
Kondisi Okta membaik dari waktu ke waktu, sampai akhirnya hari ini dia boleh pulang. Okta rasanya sedikit lega karena akhirnya bisa bebas dari selang infus dan bau obat rumah sakit yang bikin muntah. Apalagi makanannya tanpa licin, dia yang memang dasarnya generasi licin jadi nggak nafsu makan.
Malam itu, Vano masuk ke gedung rumah sakit dengan muka sumringah. Di tangannya membawa sebuket bunga mawar dengan harapan supaya Okta suka. Namun, senyum laki-laki itu harus surut saat dia melihat kamar Okta sudah kosong dan hanya menyisakan seorang suster yang sedang beres-beres..
"Sus, pasien kamar ini kemana ya?" tanya Vano bingung.
"Oh mbaknya tadi baru aja pulang sama keluarganya, Pak" sahut suster itu dengan ramah.
Sekarang jantung Vano rasanya pengen meledak. Dia langsung berlari ke arah parkiran, berharap dapat menemukan keberadaan Okta ataupun orang tuanya. Dia mencari ke sekeliling, menyusuri basement sampai akhirnya bertanya ke penjaga gerbang.
"Pak, lihat istri saya keluar dari rumah sakit ini nggak?" tanya Vano dengan entengnya seolah di rumah sakit ini cuma Okta yang dirawat disini.
"Ya saya mana lihat, Mas. Yang keluar masuk kan banyak" sahut bapak-bapak dengan rompi hijau khasnya.
Vano berdecak sambil mengusap rambut kasar. Cowok itu lalu balik badan dan berjalan lunglai menuju mobilnya, di otaknya cuma ada satu pertanyaan.
"Kemana lo, Ta?"
***************
Sedangkan di sudut lain dari kota Jakarta, Okta tidak henti-hentinya melihat keluar jendela selama perjalanan. Pikirannya tiba-tiba memutar ulang semua hal yang pernah dia lalui di kota keras ini. Kota yang sebentar lagi akan dia tinggalkan.
"Kamu yakin nanti nggak mau ditemenin masuk?" Bunda Hana bertanya dan menjadi suara pertama yang terdengar sejak mereka masuk taksi.
Okta menengok guna melihat kearah ibunya. "Nggak usah, Bun. Nanti Okta sendiri aja, cuma ngambil barang sedikit aja kok" katanya sambil memaksakan senyuman.
Ya, akhirnya ini keputusan yang dia ambil. Pergi dari semuanya. Kedua orangtua Okta cuma mengangguk setuju. Sebagai orang tua, mereka hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, meskipun harus dengan cara seperti ini.
"Apapun yang terjadi, jangan tunjukkan kelemahan kamu di depan dunia" itu kata Ayah, dan Okta akan terus memegang teguh kata itu sampai nanti.
Taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan gerbang rumah megah milik Vano. Rumah yang sudah seminggu ini tidak dia datangi. Okta berulang kali menarik nafas panjang sebelum akhirnya turun dari taksi. Perempuan itu masuk ke dalam rumah, dan disambut sapaan dari para pelayan.
"Alhamdulillah, Non Okta sudah sehat" Bi Inah yang saat itu sedang beres-beres ruang tengah, langsung heboh saat melihat Okta berdiri tegap meskipun masih dengan perban di kepalanya.
Okta tersenyum lebar kemudian memeluk perempuan itu erat. Sosok perempuan yang dia anggap sebagai ibu sendiri di rumah ini.
"Bi, maaf ya kalo Okta pernah buat salah sama Bi Inah" kata Okta di sela-sela pelukannya.
Bi Inah mengusap punggung perempuan itu dengan bingung, "Non, teh mau kemana kok ngomong begitu?"
Okta melepas pelukannya, menghapus setetes air mata yang tiba-tiba jatuh kemudian tersenyum simpul. "Okta mau ikut ayah bunda".
Bi Inah ikutan mewek, bagaimanapun, rumah ini jadi lebih berwarna sejak ada Okta. Kalau perempuan itu pergi, rumah ini seperti kehilangan nyawanya.
"Non, jangan pergi atuh" Bi Inah memegang lengan Okta, memohon perempuan itu agar tidak pergi. Tapi, selain memikirkan orang lain, saat ini Okta juga ingin memikirkan dirinya sendiri yang butuh ruang tenang.
