Boss Babe

Boss Babe
Kekatrokan Ini



Bian mendatangi gue dengan grusa-grusu. "Neng, udah booking skylight?"


"Udah dong, jam satu siang untuk dua orang." gue mendongak dan menjawab dengan enteng. Dipikir gue gak kompeten apa, masa urusan begini aja pake double check segala.


 "Singapore?"


"Jakartalah," gue malah gak tahu restauran steak terkenal itu juga punya cabang di Singapore.


Bian memutar matanya.


"Kalau Pak Bos bilang Skylight itu pasti Singapore, kalau Seasalt di Bali. Bebal banget sih lo? Masa urusan begini aja mesti gue ingetin bolak-balik?"


"Bedanya apa sih? Emang di sini steaknya gak enak ya?" tanya gue bego.


Tapi Bian mengabaikan pertanyaan gue. "Udah hampir jam sebelas, masih bisa booking di Singapore gak kira-kira?"


Gue langsung pucet, saking asyiknya gue mensortir file-file penting di komputer sampai gak sadar


kalau waktu sudah mendekati jam istirahat. "Mampus gue."


"Betul, lo pasti mampus bentar lagi. Gimana kalau Pak Bos ternyata udah bikin janji makan siang dengan rekan bisnisnya untuk membahas kontrak kerjasama yang bernilai puluhan triliyun?"


"Ah paling cuma ketemuan sama cewek barunya?" gue sok yakin aja.


Bian menatap gue pias. "Buruan reservasi, neng. Private jet-nya udah siap belum?"


Gue langsung lemes di kursi, harusnya tadi gue nanya Bian dulu sebelum melaksanakan perintah Pak Bos, saking spesifik dan detailnya gue sampai keteteran sendiri. Jangankan mempersiapkan pesawat jet, pesen tiket pesawat aja gak pernah karena seumur-umur gue balum pernah terbang samasekali.


"Haduh ini anak, ya udah kita bagi tugas." Bian berdecak sembari mengeluarkan ponselnya. "lo urusin resto, gue pesawatnya."


Gue buru-buru ambil telepon, dan memutar nomor restauran di Singapore untuk melakukan reservasi karena kita gak bisa asal datang dan langsung pesan makan begitu aja. Awalnya gue dipersulit karena udah mepet jamnya, tapi dengan negosiasi alot dan sedikit drama kalau gue bakal di pecat kalau gak dapat tempat, akhirnya diperbolehkan dengan syarat harus datang sebelum jam satu siang.


"Oke semua kan?" Bian bertanya dengan ponsel masih menempel di telinga.


"Bisa tapi jam 12, kalau mau mundur adanya jam 3 sore." gue memasang tampang bersalah.


"Bilang aja Pak Bos harus berangkat jam berapa?"


 "Sekarang bisa gak?" perut gue melilit saking cemasnya, gimana kalau gak bisa sampai sana tepat waktu. Takut banget gue punya atasan psyco seperti Kale, bisa aja dia minta ganti menu steak wagyu A5 dengan daging betis gue? Serem banget anjir.


Mengabaikan kegusaran gue, Bian segera berbalik sambil terus teleponan. "Setengah jam lagi kita berangkat, cepat hubungin pilotnya."


Gue menatap pintu ruangan eksekutif sambil berharap-harap cemas, semoga saja Kale lagi senggang dan bisa dibujuk. Bian sepertinya cukup bisa diandalkan untuk menyetir jadwal atasan kita itu, karena gak berapa lama kemudian Kale keluar dengan langkah kakinya yang lebar.


 "Kamu ikut saya." tepat di depan meja gue, Kale berujar demikian tanpa menghentikan langkahnya.


 "Gimana, Pak?" ekor mata gue mengikutinya.


Bian juga meminta gue bergegas. "Malah cengo, cepatan udah ditunggu Pak Bos tuh!"


Tanpa pikir panjang, gue segera beranjak untuk meraih tas dan berlari menyusul mereka masuk ke dalam


lift.


Kale sempat menahan  lift ketika pintunya hampir tertutup, sambil ngos-ngosan gue bilang. "Makasih, Pak."


Gue takut kena amuk, tapi ternyata gak terjadi apa-apa karena Kale membalas ucapan makasih gue dengan senyuman tipis. Makasih pada Bian yang udah nutupin kesalahan gue dan bantu menyelesaikan masalah di menit-menit terakhir. Fyuh lega banget, gue bisa senderan dengan tenang sambil tiup-tiup poni yang berantakan efek lari-lari barusan.


 "Kalau lain kali kamu gak bisa menyediakan tempat makan siang yang layak untuk saya..." Kale berkata sembari membenahi poni gue yang berjatuhan di dahi. "gimana kalau saya makan di tempat kamu aja?"


 "Gimana, Pak?" Gue sambil melirik Bian takut-takut.


