
Ruang VIP di gedung Florest malam itu ramai dikunjungi oleh puluhan pengusaha ternama yang katanya sedang mengadakan perjamuan besar-besaran untuk merayakan ulang tahun perusahaan Adinata Grub. Perusahaaan yang disebut-sebut sebagai perusahaan tambang terbesar di Indonesia. Aula gedung terlihat sangat megah saat bangunan itu dihias dengan pernak-pernik pesta yang pasti harganya tidak recehan.
Kiara, perempuan itu terlihat sangat cantik saat dibalut oleh gaun warna peach. Parasnya yang menawan selalu berhasil mencuri perhatian semua orang. Senyum ramah selalu dia tampilkan untuk, bersikap kalau dia bahagia padahal aslinya tidak.
"Itu putri saya" suara Roy tiba-tiba terdengar saat Kiara memasuki aula. Laki-laki itu berdiri bersama tiga orang yang terlihat asing. Dia melambaikan tangan ke arah Kiara. Perempuan itu menarik nafas panjang, mencoba tenang untuk drama-drama yang akan terjadi sebentar lagi.
Dengan langkah anggun, Kiara berjalan menghampiri mereka. "Selamat malam Om, saya Kiara", dia menyapa dengan seulas senyum manis yang tidak pernah surut sejak kakinya turun dari mobil beberapa puluh menit yang lalu.
Mereka saling berjabat tangan, salah satu pria dengan setelan jas abu-abu berdecak kagum. "Putri Pak Roy ini makin dewasa makin cantik ya, padahal rasanya baru kemarin saya lihat dia main boneka barbie di depan rumah".
Ungkapan paling umum yang selalu diucapkan oleh jutaan orang tua saat bertemu anak temannya yang sudah besar. Kiara cuma tersenyum simpul menanggapi basa-basi busuk itu.
Dia sudah hidup selama 25 tahun hey, ya kali tetep kecil terus!.
"Istri saya suka sekali loh sama nak Kiara ini, apalagi waktu kamu jadi Duta Pariwisata. Istri saya nggak pernah absen nonton acaranya, sampai-sampai majalah yang ada foto kamu di koleksi semua"
Kiara tersenyum lebar, merasa tersanjung dengan ucapan jujur dari rekan papanya itu. "Ah Om ini bisa aja, saya juga masih belajar supaya bisa lebih baik lagi dalam membangun karier kok, Om" sahutnya merendah.
Pria berjas warna maroon ikut bergabung, "Sudah cantik, pintar, ramah, mantu idaman sekali ini" celetukan itu mengundang tawa orang-orang disana. Sedangkan yang menjadi objek pembicaraan hanya menanggapi seadanya.
Kiara melirik Papanya yang terlihat sangat puas karena berhasil pamer kalau dia punya anak seorang Kiara Evelyn. Siapa yang tidak akan kagum dan terpikat oleh paras perempuan itu. Dia, Kiara Evelyn Danuarta, prestasinya di dunia modeling dan duta mengalir deras bagai air. Duta Pariwisata Indonesia 2018, Runner-up Super Model Internasional 2019, Miss Tourism International 2019, Miss Model of Asia 2020, pemenang medali 'International Model of The Year' tahun 2020, dia bahkan bersanding dengan model kelas dunia dalam ajang Miss Universe tahun 2021 dan berhasil tembus ke nomor 10 besar. Namanya sudah sering disebut oleh media Internasional seperti Forbess, TCC, dan British Fashion. Tidak heran kalau Kiara terkadang menjadi patokan mantu idaman oleh jutaan ibu yang memiliki anak laki-laki.
Perempuan itu benar-benar tanpa celah.
Banyak yang menganggap kalau hidup Kiara itu sempurna. Perempuan itu punya segalanya. Prestasi, kecantikan, karier, dan kekayaan yang dia punya benar-benar seimbang, selaras, dan sama-sama kuat. Level Kiara seperti tidak tergapai oleh teman sebayanya. Tanpa mereka ketahui kalau kehidupan yang dia punya tidak sebahagia itu.
Tanpa perlu dijelaskan pun, Kiara termasuk orang yang kekurangan. Kurang kasih sayang tulus, kurang jiwa yang bisa menjadi pendengar, Kiara sangat kurang bahkan asing dengan kata 'kebebasan'. Dia sudah terbiasa hidup dengan teratur, disiplin, dan terkonsep sejak dini. Setiap langkah yang dia ambil selalu sudah terencana dan disusun matang. Kadang dia juga lelah saat harus mengikuti instruksi ayahnya, ajakan ibunya untuk fotoshoot, dan menjadi bahan ayahnya sebagai pameran.
Dulu dia punya Vano. Laki-laki yang dalam kondisi apapun, bahkan saat dunia sedang dalam kondisi paling buruk pun, dia tidak pernah pergi. Vano selalu ada sebagai bahu dan telinga untuk Kiara berkeluh-kesah. Bercerita tentang dunia yang makin hari makin nggak bisa diajak kompromi. Sampai akhirnya saat itu tiba. Saat dimana Ayahnya memaksa dia melakukan hal yang paling dia sesali seumur hidup. Meninggalkan Vano dan membuat kisah mereka makin rumit seperti sekarang.
