
"Banyak sekali nyamuknya?" Kali ini nyamuk-nyamuk itu menyerang betisnya.
Gue segera ambil botol semprotan anti nyamuk merk baygon, dan tanpa permisi langsung menyemprotkannya di sekitaran Kale duduk, banyak banget lagi sampai bikin dia batuk-batuk. "Uhuk, mending uhuk saya tepokin sendiri, Kanis."
Puas banget lihat Kale menderita. "Bapak aja naboknya gak dapet-dapet gitu, kalah lincah sama nyamuk."
"Ya udah nyamuknya jangan ditabok, kalo ditabok takutnya nyaut 'yes daddy'." Kale ngedipin gue. Anying, candaannya dark banget.
"Bapak mau saya tendang atau keluar sendiri dari sini?" Ancem gue sambil mengembalikan alat pel pada tempatnya. Eh air bekasnya masih sisa banyak gimana kalau diguyurin aja ke muka Pak Bos yang gak tahu diuntung ini.
"Kalau saya keluar nanti kamu marah gak? Soalnya saya suka keluar di dalam." Ceplosnya.
"Pak Kale!" Gue mendelik. "Kalau sekali lagi bapak ngomong jorok, saya gak segan-segan laporin bapak ke pihak berwajib karena sudah melakukan pelecehan verbal!"
"Saya pikir kita udah akrab makanya saya berani bercandain kamu yang agak menjurus, rupanya saya berlebihan ya?"
"Kita gak seakrab itu, please ya! Jaga bicara anda. Okelah saya kalau di kantor jadi anak buah anda, tapi karena sekarang kita berada di tempat saya jadi tolong bapak jaga sikap dan hargai saya sebagai tuan rumah." Cerocos gue.
"Canda, sweetheart. Im sorry, okey?" Gak tahu beneran atau gak minta maafnya, senyum Kale aja menyeringai gitu, sulit dipercaya.
Lihat muka yang asem, sikap Kale jadi sedikit lebih manis. "Saya boleh nanya?"
"Jangan aneh-aneh!" Gue milih bersandar pada gawang pintu daripada duduk deketan.
Kale mengulas senyum tipis. "Menurut kamu, apakah saya pantas mendapatkan wanita baik-baik sebagai pendamping hidup saya?"
"Masayu baik, tapi bapak sudah menyia-nyiakannya." Gue jawab lugas.
"Saya gak lagi membicarakan Masayu."
"Masayu atau siapapun perempuan yang dimaksud, mereka punya hak untuk mencari jodoh cerminan diri. Kalau dapatnya jomplang banget, ya kasihan mereka lah." Kata gue lagi. Gue sangat berhati-hati dala pemilihan kata, gak serta merta ngetain bos gue sendiri sebagai cowok brengsek yang gak bertanggung jawab, gue masih tahu batasannya.
"Jomplang gimana?"
"Berat sebelah, Pak."
Kale manggut-manggut, "Jadi saya harus gimana biar gak berat sebelah?"
"Serius bapak nanya saya?"
"Why not?" Dia terus memperhatikan gue.
"Saya bukan ahlinya, tapi saya coba kasih pendapat ya?" Gue lanjut setelah mendapat anggukan dari Kale. "Tyt*dnya jangan gampangan, karena kehidupan itu gak tentang wleo**** doang."
Alisnya berkerut. "Wleo apa?"
"Hubungan s*** yang ehm menjurus pada eh satu gaya tertentu." Gue kelepasan, harusnya gue gak usah sok ngejelasin hal setabu ini pada pakarnya.
"Gaya apa?" Kan, kan senyum Kale udah beda.
"Pake l**** itu loh, udah gak usah nanya-nanya lagi saya sendiri juga gak tahu!" Gue kesel pada diri sendiri bisa-bisanya gue tahu beginian gara-gara baca tuitan orang. "Saya cuma pinjem istilah jaman sekarang, kok."
"Kamu pernah nyobain wleo****?"
"Pak, saya tadi bilang apa? Pertanyaannya gak usah yang aneh-aneh." Nada gue gak suka.
"Lupain wle***, kita balik ke pembahasan awal." Gue abaikan ucapan Kale yang terakhir. "Intinya, masih banyak hal positif lain yang bisa dilakukan bersama pasangan, dunia gak melulu tentang ****."
"Susah juga ya?" Kale bergumam pelan, dasar raja ******* susah banget diajak lurus.