 "Gak usah liatin gue, terima aja kesalahan lo!" Bian sengak banget padahal gue cuma minta penjelasan, dasar tukang ngadu awas aja lo pasti gue bales.


**


Gue baru sekali ini menginjakan kaki di bandara, dan pertama kali pula naik pesawat. Tentu saja gue deg-degan namanya juga pengalaman baru, tapi sebisa mungkin gue tetap berjalan dengan elegan biar gak dibilang katrok. Sampai kemudian gue tersadar akan sesuatu, gue kan gak punya passport?


 "Kak Bian." desis gue sambil menahan langkahnya. Kale sudah berada jauh di depan, dan lagi sibuk menelepon.


 "Apose?" Bian menoleh dengan kesal.


 "Gue gak ada passport!"


 "Gak bawa atau gak punya?"


 "Enggak punya."


 "Hari gini gak punya passport?" tanya Bian meremehkan. "kemana aja lo?"


 "Gak kemana-mana sih, Kak." gue dengan polosnya menjawab.


 "Tapi pernah naik pesawat kan?"


Gue menggeleng, daripada gue mengakui hal keren yang biasa dilakukan orang-orang kebanyakan mending gue jujur aja.


Bian mendengus. "Pak Bos sering pegi-pegi keluar negeri, jadi mau gak mau besok lo harus bikin passport! Kalau sewaktu-waktu gue gak bisa, elo yang harus gantiin. Daripada mepet dan harus diburu-buru mending bikin sekarang, terus sekalian ngurus visa untuk kerja jangan lupa minta rekom ke HRD..." Dan gue terus diomelin sampai kita naik ke dalam pesawat, bossy banget dia mentang-mentang orang kepercayaan Kale.


Sumpah, gue melongo melihat isi dalam pesawat pribadi itu. Interiornya luar biasa mewah dengan segala fasilitas dan suasana yang memanjakan pemiliknya, dilengkapi kursi empuk dibalut kulit yang terdesain untuk kenyamanan tingkat tinggi dan bisa disetting untuk selonjoran. Warna cokelat muda pada setiap furniture berpadu sempurna dengan detail kayu pada dinding dan karpetnya.


 "Kita dapat jatah makan siang gak sih?" gue berharap dapat gratisan.


"Jatah makan siang? Lo pikir kita lagi naik bus pariwisata?" cibir Bian. "Nih ya, Neng. Gue kasih tahu, pelayanan private jet itu lebih spesial melebihi pesawat komersial kelas VVIP. Setiap kali terbang, Pak Kale selalu minta disediakan minimal menu bintang tiga Michelin, misalnya wagyu rib-eye yang super lembut dengan harga USD 220 atau sekitar Rp 3,1 juta. Kadang kaviar, lobster, kentang truffle, langoustine Prancis, daging sapi fillet carpaccio, truffle hitam dari Périgord, dan mini baguette."


Meski gak tahu bentukannya tapi gue udah ngebayangin sampai air liur keluar, perkara sandwich tadi pagi membuat gue yakin selera makan Kale di atas rata-rata dimana rasa dan kualitasnya gak perlu dipertanyakan lagi, karena sebanding dengan uang yang dikeluarkan.


 "Tapi karena sekarang kita mau Singapore buat nganterin Pak Bos makan siang, jadi gak ada perlunya menyediakan semua makanan itu." Bian mematahkan niatan gue,sialan.


 Air liur kembali gue telan, gak jadi makan enak gue hari ini. Huhu mama anakmu laper, nyesel gue tadi pagi cuma makan nasi uduk separuh porsi.


 "Nih kalau mau pipis." Bian memperlihatkan toilet pesawat yang interiornya serba putih, dan di dalamnya termasuk lemari penyimpanan barang. Dia juga sempat mengintip ruang kokpit dan berbincang singkat dengan pilot yang sedang bertugas.


Gue memilih duduk di area tengah, berbeda dengan kursi empuk sebelumnya, sofa ini bisa digunakan bersama-sama. Bisa juga diubah menjadi tempat tidur. Tapi gak mungkin juga gue rebahan di sini, yang ada nanti malah dikatain Bian dengan embel-embel norak bin kampungan.


Pesawat kecil ini ternyata juga memiliki beberapa kru kabin, dua pramugari, satu pilot dan satu co pilot yang merangkap sebagai teknisi. Jadi total ada tujuh penumpang di sini, termasuk Kale yang baru saja menaiki tangga pesawat.


Segera saja pramugari-pramugari cantik mengerubunginya, menyapa dengan ramah dan menawarkan sesuatu untuk membuatnya lebih nyaman. "Selamat siang, Kale. Mungkin bapak butuh sesuatu? Minuman dingin atau barangkali camilan?"


