Because You Love Me

Because You Love Me
9. Sky lantern



Alin menggiring langkahnya untuk menemui pria yang tak lain adalah Adrien. Lagi lagi dia memasang tampang menyebalkan.


"ini tidak lucu Adrien, Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengusili orang lain?" tanyanya terdengar emosi, namun Adrien malah tertawa santai seolah olah tak ada masalah.


"Bagaimana ya, kalau aku sudah tergila gila padamu, aku tidak rela orang lain menyentuhmu walau hanya seujung kuku"


Dia sudah Gila!


Alin tak ingin lagi berdebat dengannya dan memutuskan untuk pergi saja.


"aku lewat taman kota tadi, semua orang menerbangkan lampu terbang disana!" sahut Adrien mengejar Alin dan menyamakan langkah kakinya.


Lampu terbang? walaupun sedang kesal, Alin terkekeh mendengar hal itu.


"dasar bodoh, itu lampion!"


"o ya?, aku tidak pernah melihat benda semacam itu sebelumnya!" ucapnya.


"coba lihat itu!!" teriaknya membuat Alin langsung menutup telinganya.


"Berisik banget!"


Adrien tak mempedulikan hal itu dan mengapit tangan Alin, membawanya berlari menuju taman kota dan melihat orang orang sibuk membuat lampion bersama diatas karpet hijau yang digelar disana.


"Aaaa itu Adrien!!!" teriak para gadis lalu berlarian menghampirinya untuk foto bersama.


Perlahan lahan, Alin melangkah mundur dan menjauh dari gadis gadis itu. Ia berjalan menghampiri seorang anak kecil bersama neneknya yang sibuk membuat lampion.


"hay nek, apa disini sedang ada perayaan? semua orang membuat lampion!" tanyanya ikut duduk.


"tidak nak, kami hanya bermain saja!"


"kakak bisa membuatnya?" tanya gadis kecil itu.


Alin mengangguk dan mulai bergabung dengan mereka. Namun kebersamaan ini tidak lengkap tanpa sahabat sahabatnya. Diapun menghubungi mereka untuk segera datang.


30 menit berlalu, datanglah Meilani dan Gita yang langsung saja menyapanya.


"waah sudah selesai ya!" sapanya namun tetap ikut bergabung.


"Rainan!"


"lalu dimana dia?"


"aku meninggalkannya di Cafe!"


"payah, katanya kau suka dia!"


"aku tau, tapi si bodoh itu mengganggu kebersamaan kami, jadi aku mengejarnya untuk memarahinya, kurang ajar sekali dia, sampai aku harus meninggalkannya sendirian!" ocehnya masih membekas.


Sudahlah lupakan saja, rasa kesalnya tidak akan mereda jika dia terus membahas hal ini.


"ngomong ngomong, kalian sengaja ya meninggalkanku bersama Adrien sore tadi?" tanyanya baru mengingat sesuatu.


Kedua sahabatnya nyengir kuda, tampak wajah tidak berdosa diantara mereka berdua.


"apa boleh buat, uang jajan bulanan kami bertambah!" cengir Gita tersenyum senang.


"ya ampun Mei kau juga?!" Alin melirik pada Meilani, biasanya dia paling enggan untuk ikut ikutan penyogokan seperti ini. Tapi entah kenapa, sekarang, seolah dunia mendukungnya untuk pacaran dengan Adrien.


"setidaknya kau mulai menyukai Adrien kan? akui saja Alin!" godanya membuat wajah Alin langsung memerah.


"kalian menyebalkan!" decaknya.


"sudahlah, aku sudah menghubungi Rainan dan Adrien untuk datang, akan sangat seru melihat drama cinta segitiga!" cekikik Gita menambah suasana Hati Alin semakin kacau.


"sejak kapan kalian bertukar nomor ponsel dengan mereka?"


"sejak lama!!!" jawab mereka bersamaan.


Omong kosong!


Meskipun semua orang sangat menyebalkan, namun Alin sangat beruntung, dia bisa menikmati hidupnya dengan tenang, dikelilingi dua orang sahabat yang selalu ada untuknya walau sering kali ia membuat jengkel mereka. Namun Alin tahu, apapun yang terjadi, mereka tidak akan meninggalkannya dalam kesendirian, benarkan teman?


Semoga sekarang dan selamanya mereka akan tetap seperti itu. Walau dunia bersifat fana, walau perpisahan akan datang merenggut segalanya. Masih ada kenangan yang bisa ia ingat dimasa tua nanti.