Beloved Idol

Beloved Idol
Kita dan Rasa yang Pernah Ada



"Lo dimana sekarang anjir?. Lo lupa sekarang kita waktunya pemotretan?" siraman rohani dari Chiko sudah terdengar saat pagi-pagi Vano baru membuka ponsel. Cowok itu menguap kecil saat matanya baru terbuka tapi sudah harus mendengar ceramahan panjang lebar begini.


"Gue masih di rumah sakit" sahutnya dengan ogah-ogahan.


Kondisi panggilan yang di losspeaker membuat Maxim dan Lucas juga bisa ikut mendengar jawaban Vano. Mereka bertiga kompak saling pandang sebelum akhirnya Maxim memilih bertanya.


"Lo ngapain di RS, sakit?"


Vano menghela nafas, tangannya meraup wajah dengan jengah. "Bukan gue, tapi Okta. Dia habis kecelakaan jadi gue harus nunggu di sini. Sorry, kayaknya gue nggak bisa dateng".


"Njirr, gila lo?!. Kita udah dikontrak bangsatt, ya nggak bisa asal nggak hadir gitu lah. Bisa profesional nggak sih lo?!" Lucas membentak tidak suka.. Suasana jadi panas, Chiko tampak memelototi cowok itu supaya dia bisa lebih mengontrol diri dan ucapan.


Tapi sepertinya kali ini Vano memang sedang dalam kondisi mood yang tidak baik. Seperti petasan dengan sumbu pendek, cukup diberi api sedikit saja, dia sudah meledak-ledak.


"Kalo situasinya nggak kayak gini, gue pasti dateng lah bangsatt. Lo bisa nggak sih, ngerti sikon dikit. Nggak usah bawa-bawa profesionalitas. Kayak lo yang paling profesional aja!!" balas Vano dengan sarkas.


"Tapi seenggaknya gue nggak kayak lo, egois!!. Udah bikin grub kena skandal, masih aja nggak ngotak!!"


"Kas,udah Kas!" tegur Chiko dengan marah.


"Tau nih, comber banget mulut lo!" tambah Maxim diiringi lirikan mautnya.


"Bodo, nih anak emang harus digituin biar otaknya bisa jalan!!" sahut Lucas dengan nada sarkas khasnya.


"Ngomong apa lo tadi?!" Vano membentak dari seberang telepon. Lucas merebut ponsel Chiko, yang punya HP cuma bisa berdecak-decak sambil menjambak rambut Maxim sebagai pelampiasan.


"Kurang jelas?, perlu diulang?" tanya Lucas dengan nada menantang.


"Jaga omongan bisa nggak sih lo?!"


"Ngapain gue harus jaga omongan kalo apa yang gue omongin itu kenyataan?!" balas Lucas dengan lantang. "Harusnya lo sadar diri, semua masalah yang nimpa grub kita itu bersumber dari lo!!".


"Udah anjirr, jangan bikin suasana grub jadi makin nggak enak deh!!" seru Maxim seraya merebut ponsel yang dipegang oleh Lucas.


"Tapi yang gue omongin itu emang bener kan?!. Kita kehilangan fans, kehilangan sebagian job juga gara-gara siapa?!. Gara-gara temen lo itu!!" namun Lucas sepertinya memang masih mau meluapkan semua kekesalan yang dia punya. Tidak peduli embel-embel teman lagi di antara mereka.


"Dia temen lo juga!!" ralat Chiko dengan geram.


"Dia bukan temen gue!!" Lucas berseru lantang kemudian memilih keluar dari ruangan untuk meredam emosinya sendiri. Maxim meraup wajahnya dengan kasar. Chiko mencengkram ponselnya sendiri. Merasa payah karena tidak becus mempertahankan grub yang sudah mereka bina bertahun-tahun.


"Omongan Lucas nggak usah lo masukin hati, Van. Lagi badmood aja itu anak" Maxim mencoba memberi pengertian meskipun dia tau itu tidak akan berguna.


