
“Banyak cara untuk patah hati, mencintaimu salah satunya”
39. Kita dan Rasa
.
.
Hari ini hari Sabtu, hujan turun deras saat Okta baru membuka mata untuk menyambut dunia yang hobi buat kecewa. Bunyi rintik air yang jatuh ke atap lalu meluncur ke tanah terdengar begitu rapat, seperti tidak memberi celah untuk udara menghalangi mereka untuk menyapa Jakarta di pagi hari.
Perempuan dengan baju tidur bermotif beruang itu duduk sebentar di atas kasur. Mengikat rambutnya asal, lalu bergegas turun. Tujuannya saat ini adalah dapur, mengambil gelas bersih, menuju dispenser, lalu mengambil air dingin. Tidak peduli di luar hujan lebat, tenggorokan Okta masih tetap terasa kering.
Selesai menghabiskan dua gelas air putih, Okta mengedarkan pandangannya. Meneliti dapur, ruang tengah, tempat gym, dan yang terakhir kolam renang. Semua sama, kosong. Tidak ada orang dan, tidak ada Vano. Dari semalam cowok itu menghilang tanpa jejak. Okta tidak mau manggil, gengsi. Mereka baru marahan 3 hari, dia gengsi kalau harus nyapa duluan. Mukanya mau ditaruh dimana. Bisa-bisa si Vano itu makin besar kepala.
"Mau lo nggak pulang kek, gue nggak peduli!"
Perempuan memang selalu begitu bukan?. Lain di mulut, lain di hati. Bilangnya nggak apa-apa, padahal aslinya kenapa-kenapa. Dan mungkin Okta adalah salah satu dari kawanan spesies itu.
"Udah deh, Ta. Gak usah dipikirin!" monolognya lagi. Kali ini sambil geleng-geleng kepala.
Bi Inah ambil cuti hari ini, katanya ada keperluan untuk mengurus pembagian warisan bapaknya. Okta sih, iya-iya aja. Kasihan juga kalau warisannya malah harus dikasih ke orang lain padahal Bi Inah lebih berhak.
Rumah jadi dua kali lebih sepi kali ini. Biasanya kalau Vano tidak ada, Okta akan aktif nonton sinetron ditemani Bi Inah di ruang tengah. Tapi kali ini kayaknya dia harus sendiri. Sebelum akhirnya suara gonggongan Milo terdengar. Anak anjing itu berlari dari arah tempat gym. Suara gonggongan kecilnya terdengar mengisi ruangan yang memang sepi.
"Pagi-pagi habis dari mana sih?, nyari babon?" omel Okta sembari mengangkat Milo ke dalam gendongan. Anjing itu masih menggongong, seolah nggak terima karena dituduh suka nyari gebetan. Hati Milo sepenuhnya masih milik Kitty—anjing jenis Pomeranian warna cokelat milik tetangga Apartemen Okta yang dulu sering ditumpangi oleh Milo saat emak angkatnya itu ada tugas terbang ke luar negri. Tapi setelah pindah, dia dengan Kitty sudah tidak pernah bertemu.
Mengabaikan Milo yang hari ini jadi sangat cerewet, Okta membawa peliharaannya ke sofa untuk diajak nonton sinetron Dari Jendela Kontrakan. Sejak sinetron itu tayang seminggu yang lalu, dia jadi aktif nonton TV.
Milo anteng mendusel perut saat emaknya sibuk nonton. Para pelayan repot wara-wiri untuk menyiapkan makanan dan membersihkan area rumah. Sedangkan di luar masih hujan. Dilihat dari intensitas airnya, hujan kali ini mungkin akan awet sampai siang.
"Makasih ya, Mil. Udah setia nemenin Mami, nggak kabur-kaburan. Jangan mati dulu, lo kan belum dapet jodoh. Nanti deh, Mami cariin jodoh di pet shop ye" kata Okta sembari menyisir bulu cokelat gelap Milo menggunakan tangannya.
"Tapi nanti bini lo satu aja. Jangan kayak Papi lo, maruk. Dikasih istri bahenol kayak gue aja masih gak bersyukur!" omelnya sendirian.
"Lagian ya, Mil. Mami kurangnya apa sih. Cantik, udah. Seksi, udah. Jago masak, udah. Fashionable, udah. Emang matanya si Vano aja tuh, yang ketutupan belek segede gajah. Sampek aura gue nggak kelihatan. Kiara mulu yang dipelototin".
Milo cuma menatap emaknya yang sedang manyun dengan mata membulat. Okta kalau manyun, mukanya tujuh kali lebih sepet dari salak mentah. Apalagi kalau dia sudah dalam mode judes, macan pun mungkin akan lebih milih pensiun daripada harus menghadapi dia.
