Beloved Idol

Beloved Idol
Jablay-jablay, deh!



Hampir dini hari, Vano menggendong Okta keluar dari gang untuk mencari kendaraan. Setidaknya dia cuma berharap semoga masih ada orang di jam-jam kunti seperti ini.


Dengan membawa Okta digendongannya, Vano berjalan ke area jalanan, tapi keadaan sudah sepi. Hanya lampu-lampu jalan yang masih menyala. Tidak ada orang, tidak ada kendaraan. Vano menghela napas panjang, dia melirik Okta yang berada digendongannya, kemudian memilih untuk istirahat sebentar di sebuah pos kampling yang terlihat oleh mata.


Vano merebahkan Okta di sana dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. "Ta, bangun" katanya, tapi masih tidak ada respon.


Dia lalu merogoh saku untuk melihat ponselnya, tapi ternyata benda itu juga lowbat. Vano kembali berdecak, ini sih definisi apes beserta sialnya sekalian.


"Ta, Okta!!" Vano menepuk pipi Okta beberapa kali, sambil sesekali mengusap rambutnya. Udara malam semakin dingin. Vano berinisiatif membuka kemeja yang dia pakai, menyisakan kaos oblong bewarna hitam. Dia memasangkan ke badan Okta untuk menghalau dingin, perempuan itu tidak boleh sakit.


"Please, jangan buat gue khawatir" kata Vano lagi.


Tangannya masih terus mengusap rambut Okta, sambil sesekali dia menengok kesana kemari barang kali ada kendaraan yang lewat. Sampai sekitar 20 menit berlalu, Vano merasakan pergerakan kepala Okta di pahanya.


"Ta..." Vano menunduk sembari memegang pipi Okta, "Lo udah bangun?"


Perempuan itu menggeliat pelan, matanya yang sayu terbuka sedikit demi sedikit. Okta mendesis kecil saat merasakan kepalanya pusing.


"Apa yang sakit hmm? Bilang sama gue" Vano nampak sangat khawatir. Muka Okta benar-benar pucat sekarang, dia butuh istirahat tapi di sana tidak ada kendaraan sama sekali.


"Pusing.." keluh Okta seraya menutup dahinya sendiri.


"Lo sakit? Kalo sakit kenapa kelayapan sih?!" Vano berdecak kesal. Padahal mereka baru saja bertemu setelah sekian lama, tapi dia sudah disuruh menghadapi sifat Okta yang keras kepala seperti ini.


"Ck, gue lagi pusing. Lo jangan ngomel-ngomel dulu kenapa, sih!!" perempuan itu ikut emosi. Vano diam-diam menghela nafas, mencoba sabar. Dia sendiri yang nggak bisa jaga diri, giliran diomelin nggak terima.


Dasar women


"Lo salah makan?"


"Gue tadi makan kerang"


"Lo alergi kerang?"


Okta mengangguk, dan hal itu membuat Vano sangat ingin menciumnya karena gemas sekaligus kesal.


"Udah tau alergi kenapa masih lo makannn?!" tanyanya dengan agak judes.


"Suka-suka gue lah, bukan urusan lo!!"


Tuhkan, dibaikin malah enggak ada manis-manisnya.


"Badan gue mulai gatel, Van" Okta merengek seperti anak kecil, jiwa manjanya sedang keluar sekarang. Dari dulu dia memang selalu lebay saat sakit, jadi Vano tidak heran lagi.


"Terus gue harus gimana, gak ada kendaraan, apotek sekarang juga udah pasti tutup"


Vano ikut panik saat melihat wajah Okta memerah. Kulit perempuan itu yang putih bersih jadi membuat ruam itu kentara di badannya.


"Tempat tinggal lo dimana?"


"Gue nginep di hotel" sahut Okta dengan lemah.


"Jauh?"


"Nggak tau gue, 2 kiloan mungkin"


Selanjutnya Vano mengangkat kepala okta sedikit, "Lo duduk bentar"


Sambil membantu Okta duduk, Vano lalu beralih jongkok di depan perempuan itu. "Naik!" perintahnya.


Okta sudah tidak ada niatan untuk protes. Dia naik ke punggung Vano seraya mengalungkan lengannya di leher cowok itu. Dagunya dia tempelkan ke bahu, membuat pipinya menempel dengan leher Vano yang berkeringat.


"Jangan tidur, gue gendong lo sampe hotel" Vano menggendong Okta dengan susah payah. Berjalan pelan menyusuri jalan sesuai arahan perempuan itu.


Okta rasanya pengen mewek lagi. Masak diginiin doang dia baper, lemah. Padahal dia sudah bertekad untuk ngambek selamanya.


"Thanks" ucapnya pelan.


Vano diam-diam tersenyum tipis, kemudian terus berjalan meskipun kakinya sudah mulai kebas.


*************


"Nggak mau ganti baju dulu?" tanyanya saat perempuan itu sudah mau tidur. Dia menggeleng pelan.


"Nggak cuci muka? Make up lo masih ada loh di muka"


"Biarin aja" sahut Okta dengan malas.


"Obat alergi lo dimana? Biar gue ambilin"


Okta menghela nafas panjang, dia pengen tidur, tapi malah diajak ngobrol terus.


