
Hilang
Jam-jam terasa sangat lama berjalan saat mata Vano menangkap sosok perempuan yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Malam sudah menjelang kala itu, tapi sampai saat ini Vano masih belum memiliki niatan untuk pulang bahkan untuk ganti baju.
Suara dari elektrokardiogram mengisi kesunyian ruangan saat ini. Ditemani dengan bau-bau obat khas rumah sakit yang selalu berhasil membuat mual. Ini adalah kali pertama Vano berani menjenguk Okta secara langsung. Tangan Vano bergerak, mengelus rambut Okta dengan hati-hati sambil tersenyum simpul. Sampai akhirnya cowok itu melayangkan kecupan ringan di dahi perempuan yang masih menjadi istrinya itu. Cukup lama Vano menempelkan bibirnya disana dengan mata terpejam, merasakan jantungnya berdetak kencang di bawah sana. Detakan yang membuat dia yakin kalau sekarang, hatinya juga memihak pada orang yang sama.
"Maaf buat semuanya, Ta. Gue emang bukan orang yang baik buat lo, gue minta maaf" tangan Vano menggenggam tangan Okta erat-erat, suaranya terdengar sangat putus asa dan penuh penyesalan.
"Gue sayang sama lo, lo harus baik-baik aja. Lo harus bangun, supaya gue bisa buktiin ke lo kalo sekarang lo adalah yang utama" katanya dengan penuh kesungguhan.
"Semoga lo nggak benci gue".
****************
Vano keluar dari ruangan Okta setelah satu jam lamanya. Hal pertama yang dia lihat adalah kedua orangtua Okta yang sedang menatap kearahnya dari kursi tunggu. Dia menyapa dengan menganggukkan kepala.
"Kamu bisa pulang sekarang, Okta biar kami yang jaga disini" ucap Fandi dengan lugas.
"Tapi, Yah. Vano juga mau jaga Okta, saya gapapa kok" tolak Vano.
"Nggak perlu, kamu pulang aja. Kan sudah ada saya sama Ayahnya Okta, lagian kalau terlalu banyak yang jaga, kasian Okta nanti nggak bisa tenang. Lebih baik kamu pulang, kamu pasti sibuk banget kan dan pasti masih banyak urusan kamu yang lebih penting dari ini".
Sebuah sindiran keras dari Hana akhirnya membuat Vano bungkam. Dia sadar betul kesalahannya dan rasanya sangat pantas saat orang-orang kecewa dengannya. Merasa sudah sangat tidak dibutuhkan, Vano akhirnya pamit undur diri. Dia menyalami mereka berdua kemudian memilih menepi.
Tapi Vano tidak benar-benar pergi. Cowok itu berhenti di lobby rumah sakit dan duduk di kursi tunggu yang ada di sana. Dia menghela nafas panjang. Meskipun tidak seruangan, setidaknya dia masih berada satu atap dengan Okta. Dengan begitu dia bisa standby barangkali mertuanya itu butuh bantuan.
Sudah pukul dua dini hari saat Vano baru akan memejamkan mata. Tapi tiba-tiba suara suster berseru mengagetkan dirinya.
"Dok, pasien di kamar ICU nomor 52 sudah sadar" kata suster itu kepada seorang dokter yang kelihatannya sedang lembur hari ini. Mereka kemudian pergi menuju kamar yang dimaksud. Dan Vano yakin betul kalau pendengaran dan memorinya tidak mungkin salah, itu adalah kamar milik Okta.
Tanpa babibu lagi, dia bergegas menyusul dua orang itu. Dan benar dugaannya, Okta sudah bangun. Diam-diam senyum Vano mengembang lebar, dia mempercepat langkahnya menuju pintu kaca dengan tulisan ICU itu.
"Kamu masih disini, Van?" tanya Fandi dengan kaget.
Vano tersenyum kikuk, tangannya bergerak menggaruk tengkuknya tang tidak gatal. "Iya, Yah. Vano masih pengen jagain Okta".
Laki-laki paruh baya itu akhirnya membiarkan Vano untuk tetap disana. Mereka sama-sama menunggu dokter keluar dari ruangan. Cukup lama mereka menunggu, sampai akhirnya laki-laki dengan pakaian putih khasnya itu membuka pintu dan keluar dari ruang rawat pasien.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Fandi mendahului.
"Nona Okta sudah sadar dan sudah bisa dijenguk, tapi besok saja ya supaya pasien bisa istirahat dulu. Sampai saat ini belum ada gejala serius tentang efek kecelakaan, tapi kami akan terus melakukan pemantauan".
Penjelasan dari dokter itu cukup membuat semua orang yang ada disana tenang. Setidaknya mereka bisa sedikit lega sekarang. Setelah dokter itu pergi, Vano langsung menghadap kepada kedua orangtua Okta. Dia menunduk sedikit, sebelum akhirnya mulai bersuara.
"Yah, Bun, Vano mohon tolong izinin Vano disini ya. Saya janji saya nggak akan buat masalah, saya juga pengen tetep disini. Saya pengen buktikan kalau saya mau berubah" katanya dengan sungguh-sungguh.
