
Setelah malam itu, Vano seperti kehilangan arah. Cowok itu jadi makin uring-uringan, tidak mau mendengar siapapun termasuk orang tuanya sendiri. Perihal kontraknya dengan The Boys, dia masih belum mengurus itu. Urusan belakangan, masalah lanjut atau enggak Vano enggak mau ambil pusing.
Sudah seminggu, dan Vano belum tau kemana Okta pergi. Dia sudah coba datang ke apartemen Okta yang lama, tapi ternyata tempat itu sudah lama kosong. Dia mencari ke rumah orang tua Okta di Surabaya, tapi kata tetangganya, keluarga perempuan sudah pindah entah kemana. Semua medsos Okta dihapus, nomornya juga sudah tidak aktif. Okta sama sekali tidak meninggalkan jejak.
Hari ini tepat pukul sepuluh pagi, Vano nekad datang ke rumah Rina, dia mendapat alamat perempuan itu atas bantuan dari Gerry. Vano dengan baju tertutup serta masker yang selalu dia pakai kini sudah berdiri di depan rumah Rina. Bell rumah dia pencet sebanyak sepuluh kali dengan tidak sabaran, hingga menimbulkan umpatan kasar si pemilik rumah dari dalam.
"Iya, iya, nggak sabaran banget sih jadi orang!!" perempuan itu berucap ketus seraya membuka pintu. Selang beberapa menit, ekspresinya langsung berubah setelah melihat Vano yang datang.
"Ada angin apa nih, lo tiba-tiba dateng ke tempat gue?" seloroh perempuan itu dengan gaya tengil khasnya.
Vano melihat sekeliling sebelum akhirnya membuka masker yang dia pakai, "Boleh gue masuk?".
Rina nampak menimbang beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk setuju. Mereka masuk dan Rina mempersilakan Vano duduk di ruang tamu, "Duduk dulu, gue bikin minum bentar". Perempuan itu sudah hendak pergi sebelum akhirnya suara Vano mengintruksi.
"Nggak usah, gue nggak lama kok" tolaknya dengan halus. Rina mengangguk, dia lalu ikut duduk di depan cowok itu.
Vano segera menyampaikan maksud yanng dia punya mumpung ada kesempatan, "Gue kesini cuma mau tanya ke lo tentang Okta" dia menjeda sebentar, "Lo tau Okta dimana?".
Rina sudah menebak ini dari awal, tidak mungkin orang seperti Vano datang ke tempatnya kalo tidak punya maksud. "Gue nggak tau" jawab Rina dengan cepat.
"Kalaupun gue tau, gue nggak akan kasih tau ke lo" perempuan itu tersenyum ke arah Vano, tapi senyuman itu memiliki arti yang berbeda.
"Okta kan udah bilang ke lo buat gak usah cari dia, kenapa masih lo cari?" sarangnya lagi.
Ingatan Vano kembali berputar ke peristiwa malam itu, malam yang menjadi saat terakhir dia bertemu Okta. Saat perempuan itu meminta Vano untuk tidak mencari tau kemana dia pergi. Tapi Vano bukan orang yang akan diam saat sesuatu yang sudah dia anggap miliknya hilang.
"Sekalipun dunia larang gue, gue akan tetep cari dia" sahutnya tanpa berpikir dua kali. "Karena sesuatu yang udah jadi milik gue, selamanya bakal jadi milik gue, dan gue akan berusaha buat dapetin milik gue lagi".
Rina mengangkat kedua alis tinggi-tinggi sembari mengendikkan bahu, "Ya, semoga lo berhasil sih" katanya.
"Dan untuk info Okta sekarang ada dimana, sorry, gue gak bisa bantu. Gue juga nggak tau dia dimana"
Entah sekarang perempuan itu sedang berbohong atau tidak , Vano tidak tau. Ekspresinya benar-benar tidak terbaca. Dia sama sekali tidak mendapat petunjuk apapun tentang Okta. Perempuan itu menghilang entah kemana.
"Kalo lo tau, please, kasih tau gue" mohon Vano penuh harap. "Mungkin lo kesel karena gue pernah nyakitin temen lo, Okta pasti cerita kan. Tapi itu dulu, sekarang gue udah janji ke diri gue sendiri buat nebus kesalahan gue, gue pengen bisa balik lagi ke Okta, gue pengen bahagiain dia buat ganti rasa sakit yang gue kasih dulu. Gue nyesel, meskipun gue tau penyesalan gue nggak ada gunanya sekarang" ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Rina dengar keluar dari mulut Vano, dia cukup terkesan.
