Beloved Idol

Beloved Idol
Konjungsi Rasa



Sepulang dari mengantar Kiara, mobil yang ditumpangi oleh Okta dan Vano melesat membelah jalanan ibukota untuk menuju kediaman mereka. Vano berulang kali melirik Okta yang dari tadi diam. Mata peremppuan itu sibuk melihat luar jendela. Entah mengabsen jumlah rumah, membandingkan warna mobil, atau menganalisis panjang jalan ibukota.


Vano berdehem ringan untuk memecah hening, tapi Okta juga tidak merespon.


"Ta..."


"Turunin gue disini" kalimat perintah itu membuat suara Vano yang tadinya mau memulai pembicaraan jadi tersumbat di tenggorokan. Matanya kemudian menyorot tajam kearah perempuan yang kini sedang tidak menghadapnya.


"Gila lo, gue nggak mungkin nurunin lo di saat hujan lebat kayak gini!!" tolak Vano dengan nada tidak suka.


"Lebih gila mana, gue atau lo?!" serang balik Okta dengan tatapan tajam yang kini membalas tatapan Vano terang-terangan.


"Lebih gila mana, gue atau lo yang seenak jidat jalan sama perempuan lain?!"


Vano menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dia tidak mau mengambil resiko dengan mengemudi sambil bertengkar apalagi kondisi jalan yang licin karena sedang hujan.


"Kenapa, lo cemburu?" pertanyaan itu membuat Okta seketika bungkam.


Vano menatap lurus kearah perempuan yang kini sedang duduk di sampingnya. "Lo suka sama gue?"


Pertanyaan bodoh kedua yang ditanyakan oleh seorang Geovano. Rasanya Okta sangat ingin mendorong kepala cowok itu ke setir mobil. Supaya otaknya agak encer dikit. Tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan, dia tidak mau kena hukuman cuma gara-gara KDRT.


"Perasaan gue nggak penting untuk lo tahu. Toh, sekalipun lo tau, lo nggak akan peduli kan?. Gue apa sih, Van. Cuma orang yang ada di nomor sekian dari semua list orang berarti di hidup lo. Dan gue nggak ada di list itu"


Bunyi petir saling bersahutan mengisi kesunyian di antara dua orang yang memendam segala perasaan yang berkecamuk dalam diri. Ego yang tinggi adalah masalah utama dalam hubungan mereka.


"Gue minta maaf"


Okta mengalihkan pandangannya keluar jendela. Matanya memanas, "Nggak perlu, gue nggak mau nyakitin hati gue lagi karena terlalu banyak kata maaf tapi setelahnya kesalahan itu selalu lo ulang!!"


Sorot mata penuh amarah dan kekecewaan dapat Vano tangkap di mata perempuan itu. Melihat Okta yang seperti menahan tangis entah kenapa membuat hatinya juga ikut teriris. Kali ini Vano merasa kalau dia adalah laki-laki paling pengecut di dunia. Dia masih bungkam, menunggu Okta mengeluarkan semua unek-unek yang dia punya.


"Gue capek, Van. Ngadepin lo yang setiap saat selalu berubah. Sikap lo yang hari ini kayak mengistimewakan gue tapi besoknya lo seakan nyuruh gue buat pergi. Dan lebih muaknya lagi saat hati gue malah nggak bisa benci sama lo!!"


Okta menarik nafas dalam, sebisa mungkin mengendalikan semua emosi yang berkecamuk di dalam hatinya. Baru kali ini, baru kali ini dia merasa sangat kecewa dengan hidup.


"Kalo bisa milih, gue juga nggak mau di posisi ini Van. Kalo bisa milih, gue nggak akan pernah mau masuk ke dalam kehidupan lo" , Vano ikut mengeraskan rahangnya. Ada rasa kecewa saat Okta dengan mudah mengatakan hal itu


"Gue tau kalo gue cuma orang baru di hidup lo, yang nggak tau apa-apa tentang lo kecuali cover bahagia yang selalu lo tampilkan di depan publik. Gue cuma orang baru yang nggak ada arti apa-apa, dan sampai kapapun bakal terus begitu". Okta menghapus kasar air matanya yang dengan lancang menetes padahal sudah diperingati supaya tidak jatuh.


