Pak Bos yang mana kira-kira? Butuh yang tajem takutnya alot.


"Terus yang sebelahnya lagi, khusus buat motong ikan." Kuliah dadakan gue tentang table manner berlanjut. Pak Kale nunjuk satu per satu peralatan makan itu sambil ngejelasin pada gue. "Kalau sendok-sendok yang berjejer itu,


masing-masing punya kegunaan sendiri. Sendok soup, sendok, makan, sendok dessert, sendok gula. Garpu juga gitu. Untuk lebih lengkapnya nanti kamu belajar sama Bian ya. Biar kamu terbiasa kalau lain kali saya ajak fine dining lagi."


Gue masih gak paham tentang satu hal. "Lain kali Pak?"


"Iya. Lain kali. Kalau saya suruh temenin makan ya kamu harus mau." Males deh. Kumat lagi ngebossy-nya. Gue jengah banget kalau dia udah maksa-maksa gini, masa gue gak boleh nolak misal timingnya gak tepat. Kalau diluar jam kantor deh, masa iya gue harus ngemong dia terus. Bisa mati kering gue lama-lama.


"Kenapa gak dijawab?" Tuntut Pak Kale.


"Yo wes lah Pak." Jawab gue lelah sampai gak sadar keluar logat medoknya.


"Bagus. Besok saya tes kamu." Apa pula ini? Emang cari SIM pakai dites segala.


Lagi bete-betenya, ponsel gue bunyi. Lagi-lagi nomer dakjal itu yang nongol dan terus meneror gue. Ini udah yang kelima kalinya loh buat hari ini. Gak peduli berapa kali gue block, selalu aja mereka bisa ngehubungin gue via whassap yang  entah kenapa masih bisa diakses di negeri seberang.Mungkin karena gue fakir wifi sih, jadi nyambung-nyambung aja meski gue kabur sekalipun.


Salah gue juga sih sebenernya, gak mikir dua kali ketika ngambil jalur nekat ini. Gue yang terintimidasi meski sebenarnya bukan gue yang pakai, sedih.


"Gak diangkat?" Tanya Pak Bos menaikkan satu alisnya.


"Gak, Pak. Ehm gak penting." Belum selesai gue alasan, ponsel udah diembat aja sama doi.


"Tapi berisik," Katanya sambil geser tombol hijau.


"Pak Kale jangan—" Telat, kadung kesambung teleponnya. Gue garuk-garuk kepala. Duh, gimana caranya gue ngambil handphone yang udah nempel di kuping Pak Bos? Gak mungkin juga gue tarik-tarik. Dapet satu pelototan aja gue langsung kicep.


"Halo?"


Ekspresi Pak Kale santai banget, padahal gue yakin orang di seberang sambungan lagi ngebacot dari sabang sampai merauke. Minimal nyumpah serapahin gue lah. Atau lagi menyebar fitnah buat ngancem gue.


Gue cuma bisa gigit bibir, selain malu, gue juga males banget masalah ini sampai ke telinga beliau. Btw, gue gak bakalan dipecat kan? Jangan dong gue masih sangat butuh aliran dananya buat keluar dari lingkaran setan ini.


Gubrak! Orang kaya mana tau derita rakyat jelata.


"Ah, debt loan ya?" Pak Kale masih asyik dengan telepon gue.


"Dari perusahaan apa? Hah, apa? Oh gak terkenal ya. Masih start up? Ada SIUPnya gak? Minimal IUI gitu. Gak tau juga? Payah. Mana atasan kamu, biar saya yang ngomong. Start up macam apa basic need aja gak ngerti. Atau kalian butuh bootstrapping? Seed funding? Oh gak bisa. Jaman sekarang kalau mau keep existing tuh harus punya venture capital yang oke. Lah, hallo? Kok dimatiin, hallo... halo..."


Gue sampai melotot lebar. Baru kali ini loh debt collectornya matiin telpon duluan. Biasanya gue yang pusing karena dibombardir mereka, malah sekarang berbalik mereka yang dikuliahin Pak Bos.


Pak Kale mengulurkan tangannya mengembalikan benda persegi panjang itupada gue. "Kamu beli apa


jadi burunan tukang cendol gitu?"


Gue menundukkan kepala, "Bukan apa-apa, Pak." Kepala gue angkat lagi buat ngebenerin penyebutannya. "Maaf, Pak. Namanya pinjol bukan cendol."


Dia buka hpnya sendiri lalu mengetik kata pinjol. "Apa sih itu pinjol?" Dia baca sekilas sebelum ngangguk-angguk. "Ah pinjaman online, kamu kelilit utang?"


Huh, bisa gak sih gak usah diperjelas.


"Bisa dibilang gitu sih. Tapi gak perlu dibahas Pak, lagian bukan saya yang pake uangnya. Uhm lebih baik Bapak terusin makannya." Gue menggumam gak jelas.