Sinetron yang ditonton Okta selesai, ditandai dengan tulisan bersambung di bagian bawah layar dan credit scene di akhir tayangan. Perempuan itu mengambil remote untuk mematikan TV. Milo melompat ke bawah, berlari kecil sambil mengejar bola kecil yang tadi dilempar emaknya.
Perempuan itu cuma mengawasi peliharaannya yang asik bermain sambil sesekali tertawa saat Milo tidak sengaja menabrak kaki meja. Dia tersenyum simpul, bahkan anjing pun tampak lebih bahagia dari dirinya.
Mata Okta kemudian menangkap potret foto pernikahannya dengan Vano yang dipasang di pigora kecil yang terletak di rak hias. Dia berdiri, mengambil foto itu dari tempatnya. Dulu dialah yang maksa untuk memajang foto itu disana, dan itu adalah satu-satunya foto mereka berdua di rumah ini. Dan sekarang entah kenapa, foto itu seperti tidak ada artinya disaat bingkai wajah orang di dalamnya cuma palsu, tidak ada ketulusan.
"Sejauh itu ya, Van. Sejauh itu jarak yang lo kasih di antara kita" Okta tertawa pedih. "Gapapa, kalo emang nggak mungkin. Gue nggak akan maksa" katanya.
Perempuan itu mendesis ngilu saat perut bagian bawahnya terasa nyeri. Tangannya memegang perut dan sebelahnya lagi berpegangan pada sandaran kursi. "Kenapa tiba-tiba kram sih?" ucap Okta sambil berusaha mengatur nafas. Mencoba untuk rileks agar kram yang dia rasakan mereda.
"Kamu ikut sakit hati ya, Nak?" dia bermonolog sendiri sambil mengelus perutnya yang mulai membaik.
"Jangan sedih ya, Daddy kamu nggak jahat kok. Dia sayang banget sama kamu, jadi kuat ya"
Tapi dia nggak sayang sama ibunya
***************
"Van, kamu gapapa semaleman nggak pulang?"
Pertanyaan dari Kiara mengalihkan fokus Vano dari omlet buatan Kiara yang dia makan. Seulas senyum tipis dia suguhkan dengan tulus, lalu secara spontan tangannya bergerak mengelus rambut perempuan itu.
"Nggak usah dipikirin. Justru kalo nggak ada kamu yang nebengin aku semalem, mungkin aku bisa-bisa tidur di mobil semaleman"
Kemarin, Vano selesai syuting iklan pukul 23.00. Dia pulang sendiri naik mobil Alphard yang biasa dia pakai. Tapi nggak ada angin nggak ada hujan, mobil itu tiba-tiba mogok di tengah jalan. Beruntungnya Kiara sempat lewat karena dia sendiri juga baru pulang selepas gladi untuk perlombaan Miss Supranational yang akan datang. Mereka pulang bareng, dan karena malam sudah larut, Vano memutuskan untuk menginap di Apartemen perempuan itu.
Kiara tersenyum manis saat mendapat perlakuan seperti itu dari Vano. Dalam hati dia gelisah, apa Vano masih akan bersikap seperti ini kepadanya setelah cowok itu tahu kalau dia dijodohkan dengan orang lain?.
Jelas tidak. Dan Kiara tidak mau Vano pergi darinya. Cuma saat bersama Vano, Kiara merasa dirinya benar-benar hidup. Cuma saat bersama Vano, dia bebas mengekspresikan diri. Marah kalau kecewa, menangis kalau sedih, dan tertawa kalau bahagia. Cuma saat bersama Vano, Kiara bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu pusing-pusing memikirkan pendapat orang lain.
Vano adalah sumber kebahagiaan Kiara.
"Van, janji ya, kita akan sama-sama terus?" kata Kiara dengan senyum manisnya.
Vano menatap perempuan itu dalam, sangat dalam sedalam samudra. Kerongkongannya bergerak naik turun untuk meneguk ludah.
Dulu, saat Kiara bertanya seperti itu, dia dengan mudah dan tegas akan menjawab 'iya'. Tapi entah kenapa, sekarang untuk menjawab 'iya' pun mulutnya serasa kaku. Seperti ada bagian dari hatinya yang menolak untuk mengatakan itu.
Vano tersenyum simpul. Tangannya kembali mengelus rambut kekasihnya. "Habisin gih makanannya, habis ini aku anterin ke salon"
Kiara tersenyum tipis, tapi dalam hati dia sedikit kecewa dengan respon cowok itu. Terlepas dari sikap Vano yang masih manis, dia merasa di antara mereka sudah sedikit berbeda.
"Van, aku harap kita bisa jadi selamanya"