
Dapur berukuran dua kali dua meter ini penyelamat banget buat jam-jam rawan ngantuk seperti sekarang. Panci listrik, dispenser, dan kulkas merupakan tiga barang yang paling sering diburu anak-anak. Lihat saja tuh tempat sampah di ujung ruang udah penuh dengan bungkus Pop Mie dan sachet kopi. Mungkin sisa anak lembur tadi malem yang belum sempat dibersihkan petugas cleaning service.
Gue menuangkan balok es di atas cappuccino. Otak gue yang panas lagi butuh adem-adem. Belum juga bibir gue menyentuh ujung mug keramik itu, jemari lentik tangan lain menyerobot minuman gue dan menghabiskannya.
"Kak Bian!" Gue menggerutu. Dia dengan santainya bersendawa di depan muka gue.
"Ahh leganya.. gue bisa nafas lagi." Bian dengan cueknya balikin gelas gue yang tinggal separoh. "Nis, ada coklat gak? Gue butuh asupan dopamine."
Barusan ngerampok, sekarang nodong pula. "Cari tuh di kulkas, kayaknya tadi liat. Tapi gak tau punya siapa."
Badan gue digeser biar gak nutupin jalan, Kak Bian geratakin isi kulkas demi sepotong makanan yang manis itu.
"Itu punya siapa ih, main embat aja!" Gue mengingatkan.
"Bodo to much. Gue lagi bete mood neh, capeknya gue tuh udah pada very-very tiring." Bian dengan bahasa campur-campurnya.
"Pak Kale lagi?" Gue sambil bikin kopi baru.
Tebakan gue akurat, dengusan keras yang keluar dari hidung Bian sudah menjawabnya. "Siapa lagi? Lama-lama gue bisa ubanan dini perkara ngurusin bos lo yang rewel itu."
"Bos lo juga kali!" Gue ngebatin, Bian aja yang tahunan udah jadi asisten pribadi Kale masih suka ngeluh, apalagi gue yang hitungannya baru. "Dia ngapain lagi sih? Pacar-pacarnya ngamuk lagi sama lo? Atau kayak kapan itu, dilabrak emak-emak yang maksa Kale untuk bertanggung jawab dan nikahin anaknya?" Ngakak banget kalau inget, dan hebatnya gak sampai setengah jam Bian bisa ngeberesin masalah tersebut pake segepok duit sebagai ganti rugi. Kata Bian baik emak atau anaknya sama-sama gak bener, sengaja cari mangsa untuk mendapatkan keuntungan dari Kale.
Bian berdecak. "Salah semua."
"Hm? Kale punya anak diluar nikah? Karena ibunya udah gak ada, anaknya tiba-tiba nyariin bapaknya terus minta diakuin, seperti cerita di film-film gitu?" Bentar. Kalau bener pun gue gak kaget sih, background doi sebagai siluman buaya yang rajin bercocok tanam patut dicurigai.
Kenapa gue jadi kepo gini ya? Eh enggak sepenasaran itu juga sih, gue cuma sekedar menanggapi kegusaran rekan kerja aja.
"Gak separah itu, sih. I mean...dia umurnya berapa sih? Masa sama jarum suntik aja takut. Malu gue bolak-balik reschedule rumah sakit. Repot amat. Kalau gak mau kena penyakit kelamin ya dikerangkeng tuh ulet bulunya." Bian ngedumel.
Gue hampir menyemburkan tawa. "Vaksin HIV-nya gak jadi?" Setahu gue vaksin ini banyak jenisnya dan harus dilakukan setidaknya tiga tahapan.
"Wacana doang. Sampai malu gue keluar masuk rumah sakit. Iya kalau cuma TBC, gue masih punya muka, ini reservasinya untuk penyakit kelamin halo."
"Ya biarin aja sih, kalau barangnya busuk juga dia yang sakit. Bukan elo." Canda gue sadis.
"Harusnya ini tadi janjian jam 11. Eh dianya kabur. Terpaksa gue reschedule jadi besok." Bian nuding gue. "Pokok lo besok harus bantu gua culik pak bos."
"Sibuk gue. Besok nyiapin materi paparan." Padahal gue sebagai sekretaris harusnya bekerja untuk perusahaan, sementara personal assistant itu bekerja untuk individu. Tapi dengan semena-mena Bian mencampur adukan job desk gue dengan kerjaannya sendiri, emang sialan luwak satu ini.
"Berani lo ngebantah senior?" Tuh kan, seenak udel.
