
Gak usah nanya betapa sibuknya gue keesokan harinya, datang pagi-pagi ke kantor untuk melakukan serangkaian rutinitas dan mempersiapkan sajen segala rupa yang wajib tersedia di ruangan CEO, tentunya gue harus selalu berkoordinasi dengan mas-mas office boy dan cleaning service supaya tidak terjadi kesalahan pengerjaan sekecil apapun. "Laundry dan sarapan bapak biar saya yang handle, tolong belikan saja sparkling water, kuaci, dan isi kulkas sesuai daftar yang saya kasih, jangan sampai ada yang terlewat ya..."
"Baik, Bu." Sambil nerima notes dan beberapa lembar duit dari gue.
Gue biasanya mencatat perlengkapan apa saja yang masih tersedia, sudah habis, dan dibutuhkan. Sebelum meneruskan pada orang lain untuk membelikannya. Harus rinci dan detail, berikut tempat dimana barang-barang tersebut bisa dibeli, Kale yang memiliki selera another level pasti rewel kalau gak dapat sesuai standartnya.
"Kalau udah selesai, panggil saya ya mas. Saya mau sekalian nitip berkas ke bawah." Gue pantau pekerjaan mereka dari luar karena gue sendiri masih harus mengarsipkan notulen meeting, laporan, dan menyiapkan berbagai jenis dokumen. Setelah meneruskan email dan mencetak beberapa di antaranya, gue lanjut menyusun daftar nama beserta beberapa kontak investor, client penting, dan petinggi perusahaan lain yang pada hari ini dijadwalkan akan bertemu Pak Bos.
Belum sempat gue leha-leha, udah keburu ditelepon sopir pribadi Kale yang mengabarkan kalau bos kita tumben banget gak nongol-nongol padahal udah waktunya berangkat ke kantor. "Coba masuk aja, Pak."
"Gak berani saya, Bu."
"Udah minta tolong orang rumah untuk gedor-gedor kamarnya?"
Kale gak suka jam karet, dia tipikal bos yang disiplin soal waktu dan janji temu. Kalau emang terpaksa harus berhalangan hadir dia pasti langsung ngabarin, selama gue jadi sekretarisnya hampir gak pernah jadwalnya ngaco seperti pagi ini.
"Pak Kale tinggal sendirian, Bu." Pak Jumadi nambahin. "Saya udah hubungin Pak Bian tapi gak direspon, makanya saya telepon ibu Kanis, minta tolong ditelponin bapak soalnya saya gak punya nomornya selain yang dipake buat kerja."
Kale memang punya beberapa handphone, dan kebetulan gue tahu semuanya nomornya termasuk ponsel jadul yang dipake khusus setiap kali dia pengen ngilang. "Loh sendirian? Bukannya tinggal bareng ibu dan adiknya?"
"Pak Kale jarang pulang ke rumah mamanya, Bu. Dia punya rumah sendiri deket-deket sini." Sambil beliau nunjukin daerah yang akhir-akhir ini dikenal sebagai kawasan elit karena saking banyaknya kaum ekspatriat dan okb pindah ke sana.
"Sharelock, Pak. Saya otw sekarang." Segera gue ambil tas dan bergegas menuju lift. Selama perjalanan menuju rumah baru Kale, gue terus neleponin Bian dan Kale secara bergantian. Gue teken-teken semua nomor mereka yang gue simpan di ponsel tapi berujung nihil.
Kesel sendiri, ini gue kerja atau dikerjain sih?
Gue curiga nih bau-baunya Kale ingin menghindari jadwal vaksin, sampai dibela-belain bolos kerja segala. Tapi gak segampang itu kalau punya sekretaris ulet seperti gue, segala cara akan gue lakukan untuk menyeret Kale ke rumah sakit, kalau perlu pake anceman.
Karena naik grab, gue minta diturunin di depan gerbang rumah Kale dimana Pak Jumani juga memarkir mobil disitu. "Gimana, Pak?"
"Saya pencet belnya berkali-kali tetap gak dibukain, Bu."
Gue coba tekan-tekan sendiri. "Tapi bener Pak Kale pulangnya ke sini ya? Maksudnya dia gak ngelayap kemana-mana lagi setelah bapak anter pulang?"
"Iya, Bu."
Ada gitu setengah jam lebih kita usaha untuk neriakin dari luar, gedor-gedor juga udah. Sampai garing nungguin tanpa kejelasan. Ini orang pingsan atau mati jangan-jangan, jadi ngeri ngebayanginnya.
"Perlu panggil satpam gak, Bu?"
"Ngapain, Pak? Nanti kita malah diusir lagi." Gue menggeleng sambil mikir keras.