"Yang diomongin Lucas emang bener, gue emang yang bawa masalah ke grub" Vano menyahut setelah sekian lama diam. Cowok itu kemudian kembali bicara, "Gue out dari The Boys" putusnya yang sontak membuat Chiko dan Maxim menegakkan punggung mereka.


"Gila lo, The Boys mau jadi apa kalo lo keluar juga?!" bentak Chiko dengan kesal. The Boys tidak akan bisa berjalan baik kalau grub itu sudah kehilangan vokalis utamanya. Vano adalah nyawa dalam grub itu.


"Van, ayolah. Masalah ini masih bisa diomongin baik-baik" Maxim berusaha membujuk, berharap Vano dapat merubah keputusannya.


Tapi sepertinya, kali ini otak Vano tidak bisa berpikir jernih saat semua masalah datang bertubi-tubi. Okta sudah berhasil menyita separuh akal sehatnya. Dia tidak mau masalah ini membuat akal sehatnya benar-benar hilang.


"Keputusan gue udah bulat" katanya. "Thanks buat tahun-tahun yang berarti sama The Boys, gue nggak akan lupa dan The Boys bakal selalu ada di hati gue. Sukses terus buat kalian".


Dan panggilan berakhir sampai disana. Maxim menendang kardus di depannya sebagai pelampiasan. "Siallll!!" seru cowok itu. Dia berjongkok di depan tembok seraya menelungkupkan kepalanya di lutut. Akhirnya, mereka benar-benar kacau.


The Boys tidak dapat menahan kehancuran mereka saat salah satu pondasinya sudah hilang.


**************


Di sisi lain, Vano juga sama-sama kacau. Pikirannya benar-benar kalut, bahkanb dia sendiri tidak tau keputusan yang dia ambil sekarang benar atau tidak. Yang jelas dia cuma butuh ketenangan, sebentar.


Di lobby rumah sakit yang ramai, Vano melihat ke luar. Tepat ke arah langit yang mulai berwarna jingga karena hari sudah semakin sore. Pertanyaan 'Okta lagi apa' sontak memenuhi ruang otaknya. Seharian dia disini, tapi sebentar saja orang tua Okta tidak mengizinkan dia untuk masuk.


Fokus Vano sedikit teralihkan saat matanya tidak sengaja menangkap sosok Dave datang ke rumah sakit ini. Dengan senyum lebar serta sebuket bunga mawar di tangannya. Dia sempat mencuri dengar percakapan cowok itu dengan resepsionis sehingga dia bisa tau, siapa yang akan Dave temui.


"Ruangan atas nama Oktavia Adisty dimana ya?" tanya Dave pada resepsionis rumah sakit.


"Pasien ada di ruang ICU nomor 20, Pak" sang resepsionis menyahut dengan ramah dan dibalas senyum ramah oleh Dave. Setelah mengucapkan terimakasih, cowok itu bergegas menuju kamar Okta. Namun kehadiran Vano menghentikan langkahnya.


"Ngapain lo nemuin Okta?" Vano menghadang jalan Dave, bertanya tanpa basa-basi. Wajahnya dingin dengan tatapan tajam yang menyorot lawan bicaranya.


"Perlu banget gue jawab?" Dave mengangkat sebelah alisnya menantang, membuat Vano ikut tersulut emosi.


"Perlu , karena gue suami Okta. Gue berhak tau siapa aja yang mau nemuin dia!".


Mendengar ucapan Vano, Dave terkekeh sinis. Cowok itu bersendekap dada, meledek Vano lewat tatapan tajam yang dia miliki. "Gue kesini atas permintaan Bundanya Okta, mertua lo. Karena katanya, Bunda Okta kesel gara-gara punya mantu yang gak becus bahagiain istri" dia tersenyum miring sebelum akhirnya kembali bicara. "Gue bahkan nggak yakin lo masih dianggep menantu atau nggak" sinisnya.


