Beloved Idol

Beloved Idol
Okta



Suara langkah kaki terdengar tergesa-gesa memasuki Ruang UGD tempat Vano dirawat. Peristiwa penyerangan itu dengan cepat menyebar dan terdengar sampai ke Keluarga Davichi. Sore itu, didampingi dengan Gerry, Jonathan dan Lusiana selaku orang tua Vano datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi putra mereka.


Vano cuma menghela nafas berat saat melihat pintu ruangan di buka, bisa dipastikan sebentar lagi akan ada drama yang dimulai.


"Vano, sayang. Kamu kok bisa jadi kayak gini sih?" Lusiana menjadi orang yang paling heboh dengan langsung menuju ranjang Vano dan memeriksa badan cowok itu dengan mendetail .


"Ma, please deh. Ini cuma luka kecil" cetusnya dengan jengah sekaligus merasa risih karena badannya dibolak-balik. Emang dikira pindang?


"Luka kecil gimana, itu kepala kamu sampek diperban begitu loh. Siapa sih yang berani ngelakuin ini sama kamu? Nggak tau ya kalo kamu itu salah satu Keluarga Davichi? Kita bisa tuntut orang itu sekarang juga!!" perempuan itu terus memprovokasi, membuat kuping Vano makin panas mendengarnya. Sedangkan Papa Nathan dan Gerry memilih diam di belakang. Malas ikut campur.


"Ma, udah!" Vano berseru dengan nada tertahan. "Vano pusing, jadi jangan bikin Vano makin pusing denger semua omongan Mama" katanya jengah.


"Tapi, Vann—


"Vano mau istirahat" dia segera memotong sebelum ibu tirinya itu kembali bicara. Lusi nampak menatap tajam ke arah dirinya, tapi Vano bodo amat. Dia lebih memilih menyelamatkan keselamatan kuping dan jiwanya daripada harus berkorban mendengarkan omongan mama tiri yang lebih beracun dari bisikan setan.


"Ma, kamu keluar sebentar ya. Papa mau bicara sebentar sama Vano" Nathan akhirnya berkomentar setelah merasa suasana makin tidak sedap. Diiringi dengan dengusan keras, Lusi akhirnya menurut untuk keluar ruangan, meninggalkan Vano, Nathan, dan Gerry di sana.


Suasana berubah hening setelah Lusi keluar. Vano mengalihkan pandangan ke atap kamar karena malas diajak bicara.


Nathan bersedekap dada di samping brankar seraya menatap tenang ke arah wajah putranya.


"Papa tau apa yang terjadi sama kamu dan istri kamu" celetuknya dengan santai. Vano tidak kaget lagi, terlepas dari dia yang tidak cerita apapun, papanya ini punya mata-mata dimana-mana. Jadi bukan hal yang sulit untuknya memantau semua pergerakan Vano.


"Kalo kamu bukan anak Papa, rasanya Papa pengen ngehajar kamu, Van" Nathan menghela nafas panjang, "Kelakuan kamu benar-benar nggak mencerminkan seorang laki-laki". Pria paruh baya itu memijit pelipisnya sendiri, pusing menghadapi sikap putranya.


"Papa gak pernah ngajarin kamu jadi orang brengsek kayak gini, kamu pikir keren bisa menjalin hubungan sama dua perempuan sekaligus?" nada bicaranya naik satu oktaf, membuat suasana makin tidak karuan. Gerry diam-diam melipir agak mundur, takut tiba-tiba Nathan mau nonjok tapi meleset dan berakhir mengenai wajah gantengnya. Pliss deh, ini dia baru selesai oplas hidung. Jangan sampai balik pesek lagi.


"Iya, Vano tau kalo Vano emang banci banget" akhirnya Vano berani bicara, meskipun matanya tidak berani menatap papanya. "Maaf Vano udah bikin malu Papa" sesalnya.


"Nggak heran kalau istri kamu pilih pergi, kamu aja nggak tegas sama sekali!!" Nathan masih betah ngedumel, "Sekarang lihat, dia disana udah nyaman tapi kamu disini makin nggak karuan. Pakek acara berantem di Bandara, nggak malu?!"


"Papa tau dimana Okta?" mendengar ucapan Papanya, Vano kontan langsung bertanya. Tidak peduli kalau lagi dimarahi habis-habisan, Papanya kini satu-satunya jalan untuk dia bisa bertemu Okta. 100% dia yakin kalau Papanya pasti tau. Koneksi pria itu ada dimana-mana, anak buahnya juga. Tentu menemukan Okta bukan perkara yang sulit.