"Nanti saja." Kale mendongak dan setelah menemukan keberadaan gue, dia lalu berjalan melewati pramugari yang menyambutnya di pintu.


Gue sengaja duduk ditengah-tengah sofa supaya orang ini memilih tempat lain, pokoknya jauh-jauh aja dari gue-anggap aja jam makan siang dimana gue berhak menjauh dari pekerjaan paling gak sampai satu jam ke depan-tapi dugaan gue meleset, Kale malah duduk di sebelah gue persis, mana dempetan lagi.


Bokis, Bian aja lagi jalan lenggak-lenggok di lorong pesawat bak model catwalk, terus habis itu dia berputar dengan gaya yang epik. Lalu dengan centilnya dia menambahkan. "gue udah mirip Bella Hadid belum?"


 "Lebih mirip bela sungkawa sungkawa sih." kata gue.


"Mulut setan." tukas Bian galak.


"Benerin dulu tuh bedak, masa muka pagi leher malam gitu." tambah gue, bukan julid tapi gue dan Bian emang udah biasa saling menghujat. Biasanya gue yang ngalah, tapi kali ini gue udah capek jadi bahan omelan dia makanya gue balas aja.


"Mentang-mentang duduknya nempel Pak Bos, lo ngerasa punya power buat nyerang gue gitu?" Bian gak mau kalah. "Lihat aja nanti kalau orangnya udah gak ada, pasti lo gak berani ngatain gue karena power lo puussh ilang."


Gue menepis tuduhannya dengan elegan. "Dikira gue samson betawi apa, bulu ketek dicukur langsung gak ada power?"


"Lo mengibaratkan Pak Kale itu bulu ketek?" Bian nahan diri biar gak ngakak.


"Eh gak gitu maksudnya..." dengan panik gue tengok Kale di sebelah.


Gak disangka celetukan-celetukan ngawur gue malah membuat Pak Bos ketawa kenceng, emang gue


selucu itu ya? Mana berdurasi lama pula ngakaknya, sampai lima menit gak berhenti-henti kan jadi takut  jangan jangan doi kerasukan.


Gue tatap-tatapan heran dengan Bian, sampai kemudian orangnya sendiri yang klarifikasi sambil terus terbahak-bahak. "Baru kali ini saya bisa tertawa lepas, good job Kanis."


Good job-nya kayak lagi muji anjing yang pinter ngebadut, okelah gue terima. Oh iya, gue tadi lolos pemeriksaan passport dong, karena kita penumpang pesawat jet yang dianggap ekslusif jadi ceki-cekinya gak seketat kalau lewat gate untuk umum.


Special banget emang penerbangan pertama gue, baru duduk aja langsung dikasih minuman dingin rasa teh campur spite, busyet seger banget tenggorokan gue langsung adem.


"Mau lagi?" perhatian Kale beralih dari gelas yang udah kosong ke bibir gue yang lagi mencecap-cecap, tanpa menunggu jawaban dia langsung memberi kode pada pramugari untuk membawakan minuman segelas lagi.


"Gak ada gelas yang agak gedean ya?" gue menatap miris gelas satu kaki yang disodorkan pramugari itu, mana lega kalau cuma segini. Kebiasaan minum pake gelas warung yang bisa menampung setengah liter air berikut bongkahan esnya.


"Maaf, bu. Kami hanya menyediakan gelas ukuran kecil." Pramugari itu masih tersenyum ramah.


"Ada botol mineral kosong, gak?" Kale memberikan solusi. "taruh situ aja."


"Diplastikin juga gak apa-apa, tapi kasih sedotan ya."


 "Hm baik, saya ambilkan." gak lama kemudian, pramugari itu balik sambil membawakan gue es teh dalam botol aqua, cuma satu sih sayangnya gak ada es batu yang bisa gue kunyah-kunyah.


"Terimakasih." ujar gue dengan senang hati, katakanlah gue dan es teh adalah satu


kesatuan yang gak terpisahkan. "bapak mau?"


"Buat kamu aja." Kale mengulas senyum tipis dan mempersilahkan gue untuk menikmati


minuman manis itu.


Ya udah, gue tenggak aja tanpa malu-malu, haus gila meski di dalam full ac tapi tetep aja kalau udah menginjak jam 12 siang matahari di luar lagi panas-panasnya dan gue gak mau dehidrasi.


 "Kacang?" Kale mengangsurkan setoples penuh biji-bijian putih seukuran kancing baju yang gue gak tahu jenisnya, tapi karena Pak Bos nyebutnya kacang jadi gue percaya aja.


Gue raup segenggam danseparuhnya segera masuk ke dalam mulut.


"Dikupas dulu kulitnya."


Emak? Kadung gue kremus semuanya, sambil terbatuk-batuk gue ambil tissu dan lepehin semua remahan-remahan itu. Pantes aja keras meski gurih gitu.