Catet ya. Gue gak pernah pinjem duit ke pinjol. Tapi Rafa yang pake nama gue buat mengajukan pinjaman. Awalnya sih gue oke-oke aja. Toh duitnya dipake buat bikin rumah di tanah warisan orangtuanya buat kita tinggal setelah nikah nanti. Dia bilang bakalan dibayar setelah bonusnya cair. Jadi gue percaya-percaya aja. Eh ternyata setelah jatuh tempo gak juga dicicil. Katanya uangnya kepake buatbinilah itulah urusan urgent lah, selalu aja ada alasan. Dia pinjemnya gak cuma satu, tapi beberapa tempat sekaligus. Sampai akhirnya membengkak dan gue kewalahan sendiri. Dia sih enak gak diuber-uber debt kolektor, lah gue. Sampai foto gue aja pernah diedit jadi bintang film dewasa dan diancam buat disebarluaskan.


"Padahal saya mau nawarin solusinya loh." Pak Kale duduk menyilangkan kaki dan bersedekap dada dengan segala keangkuhannya.


Harapan gue langsung melambung. "Bapak mau kasih saya pinjaman?"


"Saya kalau main investasi pasti yang prospeknya tinggi. Kalau minjemin kamu apa untungnya buat saya." Dih, belagu bener. Jadi buat apa dong dia tadi tebar harapan.


"Kalau begitu gak usah menerbangkan harapan saya tinggi-tinggi terus menghempaskan saya ke bumi


dong, Pak."


Pak Kale dengan santainya bersandar pada punggung kursi. "Saya bukannya mau minjemin, tapi saya mau memperkerjakan kamu. Kamu mau gak kerja sampingan sama saya?"


"Eh, kerjaan sampingan, Pak?" Mata gue menyipit. Gue gak mau dikibulin lagi kali ini. "Kerjaan sampingannya apa, Pak?"


"Gak susah kok. Cuma butuh waktu kamu aja."


"Maksudnya?" gue masih gak ngerti.


"Maksudnya saya mau beli waktu kamu. Jadi kerjaan sampingan kamu adalah nemenin saya."


"Nemenin ngapain?" Melihat sepak terjang Pak Kale, otak gue udah main curiga aja.


"Nemenin saya makan, main ping pong, ngegym, pokoknya kalau saya butuh ditemein kamu harus dateng."


Gue kayak cewek panggilan dong.


"Bapak kan punya banyak pacar yang bisa nemenin."


"Ck, mereka boring. Kamu aja yang nemenin saya. Saya kan gak punya temen."


Bener juga sih. Kata orang, semakin kita di posisi puncak, semakin kita merasa kesepian. Orang-orang yang tergolong 'sohib karib' Pak Kale bisa dihitung pake jari. Sisanya sekedar kolega bisnis dan jejaring sosial aja. Kasihan ya ternyata orang kaya.


"Tapi saya beneran cuma nemenin aja kan, Pak?" Gue tekankan kata 'nemenin' tadi biar dia gak


buat definisi lain.


"Kalau gak mau ya udah. Padahal saya mau nawarin satu juta perjam." Jiwa negoisasi Pak Kale keluar.


Gue langsung gercepnawar. "Dua juta."


"Satu juta setengah. Itu sudah penawaran terakhir saya. Kalau gak mau ya udah cancel aja. Saya hitung nih. Tiga.. dua.. sat—" Pak Kale menghitung dengan gak niat.


"Eh eh.. Oke deal!" Gue gak bisa mikir lama. Ada pinjol di depan yang siap gorok leher gue woy.


Pak Kale nyengir. "Sah dong kita?"


Dahi gue mengkerut. Pemilihan katanya itu loh.


"Tapi cuma nemenin aja ya, Pak." Gue tekenin sekali lagi.


"Kalau kamu minta lebih, juga boleh." Hmm, gue dikedipin genit genks.


"Tepatnya saya harus ngapain." Gue mangantisipasi, habis mencurigakan gitu sih. Terlalu bermurah hati, jadi wajar kalau gue takut doi minta bayaran yang lebih suatu saat nanti.


 "Tergantung mood saya, nanti ya kita bahas lagi. Pak Kale terkekeh melihat raut muka gue. "Udah terima aja, kamu gak punya pilihan lain selain mengiyakan tawaran saya. Anggap win-win solution, okey?"


 "Gak mau yang aneh-aneh aja pokoknya. Saya gak mau kalau bapak sampai kebablasan—" Kalimat gue dipotong.


"Jangan khawatir, saya selalu pake pengaman kok." Sela Pak Kale sambil tersenyum. Ambigu banget kalimatnya, jadi takut beneran gue.


"Pak, steaknya keburu dingin." Gue tunjuk piringnya dengan jengah.


"Seperti hatiku dong, kamu dinginin mulu." Bisa-bisanya modus ditengah-tengah perbincangan, kalau gini sih namanya jadi bukan win-win solution tapi gombal solution.


Untung bos gue, kalau bukan udah gue sepak sampai dasar neraka jahanam.