Gue menghela nafas. "Kak Bi, kasih gue waktu buat nafas dong. Engep gue liat pak bos terus. Mana weekend kemarin gue juga direcokin dia."
"Weekend lo masih kerja?" Bian nambahin. "Oh pantesan kemarin Kale anteng banget kagak ngerecokin gue, rupanya doi mulai beralih sama lo. Ya bagus deh, baru kali ini nemu sekretaris yang gak itungan masalah kerjaan diluar kantor, eh sumpah gue jadi demen sama lo."
"Kalo cuma kerjaaan sepele yang bisa dihandle jarak jauh sih gue gak masalah ya, tapi ngeselinnya tuh kalau tiba-tiba muncul terus ngerecokin hari libur gue." Keluh gue.
"Muncul gimana maksudnya?"
"Tahu-tahu nongol aja gitu di depan gue, dan merusak semua planning yang udah gue susun dari jauh-jauh hari." Gue masih kesel kalau inget.
"What?" Bian lumayan kaget. "Kale nyamperin lo? Lah buset nganggur amat...."
Gue ngangguk dan memperjelas. "Tadinya sih cuma nelepon nyuruh gue pesenin kado buat ultah anak temennya, terus merembet minta dicariin sarapan sekalian order makanan kucing. Lama-lama ngelunjak tuh maksa banget gue nemenin dia mengisi kegabutan. Langsung gue tolak lah, ya kan gue posisinya mau ngedate seenaknya aja ganggu orang seneng."
"Tapi ujung-ujungnya lo gak bisa ngusir Kale kan?" Bian gak bisa nahan tawa.
"Iya." Gue mengiyakan dengan pasrah. "Akhirnya pacar gue yang terusir, sementara Kale dengan gak tahu diri malah ngorok-ngorok di kasur gue." Gue lebay aja sih, cowok atletis seperti Pak Bos gak mungkin mendengkur, cuma tarikan nafasnya aja yang agak berat. Terus gue baru sadar kalau wajah Kale yang sedang tertidur nyenyak terlihat begitu.... puk-pukable dan minta disayang, ih apasih.
Tatapan Bian berubah curiga. "Watefuk Kale nyamperin lo di kosan? Literally dateng ke tempat tinggal lo? I mean sampai doi ketiduran? Oh tidak, gue gak mau membayangkan kelanjutannya—"
Gue segera menyerobot kalimatnya sebelum nyasar kemana-mana. "Dia cuma numpang tidur, gak aneh-aneh kok. Gue juga ogah dikasih batang SCTV yang taglinenya satu untuk semua itu, najis banget."
Bian dengan gak yakin nimpalin. "Gue sih percaya sama lo, Neng. Tapi masalahnya gue susah percaya sama bos lo, ya karena gue kenal Kale sampai isi-isi dalamnya. Sekali lagi gue tegesin, lo harus hati-hati. Jaga diri lo baik-baik, jangan gampang kemakan rayuan bajul buntung pake dasi Gucci. Mau dia ganteng kaya rupawan, laki-laki tetap laki-laki. Apalagi lo masih wangi perawan, mangsa yang lezat sekali buat Kale."
"Amit-amit Kak Bian, jangan nakutin gitu dong?" Gue merinding bulu roma. "Apa gue resign aja ya?"
"Utang-utang lo gimana? Tagihan leasing dan pinjol-pinjol lo juga mau dibayar pake apaan? ******?" Bian menohok gue dengan fakta yang membebaninya selama ini.
Gue mendesah, gue gak boleh gegabah ambil keputusan. Gak mungkin gue berhenti kerja,
"Beneran deh gue jadi gak tenang ninggalin lo berdua sama Kale." Bian ngetuk-ngetuk jarinya di meja, lagaknya seperti lagi berpikir keras. "Sepertinya gue harus bertindak, sebelum lo diapa-apain. Tapi dengan cara yang bagaimana? Bijaksana gak kalau gue dateng ke dukun terus minta jampi-jampi... ah nanti aja deh gue pertimbangkan lagi setelah ambil cuti haid."
Gue gak paham ucapan Bian kecuali kalimat yang terakhir. "Lo cowok ya, ngapain ambil cuti haid?"
"Terserah gue lah, kok lo ngatur?" Bian manyun. "Gue juga butuh libur, oneng. Mumpung ada lo yang capable untuk gantiin gue. Tapi gue mana tega sih ninggalin lo berdua sama Pak Bos, nanti kalau lo diapa-apain gue juga yang pusing."