Semua berubah sejak kepergiannya ke Italia. Apalagi setelah berita pernikahan itu. Dia tidak menyalahkan Vano, sama sekali tidak. Dia hanya tidak rela dengan takdir, yang memisahkan dia dengan Vano saat mereka nyaris bahagia. Kiara seperti kehilangan motivasi saat Vano juga hilang. Sebesar itu peran Vano di kehidupan Kiara. Bagaimana mungkin dia bisa melepas cowok itu begitu saja.
Kiara tahu mungkin ini egois, tapi dia juga tidak akan maju andaikan Vano menolak. Sedangkan kenyataan disini malah sebaliknya, dengan kesadaran penuh Vano mendeklarasikan bahwa hatinya masih milik Kiara. Sampai akhir kisah yang belum menemukan titik ujung. Memberinya sedikit harapan untuk bisa memulai lembaran baru dengan cowok itu.
Di ruangan itu Kiara hanya berperan sebagai penyimak omong kosong Papanya yang bersikap seolah dia adalah seorang ayah yang sangat membanggakan anaknya. Koar-koar kesana kemari tentang pencapaian Kiara yang berhasil masuk kualifikasi 10 besar Miss Universe. Dia cuma tersenyum dan menanggapi seadanya saat ada yang mengucapkan selamat.
Sampai Papanya menarik dia untuk bertemu dengan Yuda Adinata, orang yang menjadi raja malam ini. Pengusaha batu bara terhebat di negeri, pemilik Adinata Grub—perusahaan raksasa yang sahamnya sedang menjadi incaran Papa Kiara.
"Malam, Pak Yuda" Roy menyalami pria itu dengan wajah sumringah, yang dibalas tidak kalah heboh oleh orangnya. "Selamat atas perayaan perusahaan anda"
Pak Yuda tertawa renyah, menepuk-nepuk bahu Roy berulang kali. "Terima kasih sudah hadir, padahal Pak Roy sendiri kan juga lumayan sibuk. Tapi masih menyempatkan waktu untuk datang di pesta kecil-kecilan saya".
Kiara sudah tidak kaget lagi mendengar kata basa-basi dari para pengusaha. Yang katanya cuma buat pesta kecil-kecilan, tapi booking tempat di gedung mewah sampai dua hari nonstop. Belum lagi pengisi acara pasti rata-rata artis top Ibukota.
"Ini putri anda?", merasa kalau dia yang dimaksud, Kiara segera memberi senyuman anggun sembari menjabat tangan pria itu.
"Benar, Om. Saya Kiara, senang bisa bertemu Om Yuda secara langsung. Saya ikut senang atas pencapaian yang sudah diraih oleh perusahaan Om, semoga di anniversary perusahaan kali ini, usaha om bisa semakin sukses dan berhasil" kata Kiara dengan lugas. Pembawaannya selalu tenang saat menghadapi situasi apapun. Itu yang membuatnya selalu lolos kualifikasi. Rasa percaya diri yang tinggi membuat dia sulit untuk dibuat merasa terintimidasi oleh lawan.
"Terima kasih, terima kasih. Beruntung sekali saya. Bisa mendapat ucapan selamat dari seorang Miss Universe"
Kiara tergelak mendengar penuturan Pak Yuda,,"Ah Om ini, saya juga masih proses membangun karier kok Om".
"Istri dan putra Anda kemana, Pak?" tanya Roy mengalihkan pembicaraan.
Oke, akhirnya topik yang paling Kiara hindari datang juga.
"Itu mereka!"
Saat Pak Yuda mengatakan itu, bertepatan dengan datangnya seorang perempuan paruh baya yang Kiara yakini adalah istri Pak Yuda. Dan sebelahnya ada seorang laki-laki yang umurnya sepantaran Kiara, mungkin anak mereka.
"Perkenalkan, ini Dona, istri saya. Dan ini Alex, putra kami". Pak Yuda memperkenalkan anggota keluarganya. Mereka saling berjabat tangan, sampai akhirnya Kiara berjabat tangan dengan Alex. Perempuan itu tersenyum tipis.
"Kiara.."
"Alex.."
Prosesi berkenalan selesai, kini giliran Tante Dona yang kelihatan paling heboh saat bertemu Kiara. Wanita itu bahksn sampai pindah posisi berdiri di samping Model itu.
"Ya ampun, ini beneran Kiara Evelyn itu?. Cantik sekali" puji Tante Dona seraya mengelus rambut Kiara lembut.
Kiara tersenyum lebar sampai gigi putihnya kelihatan. Mata bulatnya menyipit lucu tampak dua kali lebih manis dari sebelumnya. "Terima kasih, Tan. Tante juga cantik banget malam ini, gaunnya lucu. Kiara suka". Gadis itu benar-benar pintar membuat orang-orang di sekitarnya nyaman. Alex yang biasanya cukup jadi manusia setengah patung, tanpa sadar juga tersenyum tipis melihatnya.
