Beloved Idol

Beloved Idol
Sisi Takdir



Sisi paling menyebalkan dalam hidup Vano salah satunya adalah hari ini. Telat bangun dan terpaksa ikut penerbangan selanjutnya, belum lagi manager plus Lucas yang sudah berpote-pote ngomel tanpa henti di chat dan telefon. Dia jadi makin nggak mood. Apalagi habis bangun tidur tadi dia belum sempat sarapan. Makin ambyar hari ini.


Sembari menunggu di area lobby, cowok itu mengecek arlojinya yang ternyata sudah pukul 11 siang, pantesan perutnya perih. Karena merasa masih cukup waktu, Vano memutuskan pergi ke Cafetaria Bandara, sekedar untuk membeli burger dan kopi. Dia dan kopi memang tidak pernah berpisah apapun keadaannya. Selama hampir seminggu ini, asupan minum kopinya jadi makin tinggi. Makan jarang, tapi kopi bahkan bisa bergelas-gelas sehari. Efek suntuk dan malas di kamar karena tidak ada Okta, semalaman full selalu dia habiskan dengan nonton TV, main game, atau apapun itu yang bisa menghibur dirinya. Dan jadilah sekarang mukanya mirip zombie karena kurang tidur.


Vano membawa burger plus kopi Americano yang sudah dia pesan kembali ke area lobby. Dia makan sebentar, seenggaknya ini bisa mengganjel perut sampai malam nanti. Cowok itu melihat ke sudut ruangan, tepat ke bodyguardnya yang sedang mengawasi dari jauh. Cuma melihat sekilas, kemudian lanjut makan sampai habis. Kopi yang masih agak panas dia minum sedikit demi sedikit. Dia harus minum kopi sekarang kalau tidak mau moodnya makin kacau.


Bunyi pengumuman dari operator terdengar saat Vano baru selesai menghabiskan kopinya. Cowok itu berdiri, diikuti beberapa staff yang kebagian tugas membawakan barang-barangnya. Setelah check-in tiket mereka langsung menuju pesawat sesuai arahan staff bandara.


Vano mulai lega setelah dia berhasil sampai di dalam pesawat kelas bisnis. Dingin AC mulai menyapa kulitnya yang sempat kepanasan. Cowok itu melepas topinya, beralih memakai headphone. Baru satu lagu selesai didengar, para pramugari mulai berdatangan untuk memparodikan penggunaan alat keselamatan. Dia mematikan musiknya sebentar, setidaknya sampai pramugari-pramugari itu selesai melaksanakan tugas. Baru kali ini, Vano melihatnya sampai tuntas. Tapi di bayangannya, seorang perempuan yang saat ini sangat ingin dia temuilah yang memparodikan hal itu. Vano tersenyum tipis di balik maskernya. Jadi makin kangen.


Dia lalu kembali melihat jendela, kembali menyetel musik yang setidaknya dengan itu dia bisa agak terhibur. Pesawat mulai mengudara pada pukul 12.30, saat langit sedang cerah-cerahnya. Awan-awan putih menyambut pandangan Vano hari ini, ditemani lagu dari Stephanie Poetri berjudul I Love You 3000, Vano membuat skenario-skenario acak di kepalanya. Bertemu Okta, berhubungan kembali, dan hidup bahagia. Vano tertawa kecil setelahnya, setelah semua yang terjadi, hal itu termasuk kejadian yang mustahil. Meskipun dia tahu Okta termasuk perempuan naif, tapi Okta tidak semurah hati itu sampai bisa dengan gampang memaafkannya.


Setelah capek sendiri dengan skenario ngawur yang dia buat, Vano memilih memejamkan matanya. Meskipun dia yakin dia tidak akan bisa tidur karena efek kafein yang tadi dia minum. Tapi setidaknya dia bisa rileks sampai 2 jam ke depan.


