
Hampir pukul 12 siang Okta baru bangun tidur. Keenakan tidur sambil dielus-elus. Perempuan itu menggeliat kecil, kepalanya menoleh ke samping dan tidak menemukan Vano di sana. Dia menghembuskan nafas lega, matanya kemudian melirik ke arah jam dinding. Sudah hampir tengah hari, pantas aja perutnya terasa perih.
Okta bangkit duduk di pinggir ranjang sembari meregangkan otot-otot yang kaku karena bangun tidur.
"Udah bangun?"
Okta menoleh cepat dengan muka kaget saat melihat Vano keluar dari kamar mandi. Sepertinya cowok itu baru selesai mandi. Dia cuma memakai celana sambil bertelanjang dada, mengekspos dada bidangnya yang masih terdapat tetesan air di sana.
"Lo kok masih di sini?" Okta rasanya pengen jerit. Dia pikir Vano sudah pulang, tapi ternyata dia malah harus disuguhkan pemandangan seperti ini saat baru bangun tidur.
"Lo kan sakit, mana mungkin gue ninggalin lo sendirian" cowok itu beralibi sembari duduk di kasur. Membuat Okta diam-diam mengatur nafas karena gugup.
"Lo pake sabun gue ya?!" perempuan itu berseru saat hidungnya mencium wangi familiar yang keluar dari badan Vano. Wangi sabun vanilla yang biasa dia pakai.
Vano menyengir tanpa dosa, "Hehe, tadi lo masih tidur. Gue nggak enak banguninnya, ya udah langsung gue pake aja"
Okta memutar bola mata malas.
"Btw gue suka sabunnya, wanginya lo banget" cowok itu lanjut menggoda, makin nggak punya malu.
"Jijay" kata Okta sambil bergidik, "Pulang sana, ngapain sih masih di sini!!" usir perempuan itu dengan muka kesal.
"Kalo gue nggak mau, gimana?"
"Kok lo jadi nyebelin?!" ketus Okta nyolot.
"Kok lo jadi ngangenin?!" balas Vano lagi. Okta membuang nafas kasar seraya berdecak.
"Van, please deh. Jangan kayak anak kecil!!" dia mulai serius, yang mau tak mau membuat Vano menyurutkan wajah bercandanya. Ikut serius juga.
"Siapa yang kayak anak kecil? Gue?" tanya cowok itu seraya menatap Okta dalam-dalam.
"Masih perlu gue perjelas?" perempuan itu menjawab dengan jengah. Tangannya bergerak mengacak rambut ke belakang, bingung harus bagaimana lagi.
"Gue cuma mau terus ada di deket lo" suara Vano mulai melunak, tidak setegas tadi, "Apa salah?"
"Enggak salah, tapi waktu lo yang salah" Okta menatapnya dengan serius, "Gue belum bisa nerima lo, enggak sekarang".
Suasana berubah hening selama seperkian menit setelah kalimat itu terucap. Sampai akhirnya Vano bersimpuh di depan Okta, membuat perempuan itu melebarkan matanya kaget.
"Van lo ngapain sih, bangun!" suruhnya seraya menarik tangan Vano tapi cowok itu menolak.
"Biarin begini, kasih gue waktu"
"Gue kemarin udah bilang kan, gue akan ngelakuin apapun supaya lo percaya sama perasaan gue, Ta" ucapan itu membuka sesi yang menegangkan ini.
"Gue tau, gue sadar, kalau selama kita bareng-bareng gue selalu buat lo kecewa, gue selalu bikin lo sedih, gue nggak berhasil buat lo bahagia di deket gue, gue sadar hal itu. Tentang kesalahan gue, kesalahan fatal yang bikin lo hancur, hubungan kita, anak kita, gue bener-bener nyesel" cowok itu menunduk dalam, dan Okta berusaha untuk tidak menangis.
