Because You Love Me

Because You Love Me
6. Dia kembali!



Assalamualaikum temen2....setelah beberapa bulan vakum akhirnya author kembali melanjutkan kisah ini😂ya meskipun para pembaca sudah minggat...😢


...****************...


Tetap saja hari ini mereka tidak mengikuti pelajaran dan menghabiskan waktu di balkon sekolah sampai jam pelajaran Usai.


"Aliin!" panggil kedua temannya sambil berlarian menghampiri mereka.


"kami mencarimu daritadi rupanya kamu mojok disini!" ledek Regita sambil melirik pada Adrien dengan sudut matanya.


Alin yang mengerti bahasa tubuh Regita langsung saja melotot. "apaan sih, aku cuman terlambat datang ke sekolah dan dihukum!"


"hem tapi ini awal yang bagus kan?" lagi lagi mereka menyindirnya.


"sudahlah hentikan, aku mau pulang!" Alin melenggang pergi dengan perasaan kesalnya.


Hari ini dia memilih untuk pulang sendiri tanpa kedua sahabatnya.


"kenapa sih? Gita dan Meilani gitu banget? hubunganku dan Adrien tidak seperti itu, dia menyebalkan" Alin terus ngedumel disepanjang perjalanan. Dia tau dia salah karna bersikap keras pada kedua sahabatnya, tapi hal ini menurutnya terlalu berlebihan. Dia hanya tidak ingin mereka terus membahas hal ini.


"Aliiin!" lagi lagi mereka mengejarnya dan menyamakan langkah kakinya dengan Alin.


"apa?" tanyanya malas.


"kamu kenapa sih? jadi sensitif begitu? kita hanya bercanda!" ucap Meilani


"bukan itu masalahnya, aku hanya tidak suka kalian terus memojokanku pada Adrien, kau tau? dia itu sangat menyebalkan! aku tidak suka padanya!" ocehnya masih kesal.


"maaf!" ucap mereka bersamaan.


Alin memutar bola matanya malas, mendengar kata maaf sepertinya ia sudah muak. namun setelah itu dia tersenyum pada kedua sahabatnya.


"apa sore ini kita bisa menghabiskan waktu bersama?" tanya Alin mendadak antusias saat mengingat jika ada banyak bunga dandelion yang tumbuh banyak dibawah pohon besar saat dia berangkat sekolah tadi. dia harus cepat Sebelum bunga itu terbang tertiup angin.


"tentu saja, kenapa memangnya?" tanya Meilani.


"jangan banyak bicara, ayo cepat ikuti aku!" Alin menarik lengan kedua sahabatnya dan berlari, membuat mereka berdua dibuat bingung karna sikap aneh Alin.


"kita mau kemana? kenapa harus lari seperti ini!" Gita melepaskan cekalan tangan Alin untuk mengatur nafasnya, begitupun dengan Meilani.


"ah kalian lambat, ayo cepat!" sahutnya masih tak menghentikan larinya.


JEDUK!


Tiba tiba saja ia menabrak seseorang sampai membuat orang itu mundur beberapa langkah.


"ah maaf aku buru buru!" ucapnya sambil membungkukan badan.


"Rosa?" tanya suara bariton lelaki itu.


Dalam beberapa saat mereka tetap saling dian dan menatap satu sama lain. Melihat netra itu memang sangat menenangkan. Alin tak pernah ingin melepasnya walau sedetik saja.


Sementara kedua sahabatnya diam memperhatikan jauh dibelakang Alin.


"H hay!" senyumnya gugup.


"kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanyanya.


"kenapa? kufikir kau tidak membutuhkan sahabat setelah punya pacar!" jawab Alin tersenyum hambar.


Rainan tersenyum halus lalu meletakan tangan dipuncak rambutnya. "aku tidak seegois itu!"


Alin hanya diam dengan ekspresi datar. "bisakah kau kenalkan pacarmu padaku?"


kali ini Rainan menghentikan senyumnya. "memangnya siapa yang bilang kalau aku punya pacar?"


Hah?


Alin mengerutkan alisnya tidak mengerti. "bukannya kau bilang menyukai gadis lain?"


PELETAK!


Tiba tiba saja Rainan menyentil dahinya.


"gadis bodoh!" ucapnya gemas "aku hanya bilang menyukai gadis lain, bukan berarti dia harus menjadi pacarku!"


wajah Alin langsung saja memerah. ya, tentu saja dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. dia memang egois.


Disisi lain, Regita dan Meilani sudah bosan menunggu mereka bicara dan akhirnya menghampiri Alin.


"kalian akan terus bicara disini?" tanya Gita.


"ah maaf mengganggu, aku harus pergi, malam nanti aku menunggumu ditempat pavorit kita!" ucap Rainan langsung saja pergi.


"waaaah terjerat cinta segitiga nih!" senyu Mei setelah beberapa saat kepergian Rainan.


"kalian mulai lagi!" decak Alin kesal.


"kalau begitu ayo cepat! kau ingin menunjukan apa pada kami?"


Alin kembali menarik tangan mereka dan pergi ke tempat yang ia tuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...