Because You Love Me

Because You Love Me
3. Awan mendung



...~Flash back~...


"Aku mohon Ray, beri aku kesempatan sekali saja! Aku bisa membuatmu menyukaiku!" Alin memasang wajah memelas seraya berpangku tangan dihadapan pria bersurai hitam legam dan manik pekat yang mampu menenggelamkan hati para wanita dalam sekali tatap saja.


Pria bernama lengkap Raynan Adrivan itu menatap Alin dengan senyuman yang bertengger diwajahnya.


"maafkan aku, Tapi aku menyukai gadis lain"


Disitulah Hati Alin merasa hancur.


"kau adalah sahabatku, dan akan tetap menjadi sahabatku Ainda!" mengacak poninya gemas


Alin hanya diam dengan segala kekecewaan dalam hatinya. Sungguh cinta pertama yang sudah lama ia pendam. Yang membuatnya selalu terfikirkan, setelah mengerahkan seluruh keberaniannya, ternyata cintanya selama ini bertepuk sebelah tangan.


"jangan cemberut begitu, aku nggak akan lupa sama kamu kok" senyumnya begitu manis.


Setelah itu, Ray pergi dengan meninggalkan luka di hatinya.


...~Flash back end...


"menyusahkan sekali kau Ray...." Alin tersenyum hambar sambil membayangkan momen kebersamaan mereka.


Namun ketukan pintu diluar sana membuat lamunannya buyar.


TOK TOK TOK


Alin segera menyeret langkahnya dan membuka pintu.


"Kau... "


Adrian Agras. Pria itu sudah menyeringai nakal dihadapannya.


"selamat malam Nona aduhai-ku" seringainya


Nona aduhai?


Ejekan apalagi itu?


"aku membencimu" tegasnya berniat menutup pintu kembali. Namun dengan cepat Adrian menahannya


"kau sendirian kan? biarkan aku menemanimu"


Alin menghembuskan nafas kasar dan membiarkan Adrian masuk.


Dia memang kesepian dan butuh teman.


"waah rumahmu sederhana sekali ya? nyaman banget dan wangi! " ucapnya begitu dia duduk di sofa dan dengan tidak sopannya menselonjorkan kaki diatas meja.


"tapi semua orang tidak pernah berkomentar seperti dirimu saat aku mengunjungi rumah mereka" tempasnya terdengar menyebalkan


Alin tak meladeni lagi ucapannya. Sebagai gantinya dia menwari pria itu minuman.


"mau minum apa? kopi atau susu atau teh?"


"Hem...Dua susu besar yang masih hangat dan perawan" jawabnya seketika membuat Alin langsung melemparkan kain lap yang dia pegang ke wajahnya.


"hey apa yang salah?" Adrien hanya tertawa geli sambil melihatnya


"otakmu"


Daripada berdebat tak ada habisnya, Alin segera pergi ke dapur dan menyiapkan segelas susu untuknya.


Setelah beberapa saat diapun kembali dan membawakan Adrian susu.


Tapi lelaki itu tampak asyik membaca buku Novel karya Agatha yang Alin letakan diatas meja.


"semua orang menyukai karyanya, menurutku itu berlebihan. Apa yang bagus membaca karya dari Hayalan seseorang, kita juga kan bisa berkhayal...Misalnya membayangkan betapa nikmatnya malam pengantin" komentarnya


"berani sekali kau menghinanya" tempasya sambil merebut novel itu dari tangan Adrien.


"sudah tampan dia itu berbakat, punya imajinasi yang hebat. Coba lihat dirimu! setiap ucapanmu itu mesum. Wanita mana coba yang mau berpacaran denganmu" ledeknya.


Adrien langsung berdiri dan menarik pinggang Alin sampai hidung mereka bersentuhan. "kau juga menyukaiku kan?"


Blush!


wajah Alin seketika memerah. Antara malu dan kesal bercampur di dalam hatinya.


Bruk!


Alin mendorong Adrien sampai dia mundur beberapa langkah.


"menjijikan, bahkan melihatmu saja membuatku ingin muntah"


"heey lihat saja nanti, aku akan membuatmu tergila gila padaku. Sampai kau tidak bisa kutinggalkan walau hanya sedetikpun"


Alin berdecak mengejeknya, seringai meremehkan terukir di bibirnya.


"coba saja kalau bisa, karna bagaimanapun aku tidak mungkin bisa menyukai pria mesum sepertimu"


dan malan ini pun mereka menghabiskan waktu dengan perdebatan yang tiada berunjung