
12 jam berlalu sejak kecelakaan. Okta dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapat penanganan yang lebih intensif. Sedangkan di luar ruangan, Vano mondar-mandir gelisah sambil membawa ponsel di genggamannya. Dia berhenti, melihat ke arah kontak dengan nama 'Ayah Fandi'. Jempolnya bergerak hendak menekan ikon panggil, tapi saat jari itu sudah dekat, dia tidak jadi menelfon. Begitu terus sampai satu jam lamanya.
"Lo harus berani, Van. Gimana pun Ayah sama Bunda harus tau kondisi Okta" gumamnya menyemangati diri.
Sampai akhirnya Vano benar-benar menelfon Ayah mertuanya. Cukup lama dia menunggu sampai akhirnya panggilan terjawab, terdengar suara sapaan dari seberang sana.
"Hallo? "
Vano menelan ludah sebelum akhirnya menjawab, "Ha-halo, Yah"
"Ada apa, Nak Vano. Tumben telfon, biasanya Okta yang hubungi kesini. Kabar kalian bagaimana, baik? ".
" Vano baik, Yah. Ta-tapi Okta.... "
Cowok itu benar-benar merasa jantungnya nyaris lepas. Dia sudah ngeri duluan membayangkan bagaimana reaksi keluarga Okta mendengar kabar ini.
"Okta kenapa, dia baik-baik aja kan?"
Vano sekali lagi menarik nafas panjang.
"Maaf, Yah. Vano gak bisa nepatin janji. Saya gagal, saya gagal jaga dia"
"Okta kecelakaan, Yah. Dan dia keguguran".
Akhirnya ungkapan itu lolos. Vano masih merasakan jantungnya bermaraton di dalam sana. Dia berulang kali menarik nafas untuk mengurangi rasa tegang dan rasa bersalah meskipun itu tidak membantu sama sekali.
Di seberang telfon, tidak ada sahutan terdengar. Semua sunyi, Ayah maupun Bunda Okta tidak memberi respon. Hingga selang beberapa menit suara laki-laki paruh baya itu kembali menggema dengan nada seribu kali lebih dingin.
"Besok pagi saya akan menuju Jakarta".
Dan panggilan berhenti sampai disitu. Vano merasa kalau riwayatnya akan habis besok hari. Dia mengacak rambutnya frustasi. Keadaan seperti ini sangat membuatnya tidak nyaman. Cowok itu lantas bangkit berdiri, berjalan menuju pintu kaca yang menampakkan okta sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai perban yang menutupi badannya.
Vano menelan ludah kasar, dia menempelkan keningnya di pintu itu. Kepalanya menunduk dalam dengan segala perasaan yang berkecamuk di pikirannya. Dia tidak berani masuk, belum berani melihat wajah Okta yang semakin membuatnya merasa bersalah.
"Lo harus baik-baik aja, Ta".
...****************...
Esok harinya pukul 10.00, Ayah dan Bunda Okta sudah sampai di Jakarta. Mereka bahkan langsung menuju rumah sakit tanpa istirahat di hotel lebih dulu. Vano yang saat itu sedang duduk di kursi tunggu sontak berdiri saat melihat kedatangan mertuanya.
"Okta di dalem? " bukannya menjawab, Fandi malah langsung menanyakan kabar putrinya, dengan nada yang sudah tidak seramah dulu.
Suasana berubah menjadi canggung, Vano mengangguk. Mempersilahkan mereka untuk masuk sedangkan dia menunggu di luar karena pengunjung memang dibatasi hanya boleh dua orang.
Ayah dan Bunda Okta masuk berdua untuk melihat keadaan putri mereka. Sebuah pemandangan yang pilu saat melihat anak semata wayang mereka harus terbaring lemah begini.
"Dulu ayah sudah ragu untuk menikahkan kamu dengan dia, Nak. Akhirnya jadi seperti ini kan" gumam Fandi seraya mengusap tangan Okta.
Hana mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Perempuan itu mengusap rambut Okta dengan senyum hangat khas seorang ibu.
"Ayah dan Bunda sayang Okta, kamu anak kuat. Kamu harus sembuh ya sayang" ucap perempuan itu.
Setelah cukup lama, mereka keluar dari ruangan. Vano yang melihat itu kontan berdiri setelah duduk di lantai karena dirundung gelisah.
"Ikut saya sebentar! " seru Fandi yang langsung berjalan di depan. Vano yang masih bingung pun akhirnya tetap mengekori laki-laki itu. Meninggalkan Hana yang memilih duduk di kursi tunggu.
Dua laki-laki yang memiliki rentang umur cukup jauh itu memilih duduk di kursi taman rumah sakit. Suasana canggung semakin menguat saat Fandi tak kunjung bicara.
"Yah.. " akhirnya Vano memilih mengalah. "Vano minta maaf, saya sudah gagal menepati janji. Saya sudah membuat kalian kecewa, saya salah" sesal Vano sambil menunduk dalam.
Fandi menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab, "Kamu tau, Nak. Yang harus dipegang teguh oleh laki-laki adalah kata-katanya sendiri. Kalau dia tidak bisa menepati ucapannya, berarti dia tidak pantas disebut sebagai laki-laki" ucapan itu menggores keegoisan Vano.
"Okta itu putri saya satu-satunya, yang selalu saya jaga sepenuh hati. Bukan cuma fisiknya, tapi juga perasaannya" kali ini ayah Okta benar-benar berhasil memporak-porandakan pikiran seorang Geovano.
"Apapun saya lakukan untuk Okta asal dia bahagia, termasuk menikahkan dia dengan kamu" laki-laki itu menjeda sebentar. "Tapi sepertinya kali ini keputusan saya salah"
Dan jantung Vano akhirnya mencelos saat mendengar kalimat selanjutnya.
"Kalau kamu memang tidak bisa mencintai putri saya dengan segalanya, kembalikan ke saya. Biar saya yang membahagiakan dia dengan semua hal sederhana yang saya punya" ucap Fandi dengan tegas.
"Saya minta maaf, Yah" akhirnya suara Vano yang daritadi tersumbat bisa keluar juga.
"Simpan maaf kamu untuk putri saya nanti".
" Tapi Vano nggak bisa lepasin Okta, Okta udah terlanjur jadi bagian penting di hidup Vano Yah" kali ini superstar itu benar-benar terlihat kacau.
"Saya nggak tahu bisa percaya sama ucapan kamu atau tidak" Fandi memilih bangkit berdiri. "Tapi kalau kamu memang serius, buktikan. Tunjukkan ke saya kalau kamu memang seorang laki-laki!! " dan akhirnya dia memilih pergi, meninggalkan Vano dengan sejuta penyesalan.