"Jadi dengan seluruh kerendahan hati gue, gue minta tolong ke lo. Kalo seandainya lo tau sesuatu tentang Okta, kasih tau ke gue" dan ini adalah kali pertama Rina mendengar seorang Geovano memohon kepada orang lain.
"Kayaknya kali ini lo harus berubah pikiran, Ta"
Melihat tidak ada respon dari Rina, Vano memilih bangkit dari duduknya, "Kalo gitu gue pamit, thanks lo udah ngizinin gue masuk" dia kembali memakai maskernya, bersiap keluar.
Vano berjalan ke arah pintu, tapi baru di ambang pintu, suara Rina menghentikan langkahnya. "Gue emang nggak tau Okta dimana sekarang, tapi gue tau nomor barunya"
**************
Pukul tujuh malam Kiara harus dibuat jengah karena bell apartemennya tidak berhenti berbunyi. Dia baru mau melanjutkan nonton drakor terbaru yang belum selesai dia tonton semalam. Perempuan itu mendengus beberapa kali tapi tak urung dia tetap membukakan pintu. Saat pintu terbuka, pandangan matanya langsung menemukan sosok Alex yang berdiri tegap sambil bersendekap dada.
Kiara mengangkat alisnya tinggi-tinggi,, merasa bingung karena seingatnya dia tidak punya janji dengan cowok ini, "Kamu nggak lagi salah alamat kan?" pertanyaan konyol itu spontan membuat Alex terkekeh kecil. Dia tidak sebodoh itu sampai bisa nyasar ke tempat orang.
"Ya nggak lah" tepisnya dengan segera.
"Terus ngapain kamu disini?" tanya Kiara lagi.
"Mau ngajak lo keluar" sahut Alex tanpa beban. Kiara mengerutkan kening, tumben—batinnya.
"Gak mau, lagi nggak mood keluar"
Mendengar penolakan dari perempuan di depannya, Alex langsung mengambil HP dan menunjukkan pesan dari Papa Kiara yang menyuruhnya untuk membawa pergi Kiara jalan-jalan karena semingguan ini perempuan itu selalu mengurung diri di kamar. Melihat isi chat itu Kiara langsung membuang nafasnya kasar, papanya ini emang kebiasaan. Nyuruh anak orang seenak jidat.
Setelah hubungannya dengan Vano berakhir, Kiara memang tidak pernah keluar lingkup apartemen. Dia absen dari show yang harusnya dia datangi, dis absen dari gladi duta pariwisata, bahkan dia menolak project foto model dari designer ternama Indonesia karena dia ingin menenangkan diri. Dan sudah empat hari ini, dia tidak makan apapun. Mungkin hal itu disadari oleh papanya dan akhirnya menyuruh Alex kesini.
"Sorry ya, Papa pasti ngerepotin kamu banget" kata Kiara dengan wajah bersalah.
"Siapa juga yang ngerasa direpotin?" Alex membalas dengan santai, "Sekarang lo ganti baju, gue mau ajak lo ke suatu tempat"
"Kemana?" tanya Kiara penasaran.
"Rahasia dong"
Perempuan itu tersenyum kecil, dia lalu mengangguk dan mempersilahkan Alex untuk masuk. "Aku ganti baju bentar"
Dan kata 'sebentar' yang dimaksud Kiara ini, adalah waktu yabg cukup untuk Alex makan, minum, BAB, sekaligus nyuci piring sekalian.
.
.
.
Dulu Alex pernah lihat sebuah tweet dari seseorang yang katanya 'Jangan pernah percaya kalau perempuan dandan cuma sebentar. Itu adalah kebohongan terbesar di seluruh dunia', dan sekarang dia percaya dengan kata-kata itu.
Dengan masih menahan dongkol, Alex menjalankan mobilnya pergi dari area apartemen. Menyusuri jalan besar yang masih selalu ramai pengemudi. Dia berulang kali melirik samping. Ya meskipun cewek itu nyebelin, tapi dia nggak bisa bohong kalau Kiara selalu cantik dalam keadaan apapun.
"Padahal tadi lo nggak usah make up juga gapapa, loh" Alex akhirnya buka suara.
Kiara yang sejak tadi sibuk main HP, kini mendongak menatapnya. "Itu kan menurut kamu, kalo menurut orang kan beda lagi. Ya kali kita keluar berdua, kamu-nya tampilannya rapi tapi aku kayak gembel, kan nggak banget. Nanti kamu malah malu jalan berdua sama aku".