"Di laci meja rias, sebelah kiri nomer dua"


Vano dengan sigap mengambil obat itu, sekalian membawa segelas air putih dan sebaskom air untuk mengompres Okta. Dia lalu kembali dengan membawa berbagai perintilan di tangannya dan menaruh semua itu di nakas samping ranjang.


"Bangun bentar, Ta" suruhnya dengan halus. Okta yang semula sudah merem, jadi melek lagi. Dibantu oleh Vano, perempuan itu duduk untuk minum obat alergi yang untungnya dia stok di sini. Vano lalu menyodorkan segelas air, Okta meminumnya sampai sisa setengah.


Okta kembali rebahan setelah selesai minum obat, menunggu obat itu bereaksi. "Gue bersihin muka lo pake ini ya, nggak bagus bekas make up dipake buat tidur".


Okta cuma diam saat Vano mengelap mukanya menggunakan lap basah yang dia bawa dari kamar mandi. Cowok itu melakukan dengan halus dan hati-hati, takut Okta kesakitan. Perempuan itu terus mengamati Vano saat Vano dengan telaten membersihkan sisa make-up nya bahkan sampai leher.


"Makasih lo udah bantuin gue" kata Okta dengan lirih.


Vano meletakkan lap itu ke baskom, kemudian menatap Okta dengan senyum teduh miliknya. "Makasih juga, karena udah nggak lari dari gue".


Okta tidak menyahut dan Vano mengerti akan situasi. Dia berdiri, menarik selimut sampai sebatas dada perempuan itu. "Lo pasti capekkan? Tidur gih" katanya seraya mengelus puncak kepala Okta.


Okta yang saat itu merasa canggung, akhirnya pilih merem duluan. Masa bodo Vano mau pergi atau tidak. Untuk saat ini dia cuma tidak mau diajak bicara ngalor ngidul dulu. Dia mengambil posisi tidur membelakangi Vano yang saat itu sedang duduk di tepi ranjang.


*************


Pukul delapan pagi Okta baru bangun, itupun karena silau cahaya matahari yang menembus gorden kamarnya. Dia menggeliat saat merasakan ada benda berat yang menindih perut. Perempuan itu menoleh, dan detik berikutnya badannya langsung kaku saat melihat Vano tidur di sebelahnya, dengan tangan yang memeluk pinggangnya erat serta sebelah tangannya lagi yang berada di bawah kepala Okta sebagai bantalan.


Okta jadi keki sendiri. Ya memang sih, di kamar ini tidak ada sofa panjang, cuma ada satu sofa single di sudut kamar. Tapi dia pikir semalam Vano akan langsung pulang, bukan malah numpang tidur di kasur orang tanpa bilang-bilang.


Okta kembali terlentang sambil berpikir dia harus gimana. Kerongkongan terasa kering saat menyadari kalau Vano ternyata telanjang dada. Ini sih bugill abis, mana dia sendiri cuma pakai crop top yang tali lengannya tidak lebih dari dua senti. Siapapun yang melihat pasti mengira kalau mereka habis iya-iya.


Jantung Okta nyaris lepas saat merasakan pergerakan Vano. Merasa kalau cowok itu akan bangun, Okta memilih kembali merem. Lebih baik Vano yang bangun duluan daripada dia kan? Setidaknya dia tidak perlu repot-repot memikirkan hal apa yang harus dia ucapkan pada cowok itu.


Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk rileks, jangan sampai aktingnya ketahuan. Kasur di sebelahnya bergerak-gerak. Vano bangun, matanya melirik Okta kemudian tangannya bergerak menyentuh dahi perempuan itu.


Okta setengah hidup berusaha supaya detak jantungnya tidak gila-gilaan di dalam sana. Dari jarak sedekat ini, dia bisa merasakan deru nafas Vano di wajahnya. Cowok itu menghela nafas panjang seraya melepas tangannya dari dahi Okta dan beralih memeluk pinggang perempuan itu lagi, kembali tidur.


"Mati lo, Ta!!" seru Okta dalam hati.


Ini sih dia ngerasa dimodusin banget, apaan pake acara dikelonin segala. Padahal kalau Vano mau, dia bisa aja langsung pulang semalam. Bukannya malah ikut-ikutan tidur disini. Sekarang malah dia yang kelimpungan, malu lah kalau ketahuan akting. Mau ngomong apa dia kalau sudah bangun terus Vano juga bangun.


Akhirnya Okta memilih pura-pura pindah posisi, tidur miring menghadap Vano. Wajahnya berhadapan langsung dengan dada bidang cowok itu. Membuat pipinya tiba-tiba memanas. Okta yang masih dengan akting pura-pura tidurnya malah mendusel di dada Vano, jablay-jablay deh sekalian. Dan gilanya, tangan kanan Vano malah berpindah,mengelus kepala Okta dengan mata yang masih tertutup.


Okta sekuat tenaga menahan diri supaya tidak teriak. Bisa malu seumur hidup dia kalau ketahuan akting, padahal Vano yang modus duluan.


"Ini nggak gratis ya, Van. Gue belum maafin lo kalo lo lupa" katanya dalam hati sambil kembali mencoba tidur..


...****************...


Vano



Oktaaaa



...Yukk Like, coment dan vote ya guyssss❤❤...