Vano mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat saat Dave menepuk bahunya sekilas. "Berdoa aja, semoga setelah ini lo nggak jadi duda". Cowok itu berlalu pergi, meninggalkan Vano dengan muka merah padam.


"Shitt!!" umpatnya dengan kesal. Dia lalu balik badan, mengikuti Dave ke ruang rawat Okta dari belakang. Dari sana dia bisa melihat, bagaimana respon baik orang tua Okta terhadap Dave. Sangat berbanding terbalik kalau bersamanya.


Vano memilih mengamati dari jauh. Tidak mendekat, dia cukup sadar diri. Dari balik tembok lorong rumah sakit, Vano berdiri disana sampai satu jam lamanya.


"Harusnya gue yang temenin lo, Ta" gumam Vano dengan nada putus asa. "Semoga kesempatan kedua masih ada, gue harap" katanya.


"Dave, titip Okta ya. Ajak dia jalan-jalan" pesan Hana sambil tersenyum hangat.


"Buat dia bahagia lagi" kini tepukan bahu dari Fandi Dave dapatkan. Cowok itu tersenyum menanggapi.


"Pasti, Om" katanya. Dia lalu mendorong kursi roda Okta menuju taman rumah sakit. Vano mengikuti dari jauh, mengamati perempuan itu diam-diam. Wajah Okta pucat, datar, tanpa cahaya. Bahkan dia sejak tadi diam saat Dave mencoba mengajak bicara.


"Kita disini aja ya, Ta" ucap Dave yang sudah memberhentikan kursi roda di taman, dekat kursi di bawah pohon. Cowok itu lalu duduk di depan Okta, menghadap ke arah perempuan itu. Senyum Dave menguar lebar, berharap dapat menyebarkan happy virus ke perempuan di depannya.


"Tau nggak sih, gue tadi sampe bolos kerja demi bisa ketemu lo. Gue seneng lo baik-baik aja" Dave berucap dengan tulus. Matanya menyorot ke arah mata Okta yang juga sedang menatapnya.


"Lo boleh sedih, Ta. Tapi jangan hukum diri lo dengan nggak ngelanjutin hidup lagi. Apapun yang terjadi, lo harus selalu bahagia" Dave menggenggam tangan Okta yang ada di atas paha. "Jangan sakit, jangan nangis, jangan jatuh, gue nggak kuat liatnya".


Air mata Okta jatuh setetes, dia buru-buru menghapusnya.


"Kalo lo jatuh, ajak gue juga. Supaya gue juga tau sakitnya. Supaya gue bisa nemenin lo, supaya Okta gue ini tau, kalo dia nggak pernah sendiri"


Tatapan Dave, ucapannya, dan keseriusan yang dia ungkapkan, membuat Okta merasa ada yang berbeda disini. Dia lantas melepas tangannya yang digenggam cowok itu. Dia menghapus air matanya yang ternyata dari tadi sudah berjatuhan.


"Thanks, thanks buat semuanya Dave" akhirnya, setelah sekian lama, suara perempuan itu terdengar.


Dave tersenyum makin lebar, "Lo harus selalu bahagia, Ta".


Okta balas tersenyum, meski hanya sebuah kurva kecil. "Kalo dunia ngizinin, gue pasti bahagia lagi" katanya.


Cukup lama mereka disana, bicara tentang banyak hal. Bersama Dave, Okta dapat merasakan hidupnya lagi. Sampai akhirnya, Vano datang menghampiri mereka. Wajah Okta yang semula sudah tersenyum, kini berubah dingin. Dia menatap tanpa minat ke arah laki-laki yang masih menjadi 'suaminya' itu.


"Ta, udah mau malem. Masuk yuk, nanti lo tambah sakit" kata Vano dengan rendah. Tatapannya menatap perempuan itu penuh harap. Tapi Okta malah mengalihkan pandangan.