Rumah baru Kale dirancang dengan teknologi smart home system, dimana segala sesuatunya serba canggih dan modern yang memungkinkan fitur kontrol automatisasi pada perangkat rumah. Terkesan begitu futuristik, karena untuk bisa masuk tidak menggunakan kunci atau keyless, melainkan akses khusus seperti sensor sidik jari, kode angka rahasia atau aplikasi HP.
Gue gak kurang akal, karena terbiasa pegang password serta pin segala macam seenggaknya gue tahu kombinasi huruf atau angka yang sering dipergunakan Pak Bos. Kalau tebakan gue benar, yang paling gampang sih 696969 lalu tunggu authorisasinya via email Kale yang kebetulan konek di handphone kantor yang gue pegang. Nah kan bener langsung terdengar bunyi klik otomatis yang menandakan gerbang yang tadinya terkunci bisa terbuka. Huft daritadi kek gue ngidenya, biar gak buang-buang waktu dengan percuma.
"Bisa, Bu?"
"Bisa kok, gampang banget malahan." Gue dengan percaya diri membuka pintu pagar dan melangkah masuk. Segera saja gue disambut taman kecil yang dihiasi pot tanaman, petak-petak rerumputan di tanah, tumbuhan merambat pada dinding pagar, dan penerangan aesthetic. Jumlahnya tidak banyak tapi cukup untuk menciptakan kesan hijau sejuk di area teras.
"Pak Kale? Assalamualikum?" Karena Pak Jumani memilih untuk menunggu di luar, akhirnya gue masuk sendirian setelah bilang permisi dan mengucapkan salam selayaknya tamu baik-baik, tapi percuma sih secara dari awal kedatangan gue udah kayak maling ngebobol rumah orang.
Boro-boro dapat jawaban, justru keheningan yang gue dapatkan, bener-bener sepi suasana rumahnya seperti gak berpenghuni. Sebenernya gue gak mau lancang tapi berhubung udah darurat banget akhirnya gue nekat untuk memeriksa setiap ruangan yang ada, dimulai dari kamar yang ada lantai bawah sampai dapur ke belakang. Meski ukurannya gak seberapa tapi hampir semua furniture dan perabotannya berteknologi tinggi, termasuk gorden yang bisa terbuka otomatis, pendingin udara yang bisa mendeteksi suhu tubuh, serta lampu yang bisa diatur kapan menyala dan mati, dimana saja titiknya menyala, warna apa yang dinyalakan, dan banyak lagi. Begitu juga tingkat keterangan cahaya, yang dapat menyesuaikan dengan situasi dan rutinitas pemilik rumah. Ketika memasuki jam-jam tidur, lampu akan meredup dengan sendirinya.
Oh kamar pribadi Kale pasti di atas, tanpa berpikir panjang gue segera menaiki tangga dan mencari keberadaannya pada pintu pertama yang gue jumpai. "Pak Kale?" Gue ketuk-ketuk dulu.
Gak sabar gue langsung meraih handle pintu yang juga di setting keyless, tapi sebelum gue berhasil memasukan kode-kodenya ternyata udah kebuka duluan dari dalam. Sampai gue reflek mundur ke belakang begitu melihat sosok Kale nongol dari balik pintu. "Eh bapak udah bangun?"
Melihat mukanya yang seger tanpa ada bekas ngantuk, gue mengasumsikan dia sebenarnya udah terjaga sejak tadi tapi pura-pura budek aja. "Pagi Kanis, mata saya langsung melek begitu lihat kamu."
"Eh pagi, kaget saya..."
Dari caranya ketawanya yang jahil gue yakin dia udah mantau gue lewat cctv, ngerjain banget ini orang. Soalnya Kale juga gak nampak kaget atau gimana gitu ketika ngelihat kehadiran gue, yang berarti dia sudah mencium kedatangan gue sejak pertama kali menginjakan kaki di gerbang depan.
"Selamat pagi Kanis sayang, saya sudah bangun." Ulang Kale padahal nyata-nyata udah gue jawab. Bertepatan dengan itu, lampu yang menerangi lorong serta tangga tiba-tiba mati, lalu kemudian disusul gorden yang terbuka dengan sendirinya.
"Iya pagi. Maaf saya lancang uhm bapak gak marah kan saya masuk tanpa permisi?" Gue menganggap ketawa Kale sebagai pertanda kalau hal yang gue lakuin barusan tidak kelewat batas.
"Kenapa harus marah kalau emang urgensi kamu kesini untuk mencari saya?" Penampakan Kale di pagi hari begitu menggetarkan jiwa, jangan berharap bisa melihatnya dalam bentuk kacau atau berantakan. As always meski hanya mengenakan piyama tidur, Kale tetap terlihat ganteng seperti biasanya. Kalau gak inget siapa beliau ini, pasti mikirnya gue dapat rejeki nomplok.
