
Usai pesan kue dan beli kado lewat online, gue kembali mampertanyakan keberadaan Raffa yang entah apa kabar. Sampai gue selesai lari satu putaran, chat gue masih centang satu.
Tas bekal gue teronggok belum tersentuh, pasti isinya udah dingin sih. Raffa kemana sih, molornya kebangetan gini.
"Awh!" Teriak gue kaget ketika merasakan sensasi benda dingin menyentuh pipi gue. Waktu nengok kedapatan muka Kale, dih beneran nyusul kesini. Sambil senyum ganjen, dia lalu memindahkan botol minuman dingin itu ke tangan gue.
"Loh, Pak Kale?"
"Saya tahu saya ganteng. Gak usah shock gitu. Kaget banget kayak liat masa depan." Lelaki itu menyamai langkah kaki gue.
Belagu amat. Dikira gue anaknya gampang terpesona gitu? Enggak ya, gue aja lihat penampakannya **** ganteng banget udah pake item-item ditambah kacamata, hih takut banget takut. "Ehm bapak kok bisa kesini?"
"Naik mobil, terus jalan kaki." Jawabannya bener, tapi bukan begitu maksud gue.
"Dibelain kesini demi apa loh, bukannya bapak punya Gym pribadi di rumah?" Rada heran gue. Mana pantes sih sultan keringetan di tempat yang dipenuhi rakyat jelata macem gini. Udah panas, rame, banyak debu bertebaran, dan ciwi-ciwi ***** gedhe pake singlet ketat. Owh, gue paham sekarang.
"Di sini banyak yang bening ya?" Mata Pak Bos mulai jelalatan liatin ciwi-ciwi yang lewat. "Coba kamu juga pake setelan olahraga yang fit dan slim seperti itu, Kanis. Kamu punya cleavage yang bagus, harusnya bisa sesuain bra sama bentuk payudara kamu."
"Pak, liat depan. Nanti nabrak." Gue baik hati loh ngingetin.
"Cemburu ya. Tenang, kamu tetep kesayangan saya nomor satu." Ujarnya santai. Padahal niat gue baik, biar doi gak makin ngelantur.
Gue mendengus. "Idih, cemburu dari Zimbabwe. Apa gunanya nomor satu kalau masih ada nomor dua, tiga, dan seterusnya, Pak."
Dia cuma nyengir. "Emang kamu tahu dimana Zimbabwe?"
"Enggak tahu," Gue langsung balikin topik sebelum beneran dites pengetahuan geografi gue." "Tadi belum dijawab loh pertanyaan saya. Emang gym di rumah lagi gak bisa dipake ya? Enakan juga olahraga disana, adem. Ngapain segala nyusruk di sini? Gak takut kepanasan?"
"Kepanasan sih pasti. Apalagi liat kamu keringetan gitu, tambah panas ya." Dia narik-narik leher kaosnya sendiri.
"Bapak mending jogging sendiri aja, jangan nempel-nempel saya." Gue tinggal jalan cepat.
"Nempel gimana? Ini kamu lagi kerja part time, mana coba tanggung jawab kamu?" Langkahnya yang panjang-panjang dengan mudah merendengi gue lagi.
"Masa sekarang sih? Tadi saya belum ngeiyain loh." Protes gue.
"Mau dapet reward gak?" Senyum doi berasa menang lomba gitu.
"Reward apa dulu nih?" Kalau mentahan alias duit jelas gue bersedia, siap, yak!
Bisalah produktif menghasilkan cuan sambil nungguin pacar yang ilang gak kasih kabar.
"Saya mau kamu yang mengelola petty cash khusus direksi, isinya gak banyak cuma sekitar seratus juta," Kale juga bilang gini. "Kalau mau pake duit itu ya pake aja sesuai limit, itu bukan uang kantor jadi kamu tenang aja, yang penting kasih reportnya ke saya setiap bulan".
"Whokeey Pak!" Gue langsung berbinar-binar.
"Bian biasanya pakai uang ini buat beli baju kerja, sepatu, skin care, member gym dan club. Enak kan gaji kalian utuh bisa ditabung atau untuk keperluan lainnya." Kale nambahin. "Syaratnya gampang, kamu cuma harus tampil oke setiap harinya, terutama kalau menghadap saya...."
Dari seringainya gue langsung paham. "Pake rok mini? Biar bapak bisa bebas mengagumi betis saya."
Tebakan gue akurat banget sampai bikin Kale tergelak "Kamu bisa nebak isi pikiran saya ya? Betul, rok pendek semakin seksi semakin baik. Ditambah high hells minimal lima senti. Saya pusing lihat penampilan kamu, Kanis. Kamu punya badan bagus dan wajah cantik, harusnya kamu bisa lebih menonjolkan kelebihan kamu."
