
Kondisi Bioskop saat itu sangat ramai, hampir semua kursi terisi penuh oleh pengunjung. Okta dan Dave duduk di baris nomor 4 dari depan. Mereka duduk berdampingan, sembari menunggu jam tayang film tiba.
Dave menoleh ke samping kirinya. Sejak dari tempat tiket tadi, Okta jadi banyak diam. Wajahnya berubah kusut padahal tadi dia cengar-cengir karena tidak sabar nonton film.
"Ta..." panggilnya, dan Okta menoleh segera. Dapat Dave lihat kalau mata perempuan itu memerah. "Lo kenapa?"
Tapi saat ditanya, cuma gelengan kecil yang dia berikan. Dave memilih tidak bertanya lagi, karena baginya ada masalah yang bisa dengan gampang diceritakan pada orang lain dan ada juga yang tidak. Mungkin kasus Okta ini ada di opsi yang kedua.
Para pengunjung mulai berdatangan dan mengisi tempatnya masing-masing. Sampai akhirnya sosok Vano dan Kiara datang dan duduk di kursi yang berjarak satu baris di depan dari tempat Okta duduk. Dia berdecak berulang kali.
Suasana kemudian berubah hening saat lampu ruangan dimatikan dan hanya menyisakan lampu layar sebagai titik sorot. Film mulai diputar, film bergenre romance-comedy itu berdurasi satu jam tiga puluh menit. Waktu yang cukup lama untuk Okta menahan kesabarannya.
"Van leher aku pegel"
Samar-samar Okta dapat mendengar keluhan itu keluar dari mulut Kiara. Rasanya dia kepengen menyumpal mulut ganjen itu menggunakan kaos kaki Milo yang belum dicuci sebulan.
Vano yang mendengar Kiara mengeluh, sontak mengulurkan tangannya untuk memijit pelan leher belakang perempuan itu. Sebelum akhirnya dia mengarahkan kepala Kiara untuk bersandar di bahunya.
Kini fokus Okta sudah benar-benar tidak pada film lagi, pandangannya menjurus tajam ke arah punggung dua orang itu. Bohong kalau dia tidak marah, bohong kalau dia tidak sakit hati. Apalagi saat dia melihat drama Vano yang sok-sokan romantis menyuapi Kiara popcorn, diam-diam Okta mengepalkan kedua tangannya erat.
"Ta, lo nangis?" pertanyaan dari Dave kontan mengalihkan perhatiannya. Okta memegang pipinya sendiri yang basah, entah sejak kapan dia menangis. Dia bahkan tidak sadar.
"Hahaa, iya nih. Feel filmnya dapet banget" sahut Okta sambil tersenyum hambar. Dia menunduk tanpa mau menatap Dave.
"Emang filmnya sesedih itu ya, sampek lo nangis gini?. Tau gitu kita nonton film lain aja" ada nada penyesalan yang cowok itu ucapkan. Sebelum akhirnya dia menyodorkan tissue kepada Okta.
"Thanks"
Okta lalu kembali menonton, mencoba fokus dengan alur film meski sekarang pikirannya sedang kemana-mana. Tentang Vano, Kiara, dan mereka. Okta menarik nafas dalam-dalam untuk memasok udara di paru-parunya yang terasa terhimpit.
Waktu satu setengah jam ternyata berjalan lebih lama dari yang dia kira. Entah karena waktunya, atau memang dasarnya dia nggak betah makanya serasa lama. Saat film selesai, sosok Vano dan Kiara sudah tidak ada. Sepertinya mereka sudah keluar duluan. Okta segera memacu langkah keluar juga bersama Dave.
Saat mereka sudah keluar area bioskop, Dave pamit ke toilet sebentar dan Okta akhirnya memilih menunggu di dekat sebuah Cafetaria. Dari sana, dia dapat melihat Vano berdiri di dekat pintu toilet perempuan. Sepertinya dia menunggu Kiara, terbukti dari tas perempuan itu yang dia bawakan. Okta terdiam melihat ke arah sana, memikirkan rencana apa yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan harga dirinya.
Selang beberapa menit, Kiara keluar dari toilet dan langsung tersenyum menghampiri Vano. "Maaf ya kamu nunggu lama" ucap perempuan itu dengan suara lembutnya. Vano membalas dengan senyum teduh.
"Kalo buat nungguin kamu, seratus tahun juga aku jabanin Ki" sahut Vano disertai kekehan kecil yang membuat matanya ikut menyipit. Kiara tertawa lucu, wajah cantiknya terlihat semakin berseri saat dia tertawa. Memang, di wajah perempuan yang berprofesi sebagai model itu nggak ada minusnya.
Tanpa diduga, Okta memacu langkahnya ke arah mereka dengan langkah anggun dan senyum lebar yang tersemat di bibir.
"Sayang, kamu disini juga?" perempuan itu menyapa Vano dengan nada manja yang selama ini belum pernah dia tunjukkan. Vano dan Kiara nampak kaget. Apalagi saat Okta tiba-tiba mengapit lengan Vano erat, membuat gandengan tangan antara dia dan Kiara terlepas.
"Ta..?!" Vano heran bukan main, jelas. Bagaimana bisa dia terjebak di situasi seperti ini. Matanya kemudian melirik ke arah Kiara yang tiba-tiba jadi diam dengan pandangan yang dialihkan ke arah lain.
Okta semakin melanjutkan aksi gilanya. Tanpa aba-aba, dia mencium pipi kanan Vano tepat di depan Kiara. Cowok itu kontan menatap kaget ke arahnya sedangkan Kiara hanya diam.
"Kangen tauuu" ucap Okta sok imut.