"Nak Alex diam aja dari tadi" celetukan dari Roy mengundang seluruh pasang mata menatap ke arah putra tunggal penguasaha batu bara itu, termasuk Kiara.
"Dia anaknya memang begitu, Pak. Ansosnya kebangetan. Kalau nggak diajak ngobrol duluan juga nggak akan keluar suaranya"
"Ma..."
Itu adalah suara pertama yang Kiara dengar keluar dari mulut Alex. Suara bass yang tenang tapi dalam. Tidak menggelegar seperti halilintar, tidak mendayu seperti air mengalir.
"Emang bener kok kalo kamu itu ansos. Kenapa, malu dikatain begitu di depan Kiara?'
Mendengar namanya dibawa-bawa, Kiara mau tidak mau jadi menoleh. Alex mendengus pelan, tahu kalau dia tidak akan menang melawan Mamanya.
"Ra, ajak ngobrol Alex sana. Papa mau bicara masalah bisnis dulu sama Om Yuda". Seruan dari Roy membuat Kiara diam-diam mengumpat dalam hati. Tau kalau ini akal-akalan pria itu. Tapi hal yang membuatnya kaget adalah Alex yang tiba-tiba menatapnya, lalu mengajaknya ke Rooftop gedung.
"Ayo.. !"
Di lantai outdoor yang terletak di lantai paling atas gedung ini, Kiara dan Alex berdiri berdampingan di tepi pagar pembatas. Melihat pemandangan Ibukota dari ketinggian 120 meter. Di jam sembilan malsm seperti sekarang, Jakarta tidak pernah sepi penghuni. Masih banyak kendaraan yang memenuhi laju lalu lintas, serta bunyi klakson yang mengisi hening setiap malam.
"Kayaknya setelah ini, lo bakal lebih sering ketemu gue", suara Alex menjadi suara pertama yang terdengar. Kiara menoleh kearahnya, menatap laki-laki itu dengan kening mengerut bingung.
"Kenapa gitu?" tanyanya.
Alex balas menatap dengan satu alis terangkat ke atas, "Jadi lo belum tau?" .
"Tau apa?"
"Tentang perjodohan"
"Perjodohan?!" sela Kiara dengan wajah tidak tenang. Otak pintarnya tiba-tiba macet saat harus membahas hal yang saat dibayangkan saja, dia sudah muak.
Alex kembali melihat depan. Mata cokelat tajamnya menyorot bangunan-bangunan pencakar langit yang lampunya menyinari sebagian Kota Jakarta.
"Pertemuan ini bukan cuma buat bahas masalah hubungan bisnis orang tua kita" dia menjeda sebentar.
"Tapi juga perjodohan antara gue sama lo"
Sekarang Kiara sudah tidak habis pikir lagi. Papanya seolah menganggap kalau hidipnya adalah sebuah permainan yang bisa dimainkan sesuka hati. Dia pikir pertemuan ini cuma sekedar perkenalan biasa, tapi ternyata pikirannya memang terlalu positif untuk menggambarkan seorang Roy Danuarta.
"Konyol" desis Kiara dengan amarah yang tertahan. Cukup waktu itu saja dengan Felix, sekarang jangan lagi.
"Kamu udah tau, tapi kenapa nggak nolak sih?!" kini dia menatap kesal kearah Alex yang tiba-tiba berubah jadi arca.
"Kenapa juga gue harus nolak?" sahut cowok itu. Kiara berani bersumpah, jawaban yang Alex lontarkan adalah jawaban paling menyebalkan di dunia.
"Demi kebebasan kamu lah!!" Kiara sedikit membentak karena saking kesalnya.
"Kamu nggak cinta kan sama aku, jadi kamu berhak buat nolak perjodohan itu. Ini hidup kamu loh, Lex!!"
"Gue nggak akan pernah nolak permintaan bokap. Dan kayak yang lo bilang tadi kan, ini hidup gue. Dan gue udah nentuin pilihan untuk nggak nolak perjodohan ini"
Sekarang Kiara sangat ingin memukul kepala cowok itu juga. Jawabannya benar-benar di luar prediksi BMKG.
Tolong ajarkan Kiara bagaimana caranya bicara kasar.
"Masalahnya ini juga menyangkut hidup aku!. Kamu nggak bisa dong asal nerima gitu aja. Perjodohan ini butuh persetujuan dari kedua belah pihak, dan aku nggak akan nerima!" tolak Kiara dengan tegas.
Alex mendengus kecil, terkesan meremehkan. "Emangnya apa yang bisa lo lakuin untuk menentang perjodohan ini?"
Retoris.
Semua orang tau jawabannya. Kiara tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dalam permainan, dia sudah dinyatakan kalah bahkan sebelum permainan di mulai.
"Nggak bisa apa-apa kan?" tebak Alex dengan tawa meledeknya.
"Kalo lo nggak bisa berbuat apa-apa, tugas lo sekarang cuma cukup nerima kenyataan!" sambung cowok itu.
"Santai aja, hidup sama gue nggak seburuk yang ada di pikiran lo kok".
...****************...
Kiara
Alex