Beloved Idol

Beloved Idol
Retak



Okta sudah tidak habis pikir lagi dengan semuanya saat dia melihat sendiri sosok Vano datang ke tempat salon anjing yang baru beberapa menit lalu dia kunjungi. Dengan setelan tertutup khas buronan wartawan seperti biasa, Vano nampak menunggu seseorang di samping mobil sport yang dia bawa.


Okta masih diam tak bergeming di belakang setir kemudi. Ya, dia memang membawa mobil sendiri tanpa Pak Adi yang menyupiri. Gini-gini, dia pernah kursus menyetir waktu kuliah. Cuma karena terhalang dana aja makanya nggak punya mobil. Dia suntuk, masa bodo dengan Vano yang pasti akan ngomel-ngomel karena dia ceroboh pergi ke luar rumah sendirian. Tapi bodo amat, toh cowok itu sendiri juga tidak peduli dengannya.


Okta masih diam sampai sosok perempuan yang beberapa menit lalu dia temui, keluar dari salon anjing dan langsung menerjang tubuh Vano dengan pelukan. Mereka tertawa bersama, dilanjut dengan inisiatif Kiara mencium pipi kiri Vano sedangkan cowok itu hanya tersenyum.


Cengkraman tangan Okta pada setir mobil kian menguat. Berhati-hati cowok itu tidak pulang, dan sekarang malah asik-asikan berduaan dengan mantan. Okta menarik nafas panjang, sebisa mungkin untuk tidak menangis. Dia tidak sudi lagi mengeluarkan air matanya untuk dua orang tidak tau diri itu.


Perempuan itu lantas melajukan mobilnya menjauh. Pedal gas dia pijak hingga mobil berjalan dengan kecepatan tinggi. Okta kalap, bahkan suara gonggongan Milo dari arah jok belakang tidak dia hiraukan.


"BRENGSEKK!! " Okta berteriak dengan histeris. Sekuat apapun dia menahan, sakit hati tetap terasa perih di dadanya.


"GUE BENCI LO VANO!! " air matanya merebak, Okta semakin melajukan mobilnya, salip sana sini, tidak peduli banyak mobil dan kendaraan lain yang juga berjalan di sekitarnya.


"GUE BENCI SAMA LO YANG UDAH NGEHANCURIN HIDUP GUE!! "


"GUE BENCI SAMA LO YANG BIKIN HIDUP GUE BERANTAKAN!! "


"GUE BENCI SAMA LO YANG DENGAN GAMPANG BIKIN GUE JATUH CINTA TAPI LO NGGAK PERNAH NGEHARGAI PERASAAN GUE!! "


"Gue benci sama gue yang lemah gara-gara lo!! " suaranya melemah. Okta memukul setir berulang kali dengan emosi.


"SIALLL!! "


Mata Okta memerah dengan dada yang naik-turun. Perempuan itu semakin menekan pedal gas, mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Gonggongan Milo semakin menggema dari jok belakang, sepertinya anjing itu juga merasakan kekacauan majikannya. Sampai akhirnya, mobil sedan warna silver itu melintar di perempatan. Saat Okta lewat, bertepatan dengan lampu lalu lintas yang berubah menjadi merah. Namun perempuan itu tidak sempat untuk berhenti.


Tinn... tinnn


Suara klakson dari arah barat kontan membuat Okta menoleh dengan mata yang membulat sempurna. Truk besar melaju kencang kearahnya, menabrak sisi kiri mobil sedan yang dikendarai Okta. Tabrakan tidak bisa dihindari, bunyi benturan yang sangat keras menarik perhatian warga sekitar yang nampak ikut histeris melihat kecelakaan tragis itu.


Brakk...


Mobil Okta terseret sampai radius 40 meter, mobil itu rinsek parah. Sisi kanannya menghantam trotoar jalan. Dalam kondisi ini, Okta masih bisa melihat apa yang terjadi. Kepalanya yang berdarah, bertumpu pada setir mobil yang bagian depannya sudah rusak. Perempuan itu meringis kesakitan saat seluruh tubuhnya terasa remuk. Belum lagi perutnya yang seakan melilit keras.


"Tolong... " suara lemah Okta terdengar sangat menyayat. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Semuanya gelap bertepatan dengan suara sirine ambulans dan polisi yang berdatangan ke lokasi.


...****************...


"Tumben kamu minta jemput? " suara Vano keluar saat mereka sudah memasuki mobil. Tatapannya fokus pada jalanan sambil sesekali melirik Kiara yang masih asik bermain dengan anjing peliharaannya.


"Kangen kamu, udah beberapa hari loh kamu kamu nggak ngasih kabar ke aku" sahut perempuan itu dengan manja.


"Aku sibuk, Kia. Udah 5 hari ini aku nginep di dorm agensi. Kan kamu tau sendiri kalo masa-masa rilis album gini pasti aku selalu sibuk" ucap Vano memberi penjelasan.


"Berarti kamu nggak pulang dong? " cowok itu menggeleng sebagai jawaban.


"Itu bunga buat siapa, Van? " tanya Kiara saat dia tidak sengaja melihat sebuket bunga mawar di jok belakang.


Vano menelan ludah keras sebelum akhirnya menjawab, "Oh itu bunga buat Mama" sahutnya beralibi. Tidak mungkin dia bilang kalau bunga itu sebenarnya untuk Okta.