Gue muter mata. "Kelebihan saya udah di otak, Pak. Jangan kebanyakan takutnya nanti saya jadi sombong. Jadi gimana untuk hari ini? Saya disuruh cuma disuruh nemenin jogging aja kan?" Gue memastikan.
"Elapin keringet saya, mijitin kalau capek, nyuapin makan kalau nanti saya lapar." Sialan, malah ambil kesempatan.
Udah gak terkejut lagi, tingkah bos gue emang suka kelewatan sampai nyasar-nyasar.
Gue natap Kale dengan pandangan capek. "Gak segitunya juga kali..."
"Muka saya yang sebelah sini tolong dibersihkan." Dia mendekat sambil nyodorin pipi kanan sebenarnya gak kenapa-kenapa.
"Emang kenapa mukanya? Gak usah aja ya, saya lagi repot." Alasan aja gue.
Kale ngangkat alis. "Permintaan sederhana begini masih kamu tolak?"
"Gak ada tissue, Pak."
"Pake baju saya aja." Si bos udah siap-siap lepas kaos, gue buru-buru megangin. Dengan ototnya yang jumawa kemana-mana itu, akan menjadi asupan gratis buat jablay-jablay yang sedari tadi flirting sama beliau. Sebagai sekretaris yang baik gue harus menjaga aurot bos gue.
"Beli tissue aja, di situ banyak yang jual. Jangan kayak orang susah dong Pak." Gue mendesis kesal.
"Saya gak bawa cash."
"Oke. Bapak saya utangin dulu. Tapi kudu dibayar ya, kalau gak saya tagih di akhirat." Karena dompet gue kembang kempis dan sekarang udah akhir bulan, uang seribu dua ribu sangat berharga buat gue.
"Apa kutang? Kalau kutang kamu dibalik kaos itu saya mau?" Mulutnya licin bener macam ikan lele.
Ampun deh, otak bos gue gesreknya udah gak tertolong!
Selesai dapet tisue, gue liat banyak sekali jajanan-jajanan pinggir jalan yang terlihat menggiurkan. Karena keburu-buru, tadi pagi gue belum sempat sarapan. Alhasil, liat cilok aja perut gue udah nendang-nendang kelaperan.
"Pak, mau sekalian beli cilok gak?" Sengaja gak gue tawarain gorengan karena gue bikin khusus buat Raffa.
"Cilok? Apa itu cilok?"
"Aci dicolok, cilok. Bentuknya bulet kenyel-kenyel dikasih saus." Gue seperti jelas pada anak tentang penambahan satu ditambah satu sama dengan dua.
"Oh bakso?"
Gue menepuk jidat. "Serius bapak gak tau cilok? Waktu SD bapak jajannya apa sih?"
"Tortilla, Nacho, kebab, salad buah, onion rings, bakso juga ada." Sahutnya enteng. Busyet, dari sekolah aja udah beda level kita. Gue beli jajan di abang-abang kaki lima, sementara Kale disediakan kantin mewah yang dimasak koki profesional dan both-both jajanan emol.
"Gak asyik ah masa-masa SD-nya. Gak pernah ya bapak ngerasain antri beli telur gulung tapi disela kakak kelas, makan keburu-buru karena bel masuk udah bunyi, beli gorengan tiga bayarnya satu." Ups, yang terakhir keceplosan.
"Telur gulung apa? Omelet?"
Duh. Speechless gue.
"Sini, ikut saya. Rugi tau hidup bepuluh-puluh tahun tapi gak kenal dunia peracian dan permicinan." Sambil gue giring dia menuju area penjual makanan.
"Ini saya mau dibawa kemana?" Mukanya geli gitu. Gue belum sadar kalau lagi nyeret-nyeret tangannya Kale.
"Jajan." Gue lagi celingukan cari penjual cilok yang antriannya gak terlalu rame.
"Kamu mau memperjajankan saya?"
"Iya. Kalau laku!"
Dari ekspresi pak bos gue udah bisa nebak betapa terganggunya dia melihat penampakan gerobak kaki lima yang kemungkinan terkontaminasi debu dan tidak higienis ini. MPadahal justru itu yang bikin jajanan pinggir jalan rasanya nendang. "Pak, ciloknya lima ribu pedes. Eh sebijinya berapa sih?"
"Lima ratus."
"Ya udah tujuh ribu." Asyik dapat banyak, harus gue cicipin dulu untuk menguji kelayakan sebelum memberikannya pada pak bos.
"Kamu suruh saya makan adonan tepung campur saos limaratusan—" Belum selesai ngomong mulut Kale udah gue jejelin cilok. Meski rada ogah-ogahan gitu tapi dikunyah dengan lahap juga pada akhirnya.