"Segitunya lo khawatirin gue, Kak?" Gue meringis kesenengan. "Baik banget sih, gak sekalian aja lo lunasin hutang-hutang gue?"
"Ngelunjak lo, setan! Utang lo aja gak ada habisnya kayak tumpukan sampah di bantar gebang, dan gobloknya lagi masih aja lo pertahanin tuh cowok miskin." Bian sengit. "Kata gue sih kalau lo pengen hidup bebas utang caranya gampang banget, tinggal lo putusin aja pacar lo yang gak guna itu!"
Gue tabok bahunya. "Jahat banget sih Kak Bi."
"Moon map nih ye. Kalau menurut gue yang jahat itu cowok lo. Masa baru pacaran udah berani utang duit ceweknya sampai puluhan juta. Belum lagi nanti kalau lo udah istrinya, mungkin lo juga ikut digadaikan ke bank."
Gue mendesis karena gak terima dikatain sampai segitunya. "Kita bukan berasal dari keluarga mampu ya, kerjaan kita juga belum stabble secara finance. Cita-cita kita dibangun dari nol, bener-bener atas usaha sendiri dan bukan warisan dari ortu. Sebagai calon long life partner, minimal gue harus ikut ngebantu mewujudkan impian kita berdua."
"Pendapat lo udah bener tapi milih cowoknya yang salah." Bian membalas kejam. "Heran gue sama lo. Cantik-cantik, tapi oon."
"Manusia emang tempatnya salah, Kak." Gue nambahin. "Tapi seeanggaknya Raffa bukan playboy, cari cowok setia jaman sekarang susah tauk."
"Jangan sok, belum aja lo kena kibul tuh lakik!" Bian jontorin kepala gue. "Lagian buat apaan setia tapi mokondo?"
"Gak mokondo juga kali, Kak." Gue mengaduh sambil usap-usap rambut. "Raffa kerja kok, yah mesti gajinya habis-habis mulu tapi paling gak dia masih ada usahanya."
Bian kesal mendengar pembelaan gue. "Berapa lama sih kalian pacaran?"
"Berapa ya? Pokoknya lama banget." Gue sambil ngitung. "Empat tahun jalan, uhm hampir lima tahun kali ya?"
"Lama bener, kapan kira-kira lo bakal dinikahin?" Pertanyaan Bian simple, tapi menohok.
"Doain aja ya Kak."
"Ogah. Daripada gak ikhlas gue doain lo, mending gak usah sekalian." Tandasnya.
"Kak Bi, ah." Bibir gue mengerucut, sambil gue ikutan nyicipin coklat yang sedari tadi dicemilin Bian sedikit demi sedikit.
"Gue cuma wanti-wanti aja sih. Kalau gue jadi cewek, dipacarin doang tapi gak dihalal-halalin mending I'm sorry good bye." Lanjut Bian tanpa peduli ucapannya nyelekit atau tidak, yang penting poinnya tersampaikan. Tapi sayang, gue sebagai lawan bicaranya terlalu bebal, jatuhnya bikin dia emosi sendiri.
"Iya." Gue iyain biar cepet, mau ngelak tapi faktanya berkata demikian mending senyumin aja deh.
"Btw, lo diapain aja sama Kale?" Bian mengubah topik pembicaraan setelah melihat perubahan nada suara gue. "Selain ngebiarin dia numpang tidur di kamar lo."
Gue mendesah berat. "Orang kaya kalau gabut kelakuannya bisa aneh-aneh gitu ya? Masak dua puluh tahun sekian hidup dia masih takjub sama konsep kost-kostan."
"Apalagi kos-kosan lo sering ditongkrongin petugas pinjol ya, panas banget tuh hawanya." Ledek Bian lagi.
"Gak segitunya kali, Kak." Gue menekuk muka. "Gak usah apa-apa dikaitin sama pinjol-pinjol mulu bisa gak sih? Kale aja betah banget di kosan gue, dari pagi sampai malem baru mau tuh disuruh balik. Itu aja gue harus pake alasan abang gue mau dateng, coba kalo gak bisa-bisa dia lanjut nginep."
"Lo suguhin apa sampai dia betah gitu?" Tiba-tiba wajah Kak Bian berubah gak ngenakin, tentu saja kesinisannya bukan ditujukan untuk gue melainkan Kale yang roman-romannya kalau dikasih hati mintanya selakangan.
Dengan polosnya gue menjawab. "Kopi, wafer, terus rambut nenek—"
"Rambut atau ******?"
"Mulutnya ih!" Gue raup tuh bibir lemes.