"Bapak jangan ngerepotin saya bisa gak sih?" Gue mulai ngomel untuk menutupi kegusaran. "Kenapa telepon saya gak diangkat? Kenapa tadi waktu saya datang gak langsung dibukain pintunya? Kenapa gak ngerespon waktu saya panggil-panggil?"
Kale ngusap-ngusap dagunya yang mulus karena rajin dicukur, gue gak bisa bayangin Pak Bos berjenggot atau punya kumis tipis-tipis...ah tidak, cepat hentikan pikiran kotor ini. "Saya seneng lihat kamu berkeliaran di rumah saya."
"Saya yang gak seneng, Pak. Nambah-nambahin beban kerjaan saya aja." Gue bergumam. "Terpaksa banget ini saya samperin bapak ke rumah, takutnya bapak lupa kalau siang ini ada appointment penting dengan shareholder dari Jepang, makanya untuk jadwal vaksinnya saya majuin pagi ini."
"Ah," Kale memiringkan kepalanya. "Bukankah kemarin sudah saya batalkan?"
"Saya kemarin sudah bilang kalau berubah pikirin, masa kamu gak denger?" Protesnya lagi.
"Saya denger kok." Sambil gue dorong-dorong lengannya supaya masuk lagi ke dalam kamarnya. "Sekarang bapak siap-siap, saya kasih waktu 15 menit."
"Kanis, saya gak mau." Dia ogah-ogahan gitu. "Jangan dipaksa."
"Saya gak maksa, kan ngajaknya baik-baik?"
"Gimana kalau kita langsung ke kantor aja, gak usah ke rumah sakit—"
Gue pasang muka tegas anti dibantah. "No. Pokoknya rumah sakit dulu! Kali ini bapak harus nurut sama saya. Mandi terus ganti baju, atau mau langsung berangkat pake piyama begini aja?"
"Sepertinya gak akan sempat, saya keburu bikin janji dengan klien nanti jam sepuluh...." Kale berusaha mendustai gue dengan alasan yang dibuat-buat.
"Gampang, nanti saya resechedule." Balas gue sambil terus ngedorong dengan usaha semaksimal mungkin, rada ngos-ngosan sih tubuh gue yang gak seberapa ini musuh Kale yang berotot. "Bapak gak usah nyusahin deh, cepet masuk kamar mandi atau saya guyur pake ember?!"
"Kamu kuat juga ya?" Kale cuma senyum-senyum ngeliatin gue yang kesusahan.
"Dimohon kerjasamanya dong, Pak!" Gue mulai merengek. "Please ya? Sekarang bapak mandi, ganti baju, terus kita cabut secepatnya dari sini. Kalau bapak pengen sarapan dulu, kita bisa mampir beli sebelum berangkat ke rumah sakit. Deal pak?"
"Gak, kita belum deal." Jawabnya santai sambil bersedekap, gusti padahal gue udah susah payah ngedorong dia sampai depan kamar mandi.
Gue gregetan, sambil gue tunjukin layar hp tepat di depan mukanya. "Lihat sekarang udah jam berapa? Kita harus ngejar waktu, Pak!"
"Kejar waktu ya kejar waktu aja, tapi saya tetap gak mau vaksin." Batu banget Kale, nyebelin.
Gue langsung mencureng lagi. "Oke kalau gak mau, saya mending resign aja!"
Kale terkekeh melihat kedongkolan gue. "Jangan bikin saya tertawa, Kanis. Ancaman kamu gak ngaruh buat saya."
"Saya serius loh! Silahkan bapak cari sekretasi baru yang lebih sabar dan pengertian karena mulai detik ini saya gak mau lagi bekerja untuk orang yang gak peduli dengan kesehatannya sendiri, dzolim itu namanya! Bapak udah menyia-nyiakan perhatian dan niat baik dari saya dan Kak Bian, buat apa saya bertahan kalau bapak sendiri ogah-ogahan gitu..." Gue lepasin lanyard beserta name tag yang terkalung di leher, lalu melemparnya dengan penuh drama. "Surat pengunduran dirinya menyusul, bye bapak saya pamit!"
Gue sok-sokan berbalik dengan muka angkuh, namun sebelum berhasil mencapai pintu tangan gue keburu dicekal Kale. "Oke saya mandi sekarang."
Gue noleh sedikit. "Ya udah sana, saya tunggu!"
"Gimana kalau kamu mandiin saya?" Sempat-sempatnya usilin gue.
"Sekalian dikafanin mau gak?" Balas gue sinis.