"Katanya manusia itu makhluk berakal, tapi kalo gak bisa nahan nafsu, apa bedanya dengan hewan?" Gue sembur aja sekalian. "Belum nanti kena azabnya? Bapak gak takut apa?"
"Azab yang gimana dulu? Kalau penyakit kelamin memang itu yang jadi concern saya sekarang." Kale nampak gusar.
"Bapak udah kena ya?" Gue reflek beringsut menjauh.
"Gak, Kanis. Kamu jangan nuduh saya sembarangan," Dia rada gak terima gitu. "Im safe, karena saya selalu disiplin pake ******."
Yeu si raja ng***** bangga bener belum terjangkit penyakit kelamin. Padahal ya, k**** bekasan biasanya bau, cuma gue gak berani ngatain sebrutal itu. "Bapak imunnya lagi kuat aja itu, ditambah hokinya lagi jalan makanya belum sempat kenalan sama yang namanya azab dari yang diatas."
Kale cuma terdiam dengar gue terus menyerang dengan tsunami fakta. "Tetep beresiko kalau t*****nya masih suka celup sana sini. Gitu pengen punya pasangan jenis baik-baik, egois banget. Pikirin dong nasib istri bapak, gimana kalau ketularan? Gimana kalau terjadi sesuatu pada kandungannya terus efeknya sampai bikin cacat bawaan pada bayi." Gue gamblang. "Sadar gak, bapak suka koleksi gems of sexuality udah kayak thanos ngumpulin batu infinity."
"Kamu jangan nakut-nakutin saya, Kanis." Ngeri gitu mukanya. "Tolong kamu schedulin lagi jadwal vaksin HIV buat saya."
"Loh belum jadi berangkat kemarin?" Perasaan gue udah sekali ngejadwalin, dan Bian juga pernah. Emang perlu berapa dosis sih? Gue gak paham.
"Belum jadi. Saya masih takut jarum suntik, kamu nanti temenin saya ya?" Aelah, badan aja gede tapi mental kalah sama anak paud.
Sempat beberapa saat gue membisu, menilai Kale seakan beliau ini objek paling langka di alam semesta ini, sampai kemudian dia negur gue. "Tatapan kamu terlalu menjudge saya, Kanis."
"Serius nanya, emang bener ya beberapa cowok gak bisa tahan ***** sampai harus banget cari pelampiasan sana-sini?"
"Mungkin karena dia belum menemukan pasangan yang tepat dan bisa mengimbanginya di ranjang." Jawab Kale dengan gampang.
Gue gak percaya semudah itu. "Yakin kalau sudah menemukan orang yang tepat akan berhenti begitu saja? Bener-bener stop dan gak akan mengulanginya lagi? Nanti kalau udah bosan gimana, gak pengen balik lagi pada kebiasaan lama nih?"
"Tergantung niat dan demi siapa dia rela berhenti, sebenarnya mengubah kebiasaan itu gampang tinggal kamu mau atau tidak."
"Nah, kalau bapak mau atau gak?" Langsung gue sikat.
"Tergantung rewad yang saya dapatkan, kalau sama-sama menguntungkan mungkin saya gak keberatan." Udah ketebak, Kale mana mau berubah kalau gak berujung enak.
Gue berdecih. Males banget kalau pembahasannya cuma muter-muter gini. "Rewardnya dapat istri yang sesuai kriteria bapak lah, apa tadi? Cewek lurus, jago di ranjang, terus apa lagi?"
"Judes, cerewet, sukanya yang manis-manis, rajin bersih-bersih, bisa diajak deep talk." Sudut bibir Kale terangkat keatas. "Gak perlu pinter masak yang penting tahu caranya bikin kopi, dan satu lagi—"
Gue gak terlalu merhatiin perkataan Kale karena handphone gue tahu-tahu berdering nyaring. Buru-buru gue masuk dan menyambar benda pipih segi empat itu. "Iya, Mas? Loh, enggak kok. Iya, iya, nanti aku nanya. Eh loh, Bapak mau ngapain?"
Gue waspada tingkat tinggi waktu Pak Kale tiba-tiba nyelonong masuk kamar.
"Diluar gerah, saya berkeringat." Dengan seenaknya dia nutup pintu dan menyalakan AC sampai suhu paling rendah.
"Tunggu diluar aja bisa gak?" Gue mendesis rendah sambil bikin gestur mengusir.
"Sopo, Nis?"
Sialan gue masih on call gini. "Eh enggak, Mas. Kenapa tadi?"
"Pacarmu yo?"