"Bukan gue yang mau, Kak. Dia yang ngikut sendiri, udah gue tolak tapi maksa bilangnya cuma mau bertamu aja. Kita juga gak ngapa-ngapain kok, gak ada yang aneh-aneh udah dibilangin juga." Gue membela diri.
"Tapi pikiran cowok gak sesimpel itu, manis. Mana ada cowok dateng ke kosan cewek cuma buat duduk-duduk doang. Masih aman kalau kosan lo ada fitur ruang tamu outdoornya. Kalau sampai lo bawa deket-deket kasur levelnya udah bahaya, bisa-bisa lo langsung dicaplok tanpa ampun." Bian memutar bola mata tanda jengah. "Kenapa sih hal-hal kayak gini mesti gue kasih tahu, lo lulusan universitas bonafid. Udah cumloud dapat full beasiswa pula, kurang pinter apa coba? Tapi kenapa perkara menilai lawan jenis lo payah bener, Nis? Gak Raffa gak Kale...sumpah lo itu begonya gak ketulungan."
"Gak lagi-lagi deh, Kak. Kapok gue baik-baikin Kale, kemarin itu untuk pertama dan terakhir kalinya." Tegas gue sekalian untuk diri sendiri.
"Kalau Raffa?"
"Raffa kenapa emangnya?" Gue gak habis pikir kenapa Bian selalu menyudutkan pacar gue sementara doi gak berbuat salah sama dia.
"Lo gak sekalian cut off itu cowok?" Bian natap gue skeptis.
"Ngapain?"
"Sumpah gue gregetan sama lo!" Bian semi histeris. "Bagusnya malah Raffa yang lo singkirin dari hidup lo, bukan Kale! Paling gak Kale masih mampu ngegaji lo, bayarin lo segala macem termasuk ngelunasin hutang-hutang lo! Sanggup kok dia kasih lo materi berlimpah sampai gumoh-gumoh, atau seenggaknya lo nanti dibikin bahagia dengan duitnya yang gak berseri itu. Sementara lo dapat apa dari Raffa selain tagihan-tagihan yang gak ada habisnya?"
"Kak Bi, are you oke?" Gue gak paham kemana arah omongannya. Tumben gitu Bian berapi-api ngebelain Kale setelah sedetik yang lalu ngehujatnya habis-habisan.
Bian lanjut nyerocos tanpa mau dipotong. "Lo sih bulol banget heran, capek gue ngasih tahu tapi gak masuk-masuk ke otak lo!"
"Kak Bi, sadar gak kalau omongan lo banyak plot twist nya." Tuduh gue. "Tadi aja lo nyuruh gue hati-hati sama Kale, sekarang kesannya lo malah nyodorin dia. Gimana sih?"
"Gue sih logis ya. Kalau pilihannya cuma dua oknum itu. Jelas gue pilih Kale yang lebih berduit." Bian meremas bungkus coklat yang sudah habis dan melemparnya ke tempat sampah. "Sama-sama brengsek sih, tapi Kale masih ada harapan. Seenggaknya dia cuma narget ***** lo, bukan isi rekening lo yang gak seberapa itu."
"Dasar double standart, nyesel gue cerita sama lo!" Sergah gue rada ketus.
"Atau lo mau pacaran sama gue aja? Gue gak doyan ***** apalagi dompet lo." Goda Bian buat bercandain gue. Doi pasti begini kalau gue udah keluar sungutnya, gak pengen gue gondok beneran. "Kalau nikah sama gue, mas kawinnya boleh lo pake buat lunasin pinjol tapi resikonya kita gak bakal punya anak, hidup child free!"
"Kenapa child free? "
"Karena gue lebih suka kenti gede daripada **** rapet." Jawab Bian enteng.
"Astaghfirullah!" Gue nyebut. "Difilter dikit kek mulutnya."
Bian ketawa. "Kenapa ya gue suka ikutan gemes setiap kali lo dikerjain sama cowok-cowok begundal itu, padahal lo bukan siapa-siapa gue, adik bukan naksir juga amit-amit..."
"Karena lo peduli sama gue, Kak Bi." Gue ikutan senyum. "Lo bahkan lebih perhatian sama gue dibanding abang kandung gue sendiri, padahal gue punya empat tapi gak ada satupun dari mereka yang bisa bikin gue nyaman untuk sekedar bercerita atau berkeluh kesah. Gue mending ngadu sama lo, paling gak lo masih mau menampung uneg-uneg gue. Gak enak banget tauk dianggap anak kecil terus, dimentahin mulu tiap kali buka mulut. Setiap ada masalah juga gitu, belum-belum gue udah dihakimin tanpa sempat menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya."