"Tumben, emang tante Lusi ulang tahun? "


"Eng-enggak sih, cuma pengen ngasih aja"


Kiara sebenarnya masih curiga. Dia tau betul hubungan Vano dengan mama tirinya itu tidak terlalu baik. Sebuah hal yang mengejutkan tentunya saat cowok itu tiba-tiba memberi bunga kepada seorang perempuan yang setiap ulang tahunnya pun tidak pernah dia hadiri. Tapi akhirnya Kiara mencoba untuk percaya, mungkin Vano memang ingin mendekatkan diri kepada perempuan yang sudah merawatnya selama 7 tahun ini.


Melihat Kiara tidak bertanya lagi, Vano menghembuskan nafas pelan. Merasa lega, setidaknya dia selamat hari ini. Dia memang sengaja membelikan Okta bunga dan sekotak cokelat kesukaannya sebagai permintaan maaf karena sudah tidak menghubungi perempuan itu selama berhari-hari. Belakangan ini dia memang tidak bisa memegang ponsel. Aktivitas grub berlangsung dari pagi sampai pagi hingga tubuh Vano tidak bisa mengimbangi. Dia sempat sakit di dorm dan dirawat oleh dokter pribadinya. Pria itu menyarankan Vano untuk off dulu dari segala jenis kegiatan dan mencoba menjauh dari sosmed agar dia bisa lebih fokus dengan kesehatannya.


"Van, hari ini kamu nginep di apartemen aku ya? " pinta Kiara dengan tatapan memelas.


"Maaf ya, Ki. Aku nggak bisa, aku harus pulang nanti"


Vano diam, dia sendiri tidak tau sebenarnya yang dia mau itu siapa. Hatinya sudah tidak seperti dulu yang selalu berdebar saat berada di dekat seorang Kiara. Rasanya hambar tidak sehangat dulu. Dulu saat masih bersama, saat-saat Kiara ngambek seperti ini, Vano akan menggunakan seribu satu cara untuk membuat pujaan hatinya senang. Tapi itu dulu, dan sekarang mungkin tanpa Vano sadari, hatinya telah ingkar pada janji yang mereka buat enam tahun yang lalu. Dia bingung, bagaimana cara menjelaskan kepada Kiara kalau perasaannya sudah tidak sedahsyat dulu.


Vano baru akan menjawab sebelum matanya menangkap kerumunan orang di dekat lampu merah. Dia memelankan laju kendaraan sambil melihat-lihat apa yang terjadi di luar. Dari celah kerumunan, matanya menangkap sebuah mobil yang sudah rinsek parah di tepi jalan. Asapnya menguar dari kap depan. Detik berikutnya, jantung Vano serasa mencelos saat dia melihat plat nomor mobil itu. Dia hafal betul, itu adalah mobil sedan silver yang dia beli dari gaji pertamanya menjadi artis.


Sontak Vano mengerem mobilnya secara mendadak, membuat Kiara ikut bingung. "Kenapa Van? " tanya perempuan itu saat melihat wajah Vano nampak panik.


Cowok itu tidak menjawab, dia merogoh ponselnya untuk menelfon seseorang. "Please angkatt" gumamnya dengan gusar.


"Halo Pak"


"Pak Adi sekarang dimana? "


"Saya di rumah Pak"


Vano menelan ludahnya kasar.


"Okta di rumah juga? "


"Non Okta tadi keluar, Pak. Bawa mobil sendiri, tadi saya setirin nggak mau"


Sekarang jantung Vano benar-benar serasa mau lepas.


"Dia bawa mobil apa? "


"Mobil sedan silver, Pak. Yang biasa dipinjem Nyonya Lusi "


Detik berikutnya Vano langsung mematikan panggilan. Dia melepas seatbeltnya dengan kasar dan bergegas keluar.


"Van kamu mau kemana?" seru Kiara yang tidak dihiraukan oleh cowok itu.


Vano nembelah kerumunan dengan tergesa-gesa. Masa bodo kalau orang-orang mengetahui keberadaannya karena dia tidak memakai masker.


"Please, Ta. Gue mohon jangan lo" dia terus berharap dalam hati. Meski akhirnya harapan itu harus pupus saat matanya sendiri melihat tubuh Okta terbaring lemah di trotoar dengan darah dimana-mana. Di samping perempuan itu juga ada Milo yang juga terluka tapi sudah di tangani oleh tim medis.


"OKTA... "


Vano berlari kencang saat tubuh Okta akan dimasukkan ke dalam mobil ambulans.


"Ta, Okta please jawab gue!! " dia meraih bahu perempuan itu yang sedang berbaring di brankar. Kedua matanya tertutup rapat. Vano mengelus kepala Okta hingga darah perempuan itu ikut tertempel di tangannya.


"Pak maaf, tolong jangan mengganggu! " seru salah satu petugas medis saat Vano menghalangi jalan mereka.


Cowok itu menatap tajam kearah mereka sebelum akhirnya bersuara, "Saya suaminya!! ".


Vano benar-benar kalap, melihat kondisi Okta yang seperti ini membuatnya tidak bisa berpikir jernih. " Ta, gue mohon lo harus bertahan. Gue nggak mau kehilangan lo".


Dia tau mungkin ini kedengaran seperti omong kosong setelah apa yang dia lakukan. Tapi kali ini Vano cuma mengikuti hatinya yang tiba-tiba seperti terhimpit saat melihat Okta sakit.


Vano ikut masuk ke dalam mobil ambulans yang menuju rumah sakit. Meninggalkan Kiara sendirian di pinggir jalan. Perempuan itu masih terpaku di tempat dengan pikiran yang tiba-tiba blank.


"Aku harap kamu baik-baik aja, Ta".


...****************...


**Hollaa, kangen VanTa ga?


Kangen othor?


Hehee, selamat merayakan hari raya idul fitri semuaa. Minal aidzin walfaidzinđź’•**