Alex tersenyum simpul seraya membelokkan mobilnya menuju area pinggiran Jakarta, "Ngapain gue malu jalan sama cewek cantik" katanya dengan lirih.
"Kamu ngomong apa?" Kiara sekali lagi memastikan karena dia tidak bisa mendengar ucapan Alex dengan jelas.
"Nggak jadi"
Kiara mencibir diam-diam, matanya kemudian melirik jendela samping yang menampilkan pohon-pohon besar, jalanan ini lumayan sepi, "Kita mau kemana sih?".
"Nanti juga lo tau" sahut Alex.
Mobil cowok itu terus berjalan kemudian berhenti di sebuah tempat yang ramai dengan aneka jenis mobil disana. Suara hiruk pikuk banyak orang terdengar. Kiara ikut turun dari mobil saat Alex turun. Matanya memindai tempat ini. Sebuah area luas dengan banyak penonton di area start dan aneka jenis mobil yang sedang adu mesin di belakang garis, ini arena balap liar.
"Kamu gila bawa aku ke tempat kayak gini?!" Kiara sontak protes dengan muka kesal ke arah Alex. Tapi cowok itu malah tertawa, tangannya bergerak menggandeng tangan kanan Kiara hingga perempuan itu kaget.
"Ini seru tau, lo pasti belum pernah coba"
Kiara sudah tidak habis pikir lagi. Dia tidak menyangka kalau anak seorang pengusaha ternama seperti Alex doyan nonton balap liar seperti ini. Tapi tidak tau kenapa, rasanya Kiara tidak bisa menolak bahkan saat cowok itu menarik tangannya menuju sebuah jembatan yang melintas di area sirkuit. Dia rasanya pengen meneriaki Alex yang bisa naik tangga dengan gampang tanpa memperdulikan dirinya yang kesusahan karena memakai heels.
Kiara mendengus sembari mengibaskan rambut panjangnya. Sampai kurang beberapa anak tangga, Alex baru melirik ke arah kaki Kiara, "Mau tukeran sepatu?" tawarnya.
Kiara mendengus lagi, makin kesel. "Telat banget tau nggak!!"
Alex terkekeh lagi. Dia melepas sepatu converse-nya dan menyuruh si tuan putri untuk memakai. Kiara sedikit melunak, dia melepas heels yang dia pakai dan beralih memakai sepatu Alex. Sedangkan cowok itu memilih nyeker.
Mereka berdiri di pembatas jembatan bersama beberapa pengunjung yang lain. Angin bertiup membuat rambut Kiara terbang kemana-mana. "Kamu cowok pertama yang ngajak aku ngedate di tempat kayak gini" cetusnya tiba-tiba. Dulu mantan-mantannya selalu ngajak ke tempat yang romantis, lah Alex?.
Seakan enggan menanggapi, Alex malah melepas jaketnya, memakaikan ke bahu Kiara yang berlengan pendek. "Lo dukung yang mana?" tanyanya seraya menunjuk ke arah mobil-mobil yang siap balapan di sirkuit.
Kiara mengamati mobil-mobil itu, memilih yang paling kelihatan mahal, "Aku pilih putih"
Alex tersenyum lagi, "Gue biru" katanya. "Yang kalah traktir di makan seminggu, gimana?" tantangnya kemudian. Dan berhubung Kiara suka tantangan, perempuan itu menyanggupi.
"Deal"
Seorang perempuan berjalan ke tengah sirkuit dan menembakan peluru ke langit, lalu mobil-mobil itu berjalan dengan kencang.
.
.
.
"Kok bisa sih, lo yang menang" itu keluhan dari Alex saat mereka akan pulang setelah pertandingan berakhir.
"For you information ya, aku gak pernah kalah dalam taruhan" Kiara tertawa puas, dan Alex suka melihat hal itu.
"Oke, sesuai janji gue. Seminggu ini lo mau ditraktir dimana?" tanya Alex seraya masuk mobil diikuti Kiara. Mereka mulai meninggalkan area balap.
"Mmm, aku pikir-pikir dulu deh. Mau cari-cari rekomendasi tempat makan yang mahal"
Perempuan itu tertawa lagi saat melihat muka sepet Alex. Dan tawanya itu, sangat cantik.
Alex diam-diam tersenyum simpul. "Thank you ya, Lex, buat malam ini" kata Kiara sambil tersenyum lebar.
"Thank you juga" kata Alex.
"Buat?" tanya Kiara dengan bingung.
"Karena udah senyum malam ini"
...****************...
Kiara
Alex
Mau aku kasi bunga nggak?