"Gue nggak akan marah seandainya lo ngomong tentang Kiara sejak awal, supaya gue tahu dan nggak perlu pakai hati di hubungan ini. Mungkin emang ini salah gue sendiri yang terlalu perasa, yang terlalu nganggep kalau perlakuan lo itu rasa cinta padahal cuma atas bentuk rasa tanggung jawab"


"Maaf" dari sekian banyak kata, akhirnya cuma kata maaf yang keluar dari mulut Vano. Entah hilang kemana semua keberanian yang dia punya. Ini adalah kali pertama seorang Geovano mati kutu di depan perempuan selain Kiara.


"Gue tau gue pengecut, brengsek. Tapi, Ta, sekalipun gue nggak pernah ada niatan buat nyakitin lo"


Bullshit!!


Perkataan itu benar-benar membuat Okta ingin meludahi muka Vano yang nggak tau kenapa sekarang jadi sangat menyebalkan baginya.


"Gue nyaman sama lo sebagaimana porsinya. Lo sama Kiara ada di posisi yang beda, tapi kalian sama-sama penting buat gue", dia menjeda.


" Gue tau ini egois, brengsek, tapi yang perlu lo tau Ta. Lo juga berarti di hidup gue".


Okta menggelengkan kepalanya dengan muak. Tidak habis pikir dengan pola pikir cowok ini. Bertindak seenaknya, berlaku seenaknya seakan cuma dia yang punya hati. Seakan tidak ada orang lain yang akan sakit karena perbuatan yang dia lakukan.


"Lo nggak bisa kayak gini, Van"


**************


Secangkir greentea menemani sore hari Kiara kala itu. Hujan deras masih mengguyur Ibukota meskipun senja sudah tiba. Perempuan cantik dengan rambut cokelat sepinggang itu berulang kali menghela nafas berat. Tangannya sibuk mengaduk-aduk teh yang sudah dingin dengan tatapan kosong. Menyorot ke arah jendela yang menampilkan pemandangan Jakarta yang masih saja macet meskipun hujan lebat sedang turun.


Banyak pikiran yang bersarang di kepala Kiara. Vano salah satunya. Tidak mau munafik, sejak dulu perasaannya pada Vano tidak pernah berubah. Cowok itu masih menempati tahta tertinggi di hatinya. Meskipun sudah satu tahun mereka berpisah, tapi semua kenangan tentang Vano masih terekam begitu jelas di kepala Kiara.


Pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka mengalihkan fokus perempuan itu. Terlihat Papanya masuk dengan masih mengenakan setelan formal yang biasa dia pakai ke kantor. Kiara mendengus melihatnya. Gara-gara bodyguard Papanya yang lapor kalau dia disini, laki-laki itu langsung terbang ke Indonesia untuk memaksa Kiara pulang. Jelas dia tidak mau.


"Papa beliin gaun baru buat kamu", laki-laki itu meletakkan paperbag warna biru di depan putrinya.


"Siap-siap terus dandan yang cantik, jam tujuh nanti kamu ikut Papa ketemu kolega. Ini kolega penting, Ra. Dia pemilik tambang batu bara terbesar di Indonesia. Dan kamu tau, dia katanya mau ngenalin putranya sama kamu". Papa Kiara berucap dengan wajah yang berseri-seri, tanpa melihat reaksi putrinya yang sudah sangat muak dengan drama jodoh-jodohan yang selama ini laki-laki itu mainkan.


Dulu, Papa memaksanya untuk tunangan dengan Felix. Sehingga dia harus meninggalkan Vano—orang yang sangat dia cintai, demi menyelamatkan keluarganya. Dan sekarang lagi, dan mungkin hal ini akan terus terulang sampai Kiara mati.


"Papa pergi sendiri aja, Kiara nggak mau" tolaknya dengan cepat.