"Okta butuh waktu, Bi" katanya sambil berusaha tersenyum. "Makasih ya, Bi. Bi Inah udah sayang sama Okta selama ini. Okta nggak akan pernah lupa sama Bibi".
Okta lalu berlalu menuju kamarnya tanpa memperdulikan panggilan Bi Inah. Dia bergegas mengemasi bajunya di lemari, meski ditemani tangisan pedih. Okta harus melakukan ini supaya hatinya bisa sembuh. Dengan gerakan cepat dia menutup kopernya dan berjalan keluar. Namun, saat di dekat pintu, seseorang yang sangat dihindari oleh Okta malah ada disana.
Vano berdiri kaku sembari menatap Okta sayu. Okta mengeratkan pegangannya pada koper, dia melangkah maju. Vano mencekal pergerakan tangannya.
"Ta, jangan pergi please" kata cowok itu dengan muka memelas.
"Gue harus pergi, Van" lirih Okta sembari menuduk. "Lepasin tangan gue".
"Gue nggak akan lepasin lo!!"
"Gue mohon, jangan egois. Sekali ini aja" Okta menatapnya penuh luka, Vano benci tatapan itu. Vano benci mengakui kalau sekarang dia takut kalau Okta pergi.
"Jangan pergi, Ta" mohonnya sekali lagi.
"Kalo lo masih peduli sama gue, tolong, tolong banget, biarin gue pergi Vano!"
"Kenapa lo lakuin ini ke gue Ta? Kenapa harus dengan cara ini?"
Okta dari tadi tidak berani menatap Vano. Dia melihat ke arah gagang pintu, seolah itu adalah hal yang sangat menarik di matanya saat ini.
"Kalaupun gue masih disini, udah nggak ada gunanya kan?" Okta kemudian menatapnya, "Kalo kita cuma bisa saling nyakitin, lebih baik kita saling ngejauh dari sekarang".
"Karena sekeras apapun kita bertahan, kita cuma saling nyakitin satu sama lain. Toh, saat ini udah nggak ada lagi alasan buat gue terus bertahan sama lo kan?. Dulu, kita menikah karena anak itu. Tapi sekarang dia bahkan udah nggak ada, jadi buat apa gue masih disini?" suara Okta terdengar sangat menyakitkan saat ini. Tenggorokannya bahkan terasa sakit karena menahan tangis.
"Kita berawal cuma karena kesalahan kan, Van?. Jadi ayo sekarang kita akhiri bareng-bareng"
"Gue nggak mau!!" Vano menolak dengan keras, rahangnya mengeras dengan mata yang memerah kecewa. "Gue cinta sama lo, Ta. Gue nggak mau kita berakhir gitu aja!!"
Mungkin karena terlalu banyak kebohongan, ungkapan cinta Vano bahkan terdengar seperti omong kosong bagi Okta.
Perempuan itu tertawa miris, bukan menertawakan Vano, tapi menertawakan dirinya sendiri. "Simpan cinta lo buat orang yang pantes buat dapetin itu Van, dan itu bukan gue".
Dia lalu menghadap ke arah Vano dengan mengumpulkan segenap kekuatan yang dia punya. Okta mencoba untuk tegar. "Gue nggak pernah nyesel kenal sama lo, yang gue sesali cuma jalan cerita kita yang ternyata harus kayak gini" perempuan itu menggigit bibirnya. "Thanks buat semuanya, gue nggak akan lupa" katanya.
"Jangan pernah cari gue, Van. Kita serahin aja kisah ini ke semesta, karena dasarnya, kalau sesuatu itu milik kita, dia pasti akan kembali. Dengan sejuta cara semesta mempertemukan sesuatu itu dengan sangat rahasia"
"Sampai ketemu, di versi terbaik dari kita nanti"
Vano cuma bisa menatap sayu ke arah perempuan di depannya. Bahkan saat Okta melangkah keluar rumah, tangan Vano seperti tidak punya kendali untuk mencegah. Karena dasarnya dia memang sadar, apa ini skenario yang dibuat semesta?.
Okta melangkah dengan membawa semua rasa sakit di hatinya, disaat bibirnya harus tersenyum saat orang tuanya bertanya. Okta rasanya ingin menjerit.
"Makasih, Van. Karena udah ada, lalu tiada".