Fandi dan Hana sama-sama melempar tatapan. Fandi menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk setuju.
***********
Hari itu Vano ingat betul, saat jam 9 pagi dia masuk ke ruangan ICU untuk melihat keadaan Okta. Dia yang pertama masuk, ya akhirnya kedua orang tua perempuan itu memberinya kesempatan. Okta yang saat itu dalam kondisi sadar, sontak langsung mengalihkan pandangannya saat melihat Vano masuk. Tapi Vano tetaplah Vano, dia tidak akan secepat itu goyah.
Cowok itu duduk di kursi samping ranjang. Tatapannya menyorot kearah Okta yang sedang memalingkan wajah. Vano menarik nafas panjang sebelum akhirnya mulai bicara.
"Keadaan lo gimana, masih ada yang sakit?" tanyanya dengan halus. Tapi Okta enggan menjawab. Perempuan itu lebih memilih melihat gorden padahal disana tidak ada pemandangan yang menarik.
"Ta..." panggil Vano lagi, tapi. Okta masih diam.
"Maaf", dan akhirnya satu tetes air mata perempuan itu lolos.
"Ta, lo boleh maki-maki gue sesuka lo, lo boleh teriakin gue sampe lo puas, lo boleh kecewa sama gue. Tapi please, gue mohon, jangann pergi dari hidup gue"
Baru kali ini, baru kali ini seorang Geovano memohon kepada seseorang, baru kali ini Vano merasa sangat takut kehilangan.
"Gue sayang sama lo, Ta"
Ucapan itu membuat Okta memejamkan matanya hingga air mata yang tadi menggenang kini sempurna menetes. Dia lalu menoleh, menatap Vano dengan tatapan penuh luka.
"Udah?" dia bertanya dengan sarkas. "Udah semua omong kosong yang lo ucapin?" suara Okta bergetar.
"Kalo udah selesai, lo boleh keluar!" serunya lagi.
"Gue nggak mau pergi, gue nggak mau ninggalin lo—
"LO BAHKAN UDAH NINGGALIN GUE DARI LAMA, VAN!!" perempuan itu membentak dengan segala rasa sakit yang dia pendam selama ini.
Vano menunduk, mencengkram tangannya sendiri dengan penuh amarah.
"Kemana aja lo selama ini, pernah lo ada buat gue, buat anak GUE?. NGGAK!. Lo nggak pernah ada, lo nggak pernah peduli sama anak itu bahkan sampai anak itu mati!!" dan akhirnya Okta benar-benar kacau.
Suara tangis Okta adalah suara paling menyayat bagi hidup Vano. Segala macam emosi berkecamuk di hatinya tapi dia tahan dan memilih mendengarkan perempuan itu sampai selesai.
"Lo nggak ada, lo pergi sama Kiara, lo nggak pernah nganggep gue ada. Lo bahkan nggak tau gimana sakitnya gue waktu liat lo sama dia di Bioskop, lo nggak tau gimana mukanya gue denger semua omong kosong lo di depan wartawan tapi nyatanya lo nggak lebih dari seorang pecundang!!"
Nafas Okta tersenggal-senggal karena tangisannya. Vano membalas tatapan perempuan itu, tatapan dengan penuh rasa bersalah. Tidak pernah terlintas di pikiran Vano kalau Okta akan sesakit ini.
"Maaf—
"Gue nggak butuh maaf lo" potong Okta dengan cepat. "Maaf lo udah nggak ada gunanya, Van" .
"Tapi gue akan terus minta maaf sampai lo maafin gue" sahut cowok itu dengan sungguh-sungguh. "Gue akan terus usaha sampai gue bisa dapetin maaf lo. Gue sayang sama lo, Ta. Gue nggak mau lo pergi".
Okta memalingkan wajah, "Gue bahkan nggak tau, mana omongan lo yang bisa gue percaya".
"Gue bisa buktiin—
"Nggak perlu!!" Okta menggeleng keras. "Gue udah nggak butuh lagi itu semua" rengeknya lagi.
"Udah cukup semuanya, Van"
"Nggak!!" kini giliran Vano yang menolak. "Semua belum cukup, gue belum buat lo bahagia, gue belum jadi orang yang terbaik buat lo".
"Emang kayaknya kita nggak cocok untuk jadi pasangan" kata Okta sambil tersenyum getir.
"Gue udah milih lo, Ta. Dan gue nggak akan biarin lo pergi dari hidup gue".
"Gue mau sendiri, gue mohon lo keluar sekarang" tapi sekeras apapun Vano memohon, Okta sepertinya sudah tidak peduli.
"Gue sayang lo, Ta. Lo harus inget itu!".
"Pergi, Van. Gue nggak mau liat muka lo!!" seru Okta dengan tangisannya.
Akhirnya Vano pilih mengalah. Dia berjalan lunglai kearah pintu keluar. Tapi sebelum sempat keluar, cowok itu kembali balik badan.
"Gue pergi buat balik lagi ke lo, Ta. Dan gue akan kasih tau ke lo, sebesar apa perasaan gue kalau udah jatuh cinta ke seseorang".