 "Minum dulu,Kanis." Kale gak bisa menyembunyikan senyumnya, pasti dia mau ngetawain gue tapi ditahan.


Gue meringis malu. Maaf ya, Pak. Gue malah ngejamet di private jet, tapi lanjutin aja lah.. gak ngejamet gak asik. Gak kapok gue makan kacang yang belakangan gue ketahui namanya pistacio, mesti gue harus sabar membuka kulitnya satu-satu dan berbagi dengan Kale. Dan segera saja suara kraus-kraus dari mulut kita beradu dengan deru mesin pesawat.


**


Buat pilotnya gak lupa gue kasih bintang lima, berhubung perjalanan udara itu bisa dibilang lancar dan hanya memakan waktu tiga puluh menit, karena itungannya jarak Jakarta-Singapore cukup dekat serta ditunjang dengan cuaca yang lagi bagus-bagusnya. Begitu mendarat, kita langsung di jemput mobil lexus warna hitam lengkap dengan sopir yang fasih berbahasa inggris. Bener-bener definisi turun dari tangga pesawat langsung masuk mobil tanpa susah-susah jalan jauh ke parkiran, konglomerat beneran nih senggol dong.


 Karena Bian duduk di samping pak supir yang sedang bekerja, jadilah gue ambil posisi di kursi belakang dan menemani Kale yang lagi-lagi sibuk teleponan dengan ayang pacar nomor kesekian, sepertinya doi sudah menganulir beberapa wanitanya dan menyisakan setengah lusin untuk dipelihara lebih lanjut. Jangan tanya alasannya pada gue, yang jelas keputusannya itu sangat membantu kerjaan gue dimana kerempongan gue untuk menghandle betina-betinanya menjadi jauh berkurang.


Gak musingin juga karena gue labih penasaran nanti waktu Kale makan siang, enaknya gue kemana ya?


Mumpung gue lagi di luar negeri nih, ceilah. Kata Bian kalau menyangkut urusan pribadi Pak Bos, staff-nya gak perlu deket-deket dan cukup stand by di sekitaran situ aja. Malah kadang Bian suka kelayapan sendiri, baru balik kalau udah di telepon.


 "Kak Bian." gue menjawil bahunya. "nanti kita makan siang di mana?"


Bian menanggapi dengan jengah. "lo kelaperan banget ya daritadi nanya makan mulu?"


 "Ya kan emang udah waktunya makan." keluh gue.


 "Gue makan di Mc Donald."


 "Gue ikut ya." deal aja deh, yang penting perut gue terisi dan punya waktu bebas


sampai jam makan siang selesai. Gak apa-apalah nongkrong di McD yang penting gue di Singapore yuhu....


Gak terasa mobil yang kita tumpangi sudah berhenti di lobby gedung dimana skylight restauran beralamat. Keren ya orang kaya, makan siang aja segala nyebrang pulau dan pindah negara. Lah gue? Pengen ganti menu amis-amisan aja kudu nunggu awal bulan waktu gajian.


Gue udah pengen nguletin badan aslinya, tapi Pak Bos gak keluar-keluar malah ngeliatin gue gitu. "Ada yang bisa saya kerjakan, Pak?"


Bukannya jawab, malah dia narik tangan gue. "Ayo turun."


Gue yang kaget karena diseret turun dengan tiba-tiba, jadi gelagapan saat meminta penjelasan. "Eh saya? Turun kemana? Tapi, Pak..."


Terlambat, pintu mobil udah ditutp dan Pak Tama menyuruh sopirnya untuk jalan terus. Dan ketika kaca jendela depan mobil kebuka, disitulah Bian menjulid. "Oke, gue yang udah kerja tujuh tahun cuma dikasih makan ayam goreng, dan lo yang baru sebulan udah diajakin makan steak wahyu. Baek baek lo, Neng. Ati-ati aja lo di killing spree sama buaya gatel!" teriakannya menghilang seiring mobil menjauh dari pandangan.


"Pak, saya makan sama Kak Bian aja." ujar gue gak enak.


"Gak, kamu ikut saya."


"Nanti pacar bapak gimana? Reservasinya kan cuma untuk dua orang." gue merepet ketika digiring masuk.


 "Kamu makan siang bareng sama saya." kalimatnya lebih memperjelas. "Itu buat dua orang


bukan?"


"Tapi jam istirahat saya?" gue kan juga pengen punya jam-jam bebas tanpa direpotin ini orang.


 "Ini sudah jadi bagian pekerjaan kamu, Kanis. Kalau saya suruh kamu temani saya di sini, ya


kamu harus nurut perintah saya." jawaban enteng Kale bikin gue pengen misuh-misuh.


Sumpah gue pengen mengutuk atasan gue ini sampai jadi monyed impoten. Gara-gara dia nih pekerjaan gue seperti jalan kenangan aja, gak ada habisnya.