Vano menelan ludah susah payah, rasa ciuman Okta masih membekas di pipinya. "Lo sama siapa disini?" tanya cowok itu dengan nada rendah.
"Sama temen, tapi dia masih di toilet" sahut Okta dengan cepat. Dia kemudian melihat ke arah Kiara dengan tatapan dibuat sok penasaran padahal dia sudah pernah melihat perempuan itu sebelumnya. "Ini siapa, temen kamu?"
Mendengar dirinya yang dijadikan objek, Kiara sontak mengarahkan pandangannya kearah Vano. Menunggu jawaban cowok itu. Dia mengakuinya atau tidak.
"I-itu Kiara, mantan gue"
Kiara diam-diam memendam rasa kecewa, ternyata Vano cuma mengakuinya sebagai mantan. Hal itu sudah cukup membuktikan kalau kini Vano juga memikirkan Okta.
"Hallo, gue Okta. ISTRINYA Vano"
Kalimat penuh penekanan dan tatapan mengajak perang itu, tidak menjadi penghalang untuk Kiara mengeluarkan senyum manisnya. Dia membalas jabatan tangan perempuan itu sambil menyebut namanya. "Hai, gue Kiara. Seneng bisa ketemu sama lo"
Okta melepas jabatan tangan mereka. Dengan tersenyum manis, dia kembali mengapit lengan Vano mesra sembari menyandarkan kepalanya dia bahu cowok itu.
"Van, tadi perut aku sakit tau. Kayak kram gitu" keluhnya dengan nada sendu dibuat-buat.
Vano kontan menoleh dengan wajah cemas. Dia mengelus perut Okta yang masih datar, sedangkan tangan yang satunya lagi merangkul bahu perempuan itu. "Kok bisa, sekarang masih sakit?. Kalo masih kita ke dokter aja ya".
Okta diam-diam tersenyum penuh kemenangan. Dia kembali meneruskan dramanya dengan menggeleng kecil, "Udah nggak sakit, sih. Mau pulang aja. Gimana kalo kita pulang sekarang" ajaknya.
Sekarang Vano yang bingung. Dia tidak mungkin meninggalkan Kiara sendiri disini, tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Okta pulang sendirian.
"Tapi kita nganter Kiara pulang dulu ya, di luar hujan. Kasian kalo dia pulang sendiri" cowok itu mencoba memberi pengertian, tapi jika dilihat dari mukanya, kayaknya Okta tidak setuju.
"Kenapa harus nganter dulu sih, ini aku udah capek banget loh. Lagian di sini juga rame, dia kan bisa pulang sama taksi atau minta jemput siapa gitu" tolak Okta dengan kesal.
Di tengah perdebatan mereka, Dave tiba-tiba datang setelah selesai buang hajat di toilet. Cowok itu mencari-cari Okta dan menemukannya sedang bicara dengan dua orang yang salah satunya dia ketahui adalah suami dari perempuan itu.
"Ta, gue cari-cari juga ternyata disini"
Kedatangan Dave menimbulkan tatapan sinis dari Vano, dan Kiara menyadari itu. Sudah enam tahun lebih mereka bersama, hampir semua ekspresi dan perubahan yang cowok itu lakukan dia sudah hafal di luar kepala.
"Sekarang kamu pilih deh, pulang sama aku dan biarin Kiara pulang sendiri, atau kamu nganter Kiara aja biar aku pulang sama Dave"
Oke, kali ini Okta merasa kalau permainannya sangat konyol dan beresiko. Karena kalau sampai Vano memilih opsi kedua, harga diri dan mukanya yang jadi taruhan disini. Dia bisa malu dan kecewa seumur hidup.
Dave cuma plonga-plongo saat dia harus terjebak di situasi yang tidak dia mengerti. Sedangkan Vano, cowok itu mengusap rambutnya dengan kasar. Dua pilihan itu rasanya sama-sama tidak ada yang menguntungkan. Meninggalkan Kiara disini saat di luar hujan lebat jelas bukan pilihan yang baik, tapi membiarkan Okta yang sedang hamil anaknya pulang bersama cowol lain adalah pilihan yang lebih tidak baik lagi.
"Ta, please ya kali ini aja nurut sama gue" Vano memegang kedua bahu perempuan itu dengan tatapan teduhnya. "Kita pulang sama-sama ya, kita nganter Kiara dulu. Habis itu terserah deh lo mau jadiin gue babu lo juga gapapa" bujukan Vano yang kelewat lembut membuat Okta terpaksa menurunkan ego-nya. Dia mengangguk paksa beberapa kali, membuat Vano akhirnya bisa bernafas lega. Tangannya kemudian bergerak, mengusap rambut perempuan itu dengan gemas.
Diam-diam Kiara merasa kalau antara dia dan Vano sudah tidak sedekat dulu. Memang benar kali ini cowok itu tidak memilih opsi pertama, tapi dia juga tidak memilih opsi kedua. Yang menandakan kalau sedikit demi sedikit Okta ternyata sudah berhasil mengambil alih perhatian Vano.
Dia tau kalau pilihan tadi itu adalah jebakan untuk mengetahui bagaimana perasaan Vano kepadanya. Tapi ternyata Vano tidak memilihnya, dan juga tidak memihak Okta. Tapi dia peduli dan tidak mau kalau perempuan itu dalam bahaya. Kali ini perlu Kiara akui kalau Okta memang saingan yang patut untuk diperhitungkan.
...****************...
**Ada yang mau disampaikan buat mereka?
Okta?
Vano ?
Kiara?
Dave?
Milo?
Othor cantik?
......Jan lupa like, komen, dan vote yawwwww. maaciiiđź’–**......