"Gue emang laki-laki pengecut, yang begoo udah nyia-nyiain perempuan sebaik lo, yang terlalu begoo buat ngeyakinin perasaan gue kalo sebenernya cinta sama lo"
"Gue selalu ngeyakinin diri gue kalo gue masih cinta sama Kiara, dan selalu bohongin diri gue kalo sebenernya gue udah sayang sama lo. Sampe akhirnya Kiara dateng, gue nggak mau dia kecewa. Lo tau sendiri kan, bertahun-tahun gue nunggu dia, bertahun-tahun gue terus cinta sama dia tanpa henti. Dan waktu dia balik, jelas gue nggak mau nyia-nyiain kesempatan"
Okta menghapus air matanya yang menggenang di pelupuk mata, kenapa dia jadi cengeng banget sih?!.
"Dan disitu gue bener-bener jadi orang paling egois di dunia. Gue bingung, lo sama Kiara sama-sama penting buat gue. Gue nggak mau ngelepas Kiara, tapi gue juga nggak mau lo pergi. Semuanya abu-abu, gue nggak tegas sama perasaan gue sendiri sampe bikin kita semua sakit. Gue nyakitin lo, nyakitin Kiara, dan berujung kejadian itu yang bikin gue ikut sakit" dan untuk pertama kalinya, seorang Geovano menangis di depan perempuan.
"Gue nggak tegas, gue egois, sampe-sampe gue ngorbanin perasaan banyak orang. Sampe di hari itu, saat gue liat lo sekarat gara-gara gue, saat anak kita nggak ada, gue ikut ngerasa hancur, Ta" Vano kali ini benar-benar kacau.
"Saat itu gue sadar kalo lo lebih penting dari apapun. Dari Kiara, dari semua hal yang ada. Gue ngelepas Kiara dan bertekad untuk jadiin lo satu-satunya di hidup gue. Waktu lo pergi, rasanya kosong. Dunia gue kosong, dan saat itu akhirnya gue bener-bener tau kalo orang yang gue pilih udah tepat"
Penjelasan panjang lebar dari Vano membuat Okta bingung harus bagaimana. Dia tertegun sampai tangannya digenggam oleh Vano, dia hanya diam.
"Di awal gue emang mengecewakan, tapi please jangan anggap perasaan gue kali ini juga mengecewakan. Gue akan ngelakuin apapun sampe lo tau kalo perasaan gue bukan sesuatu yang pantas untuk lo ragukan. Gue cinta sama lo melebihi apapun. Mungkin emang terlambat, mungkin lo bukan yang pertama, tapi gue udah janji sama diri gue,sama Tuhan, untuk jadiin lo yang terakhir di hidup gue"
Rangkaian kata itu terlalu manis. Kalimat yang entah Vano dapat darimana. Dia sendiri juga bingung. Vano bukan tipikal orang yang pintar menyusun kalimat puitis, bukan orang yang bisa membuat kalimat-kalimat bermakna. Tapi hari ini, cowok itu melakukannya untuk Okta.
Vano menatap perempuan itu lebih dalam. Seolah menyalurkan semua perasaannya lewat tatapan itu. Berharap Okta dapat melihat semua keseriusannya dari sana.
"Gue mohon, kasih gue kesempatan kedua" kata cowok itu.
Okta melihat kedua matanya, mencari kebohongan di kedua mata laki-laki di depannya ini. Tapi tidak ada,Vano kali ini tidak main-main.
"Kasih gue waktu" Okta menjawab dengan suara serak, ingin nangis lagi. Jujur sebenarnya dia bukan orang yang gampang nangis. Tapi tidak tau kenapa kalau bicara soal ini dia bawaannya pengen nangis terus.
"Ini nggak gampang buat gue, Van" katanya lagi, kali ini sambil sesenggukan kecil. Vano menggenggam tangannya makin erat.
"Gue akan kasih waktu sebanyak yang lo mau. Tapi gue juga mohon sama lo, Ta. Jangan pergi lagi dari gue,, gue nggak bisa" kata Vano dengan tatapan teduhnya. Tangannya bergerak, menghapus air mata Okta yang mengalir di pipi.
"Jangan nangis, gue nggak suka liat air mata lo"
Mereka saling melempar tatapan, seolah bicara lewat sana. Vano menarik tangan Okta, mencium punggung tangan perempuan itu, "Gue sayang sama lo" katanya.
"Gue juga sayang sama lo" ucap Okta dalam hati.