************


Malam mulai menjelang kala itu, dari lantai atas kamar hotelnya, Okta melihat pemandangan sekitar yang terlihat dari sana. Pulau seribu pura itu tidak pernah gagal memanjakan mata siapapun yang melihat. Bahkan katanya, ada yang bilang, Bali tercipta saat Tuhan sedang tersenyum. Indahnya tidak main-main. Tuhan benar-benar sedang bermurah hati saat menciptakan tempat ini.


"Mau ikut nggak, Mbak?" Vanya—sepupunya yang kebetulan kuliah di sini, tiba-tiba masuk dan langsung menodongnya dengan ajakan. Okta menutup pintu balkon beserta tirainya.


"Kemana?"


"Keluar lah, malem minggu gini. Suntuk tau di hotel terus" gadis 20 tahun dengan rambut panjang itu melemparkan diri ke kasur Okta tanpa permisi.. Sudah dianggap kamar sendiri. Rata-rata sifat keluarga mereka memang seperti itu. Seenaknya,senyamannya, nggak heran kalau lahirlah Okta yang bentukannya tidak jauh berbeda.


"Nggak mau kalo tempatnya nggak asik"


Vanya beralih duduk. Dia harus berhasil membujuk Okta keluar kalau mau ongkos nongkrong gratisan. "Ada live musik di pinggir pantai tuh, sampingnya ada Bar. Bisa have-fun kita"


"Eh bocil, siapa yang ngajarin lo ke Bar segala?!" alis Okta mengerut curiga, tangannya berkacak pinggang seperti emak-emak yang memarahi anaknya yang ketahuan nonton film pornoo.


Vanya menggaruk pelipisnya sambil nyengir, salah ngomong lagi, "Ya... Ya kan gue udah gede, Mbak. Udah 20 tahun gini, udah legal kali" dia mencari pembelaan. Dan untungnya Okta memang bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Jadi dia bodo amat aja.


"Terserah lo, lah. Tapi awas kalo lo kebablasan, gue aduin emak lo ya entar!!" katanya sembari menunjuk hidung Vanya, mengancam.


"Iya, iya, Mbak. Gue juga tau batasan kali, masuk situ juga cuma numpang joged doang kagak mabok!" cetus Vanya dengan muka jengahnya.


"Jadi ikut nggak?"


Okta berpikir sebentar, suntuk juga dia disini. Apalagi Dave kemungkinan sedang di bandara untuk persiapan penerbangannya menuju Bandung besok subuh. Dia jadi tidak punya teman ngobrol.


"Yaudah deh, gue ganti baju bentar"


**************


Suasana dekat pantai ramai kala itu, apalagi ini malam minggu. Kaum muda-mudi memenuhi area ini entah untuk have fun sendiri, bersama teman, atau pasangan. Okta dan Vanya datang diantar oleh taksi. Dua perempuan itu memilih masuk ke sebuah tongkrongan outdoor yang terdapat pertunjukan live musik di sana. Sebelum masuk, Okta sempat melirik samping cafe ini yang merupakan sebuah arena yang berjarak sekitar 100 meter dan saat itu sangat ramai oleh pengunjung.


"Itu, di sana ada event ya?" tanya Okta pada Vanya disela-sela langkah mereka.


"Iya, katanya sih ada show dari band Jakarta, tapi gak tau jelasnya sih gue. Gak terlalu tertarik sama grub band"


Mereka duduk di kursi nomor 8, Okta memanggil pelayan untuk memesan makanan. Setelah selesai dengan acara pilih memilih, dua perempuan itu mulai sibuk membahas A-Z. Biasalah perempuan, mulutnya seperti otot kawat. Mau bahas satu jilid pun mereka sanggup, asal moodnya baik.


Angin pantai bertiup lirih malam itu, membuat suasana ikut dingin. Okta menonton band akustik yang sedang tampil dengan tenang. Sambil mulai menikmati pesanan mereka yang baru datang.


"Acara di samping kayaknya udah mulai deh" Vanya berceletuk dengan mulut penuh sate lilit. Okta mengangkat wajahnya dari ponsel, kemudian beralih melihat gedung arena yang lampu sorot serta lampu bangunannya menyala terang. Diikuti lantunan musik band yang cukup familiar.