"Jadi sekarang kamu berani bantah Papa?" suara laki-laki itu naik satu oktaf, sehingga suaranya menggelegar mengisi ruangan.


"Iya, kenapa?. Kiara nggak akan ngebantah andaikan Papa adalah orang tua yang baik, tapi sayangnya Papa nggak ada di kriteria itu" suara lembut perempuan itu kini terdengar sangat sinis, jelas ini bukan Kiara yang biasanya. Sudah tidak ada lagi Kiara yang anggun, ramah, dan selalu sopan dalam setiap tutur kata. Semua itu tidak akan berlaku jika ada orang yang mengusik hidupnya.


"PAPA NGELAKUIN INI SEMUA JUGA UNTUK UNTUK KEBAIKAN KAMU!!" Roy Danuarta— ayah kandung Kiara, membentaknya dengan sangat keras. Bahkan otot leher laki-laki itu sampai tercetak jelas karena sedang menahan emosi. Kiara menatap nyalang kearah Papanya, dia sudah tidak takut andaikan laki-laki itu akan menamparnya lagi seperti sebelum-sebelumnya. Hal itu akan selalu Roy lakukan agar Kiara mau menuruti apa yang dia mau. Bahkan dia tidak segan-segan menjadikan Mama Kiara sebagai bahan ancaman agar perempuan itu mau menurut.


Kini Kiara sendiri bahkan ragu apakah Papanya ini masih waras atau tidak. Sikap dan tindakan laki-laki itu sangat tidak pantas untuk disebut sebagai manusia. Gelar 'ayah' pun rasanya tidak pantas untuk dia dapatkan.


"MASA DEPAN APAA, YANG ADA PAPA SELALU JADIIN KIARA KAYAK BARANG DAGANGAN DEMI BISA DAPETIN SAHAM YANG PAPA MAU!!", perempuan itu balas membentak.


Plakk...


Satu tamparan berhasil Roy layangkan di pipi kiri Kiara. Tamparan yang cukup keras hingga membuat rambut panjang perempuan itu bergerak menutup wajah. Kepala Kiara memiring ke samping, dia memejamkan matanya. Sakit, tapi rasa benci yang semakin tinggi membuat air matanya terasa kering.


"Bunuh aja aku sekalian, Pa. Biar Papa puas!" desisnya dengan muak.


Roy menatap putrinya itu dengan tajam, yang dibalas tatapan tidak kalah tajam oleh Kiara. Kini mereka sudah seperti musuh yang siap berperang, seakan ikatan ayah dan anak itu tidak pernah ada.


"Setelah ketemu sama penyanyi itu, kamu berubah jadi anak pembangkang!!"


"Vano nggak ada hubungannya sama semua ini!!" tukas Kiara dengan tegas. "Papa sendiri yang bikin Kiara jadi kayak gini!!"


"Oh ya?" Roy bertanya dengan wajah bengisnya. "Nurut sama Papa atau pacar kamu itu yang akan kena imbasnya!!"


Kiara mengeraskan rahangnya dan menatap muak kearah laki-laki yang sialnya adalah ayahnya sendiri. Dulu Mama, dan sekarang Vano juga ikut dibawa-bawa. Mungkin, kalau tidak mengingat kalau laki-laki ini adalah salah satu orang yang membuat dia ada di dunia. Kiara sangat ingin membunuhnya.


"Kiara nggak akan biarin Papa ngapa-ngapain Vano!!" seru Kiara dengan emosi.


Roy tersenyum mengejek, alis laki-laki itu terangkat sebelah dengan wajah menantang. "Bisa apa kamu buat lawan saya?" tukasnya. "Inget, Ra. Tanpa papa, kamu itu bukan siapa-siapa".


Tangan Kiara terkepal erat saat laki-laki itu mengelus rambutnya sambil tersenyum. "Jadi anak baik, Papa tunggu jam tujuh nanti".


...****************...


Dah gatau mau ngomong apa lagi😭


3k kata yuhuuuu, bantu share ya guysss. jan lupa like, komennya jugaaa. maaciii