Because You Love Me

Because You Love Me
10. cinta tak harus kata!



Malam yang begitu indah, kegelapan dihiasi bintang bintang serta cahaya bulan. Ditambah dengan lampion lampion harapan yang mulai terbang tinggi diangkasa. Mereka berlima fokus menatap ke langit, diiringi dengan ocehan ocehan tidak berguna yang membuat suasana tidak hening. Sampai tak terasa waktu mulai larut.


"ah ya ampun ini sudah malam, aku harus segera pulang sebelum ibuku marah!" ucap Regita begitu melihat jam yang tersemat dipergelangan tangannya.


"aku juga harus pulang, kita mau pulang bersama?" tanya Meilani sambil menatap Alin.


"biar aku mengantarnya!!" Sahut Adrien dan Rainan hampir bersamaan. Membuat Drama cinta segitiga ini mulai lagi.


"oke, ada pangeran yang akan mengantarmu, semoga beruntung!"


PLOK!


Regita menepuk pantatnya sebagai tanda perpisahan.


Sungguh tidak sopan!


"anggap itu anugrah!" tambah Meilani melakukan apa yang dilakukan Regita barusan. Lalu merekapun pamit pergi.


"apa aku boleh melakukan apa yang mereka lakukan?" tanya Adrien begitu ia menghampirinya.


PLAK!


satu tamparan melayang dipipinya dengan keras


"dasar mesum!"


"kamu galak banget sih!, akukan hanya bercanda" ucapnya sambil mengelus pipi yang ditampar Alin barusan.


"hey, ngomong ngomong aku baru melihatmu!" sahut Rainan sedari tadi memperhatikan mereka.


"iya, aku murid baru beberapa minggu yang lalu!" jawabnya masih mengelus pipinya yang memerah.


"oh begitu ya" senyumnya.


"kalau begitu, aku pamit duluan ya, aku lupa malam ini ada urusan, sampai jumpa Rosa!" senyumnya lansung saja pergi.


"tapi Ray-"


"sudah biarkan saja dia, ayo pulang bersamaku!" ajaknya tiba tiba.


Alin menatapnya dengan tatapan tidak suka, namun tidak ada pilihan lain. ia tidak bisa pulang sendiri.


"aku menggunakan mobil!" senyumnya sambil menggenggam tangan Alin.


...****************...


Sesampainya di rumah, Adrien segera membukakan pintu mobil dan menyambut Alin seperti tuan putri.


"silahkan nona aduhaiku!" hormatnya sambil mengulurkan tangan dan membungkukan badan sembilan puluh derajat.


Namun gadis itu malah menepis tangannya.


BRAGH!


"aku boleh masuk ke rumahmu?" tanyanya tak mempedulikan hal itu.


"tidak" jawabnya galak.


"baiklah, kalau begitu apa yang bisa kulakukan sebelum berpisah?, apa aku benar benar tidak bisa menepuk pan-"


"Adrien!" sentaknya kesal.


Pria itu terdiam dengan wajah yang di buat sedih karna bentakannya. Membuat Alin langsung menghembuskan nafas kasar dan menyodorkan telapak tangan kanannya.


"terimakasih!" senyumnya terpaksa.


"jabat tangan!" ucapnya langsung saja menerima uluran tangan Alin. Lalu segera pamit pergi.


Alin segera masuk, ia membuka pintu dengan sangat pelan karna takut kakaknya marah karna dia pulang terlalu malam. Namun begitu ia masuk, hal mengejutkan pun terjadi.


Diatas sofa, sepasang insan tengah berciuman disana. Siapa lagi kalau bukan Roshela dan Tuan Agatha, mereka berpagut mesra membuat Alin langsung menahan nafasnya dan tidak membuat pergerakan yang akan mengganggu mereka.


"tidak tahu malu, mesra mesraan bukannya dikamar" batinnya sambil berjalan mengendap ngendap.


DUGH!


PRANK!


tak sengaja ia menyenggol vas bunga diatas meja dan berhasil mengejutkan keduanya.


"Ros? k kau sudah pulang?" tanya Roshela sambil membenarkan beberapa kancingnya yang terbuka.


"aku tidak melihat apapun!" ucapnya langsung buru buru pergi ke kamarnya.


"aaaaaa idolaku!, kenapa aku harus melihatnya seperti itu!" teriaknya begitu ia tiba dikamar. Ia berguling guling dilantai dengan bayangan mereka yang berciuman terus berputar di otaknya.


20 menit berlalu!


Sepertinya tuan Agatha sudah pulang, Roshela masuk ke kamarnya dan masih melihat Alin yang tidur dilantai dengan posisi yang....


ANEH!


"Ros? kau sedang apa?" tanyanya.


Alin langsung bangun dan duduk diranjang.


"apa kakak berpacaran sampai seintim itu? apa kakak juga pernah tidur bersamanya?" tanyanya dengan rona merah diwajahnya.


Roshela terkekeh dan ikut duduk, membelai rambut adiknya penuh sayang.


"orang mengatakan cinta itu dalam bentuk yang berbeda beda, mereka bisa mengungkapkannya dalam kata kata puitis, atau dalam kemarahan...Namun sentuhan sentuhan lembut itu adalah ungkapan tanpa kata, dengan begitu kau akan mengerti arti setiap sentuhan yang ia berikan padamu" jelasnya.


Aneh!


dia sama sekali tidak mengerti apa yang Roshela ucapkan.