
Vano pulang ke rumahnya setelah mengantongi nomor baru Okta yang dia dapat dari Rina. Cowok itu memilih duduk di ruang tengah sembari mengotak atik ponselnya guna memasukkan nomor itu ke daftar kontaknya yang berisi 500 kontak orang.
Buru-buru dia buka aplikasi berwarna hijau itu, kemudian menekan tombol panggilan. Panggilan pertama ditolak, tapi Vano tidak menyerah. Dia kembali menelfon sampai akhirnya pada panggilan ketiga dijawab. Di seberang sana cuma hening yang terdengar, Vano masih diam sampai suara perempuan yang sangat ingin dia temui itu terdengar.
"Hallo?" Vano diam-diam tersenyum saat akhirnya dia kembali bisa mendengar suara itu.
"Siapa ya?" tanya Okta lagi, tapi Vano masih diam.
"Siapa, Ta?" suara seorang laki-laki yang sepertinya sedang bersama Okta kontan membuat senyum di wajah Vano surut.
"Gak tau nih, gak jelas"
Gak jelas katanya?, haha. Dia mencari perempuan itu kemana-mana seperti orang hampir gila tapi malah dianggap seperti orang gak jelas.
"Lo udah lupa sama gue?" akhirnya Vano bicara, yang membuat suasana di seberang sana seketika hening.
"Gue kangen lo, Ta. Tapi kayaknya lo enggak" kata Vano sambil tertawa, miris.
Okta tidak menjawab lagi, perempuan itu langsung mematikan panggilan. Vano mengerang keras, rasanya dia kepengen banting hp tapi masih butuh. Pengen banting vas bunga tapi itu vas harga 1 miliar yang baru dia beli bulan lalu. Pengen banting meja tapi sekarang dia lagi sakit pinggang. Alhasil Vano cuma bisa menjambak-jambak bantal untuk meluapkan emosinya.
Apa tadi?, Okta bersama laki-laki?, secepat itu?. Dia sudah hampir gila karena mencarinya sekeliling Jakarta dan Surabaya. Tapi sekarang dia malah harus menghadapi hal seperti ini.
Padahal kalau melihat ke masa lalu, ini belum ada apa-apanya dengan yang sudah dia perbuat dulu. Saat ada Kiara, apa pernah Vano memikirkan perasaan Okta. Apa pernah dia peduli dengan Okta. Apa pernah dia mementingkan Okta. Bahkan dia berulang kali kepergok ngedate dengan Kiara di depan Okta. Apa Vano pernah memikirkan perasaannya?.
Dan, sekarang, dengan semua sikap tidak tau diri dan keegoisannya, dia marah dengan yang Okta lakukan sekarang. Jadi, apa boleh dia marah?.
Jawabannya boleh. Karena menunjukkan amarah adalah salah satu hak asasi manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki perasaaan. Tapi sebagai seseorang yang pernah membuat kesalahan, rasanya Vano belum cukup tepat untuk merasa marah sekarang.
*********
Siang itu sepertinya bukan siang yang beruntung untuk Dave. Baru saja dia selesai mempersiapkan kabin untuk penerbangan menuju Kuala Lumpur 3 jam lagi, tapi waktu istirahatnya malah harus berkurang karena kemunculan Vano secara tiba-tiba di bandara. Cowok itu tidak membawa koper, berarti dia kesini memang untuk menemuinya.
"Gue perlu ngomong sama lo" Vano langsung to the point saat mereka sudah berhadapan. Dave menatapnya acuh, kemudian mengangguk singkat.
Mereka lalu berjalan berdua menuju cafetaria bandara. Setelah memesan minuman, keduanya nampak saling diam sampai Vano mendahului bicara.
"Gue mau tanya ke lo tentang keberadaan Okta" tanya cowok itu tanpa basa-basi. Dave nampak menatapnya dengan sebelah alis terangkat, dia tersenyum kecil.
"Kan lo suaminya, kok lo malah tanya dia dimana ke gue?" jawaban dari Dave seolah memutarbalikkan ucapan Vano tempo hari.
"Udahlah, gue nggak minat debat sama lo sekarang" Vano menjawab dengan jengah, seolah enggan menyambut pancingan Dave. Dan untungnya kali ini Dave juga tidak berniat mancing-mancing.
"Gue bisa kasih apapun ke lo asal lo kasih tau ke gue dimana Okta sekarang" Vano memberi penasaran. Entah kenapa, feelingnya mengatakan kalau Dave pasti tau dimana Okta berada.
"Kalo gue minta Okta, lo bakal kasih nggak?"
Satu bogeman dari Vano hampir melayang andai Dave tidak menghindar, cowok itu bersiul jahil.
"Santai, men. Sensi amat sih, PMS ya?" godanya lagi. Vano berdecak, kesal karena merasa kalau waktunya terbuang sia-sia.
"Gue tanya serius, dimana Okta sekarang?"
"Kenapa lo yakin banget kalo gue tau Okta sekarang dimana?" tanya balik Dave sambil tersenyum.
"Oh, apa lo sekarang udah mengakui kalau istri lo lebih terbuka ke gue daripada ke lo, suaminya sendiri"
Rahang Vano mengeras, rasanya dia kepengen memukul mulut laki-laki di depannya ini supaya diam.
"Makanya, jadi suami itu yang becus. Bahagiain istri sendiri aja belum bisa, sok-sokan mau selingkuh" dan kali ini, Vano benar-benar memukul Dave tepat di rahangnya.
"Pengecut lo, Van!!" Dave balas memukul hingga suasana Cafe menjadi ricuh.
"Diem lo, anjing!!" serang Vano lagi, kali ini lebih brutal hingga badan Dave membentur meja. Dave tidak tinggal diam, dia membalas dengan menendang perut Vano hingga punggung cowok itu membentur dinding
"Kalo lo nggak bisa bahagiain Okta, biar gue yang bahagiain dia!!" Dave memukul Vano dengan brutal hingga cowok itu terkapar di lantai.. Tapi dia tidak berhenti, dia tetap memukul lagi hingga musuhnya tidak ada perlawanan.
"Okta terlalu baik buat cowok bejatt kayak lo, bangsatt!!" umpatnya.
"Ini buat semua air mata yang udah Okta keluarin gara-gara gara-gara lo!!" dia memberi satu pukulan keras.
"Ini buat rasa sakit yang dia rasain selama ini!". Dave memukul lagi.
"Dan ini dari gue, karena lo udah buat gue kehilangan orang yang gue sayang!!"
Kehilangan?
Orang tersayang?
Otak Vano kembali mendikte tiga kata itu sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar hilang.