"Kalo anak kecil sih enggak ya, tapi gimana gue ngomongnya? Untuk ukuran cewek yang tinggal lama di ibukota, lo itu terlalu polos dan naif....suka bikin orang khawatir sih jatuhnya."
"Kenapa harus khawatir? Gue bisa jaga diri kok." Sahut gue dengan percaya diri.
"Ya okelah. Good luck aja buat lo." Bian memeriksa jam di layar ponselnya. "Eh udah jam delapan nih yuk kita balik aja." Takutnya Kale dateng kepagian terus merong-merong karena gak mendapati siapapun di ruangannya.
Sambil jalan berendengan, Bian kembali mengingatkan schedule gue untuk besok siang. "Vaksin jangan lupa."
"Hah? Kok jadi gue?"
"Gue besok haid hari pertama, ini aja gue udah gak kuat....." Bian pura-pura meringis sambil pegang perut. "Aduh pms gini banget ya rasanya, mau mati aja gue."
Gue mendengus kesal. "Mati aja sono, awas aja kalau besok gak masuk gue aduin Pak Bos mampus lo!"
"Lo ngebantah perintah senior neh? Udah berani lo sekarang?" Bian sok-sokan ngancem gue. "Gue besok tetap masuk ya, tapi gue mau dikantor aja handle kerjaan lain. Jadi lo mau gak mau, bisa gak bisa harus nemenin Kale vaksin ke rumah sakit, titik."
"Gimana sih? Tadi diwanti-wanti disuruh jauh-jauh dari Pak Bos, eh sekarang malah diempanin. Lo tega gitu gak nemenin kita, literally gue dan Kale cuma jalan berdua loh." Gue yang sekarang berani ngebales tiap kali diperintah Bian dengan semena-mena.
Lagi-lagi gue kena jitak. "Beda konteks ya, untuk urusan kerjaan lo harus tetap profesional."
Gue menanggapi dengan nada bosan. "Gue capek jadi kacung lo, kapan sih gue dibalikin ke posisi semula?"
"Gak akan balik sih." Seru Bian. "Dengan lo membiarkan Kale bobok di kasur lo, itu artinya lo udah cap jempol di atas materai untuk jadi mainannya beliau, dan sayangnya kontrak baru berakhir nunggu Kale bosen sama lo, selamat ya Kanis!"
Tatapan gue langsung horor. "Kak Bi jangan nakut-nakutin gitu, ah. Gue takut beneran nih."
"Gue sendiri aja takut kalo omongan gue kejadian.... ya ntar deh gue bantu cari dukun." Bian ngibasin tangan seolah hal tersebut perkara sepele.
"Dukun buat apaan?" Gak menunggu jawaban Bian, gue langsung mengungkapkan kekhawatiran yang terbersit dalam hati. "Jadi menurut Kak Bian, gue mainan barunya Pak Kale ya?"
"Menurut lo sendiri?" Bian malah balik nanya.
"Kak Bi serius dikit kenapa?" Gue dorong sampai tubuh cungkringnya itu oleng dan nabrak dinding.
"**** gue kena KDRT! Lo kuat banget. beneran cewek atau bukan sih?" Bian natap gue sambil menilai.
Gue sodorin lengan pura-pura nunjukin otot yang gak ada. "Gini-gini gue strong women, ada untungnya juga gue dibesarin bareng 4 kakak cowok yang badannya gede-gede. Maju sini lo semua, gue gak takut!
"Widih sombong, mentang-mentang punya bekingan!" Bian nampol pipi gue tapi gak beneran.
"Eh beneran loh, Kak Bi. Ngapain ya gue takut sama Kale? Tiga dari abang gue kan abdi negara, yang satunya kerja di perpajakan sih..."
"Anjir serem juga background keluarga lo, Kale sih masalah lain tapi gimana dengan cowok lo? Apa gak kencing-kencing Raffa kalo ketemu salah satu abang lo?"
"Belum pernah sih, gue gak berani kenalin uhm...." Gue jeda sejenak. "Gue juga gak mau Raffa jadi bulan-bulanan mereka sih, kasihan soalnya mereka dikit-dikit pake otot. Ngeselin gak sih punya abang yang gampang ketrigger gitu?"
Bian ngerangkul leher gue sambil kita lanjut jalan. "Gua yang bukan abang lo aja emosi, apalagi abang-abang lo? Kalau mereka tahu lo cuma diporotin doang, kira-kira mereka bakal diem aja gak? Thingking coba thingking."