"Udah Kanis, aci-acian terlalu berat buat saya. Weekend begini saya biasanya sarapan—" Tapi dia mangap mulu tiap kali gue sodorin. Gitu terus sampai ciloknya habis dan beralih pada telur gulung.
Sampai akhirnya dia beneran menepis suapan gue. "Kanis, saya pengen makan scallops white truffles. Biasanya Bian reservasi untuk saya di Ruffle Kelapa Gading, tapi kejauhan ya? Coba kamu cariin saya restauran yang menyediakan menu itu."
"Sarapan lontong sayur aja gimana, Pak?" Gue ogah ribet. "Di ujung jalan situ, jualannya emang di trotoar tapi enak banget."
Raut mukanya berubah ngeri. "Makan di pinggir jalan?"
"Ya udah kalau gak mau, saya sendiri aja." Gue sengaja ninggalin Kale yang masih mematung di depan lapak telur gulung.
Tanpa mengurangi kecepatan langkah, gue lanjut jalan. Gue gak peduli semisal Kale akhirnya menyerah dan memutuskan pulang, justru hal itu yang gue harapkan.
Ketika mau menyeberang, kerasa ada yang mencolek bahu gue dari belakang. "Nanti kalau kamu sakit perut gimana? Jangan ambil resiko Kanis, kita makan yang aman-aman aja ya?"
"Lontong sayur aman banget, Pak. Orang saya udah sering jajan di situ dan gak pernah kenapa-napa tuh." Gue nolak pokoknya, lontong sayur is the best di cuaca panas seperti ini.
Kale seperti kehilangan akal. "Masak sendiri aja kalau gitu, biar sehat dan higienis."
"Siapa masak?" Gue melongo yang menurut pendapat Bian merupakan ekpresi andalan yang bisa bikin siapapun lumer.
Enak aja nyuruh-nyuruh anak orang. Gue menepis tangannya dengan sopan, inget ya kalau digodain buaya sultan jangan dikit-dikit masukin hati. Jangan jadi cewek gampangan kalau gak mau di pandang rendah. Oke gurl, saatnya kita melawan. "kalau makan di tempat saya menunya tahu dan tempe, emang bapak doyan?"
Kale natap gue lama. "Saya jadi penasaran..."
"Penasaran apa?"
"Kamu, em bukan..." Pak Kama meralat ucapannya. "Apa bedanya tahu dan tempe."
Astaga, dia orang indonesia bukan sih? Gue jawab asal aja karena yakin pertanyaannya itu gak butuh jawaban. "Apa bedanya tempe dengan masa depan? Sama-sama gak ada yang tahu."
"Lucu, jadi pengen makan kamu." Sudut mulutnya terangkat sedikit, duh ngeper juga gue digituin.
"Mendi bapak makan dirumah sendiri aja, nanti dimasakin bibi." Gue lanjut jalan, perut udah keroncongan gini diinterupsi mulu.
"No, kamu yang masakin saya, ini perintah." Mukanya ngeselin gitu.
Gue aja kalau masak nunggu mood turun dari langit dulu. Dengan sabar lalu gue kasih Kale pengertian. "Pak, saya janjian kesini sama Raffa. Nanti kalau orangnya dateng gimana?"
"Suruh pulang. Nanti saya bayarin ongkosnya." Enteng bener itu mulut.
"Suruh pulang gimana? Raffa itu pacar saya masa disuruh balik. Saya kan juga mau pacaran." Gue mulai emosi nih.
"Nanti saya yang pacarin."
Dih kayak gue mau aja.
"Engak ah. Pacar bapak banyak. Diduain aja saya ogah, apalagi di dua puluhin." Balas gue sadis.
Dia senyum lebar. "Pacar saya banyak, tapi selingkuhan saya cuma satu yaitu kamu."
Capek ngomong sama buaya totok. Mending gue cabut aja.
"Kanis, mau kemana?"
Gue mendesis. "Makan lontong."
"Lontong saya?"
Hhh. Butuh kesabaran ektra untuk menghadapi ini orang.
"Lontongnya Pak Haji, itu disana bisa lihat gak!" Dengan geram gue nunjuk warung lontong sayur di seberang jalan.
"Yah, padahal lontong saya lebih gede." Ngomong macam gak ada beban.
Gue gak denger gue pake miniset. Ternyata Kale masih ngebuntutin gue. Tapi aja bilangnya gak level makan pinggir jalan, eh pesenan lontong sayur gue diembat juga.
Awalnya gue suruh ngincipin sedikit, malah sepring-piringnya dikuasain.
"Bapak pesen sendiri aja. Itu punya saya." Gue protes.