Nathan tersenyum misterius, "Dia ada di suatu tempat, yang pastinya nggak akan Papa kasih tau ke kamu" lalu pria itu memilih pergi, mengabaikan teriakan Vano yang mendesak untuk dia bicara.


"Pa, kasih tau Vano dimana Okta, Pa!!" Vano hendak turun dari brankar, tapi Gerry menghalangi.


"Bos, bos, sabar dulu, Bos!" tangan Gerry memblokir pergerakan Vano untuk turun. Cowok itu berdecak keras sebelum akhirnya kembali berbaring karena perutnya masih nyeri.


"Ngapain sih lo ada disini?!" tanyanya dengan muka nggak ada ramah-ramahnya. Untung Gerry sudah khatam dengan sifat moody bos 5 tahunnya ini.


"Yaelah, Bos. Orang lain tuh kalo pas lagi sakit trus ada yang jaga malah seneng. Nggak kayak elo, udah untung gue jagain, nggak ada terimakasih -terimakasihnya" cowok itu balas menggerutu, nggak takut meski Vano satu tahun lebih tua darinya. Badan dia lebih gede gini, Vano ngamuk tinggal pitiing dikit juga diem.


"Lah, siapa juga yang minta lo jagain. Nggak butuh gue, udah sana pergi!" Vano mengusir sambil mengibaskan tangannya, sangat tidak manusiawi.


"Dih, gue kesini juga bukan real mau jagain lo, keleus. Nih, disuruh agensi buat nanyain lo, serius mau keluar dari The Boys?" meski diusir-usir, Gerry tetap tidak gentar untuk menjalankan mandat yang sudah dia terima dari kantor. Jangan sampai, cuma gara-gara mood ambyar Vano, nasib kerjanya juga ikut ambyar.


"Iye" sahut Vano dengan malas sembari memejamkan matanya.


"Yakin, enggak nyesel?" Gerry mencoba memastikan lagi.


"Hmm"


"Coba dipikir-pikir lagi deh, Bos. Timbang nanti lo nyesel di belakang"


"Ck, cerewet lo!!" hardik Vano dengan kesal. "Gue nggak bakal nyesel, males juga harus kerja bareng orang nggak punya hati kayak Lucas"


Tolong berikan Vano kaca sekarang juga:)


"Iya gue tau si Lucas emang ngeselin, muka songongnya kayak babii, tapi apa lo nggak sayang sa—..


"Sama Lucas? Nggak lah, najis banget!!" potong Vano seraya memalingkan muka kesal..


"Ck, dengerin dulu anjingg!!" Gerry ikutan kesel. "Bukan sama Lucas, lo nggak sayang sama The Boys?. Band yang kalian bangun dari nol, yang kalian gedein bareng-bareng sampe nama kalian bisa segede sekarang? Nggak sayang sama fans lo yang pastinya bakal makin kecewa setelah tau lo out? Ayo lah, Van. Jangan cuma gara-gara emosi sesaat lo malah ngehancurin hidup lo sendiri. Ya gue tau gue cuma asisten lo, gue nggak ada hak apa-apa sama setiap keputusan yang lo ambil, tapi gue tau sekesel-keselnya lo, The Boys sama all member itu berarti buat lo. Bahkan kalo gue boleh pakek bahasa yang agak lebay, mereka udah jadi bagian dalam diri lo" jelas Gerry yang berhasil membuat Vano berpikir dua kali.


The Boys adalah band yang dia mulai sejak dini. Band yang dulu namanya tidak sebesar sekarang,yang bahkan satu kota pun belum tentu tau kalau mereka ada. Band yang mengantarkan mereka pada kesuksesan seperti sekarang, yang mereka besarkan dengan tertatih-tatih. Yang dalam nama itu, ada empat orang sama-sama bergandengan tangan melewati jatuh bangun dan bangsattnya kehidupan. Vano tentu tidak lupa itu. The Boys dan membernya sudah seperti tali simpul mati yang tidak akan bisa berpisah. Kecuali salah satunya putus. Dan Vano tidak akan membiarkan bagian manapun putus, dia sudah bertekad. Cukup satu kali kehilangan dan menyesal, kali ini jangan.


Gerry tersenyum puas, tangannya bergerak menepuk bahu Vano beberapa kali. "Welcome back, Bos" dia lalu mengecek ponselnya yang tiba-tiba berdering.