Dave menatap mereka bergantian. Jarak itu semakin jelas, tapi dia juga tau, di antara mereka masih ada ikatan. Merasa kalau Okta dan Vano butuh ruang, Dave memilih pergi.


"Ta, gue ke toilet bentar ya. Nanti gue balik lagi" katanya. Okta tidak menjawab sampai dia pergi. Vano kemudian duduk tepat di tempat Dave tadi. Okta tidak mau menatapnya.


"Ta, masuk yuk. Mau ya?" tanya Vano sekali lagi.


"Iya, tapi nggak sama lo" sahut Okta singkat.


Atmosfer jadi makin dingin. Vano spontan memegang tangan Okta, perempuan itu menepisnya.


"Gue tau lo benci sama gue, emang gue pantes buat dapetin itu"


Angin sore itu menemani pembicaraan mereka. Dave mengamati mereka dari jauh, memantau Okta-nya agar tetap baik-baik saja.


"Gue tau lo muak sama gue, gue tau kalau gue bahkan nggak layak ada di hidup lo" kini Vano berjongkok di perempuan yang kini menjadi salah satu orang terpenting di hatinya.


"Tapi gue mohon sama lo, jangan pergi dari hidup gue. Kasih gue kesempatan, Ta".


"Gue sayang lo, Ta"


"Jangan pergi, jangan hilang dari hidup gue".


"Gue harap masih ada kesempatan kedua"


"Izinin gue buat bahagiain lo, sekali lagi".


"Udah, Van. Udah!!" Okta berseru seraya menutup kedua telinganya. Dia menangis keras.


"Cukup semua omong kosong lo, gue nggak mau denger" perempuan itu menggeleng beberapa kali.


"Gue serius, Ta. Gue bakal buktiin ke lo kalo omongan gue bukan omong kosong!" kata Vano dengan frustasi.


"Gue nggak mau denger, Van" lirih Okta lagi. "Gue nggak bisa".


"Kenapa lo hukum gue dengan cara kayak gini, Ta?" cowok itu benar-benar kalut. Melihat Okta menangis di depannya tanpa mau dia sentuh.


"GUE NGGAK BISA LIAT LO, GUE NGGAK BISA ADA DII DEKET LO LAGI!!" perempuan itu membentak keras. "SETIAP GUE LIAT WAJAH LO, HATI GUE SELALU SAKIT SAAT INGET SEMUA ITU. SAAT LO NINGGALIN GUE, SAAT LO BOONGIN GUE, SAAT LO PILIH KIARA DARIPADA GUE, SAAT LO BAHKAN NGGAKK PERNAH NGANGGEP GUE DAN ANAK GUE ADA!" rasa sakit itu masih terekam jelas. Okta belum bisa berdamai dengan ini semua.


"Tapi sekarang gue pilih lo Ta!!" Vano mengacak rambutnya frustasi. Kenapa semua jadi berantakan.


"Telat, itu semua udah nggak guna. Gue bahkan udah nggak tau perasaan gue buat lo masih ada atau nggak"


"Hati gue udah mati rasa, Van".


Dulu, Okta mencintai Vano dengan segalanya. Tapi sekarang, kecewa membuat rasa itu mulai terkikis.


"Izinin gue buat bikin cinta itu ada lagi di hati lo" kata Vano dengan sungguh-sungguh.


"Gue mau sendiri, Van. Jangan ganggu gue" Okta mundur, dia menjalankan kursi rodanya sendiri dengan air mata yang masih berjatuhan. Vano bangkit dari duduknya, dia lantas menghentikan kursi roda Okta. Tangannya bergerak meraih kepala dan lutut perempuan itu. Menggendongnya ala bridal style.


"LEPASIN GUE VANO!!" bentak Okta seraya memukul-mukul dada cowok itu.


"Gue nggak akan lepasin lo, Ta. Sampai kekalahan yang nampar gue!".