Beloved Idol

Beloved Idol
Okta dan Kiara



Bicara tentang anjing, mungkin Milo adalah salah satu anjing yang beruntung di dunia. Ya meskipun dia punya majikan macam Okta yang presentase gila dan warasnya 70 : 30, tapi perempuan itu masih tahu bagaimana cara memperlakukan makhluk hidup dengan baik.


Hari itu, Okta masuk ke dalam salon anjing sambil membawa serta Milo yang berjalan pelan di belakangnya. Tali yang mengikat leher anjing itu dipegang Okta bagian ujungnya supaya si Milo tidak jelalatan kesana-kemari karena melihat banyak anjing betina.


Langkah kaki perempuan itu terhenti saat entah kebetulan atau apa, dia harus berpapasan dengan Kiara yang tampaknya juga sedang mengantar anjingnya. Model cantik itu juga tampak kaget, tapi selang beberapa detik senyum mengembang di bibir Kiara dengan mudah.


"Hai, Okta. Kebetulan banget ya kita ketemu disini", basa-basi itu, dengan senyum ramah khas Kiara membuat Okta mau nggak mau ikut tersenyum meski sedikit terpaksa.


" Sendirian?" alih-alih menjawab, Okta malah bertanya dengan wajah yang sebisa mungkin dipaksa santai.


Kiara tersenyum manis, tangannya bergerak menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan anggun. "Iya, kamu nyari Vano?. Aku nggak lagi pergi sama suami kamu kok" sahut perempuan itu.


"Gue nggak nuduh lo jalan sama suami gue"


"Emang nggak, tapi muka kamu kelihatan banget takutnya" Kiara terkekeh kecil.


"Tenang aja, aku nggak akan ambil suami kamu kok. Untuk sekarang, nggak tau kalo nanti"


Vokal Kiara kelewat tenang, tapi aura intimidatif yang menguar dari mata perempuan itu tidak bisa dianggap remeh.


"Gue nggak habis pikir sama lo".


Untuk orang idealis seperti Okta, diremehkan adalah hal yang tabu untuknya. Dan karena Okta tidak suka diremehkan, dia memilih untuk balas menyerang.


" Orang sepinter lo, secantik dan se-berkelas lo ternyata punya kebiasaan yang enggak banget, ya. Hobi ngambil suami orang!!" nada dan tatapan sinis itu membuat senyum Kiara kembali mengembang.


"Aku cuma ngambil sesuatu yang emang seharusnya jadi milik aku, Okta. He's mine, kamu yang rebut dia, bukan aku"


"Kamu yang harusnya sadar diri!!" tukas Kiara dengan cepat. "Kamu mungkin istrinya, kamu yang punya Vano secara fisik. Tapi satu yang perlu kamu inget. Di hati Vano, tetap aku pemenangnya. Sampai kapanpun"


Ucapan itu lolos, menampar kesadaran Okta kalau selamanya dia akan tetap kalah.


"Saran aku ya, daripada kamu terus-terusan kecewa, lebih baik kamu lepasin Vano. Biar dia bisa cari kebahagiaan dia yang sebenarnya, begitu juga sama kamu. Daripada kalian saling nyakitin kan".


Okta tertawa kecil, kepalanya menggeleng berulang kali dengan melempar tatapan aneh ke arah lawan bicaranya.


" Lo kelihatan murahan banget, Ra" hardiknya.


"Percuma IQ lo tinggi, lulusan cumlaude di Universitas Internasional, tapi lo nggak bisa pake otak lo buat mikir secara rasional. Dengan jenjang karier lo, lo bisa dapet orang yang bahkan lebih hebat dari Vano. Tapi kenapa harus Vano?!"


"Karena cuma Vano yang aku mau, cuma Vano yang aku butuhin. Karena berapa banyak pun laki-laki di dunia, sehebat apapun mereka, cuma sama Vano aku bisa ketemu bahagia", vokal Kiara melemah. Tidak setegas tadi, begitu juga dengan sorot matanya.


" Karena aku sayang Vano lebih dari apapun, karena cuma sama Vano aku bisa ngerasa bener-bener hidup. "


"Lepasin Vano, Ta. Dia berhak bahagia kan, dan bahagianya dia bukan sama kamu"


...****************...


...Segini dulu buat pemanasan hehee...


...Ada yang mau nimpuk Kiara? aku sedia batu nih...