"Kayaknya lo harus cepet-cepet sembuh , deh. Lusa ada show di Bali"


***************


Seseorang adalah tentang ruang dan patahnya. Tentang datang dan perginya yang tinggal menghitung detik. Secepat itu, secepat datangnya ombak di tepi pantai pada sore hari. Menyapa kaki-kaki manusia yang menapak di pasir halus itu. Menunggu salam manis dari laut sebagai ucapan selamat sore serta selamat menikmati keindahan di langitnya.


Katanya, bintang lebih indah dari sunset. Dan perempuan dengan rambut cokelat ini setuju. Karena seindah apapun sunset, dia hanya semu, dia hanya sementara. Menyapa makhluk bumi dan memberikan mereka senyuman lebar sebelum akhirnya pergi beberapa saat setelahnya. Sedangkan bintang, sekalipun dia kecil, sekalipun dia tidak terlihat, bintang tidak pernah pergi dan tidak akan pernah bosan menyapa bumi meskipun dia harus digantikan oleh matahari.


Perempuan itu tersenyum lagi saat matahari semakin turun, siap meninggalkan singgasananya. Bersiap berganti diri dengan bulan yang sudah menunggu giliran.


"Jangan senyum, nanti sunsetnya kalah cantik sama lo" kata-kata dari orang di belakangnya membuat perempuan itu menoleh, dia tersenyum lebar.


"Dibilangin jangan senyum, nanti jantung gue meledak!!" cowok itu berucap dramati seraya memegang jantungnya. Membuat perempuan di depannya ini tertawa.


"Dave, ayolah. Geli gue dengernya!!"


"Kok geli, sih. Gue serius, Ta!!"


Okta terkekeh, dia menepuk ruang kosong di sampingnya. Mengajak Dave untuk ikut duduk. Cowok itu lalu bergerak untuk ikut duduk di pasir, melepas sandalnya dan membiarkan kaki mereka basah terkena ombak.


"Nggak capek? Baru sampe bukannya istirahat dulu malah langsung nyamperin gue!" cetus Okta sambil cemberut.


"Yaelah, kayak lupa aja. Kita udah biasa kali terbang kesana-kemari. Lagian Jakarta-Bali deket tau, cuma berapa jam sih. Toh GR banget lo, gue kesini mau liat sunset juga bukan mau nyamperin lo keleus"


Okta memalingkan muka kesal, "Pinter banget ngelesnya. Orang kalo niat mau liat sunset juga harusnya dari jam setengah limaan tadi, ini udah hampir jam enam lo baru kesini".


"Perjalanan juga butuh waktu kali. Btw gue sampe sini jam empat ya, lo pikir gue sampe bandara nggak check-in hotel dulu? Entar gue nodong minta tidur di kamar lo, nggak lo bolehin!!" Dave memberi pembelaan.


"Ya lo mikir lah anjirr, masak iya lo mau sekamar sama bini orang?" tukas Okta seraya menampol kepala Dave.


"Dih, emang lo masih dianggep istri?"


Pertanyaan sarkas dari Dave tentu mengundang kekesalan Okta, yang berujung dia mencubiti pinggang Dave tanpa ampun.


"Makan tuh, sekate-kate aja kalo ngomong!!"


"Aduh, aduh, gue mau nggak sekate-kate kali, sejago-jago kalo gue"


"Anjirrr" Okta ngakak tanpa menghentikan cubitannya.


"Duh, Ta, ampun sumpahh" Dave menyerah. "Orang baru dateng dikasih ucapan selamat datang kek, ini gue malah dianiaya" ucapnya dramatis.


"Nih gue kasih, Welcome di Bali Dave jelekkk" seru Okta seraya mencubit gemas kedua pipi Dave.


"Iya deh, pasrah gue meskipun lo uyel-uyel. Untung sayang" celetuk Dave tiba-tiba.


"Tapi gue nggak sayang lo" perempuan itu membalas seraya melepas kedua tangannya dari pipi Dave.


"Gapapa, gue bakal tetep sayang lo. Udah biasa gue mah kalo cinta bertepuk sebelah tangan" cowok itu berucap dengan nada bercanda tanpa ada yang sadar kalau ucapan itu ternyata dari hati.


"Dasar, alay!!"


...****************...


Oktaaa



Daveee



kangen aku ga? hehe. setelah sekian lama hibernasi😭. lagi writer block jadi macet bangett😭🙏🏻