Kale nyengir sebelum melepaskan tangan gue dan berjalan menuju ke kamar mandi. "Tolong siapin pakaian saya."
Gue setuju aja kalau cuma ambilin baju, tinggal buka lemari dan memilih satu kemeja putih dari tumpukannya yang rapi. Jas beserta setelan celananya gue comot dari gantungan wardrobe. Herannya gue ngelakuin itu semua dengan sat set sat set tanpa banyak pertimbangan. Seakan gue udah hapal selera Pak Bos diluar kepala, begitu pula sewaktu gue memasangkan dasi dengan pinnya atau, kaos kaki dengan sepatunya. Mungkin karena gue udah terbiasa menyiapkan pakaian ganti untuk Pak Bos di segala kondisi, bedanya cuma kemarin-kemarin gue ngelakuinnya di kantor bukannya di rumah.
Setelan jas mahal memang beda baik dari segi cutting maupun sentuhannya, produk fashion mewah ini terlihat begitu elegan dan terkesan mengumbar pamor yang tinggi nan terhormat. Tampilannya yang modis dan necis seolah mampu mengumbar status sosial pemakainya. Mode pakaian yang juga menjadi standar keformalan ini sangat cocok dikenakan Kale, seakan dia terlahir untuk selalu berpakaian perlente hingga menciptakan image individu yang profesional dan terpandang.
Gue aja drolling waktu awal-awal masuk jadi karyawan terus ngeliat sosok Pak Bos yang bersetelan jas dari kejauhan, sampai sekarang juga masih sebenarnya cuma gak berani gue suarakan terang-terangan takutnya orangnya gede kepala.
"Pakaian dalam saya mana?" Kale keluar hanya dengan handuk yang melingkari area bawah di tubuhnya, menampakan dengan jelas dada bidang dan perutnya yang kotak-kotak. Kale dengan setelan jas saja bisa bikin gue kagum, apalagi sekarang? Posturnya yang bagaikan pahatan patung dewa yunani kuno, rambut basahnya yang menetes-netes, dan.... anjing gue sampai ngeblank.
Gue termangu di tempat saking terpukaunya, jatuhnya damn atau blessed my eyes nih?! Pantes aja banyak betina yang tergila-gila, rupanya pejantan super satu ini gak hanya good rekening tapi juga good dalam segala aspek kehidupan. Kalau meminjam istilah Bian, sempurna sampai isi dalam-dalamnya.
Bisa gila gue kalau gak buru-buru memalingkan muka, untung belum ketahuan Pak Bos kalau gue sempat hilang nyawa gara-gara bentukannya yang setengah telanjang itu.
"Kanis, kenapa kaos dalam dan boxer saya belum disiapkan?"
"Oh iya, ya?" Sampai tergagap waktu berusaha ngeladeni pertanyaan Pak Bos. "Di laci sebelah mana, Pak?"
"Apanya?" Dia lagi make affershave untuk ketiaknya yang berbulu, mampus gue tumbang sekalian aja deh. Selain gak kuat ngeliat betapa indahnya ciptaan Tuhan satu ini, aroma wewangian mahal yang menguar terlalu memikat hingga membuat panca indra gue berhenti berfungsi.
Gue aja bengong, sampai lupa nutup mulut. "Di taruh mana? Saya tadi eh gak nemu."
Kale nunjuk samping dengan dagunya, rupanya tempat penyimpanan onderdil dalamnya terletak di susunan laci di paling bawah. Tentu saja cap mahal, sultan emang beda sih coba gue pasti belinya nunggu diskon dulu biar dapat murah.
Setelah gue raup dari tumpukan yang paling atas, segera aja gue lempar ke seberang ruangan dimana Kale sedang berdiri memunggungi gue. "Tangkap, Pak!"
Dengan sigap Kale segera menangkapnya sebelum barang pribadinya itu berjatuhan ke lantai. "Kok main lempar aja? Eh mau kemana kamu—"
Gue lagi pasang ancang-ancang untuk kabur, takut banget kalau orangnya kumat dan beneran ganti baju di depan mata gue yang masih suci ini.
Bahaya kalau dilihat dari gelagatnya, Kale pasti bakalan ngelakuin sesuatu yang nekat untuk ngerjain gue, tuh tuh handuknya dipelorotin sendiri, gue kudu cepet-cepet minggat sebelum kena sawan.
Tentu saja Kale gak akan ngebiarin gue lepas semudah itu. "Jangan pergi dulu, Kanis! Bantu saya ganti baju!"
Gue langsung melejit lari menuju pintu, dan sebelum Kale berhasil ngejar gue. Pintu kamarnya gue banting sampai terdengar bunyi gedebum keras disusul suara aduh yang teredam dari dalam. Ouch pasti sakit sih.