Seperti dejavu, Okta sampai meletakkan kembali gelas cokelat panas yang sudah dia pegang. Musik itu benar-benar familiar, meskipun dia tidak bisa mendengar dengan jelas karena jarak dan suara berisik dari tempat ini.


"Lo seriusan nggak tau band apa yang manggung?" tanya Okta memastikan.


"Tadi gue denger dari pengunjung sini, tapi lupa namanya. Tapi kayaknya girl band deh" sahut Vanya, "Kenapa sih, mbak mau nonton?"


Okta cepat-cepat menggeleng, "Nggak, gue kayak kenal aransemennya. Gue kira band itu"


"Yaelah, aransemen tiap grub sekarang ada yang sama lagi, Mbak. Udah pasaran sekarang mah"


Okta mengendikkan bahu, merasa itu hal yang cukup masuk akal. Lagi pula ini jauh dari Jakarta, dia tidak perlu merasa khawatir.


Mereka lanjut nongkrong sampai malam, mungkin pukul 11 an. Cafe sudah akan tutup saat Okta dan Vanya keluar. Dan bertepatan dengan itu acara di gedung arena juga berakhir. Okta masih diam mengamati orang-orang yang berdesakan di luar arena. Bisa dipastikan sang artis sedang bersiap untuk pulang. Okta menghela nafas, dulu dia sering ikut-ikutan hal seperti itu.


"THE BOYSSSS"


"VANO FOTO SEBENTAR PLEASE"


"KASIH JALAN KASIH JALAN"


"MBAK TOLONG MUNDUR SEDIKIT"


"CHIKO, CHIKO, MINTA TANDA TANGAN"


"LUCASSSS"


"MAXIM SUBHANALLAH"


"VANO FOTO SEKALI AJAA"


"Oh, The Boys yang manggung" celetuk Vanya dengan santai. Perempuan itu diam beberapa saat sebelum matanya membelalak lebar, dia menoleh cepat ke arah Okta, "THE BOYS MBAK!!"


Teriakan Vanya cukup keras, Okta sampai harus menutup mulutnya, "Kita pergi dari sini sekarang!!"


Vano tidak boleh tahu dia ada disini. Okta segera menarik tangan Vanya untuk lari. Tapi terlambat, mata Vano berhasil menangkap sosoknya meskipun dia sedang dikerubungi penggemar. Mungkin ini memang jalan takdir Tuhan.


Vano mengamati Okta yang berlari. Cowok itu melepas pegangan fans dari lengannya, "Sorry"


Semua orang tercengang saat melihat Vano berlari tunggang langgang. Anggota The Boys yang lain meneriaki namanya, begitu juga dengan para fans. Tapi Vano seolah tuli. Cowok itu terus mengejar Okta meskipun dia tau ada beberapa fans yang mengikutinya dari belakang.


"OKTA!!"


Okta jelas dengar teriakan itu, suara itu. Suara seseorang yang dia hindari satu bulanan ini. Dia semakin mempercepat larinya, kemudian mereka sampai di pertigaan jalan. "Kita mencar!" seru Okta.


Dia belok kiri, dan Vanya belok kanan. Vano sendiri tentu hafal Okta yang mana. Cowok itu ikut belok kiri, berlari semakin cepat kemudian berhasil mencekal lengan Okta.


"LEPASIN TANGAN GUE!!" perempuan itu membentak seraya berusaha melepaskan tangannya.


"Gue nggak akan pernah lepasin lo!"


"Kita udah selesai!!"


"Sebelum ada kata cerai keluar dari mulut gue, lo masih jadi milik gue, Ta" balas Vano dengan tegas.


"VANOOOO" teriakan histeris dari beberapa fans yang mengejarnya tadi membuat dua orang itu menoleh ke belakang. Vano membekap mulut Okta dan mengajaknya sembunyi di sebuah gang sempit dekat mereka. Okta jelas memberontak tapi tenaganya kalah kuat.


Mereka berdiri berhadapan dengan posisi Okta yang dijepit di tembok, dan jangan lupakan tangan Vano yang masih menutup mulutnya. Mereka sama-sama diam setidaknya sampai para fans itu pergi. Okta menyentak tangan Vano dengan kasar.