"Anak gadis gak boleh makan lontong. Kecuali lontong saya." Dia menghalau tangan gue jauh-jauh dari piringnya.
"Katanya gak mau makan pinggir jalan?" Gerutu gue.
"Kamu pesen lagi aja. Gimana cara pesennya ini? Waitress mana waitress?" Norak amat bos gue. Kemampuan bertahan hidupnya teramat minim. Pesen makan aja gak bisa.
"Antri, Pak. Gak ada waitres-waitres disini."
Ngeliat antriannya yang banyak, Kale cari solusi lain. "Kamu pesen nasi uduk aja ya?"
"Gak mau. Saya pengennya lontong."
"Iya nanti makan lontongnya. Tapi jangan di luar gini, malu." Tatapannya ampun dah,
Kesel bahasannya kemana-mana gue semprot aja. "Lontong yang literally lontong, Pak. Bapak dari tadi gitu mulu ih, saya bete."
"Buka mulutnya."
"Pak—" Gue gak jadi geram. Pasalnya, Pak Kale nodongin sesuap lontong sayur itu tepat di depan mulut gue. "Punya saya. Kan saya tadi yang beli." Gue masih bisa merengek dengan mulut penuh.
"Lontong saya lontong kamu juga." Kale mengambil sesuap untuk dirinya sendiri.
"Uhuk.. uhuk.." ****, otak gue travelling.
"Pelan-pelan makanya. Udah tau lontongnya gede."
Huh, capek gue dengan perlontongan ini.
Selesai makan gue dapet chat balesan dari Raffa yang bilang dia gak bisa dateng karena baru bangun. Gue ulangi sekali lagi, DIA BARU BANGUN. Setelah gue bela-belain bangun pagi, bikin bekal. buru-buru jalan sampai gak sempet sarapan, nungguin berjam-jam, dan tiba-tiba dia bilang gak jadi ke sini gara-gara kesiangan! Oke, mungkin karena saking capeknya semalem dia lembur, gue bisa mengerti kali ini. Meskipun setengah hati gue tetep gondok dibuatnya.
"Pak, saya mau pulang aja, ya. Udah siang." Pamit gue dengan dongkol.
"Loh gak jadi pacaran sama pacar kamu?" Mukanya sok prihatin tapi aslinya kesenengan.
Gue mendesah berat. "Enggak pak. Dia gak bisa."
"Pacaran sama saya aja, gimana?" Dia seperti lagi ngajak main, gak ada serius-seriusnya.
"Pak, ini saya lagi bete loh. Gak ada tenaga buat berdebat dengan bapak." Balas gue ketus.
"Oke saya diam." Kale ngelempar kunci mobilnya. "Kamu yang nyetir!"
Reflek gue tangkep, gila kuncinya berlogo kuda jingkrak. "Tapi saya mau pulang, Pak."
"Iya pulang. Saya ikut."
"Hah?"
"Ayo buruan. Saya pengen tahu dimana rumah kamu." Kale mengalungkan tangannya di leher gue dan menyeret gue menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
"Ngapain? Kandang Ferrari bapak aja lebih mewah daripada kontrakan saya!"
"Sudah gak usah cerewet. Sini tasnya saya bantu bawain," Kale mengambil tas bekal yang dari tadi gue tenteng-tenteng. "Berat banget, isinya apa?"
"Termos susu dan gorengan."
"Kenapa tadi jajan kalau bawa bekal dari rumah, mendingan saya makan gorengan daripada cilok tadi," Dia ngomel sambil ngintipin isi tas.
"Saya kuat jajan dan kuat makan, Pak."
"Kemana larinya itu semua?" Kale mengomentari badan gue yang tetap langsing, gak nampak sedikitpun kalau gue hobi kulineran.
Gue angkat bahu. "Gen keluarga saya emang susah gemuk, ibu saya aja sudah melahirkan lima anak masih langsing sampai sekarang."
"Kamu lima bersaudara?"
"Iya."
"Kamu anak keberapa?"
"Terakhir, saya punya empat kakak cowok semua."
Alis Kale terangkat. "Berarti kamu cewek sendiri?"
"Kira-kira begitu."
Kale nunjuk tas bekal yang ditentengnya. "Saya boleh minta satu gak?"
"Bukannya pelit tapi mending jangan, Pak. Saya belain bangun dari subuh, capek-capek bikin ini demi siapa kalau bukan buat pacar saya!" Gue keinget Raffa yang ingkar janji jadi bawaannya kesal nih.
Kale dengan lancangnya membuka tas bekal gue, ngambil dadar jagung sebiji dan langsung digigitnya sampai sisa separuh. "Udah agak keras, tapi enak kok. Mau?"
Gue ikut-ikutan mencomot satu, eh bener enak.