Gue sikut perutnya. "Thank deh udah bikin gue makin overthingking, lain kali kalau gue curhat cukup nenangin gue aja gak usah mojokin terus."
Bian cekikikan. "Kalau dipikir-pikir kita cocok jadi partner in rusuh, masa dari pagi sampai ketemu pagi ngajakin ribut mulu."
"Lo duluan yang mulai ya. Coba kurang sabar apa gue sama lo?" Gue keburu inget. "Eh pertanyaan gue belum lo jawab, Kak Bi. Atas dasar apa lo ngatain gue mainan barunya Kale?"
"Bukannya udah jelas dari gelagatnya? Dia lumayan tertarik sama lo, goblo— uh pinter banget sih saking gue capeknya ngatain lo cewek dodol lolot bin ngablu!"
"Emang iya?"
"Masa gitu aja gak paham?"
Gue gak sependapat aja sih. "Paham sih paham, Kak. Kalau emang lo beneran kenal Kale sampai isi-isi dalamnya seperti bualan lo tadi, pasti lo sadar kalau gue gak masuk tipe-tipe cewek demenan dia, jauh banget malahan. Postur gue standar, wajah juga gak cantik-cantik amat, cuma cewek biasa-biasa aja dan bukan siapa-siapa? Gue gak punya ortu kaya yang menambah nilai jual gue, terus apa lagi? Oh gue gak punya duit buat oplas gedein tete dan ganjel pantat—
“Tapi lo punya otak seksi banget, Kanis. Dan siapa bilang lo gak cantik? Lo tuh cantik cantik ada apanya…” Imbuhnya dengan gaya centil.
"Apa adanya." Ralat gue.
“Satu lagi yang paling penting, lo masih perawan. Case closed!"
Gue buang nafas jengah, perawan gak perawan bukan sesuatu yang penting di jaman sekarang. Kendati untuk diri gue sendiri masih menganggap kesucian merupakan sesuatu yang berharga, dan satu-satunya kebanggaan yang akan gue diberikan kelak hanya untuk suami.
Bian yang ngerasa diremehin menambahin dengan congkak, "Lo gak kenal Kale seperti gue, lo baru kerja sama dia sebentar sementara gue udah bertahun-tahun. Gue hapal apa maunya, gue ngerti maksud hatinya, gue paham banget dia sampai—"
"—sampai isi dalam-dalammya." Gue sambung dengan datar, sampai hapal kalimat Bian yang satu ini.
"Nah itu." Bian ngejentikan jari tepat di depan muka gue. "Lo harusnya nanya kenapa dia jadi cowok buaya seperti sekarang. Pasti ada alesannya dia jadi kayak gitu kan?"
Gue angkat bahu dan menunjukan ekpresi ketidaktertarikan, meski gue gak nanya sekalipun Bian pasti ember sendiri. "Lo tahu kenapa Kale hobi berburu lobang betina. Karena bagi Kale semua cewek itu sama gak pentingnya seperti cinta itu sendiri, selama kedua hal itu masih bisa dibeli pake uang jangan harap dia mau merubah mindsetnya. Yah kecuali ibu dan adiknya yang jadi pengecualian, Kale sayang banget sama mereka jadi kayaknya masih mau lah dengerin nasihatnya."
"Ya iyalah, gak tahu sih tapi gue yakin aja. Seandainya ibunya ngajak ngobrol empat mata terus bicara dari hati ke hati masa iya gak bisa mempengaruhi pemikiran anaknya meski cuma sedikit? Kale cuma gak percaya cinta, bukan berarti dia gak mau jatuh cinta. Bisa aja dia berperilaku demikian karena belum menemukan wanita yang tepat, makanya..." Hampir aja gue buka mulut mengenai obrolan gue dan Kale kemarin, namun niat kembali gue urungkan takutnya gue malah bongkar privasi. "Dih ngomong apa sih gue?"
"Eits, apaan nih? Lo ngebelain Bos Kale?" Bian nambah-nambahin. "Mulai tertarik nih jangan-jangan?"
"Males..." Gue memutar bola mata.
Bian ketawa lebar banget. "Hahaha.. gue sih amit-amit aslinya, tapi kalau emang elo jodohnya—."
"Jijay." Gue begidik ngeri. Ngebayangin barangnya yang bekasan banyak orang aja gue udah mau muntah. Tuhan gak mungkin setega itu kan sama gue?