"Lepasin gue!!" situasi ini jelas tidak nyaman. Vano terlalu dekat, rasanya mereka seperti berebut oksigen di dalam gang yang lebarnya tidak lebih dari satu meter.


"Udah gue bilang kan, gue nggak akan lepasin lo" suara Vano tidak tinggi, tapi tegas. Menyatakan kalau dia tidak main-main.


"Kenapa lo harus ada disini?!" Okta bertanya dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa lo harus menghilang dari hidup gue?!" yang diucapkan Vano nyaris seperti desisan tapi siapapun dapat mendengarnya dengan jelas. "Gue nyari lo kemana-mana, gue berusaha hubungi lo, gue cari ke tempat-tempat yang biasa lo datangi, tapi lo nggak ada. Kenapa lo harus lari dari gue?"


Nafas Okta memberat, "Gue udah bilangkan" suara perempuan itu pecah , "Gak usah nyari gue, kenapa lo tetep nyari?!"


"Karena gue cinta sama lo. Dan karena gue cinta sama lo, mau lo ngelarang gue, mau lo pergi kemana pun, gue akan tetep cari sampe dapet" kata Vano dengan tatapan dalamnya.


"Bullshit lo, Van!!" tukas Okta dengan bibir bergetar.


"Gue nggak pernah main-main sama perasaan gue, Ta" katanya.


"Mungkin di awal gye emang mengecewakan, tapi please. Jangan anggep perasaan gue saat ini mengecewakan juga. Karena ini jelas beda"


Okta mendorong dadanya, tapi Vano tidak bergerak sama sekali. "Pergi dari hidup gue!!"


"Nggak!!!"


"PERGI DARI HIDUP GUE VANO!!"


Secara spontan Vano mencium bibir Okta, badannya memaksa tubuh Okta menempel ke tembok. Ciuman itu terjadi disaat mereka sama-sama sakit. Rasanya asin, bercampur dengan air mata.


Okta mendorong dada Vano dengan kasar, ciumannya terlepas. Dan sebuah tamparan keras Vano dapat sebagai hadiah.


"GUE BENCI SAMA LO!!" teriak Okta sambil menangis.


"Kenapa, kenapa lo selalu seenak jidat mainin perasaan gue Van!!" perempuan itu menumpahkan segalanya.


"Kenapa lo selalu bisa dengan gampang bikin hati gue luluh sama lo, tapi gue nggak bisa?!"


"Kenapa lo buat gue jatuh cinta, tapi lo sendiri nggak bisa bales perasaan gue?!!!"


Okta mengusap wajahnya frustasi. Tangisannya terdengar sangat putus asa. Vano menarik perempuan itu ke dalam pelukannya, dan kali ini dia tidak menolak. Okta tidak mau munafik, ini yang dia butuhkan. Sejauh apapun dia lari, Vano tetap menjadi tempat ternyaman untuk Okta pulang.


Vano meletakkan dagunya di puncak kepala Okta. Dia mencium perempuan itu beberapa kali, menghirup dalam-dalam wangi yang sebulan ini sangat dia rindukan.


"Gue minta maaf" katanya dengan penuh penyesalan.


"Maaf"


"Maaf"


"Maaf"


Tangis Okta masih belum mereda dalam pelukannya. "Gue tau, ribuan kata maaf gak akan cukup buat ngobatin semuanya, Ta. Kesalahan gue emang udah fatal banget".


"Tapi gue mohon, maafin gue, jangan pergi lagi dari hidup gue. Gue nggak bisa hidup tanpa lo"


Vano memeluk Okta semakin erat, "Gue cinta sama lo, gue berani sumpah. Apapun akan gue lakuin supaya lo percaya sama perasaan gue!"


Baju Vano rasanya sudah basah dengan air mata Okta. Perempuan itu masih setengah terisak di pelukannya, "Jangan pergi lagi dari gue, Ta", dan setelahnya tubuh Okta benar-benar ambruk. Dia pingsan.