Beloved Idol

Beloved Idol
Kita dan Rasa yang Hampir Hilang



Suara brangkar yang didorong serta langkah tergesa-gesa terdengar mengisi kesunyian di rumah sakit sore itu. Tim medis mendorong brangkar menuju ruang UGD secepat mungkin diikuti oleh Vano yang ikut menjajarkan diri di samping mereka.


"Pak maaf, anda tidak boleh masuk" seorang perawat wanita menghalangi Vano saat cowok itu hendak ikut masuk ke dalam ruang UGD. Vano mengusap rambutnya kasar saat pintu ruangan itu ditutup, pertanda kalau tim medis sudah mulai mengambil tindakan.


Vano dengan penampilannya yang mulai acak-acakan, memilih duduk di kursi tunggu yang terletak di depan ruang UGD. Cowok itu menelungkupkan kepalanya ke lutut dengan rahang yang mengeras hebat. Jantungnya masih berdetak kencang sejak tadi, pikirannya benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Yang dia pikirkan saat ini hanya Okta, Okta, dan Okta. Dia akan menyesal seumur hidup kalau sampai perempuan itu kenapa-napa.


"Van.... " suara panggilan dari seorang perempuan yang sudah sangat familiar di telinganya berhasil membuat Vano mendongak. Nampak Kiara berdiri di depannya dengan kondisi yang juga acak-acakan, sepertinya perempuan itu juga habis menangis.


Vano spontan berdiri, menghadap ke arah Kiara yang sedang menatapnya penuh luka.


"Kia maaf, tadi aku ninggalin kamu" ucapnya dengan nada rendah.


Kiara nampak menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab, "Okta gimana? ".


Vano menggeleng ringan, " Belum tau, dokter belum keluar dari tadi".


Kiara dapat mendengar nada frustasi dari kalimat cowok itu. Bertahun-tahun mengenal Vano, dia tahu betul sosok seperti Vano adalah orang yang tidak gampang putus asa, tidak gampang pesimis, bukan tipikal orang yang lemah. Tapi sekarang, cowok itu terlihat sangat berantakan hanya karena Okta.


Hal itu membuat Kiara tahu, semuanya sudah berubah.


"Van, udah nggak ada aku ya? " tangan Kiara bergerak menyentuh dada Vano. "Disini, aku udah hilang?".


Vano tidak bisa menjawab. Dia hanya diam dengan tatapan yang menjurus kearah mata teduh perempuan di depannya.


" Van, kita udah lama sama-sama" Kiara mulai menangis, "Aku sayang sama kamu, sangat".


" Dan aku tau kamu juga sayang sama aku, aku tau kamu cinta sama aku, aku tau kita pasti bisa sama-sama", nafas perempuan itu tersenggal. "Tapi itu dulu, bukan sekarang".


Vano menelan ludahnya kasar, cowok itu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sebagai pelampiasan. Kiara makin menangis setelah semakin menyadari perubahan ini. Dulu, waktu dia menangis begini Vano akan dengan sigap menariknya untuk masuk ke dalam pelukan cowok itu. Menawarkan bahu untuknya bersandar. Tapi sekarang semua berubah.


" Van, setelah kejadian tadi akhirnya aku tau, kita udah nggak sama. Kita udah nggak mungkin karena di antara kita udah nggak ada cinta yang utuh. Cuma aku, kamu enggak" perempuan itu tersedak tangisnya sendiri.


"Kamu laki-laki baik, sangat baik. Aku sayang sama kamu sampai kapanpun, tapi aku nggak mungkin terus maju kalau kamu udah milih jalan lain" Kiara menarik nafas panjang.


"Terimakasih untuk semuanya, Van. Aku seneng bisa jadi bagian dari hidup kamu, jangan lupa bahagia ya?. Aku mundur".


Ya, akhirnya Kiara memilih menepi. Membiarkan Vano menemukan bahagianya meskipun bersama orang lain.


Perempuan itu hendak balik badan sebelum tubuhnya ditarik Vano untuk dipeluk. "Sebentar aja, Ra. Untuk terakhir kalinya".


" Sorry and thanks" ucap Vano di sela-sela pelukannya. "Kamu akan selalu jadi orang yang penting buat aku, Ra. Meski kita udah beda".


Kiara melepas pelukannya. Dia tersenyum manis seolah kehancuran hatinya bukan apa-apa. " Friend? " katanya sambil menyodorkan jari kelingking.


Vano ikut tersenyum simpul, dia mengaitkan kelingkingnya pada jari perempuan itu. "Friend".


...****************...


Setelah Kiara pergi, Vano kembali duduk termenung di depan ruang UGD. Cowok itu berkali-kali melihat kearah pintu ruangan yang sudah 2 jam lamanya tertutup. Belum ada tanda-tanda dokter akan keluar.


10 menit


20 menit


30 menit


Pintu kaca itu akhirnya terbuka, menampakkan seorang dokter laki-laki dengan pakaian khasnya. Vano kontan bangkit berdiri, siap mencecar laki-laki itu dengan pertanyaan.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Vano dengan cepat.


Dokter laki-laki itu menarik nafas panjang seraya membetulkan kacamatanya yang miring. "Luka di kepalanya cukup serius, sempat ada gumpalan darah di bagian otak tapi untungnya sudah berhasil diatasi lewat operasi. Ada beberapa bagian tulang yang patah, mungkin setelah sadar nanti Nona Okta harus memakai gips"


Penjelasan panjang dari dokter itu membuat Vano mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. "Bagaimana dengan keadaan anak kami, dok?".


Dokter laki-laki itu menepuk bahu Vano dengan tatapan prihatin, " Maaf, Pak. Janin di kandungan Nona Okta tidak bisa kami selamatkan. Akibat dari benturan saat tabrakan tadi, janin itu tidak bisa bertahan ".


Mendengar itu Vano benar-benar kalap. Dia mundur selangkah dengan tangan yang mengepal erat. Vano menjambak rambutnya sendiri dan untuk pertama kalinya, dia menangis.


" Goblokk lo Van!!! " maki Vano pada dirinya sendiri. "Ini semua gara-gara lo!! "


Cowok itu menangis keras, dia memukul tembok berulang kali dengan emosi.


"Stupid, tololll banget lo VANOOOO!!". Dia berseru keras, mengabaikan tatapan aneh orang-orang.


" Gagal, gue udah gagal" tubuhnya merosot ke lantai. Vano menelungkupkan kepalanya ke lipatan lutut.


"Maaf, maafin gue Ta. Maafin Dady, baby"